Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 panen darah di pesisir guntur dan runtuhnya tembok kesombongan
Aroma garam laut di Pesisir Tebing Guntur Putih telah sepenuhnya tergantikan oleh bau anyir darah yang luar biasa pekat. Pasir putih yang membentang di sepanjang garis pantai kini berubah warna menjadi merah gelap, dipenuhi oleh sisa-sisa pertempuran biadab yang baru saja berakhir.
Dua puluh ribu pedekar elit Istana Pedang Guntur Suci, pasukan yang selama ratusan tahun ditakuti sebagai algojo dewa di wilayah pesisir Benua Atas, telah musnah. Mereka tidak gugur dalam duel kehormatan melawan praktisi aliran sesat, apalagi tewas membela panji sekte. Mereka dibantai, dicabik, dan diinjak-injak oleh ribuan kultivator liar, perompak laut, serta pemburu bayaran yang kalap oleh godaan kepingan batu spiritual.
Di atas geladak bahtera utama *Fatamorgana Emas*, angin sepoi-sepoi memainkan ujung jubah hitam Cang Qixuan. Pemuda itu duduk bersandar di singgasananya, sebuah cawan giok berisi arak madu spiritual berada dalam genggamannya. Pandangannya menyapu pemandangan antrean panjang di bawah kapal dengan sorot mata bosan.
Pemandangan di bawah sana sungguh surealis. Ribuan petarung Benua Atas yang biasanya bersikap angkuh kini berbaris rapi layaknya rakyat jelata yang mengantre pembagian sembako. Masing-masing dari mereka menenteng karung goni basah. Isinya bukanlah hasil panen gandum, melainkan kepala-kepala para murid sekte yang masih meneteskan darah.
Shen Feiyan, yang kini merangkap tugas sebagai kepala bendahara Qixuan, duduk di balik meja administrasi darurat di pelataran pantai. Wajah cantiknya pucat pasi. Ia dikawal ketat oleh sepasukan Naga Hitam berzirah emas. Tangan lentiknya gemetar setiap kali ia memeriksa isi karung, mencocokkan identitas plakat sekte, lalu menghitung jutaan batu spiritual tingkat atas untuk diserahkan kepada para pembunuh tersebut.
"Satu kepala kapten divisi. Lima ratus ribu batu spiritual," Shen Feiyan berucap parau, melempar sebuah kantong penyimpanan dimensi ke arah seorang kultivator liar berwajah penuh bekas luka bakar.
Pria berwajah kasar itu menangkap kantong tersebut dengan tangan bergetar. Saat kesadaran spiritualnya memeriksa tumpukan gunung batu spiritual di dalam kantong itu, kakinya langsung lemas. Ia jatuh berlutut di atas genangan darah, menangis tersedu-sedu sambil bersujud ke arah Bahtera Awan Emas di langit.
"Terima kasih, Dewa Kekayaan! Terima kasih! Hamba rela menjadi anjing penjaga Anda seumur hidup!" ratap pria itu histeris. Ia telah berkultivasi selama seratus tahun di jalur keras, merampok dan membunuh demi beberapa ratus batu spiritual. Hari ini, hanya dengan menebas leher seorang kapten sekte yang sedang lengah, ia menjadi jutawan dalam semalam.
Pemandangan serupa terjadi berulang kali. Puluhan ribu batu spiritual tingkat surga berpindah tangan. Bagi para petarung liar ini, Cang Qixuan bukanlah invader dari benua bawah; ia adalah dewa penderma yang turun dari langit untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan kultivasi.
Wakil Jenderal Leng Yue melangkah mendekati singgasana Qixuan, wajahnya sedatar es, sama sekali tidak terpengaruh oleh pembantaian di luar sana.
"Tuanku," lapor Leng Yue tegas. "Proses pembayaran telah mencapai delapan puluh persen. Kami berhasil memverifikasi kematian Tetua Lei Kong. Kepalanya dibawa oleh kelompok perompak Hiu Hitam. Sesuai sayembara, lima juta batu spiritual telah diserahkan. Di sisi lain, Seratus Ribu Pasukan Naga Hitam telah selesai melakukan pendaratan tanpa sedikit pun korban jiwa."
