NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM PUNCAK FESTIVAL DAN PEMBUKTIAN

Gemuruh tepuk tangan dan pendar cahaya lampu panggung utama Harapan Elite International School menandai dimulainya malam penutupan Festival Budaya Tahunan. Suara dentum bas dari sistem suara outdoor beresonansi membelah kegelapan malam Jakarta yang cerah. Ratusan lampion kertas berwarna pastel bergantungan di antara pepohonan palm, menciptakan atmosfer megah yang mewah namun magis. Semua orang mengira malam ini hanyalah ajang selebrasi kreativitas remaja biasa. Mereka tidak tahu bahwa di balik tirai panggung, sebuah eksekusi hukum berskala makro sedang berjalan di bawah kendali Rina dan Kai.

Di dalam ruang baca khusus OSIS yang terletak di lantai tiga, suasana justru sangat kontras. Tidak ada musik, tidak ada tawa. Ruangan ber-AC dingin itu hanya dipenuhi oleh deretan layar laptop yang menyala terang, memantulkan binar biru pada wajah tegang Andi dan Devan.

"Rin, semua data penggelapan dana vendor milik Ardiansyah sudah sukses dilebur dengan data rekayasa pajak Mahardika Group yang dikasih Kai," bisik Andi, jemarinya bergerak secepat kilat di atas papan ketik, menembus protokol keamanan berlapis. "Gue udah tanam dokumen enkripsi itu di dalam server proyektor utama aula bawah. Tepat pukul sembilan malam, saat video profil yayasan diputar, sistem digital kita bakal otomatis membajak layar raksasa."

Devan mendongak dari tabletnya, membetulkan letak kerah kemeja seragamnya. "Dari sisi keuangan, bank sentral baru saja merilis indikasi transaksi mencurigakan dari rekening cangkang Ardiansyah akibat pemblokiran modal yang kita pancing kemarin. Begitu layar di bawah menyala, instansi berwenang yang sudah dikirimi laporan anonim oleh pengacara ibumu akan langsung bergerak secara legal."

Rina yang berdiri di dekat jendela kaca besar, membalikkan tubuhnya perlahan. Malam ini, dia terlihat sangat bersinar. Apron barista denimnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih seragam yang pas di tubuh dengan ban lengan Wakil Ketua Komite Pengawas Sekolah yang terpasang kokoh di lengan kanannya. Rambut hitamnya yang digaya ponytail bergerak anggun seiring langkah kakinya yang tegap mendekati kedua sekutunya.

"Kerja bagus, Andi, Devan," ucap Rina, suaranya terdengar sangat jernih, tenang, namun memancarkan wibawa mutlak seorang pemimpin korporat. "Pastikan jaringan nirkabel kita tetap terisolasi dari pelacakan balik sistem IT sekolah. Malam ini adalah pembuktian bahwa keadilan tidak perlu menunggu kita dewasa untuk ditegakkan."

Pintu ruang baca khusus bergeser terbuka dengan bunyi klik yang tajam. Kai Mahardika melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam formalnya yang sangat mahal, memancarkan aura maskulin seorang pewaris tunggal yang sangat karismatik. Sepasang mata obsidian miliknya langsung mengunci pandangan pada Rina, memberikan sebuah anggukan tipis yang sarat akan janji perlindungan absolut.

"Semua juri kehormatan dari dewan komisaris yayasan sudah duduk di barisan depan aula, Rina. Termasuk ayahku... dan sepupumu, Ardiansyah," ujar Kai, suaranya yang bariton rendah terdengar dingin namun mantap. "Mereka mengira malam ini adalah malam kemenangan mereka untuk merayakan pelunasan lahan komersial baru. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berjalan menuju panggung pengadilan mereka sendiri."

Rina mengulum senyum tipis yang sangat menawan di wajah cantiknya. "Kalau begitu, mari kita turun dan menyambut para tamu agung kita, Ketua OSIS."

