Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05# Ramalan Wanita Itu
Flashback off
“Tuan Hans... Kenapa Tuan tiba-tiba menuntut pelaksanaannya sekarang? Bukankah waktu satu tahun itu belum habis? Apakah Tuan benar-benar tak bisa menunggu sedikit lagi?” tanya Bastian dengan wajah bingung dan pucat.
“Kenapa? Apa sekarang kau sudah tak rela menyerahkan salah satu adikmu untuk putraku? Kau berniat mengingkari janji dan melanggar perjanjian kita? Boleh saja... Tapi ingat, kalau kau berani berbuat begitu, bersiaplah sekeluarga menjadi gelandangan tak bertanah air!” ancam Hans dingin. Sebagai seorang ayah dan kepala keluarga besar, ia harus bertindak tegas demi kepentingan keluarganya sendiri.
“Tidak, Tuan! Jangan bicara begitu! Baiklah... beri aku waktu satu minggu saja. Aku akan membicarakan hal ini dengan keluargaku. Kami akan mengirimkan salah satu putri keluarga Gunawan ke kediaman Tuan, sesuai janji,” jawab Bastian dengan nada ketakutan. Ia sama sekali tak berani menolak Hans Aditama, orang yang dikenal kejam dan berkuasa itu.
“Baiklah. Aku ingatkan saja, aku ini sudah tua dan tak mau banyak bicara. Sebaiknya kau jangan mencoba membohongiku atau mengelak. Aku sudah lelah berurusan dengan kekejaman dunia bisnis ini. Aku tunggu kabar darimu dalam satu minggu ini,” ucap Hans tegas. Ia lalu berjalan keluar ruangan dengan penuh wibawa, sempat menepuk pundak Bastian pelan sebagai tanda peringatan terakhir.
Kaki Bastian terasa lemas sepeninggal Hans. Ia terduduk di kursi kerjanya, masih gemetar ketakutan mengingat ancaman yang baru saja diterimanya.
“Aku harus segera membicarakan ini pada Papa dan Mama... Tapi sebaiknya tidak hari ini. Alena masih sakit dan dirawat di rumah sakit. Lagipula, dua hari lagi adalah hari ulang tahun Alena. Aku tak boleh membuat kekacauan besar saat ini,” gumam Bastian, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang.
Sementara itu, di rumah sakit...
Adnan sudah memutuskan kembali ke kantor untuk membantu pekerjaan Bastian. Papa Bayron dan Mama Tina pun beranjak pulang ke kediaman utama keluarga Gunawan. Tinggallah Alena yang masih dirawat, ditemani oleh Reyhan yang sengaja ditugaskan untuk menjaganya.
Dan memang... semuanya ini sudah direncanakan matang-matang oleh mereka semua. Mereka berniat menjodohkan Reyhan dengan Alena, dan perlahan menyingkirkan Ayla dari kehidupan mereka.
“Mas... apa kau yakin apa yang kita lakukan ini sudah benar? Reyhan dan Ayla kan sudah menjalin hubungan dua tahun lamanya. Bagaimana kalau nanti Ayla tahu kalau kita sengaja mendekatkan Reyhan dengan Alena? Dia pasti akan sangat marah dan kecewa berat,” tanya Mama Tina ragu-ragu, saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang.
“Sudahlah, Ma. Lagipula Ayla itu baru dua puluh tahun, masih terlalu muda dan kekanak-kanakan, tak cocok untuk Reyhan. Alena jauh lebih pantas. Dari segi sikap, kelembutan, dan pembawaannya, Alena jauh lebih serasi berdampingan dengan Reyhan. Ingat satu hal... Reyhan itu pemuda yang baik dan berkelas, sedangkan Ayla? Dia anak pembangkang yang keras kepala dan temperamental,” jawab Bayron dengan dingin, matanya tetap fokus mengemudi.
“Tapi Mas... Bagaimanapun juga, Ayla itu anak kandung kita sendiri, darah daging kita,” ucap Mama Tina lagi, ada nada khawatir yang terselip.