Qixuan mengangguk pelan, menyesap araknya. "Pasukan fana dari Benua Timur mendarat di tanah para dewa tanpa perlu menghunus sebilah pedang pun. Leng Yue, catat ini dalam buku sejarah pasukanmu. Kekerasan fisik adalah pekerjaan kasar; membiarkan uang yang membunuh musuhmu adalah seni."
"Sebuah seni yang sangat mahal, Tuanku," gumam Hong Lian yang sedang bersandar di meriam naganya, menyeka keringat di lehernya. "Kau baru saja membakar nyaris seratus juta batu spiritual tingkat atas hanya dalam waktu dua jam."
"Seratus juta batu spiritual yang bersumber dari tambang utara yang kudapatkan secara gratis," balas Qixuan dengan seringai iblis. "Menggunakan uang musuh untuk menghancurkan musuh lainnya adalah inti dari bisnis monopoli."
Qixuan meletakkan cawannya, lalu berdiri tegak. Auranya yang berat dan pekat menyapu seluruh pesisir pantai. Suasana yang tadinya bising oleh antrean pembagian hadiah mendadak sunyi senyap. Ribuan kultivator liar dan perompak menahan napas, menatap pemuda berjubah hitam di atas bahtera itu dengan rasa segan yang melampaui rasa takut mereka pada sekte ortodoks mana pun.
"Kalian telah mendapatkan upah kalian!" suara Qixuan menggema, diperkuat oleh *Inti Emas Kegelapan* di dalam Dantiannya. Suara itu beresonansi langsung dengan jiwa setiap orang di sana. "Dua puluh ribu anjing penjaga telah disingkirkan! Jalan menuju gerbang utama Istana Pedang Guntur Suci kini terbuka lebar!"
Mata Qixuan memancarkan ambisi yang sangat buas. "Mengapa kita harus berhenti di sini? Di dalam istana itu, tersimpan perbendaharaan raksasa yang telah mereka kumpulkan selama seribu tahun! Pusaka kelas Surga, teknik dewa, dan jutaan pil abadi! Hari ini, aku menyewa kalian semua! Berjalanlah di depan pasukanku, jadilah ujung tombak penyeranganku! Siapa saja yang berhasil mendobrak gerbang utama istana, akan kuizinkan mengambil sepuluh persen dari total perbendaharaan sekte tanpa potongan!"
Sepuluh persen dari total perbendaharaan salah satu sekte penguasa Benua Atas?!
Angka itu tidak bisa dibayangkan oleh akal sehat. Itu cukup untuk mendirikan sekte penguasa baru!
Napas ribuan petarung liar itu tersengal. Keserakahan mereka yang tadinya sudah terpuaskan kini meledak sepuluh ribu kali lipat lebih besar. Mata mereka memerah, otot-otot mereka menegang. Moral pasukan bayaran darurat ini meroket hingga mencapai titik kegilaan mutlak.
"Hancurkan Istana Guntur Suci!" raung seorang perompak dengan mata menyala.
"Hidup Dewa Kekayaan Jinling! Ikuti sang Dewa menuju gerbang emas!" sahut ribuan lainnya serempak. Teriakan mereka menggetarkan awan dan mengeringkan darah yang menggenang di pantai.
Qixuan mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat maju.
Di bawah komando Leng Yue, seratus ribu prajurit Naga Hitam bergerak maju dengan formasi tempur rapi. Zirah emas-besi mereka bergemerincing bagai simfoni kematian. Mereka bertindak sebagai pasukan inti yang kokoh, sementara ribuan kultivator liar dari Benua Atas bergerak liar di barisan paling depan layaknya kawanan serigala gila yang kelaparan.
Ekspedisi penaklukan Benua Atas resmi dimulai. Tuan Muda Pemboros tidak hanya membawa uangnya; ia telah membeli pasukan kegelapan Benua Atas untuk menghancurkan rumah mereka sendiri.
Lima ratus li dari pesisir pantai, Gunung Guntur Surgawi menjulang tinggi menembus lapisan ozon. Di puncaknya, Istana Pedang Guntur Suci berdiri dengan angkuh, dikelilingi badai petir abadi yang menyambar-nyambar tanpa henti.
Di dalam Aula Leluhur sekte tersebut, deretan plakat jiwa (soul tablet) yang terbuat dari giok putih tersusun rapi. Plakat-plakat ini terhubung dengan nyawa para murid dan tetua.
*PRANG! KRAK! PRANG!*
Suara pecahan giok terdengar seperti hujan batu. Ratusan, ribuan, hingga akhirnya dua puluh ribu plakat jiwa di barisan bawah hancur berkeping-keping secara bersamaan. Puncak kehancuran terjadi saat sebuah plakat berukuran besar di barisan tengah yang bertuliskan nama "Lei Kong" ikut retak dan meledak menjadi debu.
Penjaga aula leluhur, seorang tetua tua renta, jatuh terduduk melihat pemandangan tersebut. Air matanya mengalir deras. Ia memukul lonceng peringatan raksasa dengan seluruh sisa tenaganya.
*TENG! TENG! TENG!*
Suara lonceng tiga dentangan berturut-turut adalah tanda bahwa sekte berada di ambang kemusnahan. Terakhir kali lonceng ini berbunyi adalah tiga ratus tahun yang lalu saat perang besar sekte ortodoks melawan sekte iblis darah.
Di dalam Ruang Rapat Puncak, Patriark Lei Jiantian menghancurkan meja batu granit di hadapannya menjadi debu hanya dengan satu genggaman tangan. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon purba.
"Dua puluh ribu pasukan elit... dan Tetua Lei Kong... musnah dalam waktu kurang dari setengah hari?!" Lei Jiantian meraung, auranya yang berada di ranah *Domain Bumi (Earth Realm)* tahap menengah meledak, menghancurkan seluruh kaca jendela di ruangan tersebut. "Pasukan fana dari Benua Timur tidak mungkin memiliki kekuatan seperti ini! Laporan apa yang sebenarnya masuk padaku?!"
Seorang informan bayangan berlutut di lantai dengan gemetar. "P-Patriark... mereka tidak menggunakan pasukan fana untuk membunuh barisan depan kita. Cang Qixuan... dia menyebar puluhan juta batu spiritual tingkat atas sebagai sayembara. Ribuan kultivator liar dan perompak di pesisir berbalik melawan kita. Mereka mengeroyok Tetua Lei Kong hingga kehabisan qi, lalu memotong kepalanya demi hadiah emas."
"Uang?!" Lei Jiantian nyaris memuntahkan darah. Ia telah mempersiapkan berbagai strategi formasi pedang tingkat tinggi untuk menyambut invasi taktis, mempersiapkan dewan perang untuk membaca manuver musuh. Tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa musuh akan menghancurkan pertahanan pesisir murni menggunakan hujan uang.
"Mereka sedang bergerak menuju gunung ini, Patriark," lapor informan itu tergesa-gesa. "Armada Paviliun Fatamorgana Surga mengangkut mereka dari udara, sementara ratusan ribu pasukan gabungan bergerak dari darat. Kecepatan mereka sangat gila. Mereka akan tiba di gerbang gunung dalam waktu kurang dari satu jam!"
Lei Jiantian menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan amarah yang nyaris menghancurkan kewarasannya. Memarahi bawahan sekarang tidak akan mengembalikan pasukannya. Ia harus mengambil tindakan ekstrem.
"Aktifkan *Formasi Hukuman Petir Sembilan Lapis* di seluruh area gunung!" perintah Lei Jiantian, matanya berkilat dingin. "Keluarkan seluruh cadangan panah petir pusaka! Panggil kembali seluruh murid inti dari tempat pengasingan!"
Patriark itu kemudian berjalan mendekati sebuah dinding kosong di balik singgasananya. Ia memotong pergelangan tangannya sendiri, melukis sebuah segel darah raksasa di atas dinding tersebut.
Para tetua lain yang tersisa di ruangan itu tersentak ngeri melihat tindakan sang Patriark.
"Patriark! Anda berniat membangunkan Leluhur Tua Lei Wuji?!" seru salah satu tetua dengan wajah pucat.
Lei Wuji adalah leluhur tertinggi Istana Pedang Guntur Suci. Usianya telah mencapai delapan ratus tahun, dan kultivasinya telah menyentuh batas akhir ranah *Domain Bumi* tahap puncak (Half-step Heavenly Emperor). Beliau telah tidur di dalam balok es spiritual selama seratus tahun terakhir untuk mencegah umurnya habis terkikis waktu. Membangunkannya berarti mempertaruhkan sisa nyawa sang leluhur, sebuah langkah yang hanya diambil jika sekte benar-benar akan dihapus dari peta.
"Seorang iblis yang mampu menelan energi petir dan memanipulasi ratusan juta batu spiritual tidak bisa dihadapi dengan kekuatan biasa," Lei Jiantian menyelesaikan segel darahnya. "Jika kita kehilangan sekte ini, umur panjang Leluhur Tua tidak akan ada artinya lagi. Kita akan menghancurkan kesombongan bocah Jinling itu hari ini juga!"
Dinding batu di hadapan Lei Jiantian terbelah. Hawa dingin ekstrem yang membawa percikan petir ungu memancar keluar, menandakan kebangkitan monster purba penguasa guntur dari tidur panjangnya.
Satu jam kemudian, kaki Gunung Guntur Surgawi telah sepenuhnya dikepung.
Lautan manusia berzirah hitam serta kawanan kultivator liar mengepung anak tangga utama yang terbuat dari giok putih sepanjang puluhan kilometer menuju puncak. Di atas langit, dua ratus kapal terbang Armada Fatamorgana Surga mengepung wilayah udara sekte, moncong-moncong Meriam Naga Pemakan Bintang telah diarahkan tepat ke arah perisai energi sekte yang berbentuk kubah petir raksasa.
Di atas haluan kapal bendera, Cang Qixuan berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Matanya menganalisis perisai petir berwarna ungu yang menyelimuti gunung tersebut. Tekanan dari perisai itu sangat mengerikan. Burung spiritual mana pun yang terbang mendekati perisai tersebut langsung hangus terbakar menjadi abu sebelum sempat menyentuhnya.
"Tuan Muda, itu adalah *Formasi Hukuman Petir Sembilan Lapis*," Shen Feiyan berdiri di sebelah Qixuan, memberikan laporan teknis. "Formasi ini digerakkan oleh urat bumi gunung berapi di bawah sana. Pertahanannya nyaris mustahil ditembus oleh serangan energi murni tingkat Inti Emas. Menembakkan meriam ke arah formasi itu hanya akan membuat energinya terserap dan dipantulkan kembali ke arah armada kita."
Hong Lian mendecakkan lidah kesal. "Aku bisa membuat peluru tembus fisik dari inti baja padat, tapi pengerjaannya butuh waktu berhari-hari. Kita tidak bisa diam di sini selamanya. Qi di perisai itu menyerap energi lingkungan secara pasif."
Qixuan menyeringai tipis. "Menembus perisai? Pemikiran yang sangat merepotkan. Mengapa harus mengetuk pintu jika kau bisa mencabut pintunya dari engsel?"
Sebelum Shen Feiyan sempat bertanya apa maksud dari kata-kata itu, langit di atas puncak gunung tiba-tiba terdistorsi.
Kubah petir ungu itu bergetar hebat, lalu membelah diri di bagian atas, memunculkan dua sosok raksasa berwujud proyeksi spiritual (Domain). Sosok pertama adalah Lei Jiantian yang dikelilingi oleh lautan pedang petir. Sosok kedua, yang ukurannya jauh lebih masif dan memancarkan tekanan absolut yang membuat udara di sekitar armada terasa seberat timah, adalah seorang pria tua kurus kering dengan rambut panjang yang seluruhnya terbuat dari aliran listrik murni.
Itulah Leluhur Tua Lei Wuji.
Kehadiran sosok di ambang batas *Kaisar Langit* itu seketika melumpuhkan moral ribuan kultivator liar di bawah. Banyak dari mereka yang langsung memuntahkan darah hanya karena menatap proyeksi tersebut. Bahkan Pasukan Naga Hitam harus saling menopang agar tidak jatuh berlutut. Formasi perlindungan kapal pun berderit nyaring menahan beban gravitasi spiritual.
"Bocah fana bernama Cang Qixuan!" suara serak Lei Wuji menggema, terdengar seperti suara guntur dari neraka. "Kau telah membantai cucu-cucuku dan menodai kesucian gunungku! Hari ini, aku akan mencabut jiwamu, membakarnya di dalam tungku petir selama seratus hari, dan menjadikan kepalamu sebagai hiasan gerbang sekte!"