 

Aula utama Harapan Elite dipenuhi oleh aroma parfum mahal, dentingan gelas kristal, dan obrolan formal para pengusaha kelas atas yang hadir sebagai donatur. Di barisan kursi VIP terdepan, Hendra Mahardika—ayah Kai—duduk dengan keangkuhan mutlak seorang taipan properti, didampingi oleh Ardiansyah yang terus tersenyum lebar, merasa di atas angin karena mengira bisnis manipulasi sahamnya berjalan lancar.

Rina dan Kai berjalan berdampingan memasuki aula, membelah kerumunan siswa dan tamu yang langsung memberikan jalan dengan rasa hormat yang mendalam. Kombi aura Sang Raja dan Sang Ratu tersembunyi ini begitu mendominasi ruangan, membuat sisa-sisa faksi Sherly yang berada di sudut aula hanya bisa menatap mereka dengan rasa iri dan ketakutan yang tersisa.

Pukul sembilan malam tepat. Lampu utama aula mendadak dipadamkan, menyisakan pendar cahaya temaram dari ratusan lampion. Pembawa acara naik ke atas podium dengan suara lantang.

"Dan sekarang, mari kita saksikan bersama video profil pencapaian investasi dan visi masa depan dari Mahardika Group selaku penyokong utama Yayasan Harapan Elite!"

Layar proyektor raksasa berukuran sepuluh kali enam meter di belakang panggung perlahan menyala. Namun, bukannya menampilkan video klip kemegahan gedung atau testimoni pejabat, layar tersebut mendadak berkedip merah dengan distorsi digital yang tajam.

Bzzz... Bzzz... Bzzz...

Suasana aula yang tadinya khidmat mendadak diselimuti kasak-kusuk kebingungan. Sebelum operator proyektor sempat mematikan sistem, layar raksasa itu menampilkan sebuah folder dokumen rahasia bersimbol hukum yang sangat bersih dan beresolusi tinggi.

Tajuk utama di layar itu langsung membuat seluruh sirkulasi udara di dalam aula seolah tersedot keluar dalam hitungan detik: "Laporan Investigasi Khusus: Rekayasa Pajak Global Mahardika Group dan Aliran Dana Sogok Proyek Lahan Koridor Timur Bersama Akun Bayangan Ardiansyah."

Satu aula gempar seketika. Ratusan pasang mata, termasuk para wartawan media bisnis lokal yang sengaja diundang, langsung mengarahkan kamera mereka ke arah layar raksasa yang mulai memutar rekaman audio pembicaraan rahasia Ardiansyah saat merencanakan manipulasi pasar modal untuk menghancurkan perusahaan ayah Rina, lengkap dengan grafik aliran dana penyuapan pajak yang ditandatangani oleh Hendra Mahardika.

"Apa-apaan ini?! Matikan proyektornya sekarang juga!" bentak Hendra Mahardika, langsung berdiri dari kursi VIP-nya dengan wajah yang memerah padam menahan murka dan kepanikan yang luar biasa.

Ardiansyah di sampingnya terduduk lemas di kursi, seluruh persendian tubuhnya mendadak mati rasa seputih kain kafan ketika melihat namanya dan nomor rekening Swiss-nya terpampang nyata di depan seluruh kolega bisnis papan atas Jakarta. "N-nggak mungkin... bagaimana data ini bisa bocor..." bisik Ardiansyah dengan suara bergetar hebat penuh horor.

Wartawan langsung merangsek maju ke barisan depan, kilatan lampu blitz kamera bertubi-tubi menghantam wajah Hendra dan Ardiansyah yang mencoba menutupi wajah mereka dengan tangan. Di tengah kekacauan massal tersebut, pintu gerbang utama aula mendadak didobrak terbuka dari luar.

Belasan pria tegap berseragam dinas resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan pihak kepolisian masuk dengan langkah tegap, membawa surat perintah penangkapan resmi yang ditandatangani oleh kejaksaan agung sore tadi.

"Bapak Hendra Mahardika dan Saudara Ardiansyah, Anda berdua resmi ditahan atas dugaan tindak pidana korupsi pajak massal, penyuapan pejabat publik, dan spionase industri ilegal," tegas petugas kepolisian di depan pengeras suara, langsung mengunci pergerakan kedua raksasa kotor tersebut dan memborgol tangan mereka di depan publik.

