-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sinar matahari siang memantul keras di atas deretan gedung pencakar langit yang mengepung kantor pusat Dirgantara Group. Di lantai korporasi yang sibuk, Bianca masih berkutat dengan tumpukan berkas analisis spasial tanah. Sebagai gurita bisnis yang bergerak di bidang agro-properti mewah, Dirgantara Group sedang gencar memetakan perluasan lahan hulu mereka. Jari-jari Bianca yang lentik bergerak ritmis di atas papan tik, mengabaikan letih yang mulai menjalar di tengkuknya.
Bzzzt... Bzzzt...
Gawai di sudut meja bergetar halus. Bianca melirik layar, dan seulas senyum tulus yang jarang ia perlihatkan mendadak terbit saat melihat nama pemanggilnya. Ia berdehem kecil, menetralisir suaranya sebelum menggeser tombol hijau.
"Ya, Mbak Kirana?" bisik Bianca pelan, memastikan suaranya tidak mengalihkan perhatian kubikel sebelah.
"Bianca, kamu sibuk?" Suara lembut Kirana terdengar di seberang sana, membawa ketenangan yang selalu dirindukan Bianca. "Mbak sedang ada urusan sebentar di daerah dekat kantor tempatmu bekerja. Sekarang Mbak sudah di kafe Le Verre, hanya berjarak dua blok dari gedungmu. Bisakah kita makan siang bersama? Sore nanti Mbak sudah harus terbang kembali ke Surabaya bersama Mas Raditya."
Bianca melirik jam di sudut layar komputer. Waktu istirahat hampir tiba. Rasa rindu pada keluarga kecilnya yang selama ini ia batasi demi penebusan dosa di desa terpencil itu mendadak membuncah.
"Bisa, Mbak. Kebetulan pekerjaanku untuk sesi pagi ini sudah hampir selesai. Aku akan ke sana setelah merapikan meja," jawab Bianca hangat.
"Baiklah, Mbak tunggu di sini ya. Jangan terburu-buru, 'Gita' kecilku," goda Kirana pelan sebelum memutus sambungan.
Bianca terkekeh tipis. Ia segera mengarsip beberapa dokumen pemetaan lahan perkebunan teh Jawa Barat yang sedang ia periksa, lalu menyusunnya ke dalam map gantung. Setelah memastikan layarnya terkunci, ia bangkit dan berjalan menuju meja Meta, sekretaris senior Arlan.
"Mbak Meta, saya izin turun ke bawah duluan ya untuk makan siang," pamit Bianca dengan sikap santun yang natural. Meski auranya tidak bisa menyembunyikan kesan wanita berpendidikan tinggi, ia tetap menjaga gestur sebagai asisten yang tahu posisi.
Meta mendongak dari balik kubikelnya, tersenyum ramah. "Oh, silakan, Gita. Lagipula Tuan Arlan masih di ruang rapat besar dengan divisi legal dan Pak Doni. Mungkin agak siang baru selesai. Makan yang banyak, ya."
"Terima kasih, Mbak."
Bianca melangkah keluar gedung, menyusuri trotoar ibu kota yang padat oleh pekerja kantoran. Angin siang yang kering menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang sengaja diikat ekor kuda sederhana. Berjalan di antara kerumunan ini selalu mengingatkannya pada masa lalu—saat ia menjadi pusat perhatian dengan pakaian desainer ternama. Namun kini, berjalan dengan kemeja polos dan rok kerja sederhana tanpa merek justru memberinya sepotong kedamaian yang ia cari selama ini.
Sesampainya di kafe bernuansa kaca dan tanaman hijau itu, mata Bianca langsung menangkap sosok Kirana yang melambaikan tangan di sudut dekat jendela. Tanpa memperdulikan etiket formal sosialita, Bianca mempercepat langkahnya. Begitu tiba di meja, kedua bersaudara itu langsung saling memeluk erat, menyalurkan rasa rindu yang tertahan oleh jarak dan rahasia.
"Kamu kurusan, Bianca," bisik Kirana setelah pelukan terlepas, matanya menatap cemas pada adiknya yang kini berusia tiga puluh tahun itu.
"Aku sehat, Mbak. Malah merasa lebih bertenaga karena udara desa sangat bersih," kekeh Bianca, lalu duduk dan mulai membuka buku menu. Mereka memesan makanan dengan cepat, lalu tenggelam dalam obrolan hangat keluarga.
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Group, pintu ruang rapat besar terbuka dengan hentakan pelan. Arlan Dirgantara melangkah keluar dengan rahang yang mengeras, diikuti oleh Doni yang membawa tas kerja kulitnya. Jas navy Arlan sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memamerkan jam tangan arloji hitamnya yang tegas.
Arlan berjalan lurus menuju meja sekretarisnya. Matanya yang tajam langsung memindai meja kerja di sebelah Meta yang tampak kosong bersih.
"Dimana Gita, Meta?" tanya Arlan, suaranya berat, dingin, dan sarat akan nada mencari yang tidak bisa disembunyikan.
Meta sedikit tersentak, segera merapikan sikap duduknya. "Ah, Tuan Arlan. Gita tadi sudah izin turun ke bawah untuk makan siang, Tuan. Sekitar sepuluh menit yang lalu."
Arlan hanya mengangguk kaku. Ia berbalik, memberi isyarat kepada Doni untuk mengikutinya masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas. Begitu pintu kaca tertutup, Arlan menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran, sementara Doni duduk di hadapannya.
"Jadi, bagaimana perkembangan lahan di perbatasan perkebunan teh kita di Jawa Barat itu, Doni?" Arlan membuka percakapan, matanya menatap tajam pada peta topografi yang terhampar di meja jatinya.
Doni menghela napas, meletakkan sebuah berkas analisis hukum di atas meja. "Lahan perluasan yang berbatasan langsung dengan villa orang tua Anda itu memang sangat strategis untuk proyek agro-resort mewah kita, Arlan. Konturnya sempurna untuk pemandangan bukit teh. Tapi... informasi dari orang dalam menyebutkan bahwa Mahendra sudah mulai bergerak di bawah tanah."
Arlan memicingkan matanya. Mendengar nama Mahendra—rival abadi sekaligus pria yang pernah memanfaatkan kelemahan mantan istrinya untuk menyerang saham Dirgantara Group—membuat rahang Arlan mengatup rapat.
"Apa yang dilakukan tikus itu kali ini?"
"Dia mencoba mendekati para pemilik tanah ulayat di desa itu dengan menawarkan harga dua kali lipat," jelas Doni serius. "Mahendra tahu, jika dia berhasil memotong jalur logistik lahan hulu kita di Jawa Barat, proyek resort premium Dirgantara Group akan mandek di tengah jalan. Ini bukan lagi sekadar bisnis, Arlan. Ini perang pengaruh."
Arlan mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja dengan ritme yang lambat namun mengintimidasi. Sifat protektifnya terhadap aset keluarga kini bercampur dengan ambisi untuk menumbangkan Mahendra sepenuhnya.
"Pantau terus setiap jengkal pergerakannya di desa itu. Aku tidak akan membiarkan Mahendra mengotori sejengkal pun tanah di sekitar villaku."
Setelah diskusi singkat itu selesai dan Doni berpamitan untuk kembali ke kantor hukumnya, Arlan menatap arlojinya. Waktu makan siang masih tersisa tiga puluh menit. Entah mengapa, pikirannya tidak bisa lepas dari bayangan asisten pribadinya yang sedang berada di luar sana. Ada rasa posesif yang tidak rasional yang mendesaknya untuk memastikan keberadaan Gita. Pria yang biasanya skeptis terhadap kehadiran wanita itu kini mendadak tidak betah berlama-lama di dalam ruangannya sendiri jika wanita misterius itu tidak ada di sekitarnya.
Arlan mengambil kunci mobilnya, memutuskan untuk mencari angin sekaligus menjemput Gita di luar.
Ia mengendarai SUV hitamnya keluar dari basemen gedung, membelah jalanan protokol yang padat. Baru beberapa ratus meter mobilnya melaju, pandangan mata Arlan yang setajam elang mendadak terkunci pada dinding kaca sebuah kafe di pinggir jalan.
Arlan menghentikan mobilnya di bahu jalan, membiarkan mesinnya tetap menyala. Ia menurunkan kaca mobil sedikit, menatap lurus ke dalam kafe Le Verre.
Di balik dinding kaca yang temaram, ia melihat Gita. Namun, Gita tidak sedang makan sendirian. Wanita itu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita anggun bergaun linen pastel yang sangat Arlan kenal: Kirana Mahardika, istri dari Raditya, sahabat sekaligus rekan bisnis besarnya.
Arlan membeku di balik kemudi. Matanya menyipit, mengamati setiap interaksi yang terjadi di dalam sana.
Dari jarak ini, Arlan bisa melihat dengan jelas bagaimana Gita tertawa lepas—sebuah tawa yang begitu tulus, lepas, dan tanpa beban yang tidak pernah sekali pun diperlihatkan wanita itu di hadapannya. Mereka tampak begitu akrab, tangan Kirana sesekali mengusap punggung tangan Gita dengan gestur yang teramat menyayangi, sementara Gita menatap Kirana dengan binar mata yang dipenuhi rasa hormat dan kedekatan yang mendalam.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai berputar di dalam benak Arlan bagai pusaran air yang mengerikan.
Sejak kapan Gita bisa sedekat itu dengan istri seorang Raditya Mahardika?
Arlan mengingat kembali malam pesta bisnis kemarin. Ia mengira itu adalah pertemuan pertama Gita dengan kalangan sosialita Jakarta. Ia mengira Kirana hanya bersikap ramah karena ketertarikan sesaat pada asistennya yang berkelas.
Tapi pemandangan di depannya siang ini menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Keakraban mereka tidak bisa dibangun hanya dalam waktu satu malam. Ada benang merah yang terikat kuat di antara asisten pribadinya yang mengaku sebagai gadis desa miskin, dengan keluarga konglomerat Mahardika.
Cengkeraman tangan Arlan pada kemudi mobil mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa skeptisnya yang sempat diredam oleh rasa cinta mendadak bangkit kembali dengan kekuatan penuh, bercampur dengan rasa cemburu dan rasa posesif yang terluka karena merasa dibohongi.
Siapa sebenarnya wanita yang ia bawa dari tengah perkebunan teh Jawa Barat itu? Mengapa dia memiliki akses langsung ke lingkaran terdalam orang-orang paling berpengaruh di negeri ini? Dan yang paling mengusik ego Arlan... rahasia sebesar apa yang sedang disembunyikan oleh wanita yang mulai ia inginkan untuk menjadi miliknya sepenuhnya ini?
Arlan menarik tuas gigi mobilnya, matanya tetap menatap tajam ke arah dalam kafe saat ia perlahan menjalankan kembali kendaraannya, meninggalkan dua wanita itu tanpa menyadari bahwa badai kecurigaan telah resmi dimulai.
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh