Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara Yang Berputar
Melangkah di atas jembatan cahaya Ouroboros-Prime rasanya seperti berjalan di atas lapisan kaca tipis yang bergetar. Setiap kali sepatu pantofel mahal Arkananta atau sepatu hak tahu milik Kinanti menyentuh permukaan jembatan, riak-riak keperakan melingkar melebar ke bawah, memperlihatkan jurang tak berdasar yang dipenuhi pusaran gas ungu di bawah mereka.
"Pak Arkan, tolong jangan melihat ke bawah," bisik Kinanti, matanya lurus menatap struktur Kota Menara Berputar di depan. "Saya tidak tahu apakah asuransi keselamatan kerja Mahardika Group mencakup klaim 'jatuh ke dalam dimensi spiritual fiksi'."
Arkan yang berjalan dengan langkah tegap di sampingnya terkekeh pendek. "Asuransi kita mencakup banyak hal, Kinanti, tapi saya rasa juri klaim akan menganggap laporanmu sebagai fiksi ilmiah yang buruk."
Meskipun Arkan berbicara dengan nada tenang, matanya yang sehijau zamrud terus mengawasi menara-menara batu raksasa di hadapan mereka. Menara-menara itu berbentuk silinder raksasa yang tersusun dari ribuan balok andesit hitam. Anehnya, setiap tingkat menara tersebut berputar secara mandiri dengan arah yang berlawanan—tingkat pertama berputar searah jarum jam, tingkat kedua berlawanan, dan seterusnya—menciptakan suara gemeretak mekanis yang bergaung rendah memenuhi langit ungu dimensi ini.
Ketika mereka semakin dekat dengan gerbang kota, tanda di pergelangan tangan Kinanti mulai bereaksi unik. Pendar keperakannya berganti-ganti, kadang meredup, kadang menyala terang mengikuti ritme putaran menara terdekat.
"Struktur ini hidup, Pak," ujar Kinanti, merasakan denyut di tangannya. "Menara-menara ini bukan cuma bangunan. Mereka adalah algoritma fisik. Setiap putaran balok batu itu mengubah aturan ruang di sekitar kita."
Tepat setelah Kinanti menyelesaikan kalimatnya, menara paling depan berputar lebih cepat dengan suara dentang logam yang nyaring.
KLANG!
Jembatan cahaya yang sedang mereka seberangi mendadak terputus di tengah-tengah. Bagian depan jembatan bergeser sejauh sembilan puluh derajat, menyambung ke menara yang berbeda di sisi kiri, sementara bagian tempat mereka berdiri mulai bergoyang tidak stabil.
"Pegangan!" seru Arkan.
Dengan gerakan refleks, Arkan menarik pinggang Kinanti mendekat ke tubuhnya. Di saat yang sama, sebilah lantai jembatan di bawah kaki mereka miring secara ekstrem. Arkan menancapkan ujung kunci kuningan berkepala badak—yang kini menghitam—ke celah jembatan cahaya yang tersisa untuk menahan berat tubuh mereka.
Posisi mereka kembali konyol dan menegangkan. Kinanti menempel erat di dada bidang Arkan, wajahnya terbenam di kerah kemeja sang CEO yang masih menyebarkan aroma parfum mewah bercampur belerang dimensi ini.
"Pak Arkan," Kinanti mendongak dengan mata mengerjap, berusaha mengabaikan embusan napas hangat Arkan di dahinya. "Saya tahu Bapak adalah bos yang protektif, tapi jika jembatan ini hilang sepenuhnya, pelukan ini hanya akan membuat kita jatuh berdua secara romantis namun tragis."
"Diamlah, Nona Amalia," bisik Arkan, matanya fokus menatap menara yang berputar di depan mereka. "Gunakan tanda di tanganmu. Sentuh kunci ini. Alirkan energi Penjaga Takdir ke dalamnya."
Kinanti segera mengerti. Ia mengangkat tangan kanannya yang berbalut tanda perak, mencengkeram erat tangan Arkan yang sedang memegang kunci kuningan hitam tersebut.
Begitu kulit mereka bersentuhan dengan mediasi kunci kuno, sebuah gelombang kejut keperakan meledak dari titik sentuh mereka. Aksara Serat Jayaning Mahardika yang meresap di tubuh Kinanti mengalir masuk ke dalam kunci, mengubah warna hitam legamnya kembali menjadi kuningan emas yang berkilau.
HUMMMMMM!
Energi emas itu menjalar ke sepanjang jembatan cahaya yang tadinya tidak stabil. Ajaibnya, putaran menara andesit di depan mereka mendadak melambat, lalu berhenti total dengan suara berderit berat. Bagian jembatan yang sempat terputus perlahan bergerak kembali, menyambung sempurna membentuk jalur lurus menuju gerbang Kota Menara Berputar.
Arkan menghela napas panjang, melepaskan cengkeramannya pada kunci dan melonggarkan pelukannya di pinggang Kinanti dengan perlahan. Ia merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut. "Kerja bagus. Tampaknya 'batu kunci' digital yang diceritakan Tegar bisa dimanipulasi jika kita menggabungkan otoritas fisik kunci ini dengan energimu."
Kinanti berdiri tegak, membetulkan posisi blusnya dan berdeham pelan untuk menutupi rasa canggung akibat kedekatan mereka yang terlalu intens barusan. "Sama-sama, Pak. Tapi sepertinya, sambutan hangat dari Faksi Mangkubumi di dunia ini baru saja dimulai."
Di ujung jembatan, tepat di depan gerbang lengkung raksasa yang terbuat dari jalinan akar beringin dan besi futuristik, berdiri sesosok figur jangkung. Figur itu mengenakan jubah tenun tradisional berwarna gelap, namun wajahnya tertutup oleh topeng batu andesit berukir wajah raksasa pemakan waktu, Kala. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah jangka raksasa berbahan perunggu yang ujungnya menancap ke tanah pasir merah.
"Siapa yang berani menghentikan putaran waktu di Arsitektur Ouroboros?" suara figur itu berat, bergaung seperti suara dua batu raksasa yang saling bergesekan. "Ah... sang pewaris takhta yang cacat dan budak pelindungnya."
Arkananta melangkah maju satu langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Kinanti. Aura kepemimpinannya sebagai CEO Mahardika Group kembali memancar penuh, tidak terintimidasi oleh atmosfer asing dunia fiksi ini.
"Saya Arkananta Mahardika, pemilik sah dari sumpah yang membangun fondasi dunia ini," ujar Arkan dengan nada suara yang mutlak dan dingin. "Nyalakan kembali gerbang spasial menuju Mahardika Tower, atau saya akan meruntuhkan setiap menara andesit di kota ini menggunakan otoritas darah saya."
Figur bertopeng batu itu terkekeh rendah, suara tawanya memicu getaran kecil pada kerikil merah di bawah kaki mereka. "Darahmu tidak lagi memiliki kuasa penuh di sini, Arkananta. Sejak Tegar Mangkubumi menulis ulang kode silsilah di bumi, kota ini telah berpindah kepemilikan. Jika kau ingin kembali... kau harus melewati labirin menara ini hidup-hidup."
Figur itu mengangkat jangka perunggunya, dan dalam satu ketukan ke tanah, gerbang lengkung di belakangnya terbuka, menampilkan lorong-lorong batu berputar yang rumit dan terus berubah bentuk. Tantangan di dunia fiksi Mangkubumi baru saja membuka tirainya