Ardiansyah yang diseret melewati koridor tengah aula sempat menoleh dengan frustrasi, dan saat itulah matanya tidak sengaja menangkap sosok Rina yang sedang berdiri tenang di samping Kai di dekat panggung.

Rina menatap sepupunya yang hancur itu dengan sepasang matanya yang hitam pekat, sedingin es, tanpa ada setitik pun rasa kasihan di wajah cantiknya. Trauma masa lalunya di gudang tua, di mana tangan Ardiansyah yang merenggut nyawanya, kini telah terbayar lunas secara elegan menggunakan instrumen hukum yang sah di masa SMA-nya. Rina mendekatkan jemarinya ke bibir, memberikan sebuah gestur kecupan perpisahan yang sangat dingin yang membuat Ardiansyah berteriak histeris sebelum diseret keluar menuju mobil tahanan.

 

Setelah badai penangkapan itu mereda dan aula mulai dikosongkan oleh petugas, Rina dan Kai berjalan beriringan menuju area taman terbuka belakang sekolah yang diterangi oleh sisa cahaya lampion jingga. Angin malam yang berembus kencang menerbangkan helai rambut ponytail Rina, menciptakan atmosfer romansa slow-burn yang sangat intens dan menenangkan di antara mereka setelah ketegangan besar tadi.

Kai menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon willow, melepaskan jas tuksedo hitamnya dengan gerakan anggun, lalu menyampirkannya ke atas kedua bahu Rina untuk melindungi gadis itu dari dinginnya angin malam Jakarta.

"Tahap pertama dari pembersihan para raksasa kotor itu telah selesai dilaksanakan dengan sangat sempurna, Partner," ucap Kai, suaranya yang bariton rendah kini melembut, menatap lekat-lekat mata Rina yang sepekat palung samudera. "Ayahku sudah tidak akan pernah bisa kembali memanipulasi yayasan sekolah ini, dan sepupumu akan menghabiskan sisa masa mudanya di balik jeruji besi."

Rina membetulkan posisi jas Kai di bahunya, merasakan kehangatan dan aroma maskulin cedarwood yang maskulin yang mengalir dari kain tersebut. Dia mendongak, menatap wajah simetris tampan Kai dalam jarak dekat di bawah pendar cahaya lampion.

"Terima kasih atas perlindungan dan enkripsi datamu, Kai. Tanpa bantuanmu, eksekusi malam ini tidak akan berjalan sebersih ini," jawab Rina dengan nada suara yang sangat tulus—sebuah ketulusan nyata yang jarang dia keluarkan dari jiwa dewasanya.

Kai mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap bibir ranum Rina selama satu detik yang panjang sebelum beralih mengunci pandangan pada matanya. Dia mengulurkan tangan kanannya, menyentuh pipi bersih Rina dengan kelembutan yang sangat protektif.

"Aku tidak butuh ucapan terima kasih, Rina," bisik Kai dengan suara yang sangat rendah, sarat akan getaran emosi cinta yang mendalam yang telah tertahan sejak awal semester. "Aku hanya butuh kamu tetap berdiri di sampingku... memimpin sekolah ini bersama-sama sebagai Ratuku. Karena mulai malam ini, takdir Harapan Elite... sepenuhnya ada di tangan kita berdua."

Rina tersenyum manis—sebuah senyuman kemenangan sejati yang sangat indah. Aliansi di antara mereka kini telah melebur menjadi sebuah komitmen absolut yang tak tergoyahkan oleh badai apa pun di masa depan. Langkah pertama dari balas dendam remajanya telah berakhir dengan kemenangan mutlak, membuka gerbang kekuasaan baru bagi Sang Ratu SMA untuk menguasai masa depannya sendiri.

 

1
Hitomaa🇦🇷
ambisius sekali si Rina
Hitomaa🇦🇷
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Hitomaa🇦🇷
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!