NovelToon NovelToon
SEKALI TEMBAK JADI ANAK!

SEKALI TEMBAK JADI ANAK!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: SariRani

Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.

"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.

Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.

"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.

"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.

Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.

Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMAN KERJA DI BATAM

Setelah selesai di dapur dan meja makan, Yulanda berjalan menghampiri Faris di ruang tengah. Ternyata pria itu sudah tertidur.

Yulanda hanya bisa tersenyum manis memandanh sang kekasih yang langsung datang dari Oerlans hanya karena pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.

Lalu Yulanda melirik ke paperbag yang isinya testpack dibelikan Faris tadi.

Ia ambil dan bawa ke dalam kamar mandi.

Sekitar 10 menit didalam, Yulanda keluar dengan membawa 4 testpack yang sudah ia uji lalu membangunkan Faris.

"Astaga, maaf sayang. Aku ketiduran" panik Faris yang sontak langsung mendudukan diri saat merasakan goyangan Yulanda dilengannya.

Wanita itu pun baru bisa duduk disamping Faris saat pria itu bangun.

Raut wajah Yulanda terlihat dingin dan sendu.

"Hmm kenapa wajahmu begini, kamu kesel karena aku ketiduran cukup lama ya?" tebak Faris.

Yulanda menggelengkan kepala.

"Aku udah tes" lirihnya.

"Tes? Tes a.." belum juga Faris selesai berbicara, ia sudah melihat hasil keempat testpack yang dibawa oleh Yulanda.

Hasilnya ada yang garis 2, ada yang bertuliskan positif, ada yang terbaca pregnant.

"Kamu..kamu beneran hamil yang?" lirih Faris.

"Ya buktinya gitu" sahut Yulanda agak kesel karena respon sang kekasih yang meragukan hasil yang ia bawa.

Grep!!

Faris langsung memeluk Yulanda.

"Ayo kita nikah!" ajak Faris spontan.

"Gimana bisa nikah, daddy ku masih belum merestui kita. Dia yang bisa nikahkan kita" ucap Yulanda.

"Kalau dia tau kamu hamil, mana bisa membuat malu keluarga? Pasti daddymu mau menikahkan kita meskipun terpaksa" sahut Faris.

Yulanda menatap lekat kepercayaan diri pria dihadapannya.

"Tapi kalau kamu nanti dihajar babak belur gimana?" tanyanya.

"Aku sudah siap mental dan fiisk untuk menerima itu. Biar aku masuk rumah sakit, selama daddy mu mau menikahkan kita, aku rela" jawab Faris lalu melepaskan pelukannya.

"Percayalah padaku sayang. Aku tidak akan membiarkan mu dan anak kita mendapatkan perlakuan tidak enak dari orang lain" lanjut pria itu.

"Hmm..ya harus..aku gak mau dihina orang lain karena hamil diluar nikah. Jadi cepet nikahi aku" minta Yulanda.

Faris tersenyum tampan dan tertawa kecil melihat respon kekasihnya.

"Aku gak menyangka sekali nyoba tanpa pengaman langsung jadi" ujarnya kemudian.

"Aku juga gak nyangka kalau malam itu bisa langsung jadi. Padahal aku udah minum pil kb darurat juga" sahut Yulanda.

"Mungkin benihku terlalu kuat hahahaa" bangga Faris.

"Hist!!! Dasar pria tampan yang mencuri sel telurku" balas Yulanda.

Mereka pun tertawa bersama.

Karena hari sudah malam, Faris akhirnya tidur di apartemen Yulanda hingga pagi pagi sekitar jam 5 pagi, ia pulang ke Oerlans dengan taxi.

Semalam mereka membicaran rencana untuk pulang ke Jakarta dan menghadap ke keluarga Argomuro. Rencananya minggu depan mereka akan pulang setelah acara fashion week Yulanda selesai.

.

Di Jakarta, mulai hari inu Guntur dan Ratih tidak bisa bertemu karena peringatan dari Kakek Rustam.

Ratih juga sudah berangkat menuju Batam untuk menemui Pak Martin, penanggung jawab Perusahaan Gelindo Abimanyu cabang Batam.

Guntur beraktivitas seperti biasa sebagai CEO di perusahaan keluarganya, Abimanyu Group. Ia yakin jika Ratih dapat menaklukkan tantangan sang kakek untuk menjual 100 ribu panel surya dalam sebulan.

Jam 1 siang, Ratih sudah sampai di Batam lalu bertemu Martin dan mendapatkan penjelasan terkait marketing serta pemasaran Panel Surya.

"Ratih, saya memberikan partner marketing untuk kamu dari perusahaan untuk membantumu menyelesaikan misi yang diberikan tuan besar Rustam. Namanya Gina, dia akan kesini setelah ini" ucap Martin.

Dan benar saja, seorang wanita dengan baju formal, kemeja putih blazer hitam serta celana kain masuk keruangan Martin.

"Ini dia" ucap pria itu lalu memperkenalkan Ratih kepada Gina maupun sebaliknya.

Ratih akan tinggal bersama Gina selama di Batam.

Setelah itu, Gina mengajak Ratih menuju ruangan pemasaran.

"Silahkan Bu Ratih, ini meja anda. Meja saya ada di depan anda" ucap Gina.

"Baik, terima kasih Bu Gina" sahut Ratih sopan.

"Sebentar saya akan mengambilkan dokumen penjualan untuk tahun ini" ujar Gina dan Ratih mengangguk mengiyakan.

Tak lama kemudian, Gina datang dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.

"Ini dokumennya ya. Jika ingin menganalisis perkembangan secara statistik bisa langsung masuk sistem kita saja" ucap Gina.

"Baik, akan saya pelajari terlebih dahulu" ujar Ratih sambil menerima dokumen yang diberikan oleh Gina.

Setelah Gina kembali ke mejanya, Ratih pun duduk lalu mulai menyalakan komputer.

Ratih mulai membuka dokumen serta membaca dan menganalisis isinya. Jika ada yang kurang ia pahami, Ratih akan menghampiri Gina.

Ruangan mereka ini memang hanya diisi oleh 2 orang sehingga tidak ada pegawai lain yang berada disitu.

Gina bekerja sebagai pegawai marketing pemasaran di Gelindo Abimanyu Batam sudah 3 tahun sejak ia lulus sarjana. Umurnya 25 tahun. Asli Batam.

Dan tanpa Ratih ketahui, Gina adalah putri dari Martin yang sudah Rustam percaya untuk memegang marketing dan pemasaran selama 3 tahun ini di anak perusahaan yang ia bangun.

Gina juga sudah tau jika Ratih memiliki misi menjual 100 ribu panel surya dan akan ia bantu karena imbalan yang diberikan Rustam sebagai reward.

Putri Martin ini akan dibawa ke perusahaan induk Abimanyu di Jakarta jika misi Ratih berhasil.

Secara Gina memang ingin sekali bekerja di perusahaan Abimanyu Group Pusat, maka dari itu saat ayahnya menawarkan hal ini, ia sangat antusias.

Seharian ini Ratih belajar tentang customer customer dari perusahaan. Besok baru menyusun rencana penawaran untuk customer yang berpotensi membutuhkan panel surya dalam kuantitas banyak.

Saat jam selesai kantor, Ratih dan Gina pulang bersama menggunakan mobil kantor yang disediakan Martin karena membawa tamu.

Padahal Gina memiliki mobilnya sendiri tapi tidak ia pakai sesuai intruksi sang ayah.

"Bu Ratih tadi juga dijemput Pak Oni ya dibandara?" ujar Gina saat sudah masuk dalam mobil.

"Iya, tadi kami sudah berkenalan" sahut Ratih.

"Nanti selama Bu Ratih disini, kemanapun akan ditemani oleh Pak Oni ya jika saya ndak bisa menemani" ujar Gina.

"Baik, Bu Gina" ucap Ratih.

Lalu Pak Oni menjalankan mobilnya keluar kawasan perusahaan.

Tak lama kemudian, mereka sampai di suatu rumah di kawasan perumahan. Ratih dan Gina turun sedangkan Pak Oni dipersilakan langsung pulang.

"Selamat datang di rumah saya, Bu Ratih" ujar Gina.

"Terima kasih sudah berkenan untuk tinggal dengan saya ya bu" sahut Ratih.

"Lebih enaknya, panggil aku Gina aja, Mbak Ratih. Kita udah nggak kerja kan jadi bisa fleksibel" minta Gina dengan senyuman khas teman penuh keceriaan, tidak sekaku saat di kantor tadi.

Ratih yang terkejut dengan perubahan dari Gina. Tadi teman kerjanya ini begitu serius dan terkesan dingin namun sekarang sangat menyambutnya hangat.

"Jangan heran ya mbak, aku memang gini. Gila kerja. Kalau di kantor bawaannya serius terus soalnya pressure kerjaan gak bisa buat main main" ucap Gina.

"Ah..baik, saya mengerti..tapi kayak nya saya nggak bisa manggil nama saja kepada seniorku di perusahaan" sahut Ratih.

"Santai saja mbak. Kalau dirumah begini gak ada kata senior junior, kita bisa jadi teman kan?" ujar Gina.

"Udah ayo masuk dulu, aku ajak mbak ke kamarnya mbak" ajak Gina.

Keduanya masuk rumah, Ratih pun melihat isi rumah Gina sampai ia dipersilakan masuk ke kamar yang akan ia tempati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!