Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Hari sudah larut, tapi Embun masih berjalan. Dia benar-benar terlihat sangat menyedihkan saat ini. Papanya bahkan lebih membela mereka dari pada dirinya.
Air matanya terus saja keluar sejak dia pergi dari rumah papanya. Bersamaan dengan itu ada sebuah mobil merah berhenti di dekatnya.
Brak!
Sean keluar dari mobil tersebut membuat Embun terkejut. "Apa yang kamu lakukan di jalan malam-malam seperti ini?" tanya Sean menghampiri Embun disana.
Melihat Sean membuat Embun buru-buru menghapus air matanya. "Saya-"
"Pipi kamu kenapa?" tanya Sean panik.
Penglihatannya memang berkurang akibat kecelakaan waktu itu. Tapi dia masih langsung menangkap sesuatu yang berbeda pada Embun. Inilah sosok Sean, dia selalu perhatian pada orang-orang sekitarnya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Sean tidak terima.
Mendapatkan perhatian dari orang lain seperti ini membuat Embun semakin menangis. Melihat itu, Sean langsung membawa Embun masuk ke dalam mobilnya.
"Masuk, saya antar kamu pulang!" ajak Sean membawa Embun masuk ke dalam mobilnya.
Embun tidak bicara apapun. Selain air matanya yang masih mengalir sejak tadi. Sean sendiri tidak bertanya lebih lanjut lagi. Setidaknya dia tidak ingin membuat gadis itu semakin bersedih.
"Tunggu di mobil!" ucap Sean sebelum turun dari mobilnya.
Masuk ke sebuah apotik, dan kembali dengan kantong plastik di tangannya.
"Sini," ucap Sean membawa Embun mendekat padanya.
Dia merapikan anak rambut Embun yang menutupi sebagian wajahnya, lalu melihat pipi Embun yang lebam dan membengkak.
"Apa ini sakit?" tanya Sean dengan lembut saat melihat pipi Embun memerah begitu.
Ada rasa marah dalam dirinya melihat gadis ini terluka.
Embun menganggukkan kepalanya, lalu menggelengkannya kembali.
"Kamu sudah kurus kering begini, jadi jangan berlagak kuat." ucap Sean membuat Embun hanya diam saja.
Dia melakukannya dengan sangat lembut. Benar-benar sangat lembut ketika memberikan salep tersebut ke pipi Embun. Yang lebih parahnya lagi, dia juga meniup pipi Embun membuat gadis itu semakin tidak karuan di buatnya.
"Dari mana kamu sebenarnya?" tanya Sean setelah menyelesaikan kegiatannya.
Membuka tutup botol air mineral, lalu memberikan botol tersebut pada Embun.
"Embun?" panggil Sean dengan lembut.
"Saya dari rumah papa!" jawab Embun masih merasa sedih atas sikap papanya.
Dia berusaha menceritakan semuanya pada Sean. Sementara di rumahnya, Wijayanto langsung mengintrogasi anak tirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Rere? kenapa Embun begitu marah dengan kamu?" tanya Wijayanto.
Rere sendiri tidak tau harus menjawab apa saat ini. Tapi mamanya tau, dan langsung berusaha mengalihkan perhatian suaminya.
"Mas, mungkin Embun salah paham aja."
"Apa kata kamu? Salah paham? Jika memang iya, coba jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Saya tau Embun dia tidak mungkin memulainya jika tidak ada yang memancing amarahnya. Dan amarahnya itu hanya berhubungan dengan mamanya. Jadi bisa jelaskan apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat Embun marah, dan apa yang kamu lakukan Rere?" tanya Wijayanto lagi.
"Mas-"
"Diam! Aku tanya apa yang Rere lakukan hingga membuat Embun datang malam-malam begini. Bahkan ini pertama kalinya dia datang ke rumah ibu lagi setelah perceraian aku dan mamanya!" ucap Wijayanto membuat ibu dan anak itu langsung terdiam.
"Baik, jika kalian tidak ada yang ingin bicara. Aku akan cari tau sendiri!" lanjut Wijayanto membuat Rere langsung bicara pada papa tirinya setelah mendapatkan ancaman dari sang mama.
"Rere gak tau kalau yang di sukai dokter itu Embun. Kata temennya, dia suka sama anak Tuan Wijayanto. Jadi-"
"Seharusnya kamu menjalankan jika kamu itu bukan anak saya!" sentak Wijayanto membuat Rere terkejut.
"Embun bahkan tidak pernah membuat kesalahan di luar sana. Lalu bagaimana bisa kamu menjadi dirinya dan berbohong pada orang luar dan mengaku sebagai anak saya hah?"
"Mas, maafin Rere. Dia masih muda, jadi wajar melakukan kesalahan."
"Apa kata kamu? Wajar? Apanya yang wajar? Dia sudah 24 tahun, bahkan dia lebih tua dari Embun. Lalu kamu anggap dia masih muda dan wajar? Embun bahkan lebih memilih bekerja dengan gaji standar di kantor kecil, saat dia memiliki segalanya. Lalu anak ini? Setiap harinya hanya keluar menghamburkan uang dan berbelanja. Apa gunanya?" cibir Wijayanto membandingkan Embun dengan Rere.
"Pergilah! kalian membuat kepala ku sakit."
"Mas, aku pijitin ya." ucap Regina menawarkan sebuah pijatan untuk suaminya.
"Aku bilang pergi!"
"Tapi, Mas-"
"Pergi sekarang!!!" seru Wijayanto membuat ibu dan anak itu terpaksa pergi dari sana.
Sedangkan Wijayanto, dia benar-benar merenungi kesalahannya. Bagaimana bisa dia memperlakukan Embun seperti tadi?
"Astaga, semakin memikirkan ini kepalaku semakin sakit." gumamnya sambil memijat pelipisnya, setelah apa yang terjadi tadi.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh