NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 18

Satu per satu murid mulai naik ke atas panggung untuk menunjukkan bakat terbaik mereka. Ada yang bernyanyi dengan suara merdu, menari dengan penuh percaya diri, memainkan piano dan biola dengan indah, bahkan ada pula yang tampil berkelompok membawakan drama hingga membuat seluruh aula terpukau.

Widya dan Ayi pun tak kalah memukau. Widya memainkan piano sambil bernyanyi dengan suara lembut yang menenangkan, sedangkan Ayi memainkan biola dengan penuh penghayatan hingga berhasil mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton.

“Wah! Murid-murid di sini bukan cuma pintar, tapi juga berbakat luar biasa!” seru sang MC penuh antusias. “Dan sekarang, mari kita sambut penampilan berikutnya… Alya Gabrielsen!”

“Ayo, Alya! Lo pasti bisa!” dukung Widya bersemangat.

“Semangat! Jangan nervous!” timpal Ayi sambil mengepalkan tangan memberi semangat.

Alya menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya yang mulai diliputi gugup. Meski acara ini hanya hiburan semata, tetap saja ada hadiah menarik yang diperebutkan. Tujuannya jelas, agar para murid semakin percaya diri tampil di depan umum.

Walaupun sebagian besar murid di sekolah itu berasal dari keluarga kaya, tetap saja hadiah adalah sesuatu yang sulit ditolak siapa pun. Apalagi jika hadiahnya berupa uang tunai.

Dan bukan hanya itu.

Hadiah utamanya bahkan berupa beasiswa ke Korea, sesuatu yang membuat hampir seluruh murid mengincarnya mati-matian.

Alya akhirnya melangkah naik ke atas panggung sambil membawa gitar di tangannya. Ia duduk perlahan di kursi yang telah disediakan. Seketika, sorot lampu panggung jatuh tepat ke arahnya, membuat seluruh pasang mata di ruangan itu tertuju hanya padanya.

Dengan jemari sedikit gemetar, Alya mulai memetik senar gitarnya. Namun perlahan, ia tenggelam dalam alunan nada yang ia mainkan sendiri.

Lagu yang dibawakannya adalah “A Thousand Years” milik Christina Perri. Lagu tentang cinta dan persahabatan yang abadi—tentang perasaan yang tetap hidup meski waktu dan jarak memisahkan.

Lagu yang terasa begitu pas untuk malam itu.

“Heart beats fast, colors and promises…”

Suara Alya mengalun lembut memenuhi ruangan.

“How to be brave? How can I love when I'm afraid to fall?”

Petikan gitarnya terdengar begitu menyentuh, berpadu dengan suara bening yang penuh emosi.

“But watching you stand alone…”

Beberapa murid mulai terdiam, larut dalam lirik yang ia nyanyikan.

“All of my doubt suddenly goes away somehow…”

“One step closer…”

Alya memejamkan mata, benar-benar menghayati setiap bait lagu yang keluar dari bibirnya.

“I have died every day waiting for you…”

Suasana aula berubah hening. Tidak ada yang berbicara. Semua seolah terpaku menatap gadis di atas panggung itu.

“Darling, don't be afraid…”

Bahkan beberapa guru tampak ikut tersentuh mendengar suara Alya yang terdengar begitu tulus.

“I have loved you for a thousand years…”

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata sebagian penonton.

“I'll love you for a thousand more…”

Alya terus bernyanyi dengan penuh penghayatan, seolah setiap lirik mewakili isi hatinya sendiri.

Hingga lagu itu berakhir dengan nada lembut yang perlahan memudar di udara.

“I have loved you for a thousand years… I'll love you for a thousand more…”

Sunyi sesaat memenuhi ruangan.

Lalu—

BRAK!

Tepuk tangan meriah langsung menggema di seluruh aula. Beberapa murid bahkan berdiri sambil bertepuk tangan kagum. Penampilan Alya benar-benar berhasil menyentuh hati banyak orang.

Widya menitikkan air mata haru, sementara Ayi justru menangis paling heboh di tempat duduknya hingga membuat Widya menggeleng pasrah melihat tingkah sahabatnya itu.

“Gila… gue sampe nangis begini,” isak Ayi dramatis sambil mengusap wajahnya yang belepotan make up.

Lagu benar-benar berhenti, namun suasana haru masih terasa begitu kuat di dalam aula. Bahkan beberapa guru terlihat diam-diam mengusap air mata mereka sendiri.

Acara pun berlanjut santai. Sang MC mulai berbincang dengan penonton sambil memberi waktu kepada para guru untuk menilai seluruh penampilan yang sudah ditampilkan malam itu.

“Make up gue luntur gara-gara nangisin lo yang nyanyinya terlalu menjiwai, huhuhu!” rengek Ayi sambil memeluk Alya.

Alya terkekeh pelan. “Ututu… sahabat gue kasihan banget.”

Bukannya menghibur, Alya malah meledek, membuat Ayi langsung menarik kembali air matanya sambil manyun kesal.

Semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga tiba-tiba—

“Eh?!”

Brak!

Suasana aula mendadak ricuh ketika seluruh lampu tiba-tiba padam.

“Ada apa?!”

“Kenapa lampunya mati?!”

“Astaga, gelap banget!”

Alya refleks membuka tasnya dengan panik. “Ponsel gue mana…?” gumamnya buru-buru mencari flashlight.

Ruangan kini gelap gulita. Suara bisik-bisik panik mulai terdengar di mana-mana.

Namun tiba-tiba—

Layar besar di belakang panggung menyala terang.

Dan detik berikutnya… seluruh aula langsung terdiam membeku.

