Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Black Falcon
Malam mulai menyelimuti Jakarta ketika mobil Adrian memasuki halaman utama Kediaman Amarta.
Lampu-lampu taman menyala terang, menerangi jalan setapak yang membelah halaman luas rumah megah itu.
Biasanya suasana seperti ini terasa tenang.
Namun malam ini berbeda.
Entah mengapa Adrian merasakan firasat yang tidak nyaman sejak meninggalkan rumah sakit.
Instingnya mengatakan bahwa masalah mereka belum berakhir.
Bahkan mungkin baru saja dimulai.
Di sampingnya, Naya tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.
Warna wajahnya sudah kembali normal.
Meski begitu, Adrian tetap menggenggam tangannya sepanjang perjalanan.
Seolah takut wanita itu menghilang jika dilepaskan.
Mobil akhirnya berhenti.
Dimas segera membuka pintu.
"Tuan."
Adrian mengangguk.
Namun sebelum sempat turun, ponsel Dimas bergetar.
Pria itu melihat layar sebentar.
Lalu wajahnya berubah serius.
"Ada laporan dari lokasi penjagaan Kesya."
Sorot mata Adrian langsung menajam.
"Apa yang terjadi?"
"Kesya menerima pesan misterius."
Beberapa detik kemudian mereka bertiga sudah berada di ruang kerja pribadi Adrian.
Sebuah layar besar menampilkan rekaman kamera pengawas dari ruang tahanan rahasia tempat Kesya diamankan.
Terlihat jelas seorang petugas mengantarkan makanan.
Tidak ada hal mencurigakan.
Tidak ada kontak dengan siapa pun.
Namun lima menit setelah petugas keluar, ponsel sekali pakai yang entah berasal dari mana ditemukan di bawah meja.
Dan di layar ponsel itu hanya ada satu pesan.
Jika ingin hidup, jangan pernah membuka rahasia tentang proyek Black Falcon kepada Adrian.
Ruangan mendadak sunyi.
Naya yang ikut melihat rekaman itu mengernyit bingung.
"Apa itu Black Falcon?"
Dimas menggeleng.
"Kami belum menemukan data apa pun."
Adrian memperhatikan layar dengan rahang mengeras.
Tidak banyak hal yang bisa membuatnya terkejut.
Namun nama itu benar-benar asing.
Dan justru karena asing, ia merasa waspada.
"Seseorang berhasil menyusup ke fasilitas penjagaan kita."
Suara Adrian terdengar dingin.
"Itu berarti mereka memiliki jaringan yang jauh lebih besar daripada yang kita kira."
Dimas mengangguk.
"Itulah yang membuat saya khawatir, Tuan."
Adrian menatap layar sekali lagi.
Kemudian mengambil keputusan.
"Bawa Kesya ke lokasi yang lebih aman."
"Baik."
"Ganti seluruh personel pengamanan."
"Siap."
"Dan mulai malam ini, selidiki semua hal yang berkaitan dengan Black Falcon."
Dimas langsung mengangguk.
"Saya akan mengerahkan seluruh tim intelijen perusahaan."
Naya menatap Adrian.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia melihat wajah suaminya benar-benar serius.
Bukan karena bisnis.
Bukan karena keluarga.
Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Setelah Dimas keluar, ruangan menjadi hening.
Naya perlahan mendekati Adrian.
"Mas."
"Hm?"
"Kamu terlihat khawatir."
Adrian tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak mencapai matanya.
"Aku hanya tidak suka ketika ada seseorang yang bergerak di belakang layar."
Naya terdiam.
Kemudian tanpa sadar menggenggam tangan Adrian.
Pria itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
"Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama."
Kalimat sederhana itu membuat hati Adrian menghangat.
Selama bertahun-tahun dia terbiasa menghadapi semua masalah sendirian.
Namun sekarang ada seseorang yang berdiri di sisinya.
Seseorang yang tidak peduli pada uang atau kekuasaan.
Seseorang yang hanya peduli pada dirinya.
Adrian mengangkat tangan Naya.
Lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
Seketika wajah Naya memerah.
"Mas Adrian..."
"Aku serius."
Suara Adrian terdengar rendah.
"Aku tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu."
Namun jauh di tempat lain.
Di sebuah gedung tua yang berdiri di pinggiran kota.
Seorang pria sedang duduk sendirian di ruangan gelap.
Hanya cahaya monitor komputer yang menerangi wajahnya.
Di layar terlihat foto Adrian.
Di sampingnya terdapat foto Naya.
Pria itu tersenyum tipis.
"Jadi akhirnya kamu mulai mendekati kebenaran."
Tangannya bergerak menekan beberapa tombol.
Puluhan data rahasia langsung muncul di layar.
Dokumen proyek.
Laporan keuangan.
Foto-foto lama.
Dan sebuah logo hitam berbentuk burung elang.
BLACK FALCON.
Tatapan pria itu berubah tajam.
"Jika Adrian mengetahui apa yang terjadi lima belas tahun lalu..."
"Semuanya akan berakhir."
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
"Apakah Kesya harus dibungkam?"
Pria itu membaca pesan tersebut beberapa detik.
Lalu membalas singkat.
Belum.
Masih ada yang lebih berguna darinya.
Setelah mengirim balasan, pria itu kembali menatap foto Naya.
Senyumnya perlahan berubah.
Kali ini lebih dingin.
Lebih menyeramkan.
"Maaf, Naya."
"Tapi jika Adrian terus mencari kebenaran..."
"Maka kamulah yang akan menjadi target berikutnya."
Bersambung...