Tekanan ranah Domain Bumi memancar, mengunci ruang di sekitar Bahtera Awan Emas. Ruang dimensi mengeras, mencegah siapa pun menggunakan jimat teleportasi untuk melarikan diri. Lei Wuji berniat mengubur armada ini beserta seluruh penumpangnya di tempat.
"Tuanku! Kita tidak bisa melawannya!" Shen Feiyan panik, wajah cantiknya memucat. "Kultivator Domain Bumi memiliki wilayah absolut! Di dalam jangkauan auranya, hukum alam berada di bawah kendalinya!"
Mo Chen menghunus pedang hitamnya, siap mengorbankan nyawanya. Leng Yue mengarahkan busurnya meski tangannya gemetar.
Namun Qixuan justru melangkah maju, melepaskan medan pelindung armadanya dan berdiri tepat berhadapan dengan tekanan Domain Bumi tersebut. Tubuh pemuda itu sama sekali tidak bergetar. Inti Emas Kegelapan di dalam Dantiannya justru berputar dengan ritme yang sangat lambat namun menyimpan daya hisap yang mengerikan.
"Mencabut jiwaku?" Qixuan tertawa terbahak-bahak, tawanya membelah tekanan gravitasi sang leluhur. Ia mengeluarkan kipas gioknya, mengibasnya perlahan. "Orang tua, kau tidur terlalu lama di dalam balok es hingga otakmu membeku. Di dunia nyata, gelar leluhur tidak lebih berharga dari pada seonggok batu bata jika tidak memiliki modal yang cukup."
Qixuan mengangkat tangan kirinya ke atas.
"Kau membanggakan Formasi Petir Sembilan Lapis yang menyedot energi dari bumi? Kau membanggakan elemen petir sebagai sumber kekuatanmu?"
Seni Menelan Langit diaktifkan hingga tahap kelima. Lima elemen purba di dalam Inti Emas Kegelapannya—Bumi, Air Kegelapan, Api Inti, dan sisa Petir yang ia serap dari Utusan Gongsun Ze—bersatu membentuk siklus kekosongan absolut di telapak tangannya.
"Biarkan aku mengajarimu satu pelajaran ekonomi dasar, Leluhur. Deflasi energi."
Qixuan menghantamkan telapak tangannya ke arah kubah petir pelindung gunung. Bukannya menembakkan qi penghancur, Qixuan melepaskan resonansi penarik yang langsung menargetkan akar urat bumi di bawah Gunung Guntur Surgawi.
Ruang di depan Qixuan terbelah membentuk pusaran hitam legam berukuran raksasa. Pusaran itu tidak menyerang proyeksi Lei Wuji, melainkan langsung menyedot perisai petir ungu yang menyelimuti gunung tersebut!
*DZZZZZZ! KRAK! KRAK!*
Pemandangan yang mustahil terjadi. Formasi pertahanan tingkat tertinggi Benua Atas, yang dirancang untuk memantulkan serangan fisik maupun magis, kini tersedot ke dalam pusaran tangan Qixuan layaknya untaian mie yang disedot oleh orang kelaparan.
Energi petir murni dalam jumlah puluhan juta volt membanjiri tubuh Qixuan. Pakaian sutranya robek-robek. Kulitnya memancarkan cahaya kebiruan yang menyilaukan. Rasa sakit yang melampaui batas toleransi manusia merobek saraf-sarafnya, namun senyum iblis di wajah Qixuan justru semakin lebar. Ia memakan energi pertahanan sebuah sekte raksasa secara mentah-mentah!
"A-Apa yang dia lakukan?!" Lei Jiantian menjerit ngeri melihat formasi pertahanan mereka menipis dengan kecepatan gila. "Leluhur! Hentikan dia! Dia menyerap urat bumi kita!"
Lei Wuji tidak pernah melihat anomali kegilaan seperti ini sepanjang delapan ratus tahun hidupnya. Ia segera mengangkat tangannya, memanggil pedang petir raksasa dari langit untuk menebas Qixuan sebelum pemuda itu selesai menyerap energi formasi.