Tyo membelalakkan mata lebar-lebar hingga berdiri dari kursinya.

“Apa…?”

Slide demi slide foto vulgar muncul di layar besar itu.

Dan yang membuat semua orang syok adalah wajah dalam foto tersebut.

Wajah Alya.

Di sana terlihat jelas Alya bersama seorang pria yang wajahnya disensor. Bahkan beberapa foto lainnya memperlihatkan wajah beberapa guru sekolah mereka.

“Apa-apaan ini?!” bentak Tyo tak percaya.

Bukan hanya Tyo. Semua orang yang hadir tampak syok di tempat masing-masing. Tatapan mereka perlahan beralih menuju Alya.

Alya langsung limbung. Tubuhnya hampir jatuh jika Widya tidak sigap menahannya.

Lampu aula kembali menyala terang. Kini semuanya terlihat semakin jelas… dan semakin menyakitkan.

Tyo menatap putrinya dengan sorot mata penuh guncangan, antara kecewa dan tidak percaya. Dengan langkah lemah, ia mendekati Alya.

Tangannya bergetar saat menggenggam tangan putrinya.

“Jelasin sama Papa…” suaranya lirih dan nyaris pecah. “Itu bukan kamu, kan?”

Alya masih membeku dalam syok. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Bukan, Pa… itu bukan Alya…” suaranya bergetar hebat. “Papa harus percaya sama Alya…”

Ia menggenggam tangan ayahnya erat-erat, seolah takut kehilangan satu-satunya orang yang masih mau mempercayainya.

“Nggak usah ngelak, Alya!”

Suara nyaring itu membuat semua orang menoleh.

Sari berjalan mendekat dengan dagu terangkat tinggi dan senyum meremehkan di wajahnya.

“Sekali jadi jalang, tetap aja jalang,” ucapnya lantang tanpa rasa kasihan. “Pantes aja nilai lo selalu tinggi. Ternyata ada main juga, ya? Ups.”

“Apa?! Mulut lo dijaga ya!” bentak Ayi marah.

Namun Sari hanya tertawa sinis. Ia menunjuk-nunjuk dada Alya sambil berdecak pelan.

“Miris banget hidup lo. Selain jadi jalangnya Tuan Max, ternyata lo juga jadi jalangnya para guru.”

“Foto itu editan!” teriak Ayi keras hingga suaranya menggema di aula. “Ini fitnah!”

Sari melipat kedua tangan di depan dada.

“Fitnah?” katanya mengejek. “Buka mata lo lebar-lebar. Itu foto kualitas HD, jelas banget kalau asli. Masih nggak percaya juga? Panggil aja guru-guru yang terlibat.”

Ucapan Sari membuat bisikan demi bisikan mulai terdengar di seluruh aula.

“Serius itu Alya?”

“Gue nggak nyangka…”

“Pantes aja nilainya bagus terus…”

Tatapan jijik dan meremehkan mulai mengarah kepada Alya. Gadis itu semakin terpojok.

Ia ingin membela diri. Ingin berteriak bahwa semua itu bohong.

Namun tenggorokannya terasa tercekat.

Tidak ada yang akan percaya padanya.

“Bastard!” maki Ayi tepat di depan wajah Sari.

“Apa pun yang lo bilang, gue tetap nggak percaya!” bentaknya marah. “Alya sahabat gue, dan gue yang paling tahu dia kayak gimana!”

Ayi maju selangkah dengan tatapan tajam penuh amarah.

“ITU BUKAN ALYA!” teriaknya keras. “Alya itu pintar dan cerdas! Dia nggak perlu ngerendahin harga dirinya cuma buat nilai!”

Tatapan Ayi berubah semakin menusuk.

“Nggak kayak lo. Cantik kagak, pintar juga enggak.”

“Lo—!”

Wajah Sari langsung memerah menahan emosi.

Ia memberi kode dengan matanya hingga dua orang guru maju mendekat dan berdiri di antara mereka.

Sari tersenyum miring.

“Gue nggak peduli sama omongan lo,” katanya santai. “Tapi biar kebenaran yang ngomong sendiri.”

Ia menoleh ke arah dua guru itu.

“Pak Hendru, Pak Bagas… bisa dijelaskan?”

Kedua guru yang memang dikenal angkuh itu saling pandang sebelum akhirnya Guru Hendru berdecih pelan.

“Foto itu memang fakta,” ucapnya tanpa ragu. “Alya sendiri yang datang kepada kami dan meminta nilai tertinggi untuk kelulusannya.”

Suasana aula kembali gempar.

“Benar,” sambung Bagas sambil menatap Alya dengan sorot mata menjijikkan. “Awalnya kami menolak. Tapi dia terus memohon dan bilang akan memberikan apa pun yang kami mau asal bisa lulus dengan nilai terbaik.”

Ia tersenyum licik.

“Kami tidak memaksa. Dia sendiri yang dengan sukarela naik ke ranjang kami.”

DEG!

Ucapan itu membuat seluruh ruangan langsung dipenuhi suara keterkejutan.

Alya menggeleng kuat-kuat sambil menggenggam tangan ayahnya erat. Air matanya jatuh semakin deras.

Bibirnya bergetar hebat, tetapi suaranya tak kunjung keluar.

Ia hanya bisa menangis dalam ketidakberdayaan.

“Papa…” lirihnya hancur.

Namun Tyo justru menggenggam kedua bahu putrinya erat-erat. Tatapannya masih dipenuhi luka, tetapi juga keyakinan.

“Tenang…” suaranya pelan namun tegas.

“Papa percaya sama kamu.”

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!