“Kau sudah lupa apa yang diramalkan oleh wanita tua buruk rupa itu bertahun-tahun lalu? Ayla itu pembawa sial! Kehadirannya bisa menghancurkan seluruh keluarga kita. Sebaliknya, Alena... dia anak yang memiliki aura putih, penuh keberuntungan, jauh berbeda dengan Ayla. Kau mau kan kalau keluarga besar ini hancur hanya demi mempertahankan anak pembawa sial itu?” tegas Papa Bayron, suaranya meninggi sedikit.
Mama Tina seketika terdiam seribu bahasa. Di benaknya, kembali teringat kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu, tepat tiga bulan setelah tragedi kebakaran di rumah mereka. Saat itu, tanpa sengaja dia dan Bayron didatangi oleh seorang peramal tua berwajah seram dan buruk rupa, yang mengenakan pakaian serba hitam.
Peramal berwajah mengerikan itu pernah berkata bahwa Ayla, anak kandung mereka, memiliki aura hitam yang membawa segala keburukan bagi keluarga Gunawan. Sebaliknya, anak angkat mereka—Alena—konon memiliki aura putih yang diyakini akan mendatangkan keberuntungan besar bagi seluruh keluarga.
Awalnya, Papa Bayron dan Mama Tina sama sekali tidak berniat mempercayai ucapan wanita tua itu. Namun, begitu banyak kejadian buruk yang selalu dikaitkan dengan Ayla semenjak hari itu, hingga akhirnya keyakinan itu menancap kuat di hati mereka. Mereka pun memilih untuk memegang teguh ramalan tersebut.
Sekarang kamu sudah paham, bukan? Apa dan bagaimana sebenarnya alasan utama kebencian keluarga ini terhadap Ayla. Semuanya tidak semata-mata karena kejadian kebakaran lima belas tahun lalu, tetapi juga karena satu ucapan dari seorang peramal yang mengubah seluruh nasib hidup Ayla selamanya.
“Iya, Mas... Aku jadi teringat kejadian itu sekarang. Baiklah, lakukan saja apa pun yang terbaik untuk kita semua. Aku pun tidak ingin keluarga besar ini hancur hanya karena kehadiran Ayla,” ucap Mama Tina dengan nada yang begitu tega dan dingin.
Padahal, Ayla adalah anak yang dilahirkannya dari rahimnya sendiri. Ayla adalah anak perempuan yang paling mereka nanti-nantikan kehadirannya. Saat itu, mereka sudah memiliki dua putra, sehingga kelahiran anak perempuan menjadi hadiah dan kebahagiaan terbesar bagi mereka. Namun, semua kasih sayang dan kenangan indah itu kini terlupakan begitu saja, hilang ditelan satu kejadian nahas dan sepotong ucapan ramalan.
“Lebih baik sekarang kita fokuskan perhatian pada Alena. Dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Kita manfaatkan momen itu untuk mengumumkan hubungan Alena dengan Reyhan, agar Ayla tidak punya alasan lagi untuk mengganggu atau mencampuri urusan mereka berdua,” ucap Bayron, seolah tak ada sedikit pun rasa nurani atau belas kasih terhadap anak kandungnya sendiri.
“Baiklah... terserah kau saja,” jawab Tina pasrah, sama tega dan dinginnya seperti suaminya.
Sementara itu, di ruang rawat rumah sakit...
“Reyhan, jika kau merasa khawatir meninggalkan Ayla sendirian di rumah, sebaiknya kau pulang saja. Temani dia di sana. Kasihan dia. Aku tidak apa-apa kok di sini, lagipula kondisiku sudah jauh lebih membaik,” ucap Alena, diselingi suara batuk-batuk kecil yang sengaja diperdengarkan.
“Kau bilang sudah membaik? Tapi lihatlah, wajahmu masih sangat pucat dan kau masih sering batuk begini. Alena, jangan khawatirkan Ayla. Dia itu jauh lebih kuat dan sehat darimu. Lagipula, Mama dan Papa kan sudah kembali ke rumah, dan mereka memintaku khusus untuk menjagamu di sini,” jawab Reyhan lembut, matanya menatap Alena penuh rasa iba dan perhatian.
“Baiklah kalau begitu... Aku hanya benar-benar tak ingin Ayla salah paham nantinya,” jawab Alena, sambil tersenyum tipis yang sulit diartikan.
“Alena... bolehkah aku bertanya satu hal padamu?” tanya Reyhan perlahan, lalu meraih dan menggenggam tangan gadis itu.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya