NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pulang ke Neraka

Malam itu, hujan turun dengan sangat deras di luar Rumah Sakit Medika Utama. Di dalam kamar rawat, Aurora baru saja tertidur setelah mendapatkan suntikan obat penenang akibat serangan paniknya tadi sore.

Wajahnya yang damai dalam tidur terlihat sangat rapuh, dengan selang oksigen yang masih setia menghiasi hidungnya.

Arvin sedang berada di kantin rumah sakit untuk membelikan kopi bagi Eros dan Juna yang masih berjaga di depan kamar. Namun, saat ia melangkah kembali menuju koridor ruang rawat, langkahnya terhenti.

Suasana koridor yang tadinya sepi mendadak dipenuhi oleh pria-pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria dengan wibawa yang mematikan.

Bramantyo Tenggara.

"Papa..." bisik Arvin, kakinya terasa lemas.

Di depan pintu kamar Aurora, Eros dan Juna sudah dicegat oleh empat orang pengawal. Eros mencoba melawan, namun tangannya dikunci di belakang punggung.

"Lepaskan aku! Papa, apa-apaan ini?!" teriak Eros, suaranya bergema di lorong rumah sakit yang sunyi.

Bramantyo tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menuju pintu kamar Aurora, membukanya, dan menatap putri bungsunya yang terbaring lemah. Tidak ada sedikit pun binar kasih sayang di matanya. Yang ada hanyalah kejengkelan karena urusan bisnisnya terganggu oleh "drama" ini.

"Cabut semua alatnya," perintah Bramantyo dingin kepada seorang pria yang tampak seperti dokter pribadi sewaannya.

"Tapi Pa! Dia baru saja melewati masa kritis! Kalau alatnya dicabut sekarang, dia bisa mati!" Arvin berlari mendekat, mencoba menerobos kerumunan pengawal, namun ia segera diringkus dan ditekan ke dinding.

"Dia tidak akan mati selama Papa tidak mengizinkannya mati," balas Bramantyo tanpa menoleh. "Kalian bertiga sudah bertindak terlalu jauh. Mencuri aset keluarga, menggunakan nama samaran, dan bersembunyi seperti tikus. Apa kalian pikir kalian bisa hidup tanpa nama Tenggara?"

"Papa, tolong... Aurora sakit parah. Jantungnya gagal berfungsi!" Juna berteriak, mencoba menggunakan logika medis yang biasanya didengar oleh ayahnya. "Dia butuh perawatan intensif!"

Bramantyo akhirnya menoleh, menatap Juna dengan tatapan yang membekukan darah. "Rumah kita memiliki fasilitas medis yang lebih baik daripada tempat kumuh ini, Juna. Dia akan 'dirawat' di sana, di bawah pengawasanku. Bukan di sini, di mana dia bisa kapan saja bicara pada media atau orang asing tentang 'penderitaannya' dan merusak citra perusahaan."

Dokter sewaan Bramantyo mulai melepas kabel-kabel monitor jantung dan masker oksigen Aurora. Tubuh Aurora tersentak kecil saat bantuan oksigen itu dilepaskan. Bibirnya yang mulai memerah kini kembali memucat dalam hitungan detik.

"Enggak! Papa, jangan!" Arvin meronta-ronta, air matanya tumpah. "Jangan bawa dia pulang ke rumah itu! Dia takut, Pa! Dia nggak ingat kita, dia amnesia karena trauma!"

Bramantyo berhenti sejenak saat mendengar kata amnesia. Sebuah senyum miring muncul di wajahnya.

"Amnesia? Baguslah. Dengan begitu, dia tidak akan punya alasan untuk mengeluh lagi tentang masa lalu. Dia akan menjadi selembar kertas putih yang akan patuh pada aturan rumah ini sampai kontrak perjodohan bisnis yang sudah saya siapkan untuknya terealisasi."

"Perjodohan?!" Eros membelalak. "Dia sedang sekarat dan Papa memikirkan perjodohan?!"

"Investasi harus memberikan hasil, Eros. Dan Aurora adalah investasi yang paling banyak merugikan saya sejak hari kelahirannya. Sekarang, biarkan dia membayar hutang nyawanya pada keluarga ini."

Aurora yang setengah sadar akibat suara keributan itu membuka matanya sedikit. Ia melihat bayangan pria-pria asing yang mengangkat tubuhnya ke atas brankar dorong. Ia melihat Arvin dan Eros yang sedang ditahan oleh orang-orang besar.

"Kak... tolong..." bisik Aurora lirih. Meskipun ia tidak ingat siapa mereka, secara insting jiwanya merasa bahwa kedua pria yang sedang meronta itu adalah satu-satunya pelindungnya.

"Aurora!" Arvin berteriak saat brankar itu didorong melewati dirinya.

Aurora dibawa keluar rumah sakit melalui pintu belakang, dimasukkan ke dalam ambulans pribadi keluarga Tenggara yang sudah menunggu. Bramantyo mengikuti dari belakang, meninggalkan ketiga putranya yang kini terduduk lemas di lantai rumah sakit, dikepung oleh sisa pengawal agar tidak bisa mengejar.

Fasilitas Arvin dibekukan. Mobil mereka disita. Dan akses mereka ke rumah utama dilarang total.

Malam itu, Aurora kembali ke kamarnya yang gelap. Namun kali ini, jendela kamarnya telah dipasangi teralis besi, dan pintu kayu itu diganti dengan pintu baja yang hanya bisa dibuka dari luar menggunakan kode digital.

Ia dibaringkan di tempat tidur. Tanpa mesin monitor yang berbunyi bip, kamar itu terasa seperti kuburan yang sangat mewah. Aurora menatap langit-langit, napasnya terasa sangat berat dan pendek.

Seorang perawat suruhan Bramantyo masuk dan menyuntikkan sesuatu ke lengannya. "Tidur saja, Nona. Tuan Besar tidak mau mendengar suara tangis malam ini."

Di tengah kesendiriannya, di bawah pengaruh obat bius yang kuat, Aurora meraba sisi tempat tidurnya. Ia mencari sesuatu yang hangat, mencari buku catatan biru yang kini berada di tangan Arvin. Ia merasa sangat hampa.

"Mama... jemput Aurora..." gumamnya sebelum ia kembali tenggelam dalam kegelapan.

Sementara itu, di sebuah taman kota yang gelap, Arvin, Eros, dan Juna duduk diam di bawah guyuran hujan. Mereka tidak punya apa-apa lagi. Uang mereka habis, akses mereka diputus. Namun, di mata mereka, ada kobaran api yang baru saja tersulut.

"Kita akan ambil dia kembali," ucap Eros dengan suara yang sangat rendah namun penuh dendam. "Bukan sebagai putra Tenggara, tapi sebagai kakak yang gagal."

"Gue bakal hancurin siapa pun yang halangin jalan kita, termasuk Papa," tambah Arvin, meremas buku catatan biru milik Aurora hingga lecek.

Babak peperangan antar keluarga telah dimulai. Dan Aurora, yang kini terjebak di tengah neraka tanpa ingatan, hanya bisa berharap bahwa jantungnya yang rapuh masih mau berdetak satu hari lagi untuk melihat akhir dari semua ini.

1
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!