"Mati kau, monster!"
Pedang raksasa berukuran seratus meter melesat turun, membawa kehancuran yang sanggup membelah benua.
Namun Qixuan tidak menghentikan penyerapan. Ia menoleh sedikit, menatap Shen Feiyan yang masih mematung ketakutan.
"Gunakan meriamnya sekarang, Nona Shen. Tembak pilar spiritual di bawah kaki orang tua itu, bukan tubuhnya!" perintah Qixuan.
Hong Lian langsung paham. Sang Teratai Pandai Besi tidak membuang waktu satu detik pun. Ia mengarahkan kelima puluh *Meriam Naga Pemakan Bintang* bukan ke arah serangan pedang yang datang, melainkan membidik fondasi gunung tempat proyeksi Lei Wuji berpijak.
*DUUUAAARRR!*
Lima puluh pilar energi emas murni yang ditenagai puluhan ribu batu spiritual menghantam tebing utama Istana Pedang Guntur Suci. Tebing batu itu hancur lebur seketika. Fondasi pijakan Lei Wuji runtuh, merusak simpul formasi proyeksinya sejenak.
Gangguan kecil itu menyebabkan pedang petir raksasa yang diarahkan pada Qixuan meleset beberapa puluh meter ke samping armada, menghantam lautan hingga memunculkan tsunami kecil yang mendidih.
Bersamaan dengan itu, Qixuan menyelesaikan penyerapannya.
*BLAAASSS!*
Kubah petir ungu raksasa yang melindungi Istana Pedang Guntur Suci lenyap tanpa sisa. Telanjang bulat. Seluruh pertahanan pasif sekte hancur sepenuhnya, membiarkan istana itu terbuka lebar tanpa pelindung.
Di atas geladaknya, Qixuan terengah-engah. Asap mengepul dari seluruh permukaan kulitnya. Inti Emas Kegelapannya kini berdenyut dengan warna ungu pekat akibat kelebihan muatan energi. Auranya melonjak tak terkendali, menembus batas puncak Inti Emas dan setengah kaki melangkah ke ranah *Nascent Soul (Jiwa Baru)*!
Qixuan menyeka sisa darah hitam yang keluar dari ujung bibirnya. Matanya menatap tajam ke arah Lei Wuji yang baru saja memulihkan keseimbangan proyeksinya.
"Kau marah karena aku menyentuh gunungmu, Leluhur?" Qixuan tertawa serak, mengeluarkan tumpukan jimat peledak tingkat Surga dari cincinnya. Kali ini bukan puluhan, melainkan ribuan lembar jimat yang ia beli dari Shen Feiyan semalam suntuk. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa marah kau jika aku meratakan gunungmu menjadi lapangan datar."
Qixuan melemparkan ribuan jimat peledak bernilai miliaran batu spiritual itu ke udara. Dengan satujentikan jari, jimat-jimat itu melesat layaknya badai meteor merah, bukan menargetkan sang leluhur, melainkan menghujani seluruh bangunan, aula, perpustakaan, dan asrama Istana Pedang Guntur Suci.
"TIDAAAAAK!" raung Lei Jiantian putus asa.
Ledakan beruntun yang tidak berkesudahan mengubah puncak gunung itu menjadi neraka lautan api. Bangunan-bangunan bersejarah yang telah berdiri selama seribu tahun runtuh menjadi debu bata dalam hitungan detik. Kekayaan fana Qixuan tidak digunakan untuk bertarung dalam duel kehormatan yang konyol. Ia menggunakan kekayaannya untuk melakukan pemboman karpet ekstrem, membumihanguskan rumah musuhnya dari peta.
Di bawah kaki gunung, ribuan kultivator liar dan Pasukan Naga Hitam menatap ke langit dengan mulut terbuka lebar. Mulai saat itu, mereka tahu bahwa aturan dunia kultivasi tradisional telah berakhir. Kultivator abadi tidak lagi ditakuti; yang ditakuti adalah monster berjubah hitam yang mampu membeli kehancuran para dewa hanya dengan kepingan emasnya.
Tuan Muda Pemboros tidak hanya datang untuk menagih nyawa; ia datang untuk mengajarkan Benua Atas tentang kengerian dari inflasi kematian.