NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Sedan hitam itu berjalan pelan melewati jalan jalan utama di distrik lama. Kacanya gelap dan mobil itu terlalu bersih untuk area seperti ini. Dan justru karena itu, semua orang langsung sadar kalau mobil itu bukan milik warga sekitar sini.

Di warung dekat tikungan, beberapa pria yang sedang merokok memperhatikannya secara diam-diam. Seorang anak kecil yang tadi bermain bol, berhenti di tengah jalan sebelum ibunya bur buru buru memanggil untuk masuk ke dalam rumah.

Distrik lama mungkin terlihat berantakan akan tetapi tempat ini seperti punya insting sendiri. Orang luar pasti selalu kelihatan.

Di lantai dua gedung tua itu, Han yang masih duduk dekat meja ketika ponselnya bergetar singkat.

Pesan dari Damar.

Mereka masuk.

Ekspresi wajah Han langsung berubah dingin. Arga yang melihat ekspresinya langsung menghela napas panjang.

“…akhirnya, kedamaian kita resmi tamat.”

Nara berdiri pelan mendekati dekat jendela.

“Mereka tahu kita di sini?”

“Belum tentu.” Jawab Han sambil memasukkan ponselnya kembali. “Tapi mereka pastinya sedang mencari sesuatu.”

“Dan biasanya, sesuatu itu kita,” gumam Arga.

Han berjalan mendekati jendela lalu membuka tirainya sedikit. Dari posisi itu ia bisa melihat sebagian jalan utama. Sebuah sedan hitam yang mengkilat berhenti didekat kios rokok di ujung gang.

Dua orang pria turun dari dalam mobil, berpenampilan rapih dengan kemeja warna gelap. Gerakannya sangat tenang dan tidak terlihat seperti preman atau polisi tapi justru terlihat sangat  profesional. Salah seorang pria memperlihatkan sesuatu ke penjaga kios. Mungkin foto. Atau mungkin juga identitas. Si penjaga kios menggeleng cepat. Pria itu hanya tersenyum sopan lalu pergi.

“Tukang survei?” bisik Arga.

Han menggeleng kecil, “bukan, orang lapangan.”

Nara memperhatikan mereka dari jauh.

“Kelihatannya seperti orang biasa saja.”

“Itu yang bikin mereka berbahaya.”

Han menutup tirai kembali.

“Mereka tidak datang buat ribut ribut.”

“Lalu?”

“Mereka datang cuma buat memastikan.”

Nara mulai mengerti sekarang. Orang-orang Helios bukan tipe yang langsung datang membawa senjata dan teriak ancaman. Mereka tenang dan rapi tapi justru itu yang jadi terasa lebih mengerikan.

Ponsel Han kembali bergetar. Kali ini telepon masuk, dari Damar.

Han langsung mengangkatnya.

“Ya.”

Suara Damar terdengar pelan di seberang.

“Mereka sedang memutari area utara sekarang.”

“Berapa orang?”

“Empat orang yang kelihatan.”

Han menatap lantai beberapa detik.

“Bersenjata?”

“Pasti.”

Arga langsung mendekat sedikit mencoba mendengar.

Damar melanjutkan,

“Anak-anak gue masih bisa jaga situasi normal.” Suaranya mengecil sedikit. “Tapi mereka mulai nanya gedung kosong sekitar sini.”

Tatapan Han langsung naik.

“Jangan biarkan mereka masuk area belakang.”

“Aku tahu.”

Sunyi singkat. Lalu Damar berkata pelan, “Kalau situasi berubah, kalian langsung jalan.”

Han menggenggam ponsel sedikit lebih erat.

“…jangan cari mati.”

Damar tertawa pendek di seberang.

“Katanya mantan pembunuh berdarah dingin.”

Telepon terputus dan ruangan itu kembali sunyi. Nara menatap Han.

“Kita harus pergi sekarang?”

Han berpikir; Belum. Kalau bergerak sekarang justru terlihat lebih mencurigakan. Dan distrik lama masih bisa memberi perlindungan sementara.

“Belum,” jawabnya.

Arga mendesah.

“Kalau boleh jujur, kata ‘belum’ dari lu tuh ngga pernah bikin lega.”

Han duduk kembali tapi tubuhnya tetap tegang. Matanya sesekali melirik ke arah jendela. Nara diam diam memperhatikannya.

Pria itu terlihat lebih hidup saat dalam situasi berbahaya. Bukan karena menikmati, tapi karena sudah terbiasa. Dan itu membuat dada Nara terasa sesak. Seseorang tidak mungkin bisa hidup seperti itu tanpa kehilangan banyak hal.

Di bawah sana, suara motor mendadak meraung keras. Disusul teriakan seseorang. Arga langsung berdiri dengan refleks.

“Apa lagi?!”

Han membuka tirainya sedikit. Ternyata hanya dua pemuda distrik berdebat soal parkiran. Namun salah satu pria berpakaian rapi tadi berhenti dan memperhatikan keributan itu cukup lama. Ia mengamati lingkungan sekitar dan mencatat sesuatu.

“Mereka sedang cek respons area,” gumam Han.

Nara menoleh.

“Maksudnya?”

“Mereka melihat siapa yang gugup, bagaimana kalau terjadi kerusuhan. Intinya respon warga setempat”

Arga langsung duduk lagi.

“Oke. …gue resmi benci orang pintar.”

Beberapa menit telah lewat yang terasa sangat lambat. Tidak ada yang benar-benar santai sekarang. Bahkan suara aktivitas pagi mulai terasa menekan. Setiap langkah di bawah terdengar mencurigakan. Setiap kendaraan membuat jantung sedikit lebih cepat. Lalu, ketukan cepat terdengar dari bawah.

Dua kali.

Pendek dan cepat.

Han mengenalinya. Beberapa detik kemudian Damar menaiki tangga dengan langkah cepat. Begitu masuk ruangan, wajahnya terlihat jauh lebih serius dibanding sebelumnya.

“Kita punya masalah.”

“Seberapa buruk?” tanya Han.

Damar melempar sesuatu ke meja. Sebuah foto kecil,  Foto Nara. Yang di ambil diam-diam dari jarak jauh. Napas Nara langsung tertahan.

“Mereka nunjukin ini ke orang-orang bawah,” kata Damar.

Arga memandangi foto itu tak percaya.

“Cepet banget.”

“Mereka bukan amatir,” jawab Han.

Damar berjalan ke jendela lalu mengintip keluar sebentar.

“Orang pusat itu bukan cuma nyari.” Nada suaranya rendah sekarang. “Mereka sudah yakin kalu targetnya ada di distrik ini.”

Ruangan kembali tegang.  Nara memeluk lengannya sendiri. Perasaan dingin mulai menjalar perlahan di punggungnya. Han mengambil foto itu lalu memperhatikannya. Tatapannya berubah jadi semakin gelap.

“Mereka mulai panik.”

Damar mengangguk.

“Itu yang bikin gue ngga suka.” Kata Arga sambil menunjuk foto itu.

“Kalau mereka sudah punya wajah Nara…” Ia menelan ludah kecil. “…berarti cepat atau lambat kita pasti akan ketemu mereka.”

Han berdiri pelan. Tidak ada keraguan lagi di wajahnya, keputusannya sudah bulat.

“Kita pindah malam ini.”

Nara langsung menatapnya.

“Ke gudang itu?”

Han mengangguk kecil. Damar memasukkan tangan ke saku jaketnya.

“Gue bakal bukain jalan buat kalian.”

Tiba tiba dari luar gedung, terdengar suara mesin mobil yang berhenti tepat di ujung gang.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!