NovelToon NovelToon
The Silent Queen : Mafia'S Ghost Editor

The Silent Queen : Mafia'S Ghost Editor

Status: tamat
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cyrus dan Calypsa (21+)

Aethelgard keesokan harinya terlihat sama persis seperti hari-hari sebelumnya.

Hujan turun sejak subuh, mengisi kanal-kanal lama di distrik barat dan membasahi aspal jalan-jalan sempit. Pasar di distrik tengah sudah ramai sejak pagi. Bus-bus menarik rute yang sama. Orang-orang bergerak dalam ritme keseharian yang tidak terpengaruh oleh apapun yang terjadi semalam di jalan Meridian.

Calypsa tiba kembali di markas Wraithgate menjelang siang setelah tidur beberapa jam yang lebih banyak ia isi dengan menatap langit-langit kamarnya daripada benar-benar tidur. Pikirannya terlalu penuh. Bukan hanya tentang Dragan yang sudah selesai, bukan hanya tentang Apo yang sudah terjawab.

Ruang kendali lebih tenang dari biasanya. Beberapa operator bekerja dalam diam dengan wajah-wajah yang kelelahan tapi lega.

Cyrus ada di ruangannya.

Calypsa mengetuk pintu.

"Masuk."

Ia masuk dan menutup pintu. Cyrus duduk di kursinya dengan kemeja yang sudah ia ganti, dan ada sesuatu dalam cara ia duduk yang berbeda, tidak ada ketegangan di bahunya yang biasanya hampir selalu ada.

"Duduk." ujar Cyrus.

Calypsa duduk di kursi seberang mejanya. Mereka tidak langsung berbicara.

"Voss sudah dibawa oleh orang-orang yang perlu menanganinya." ujar Cyrus akhirnya. "Data dari drive-mu menjadi dasar dari semuanya."

"Dan jaringan di dalam biro keamanan?"

"Sedang dibersihkan." Cyrus menatapnya. "Informasi yang kamu kumpulkan selama berminggu-minggu itu akan mengubah cara kota ini bekerja untuk waktu yang sangat lama."

Calypsa mengangguk pelan.

"Bagaimana perasaanmu." tanya Cyrus.

"Aneh." ujar Calypsa. "Dua tahun bergerak karena ada sesuatu yang belum selesai. Sekarang sudah selesai dan aku tidak tahu persis bagaimana rasanya."

Cyrus tidak mengisi kalimat itu dengan respons yang terburu-buru. Ia mendengarkan dengan cara yang sudah Calypsa kenal, penuh dan tanpa terbagi.

Mereka berbicara tentang Apo, tentang tanggung jawab, tentang malam dua tahun lalu dengan cara yang lebih lengkap dari sebelumnya karena sekarang tidak ada lagi yang perlu ditahan. Calypsa mendengarkan Cyrus dengan cara yang berbeda dari cara ia mendengarkan selama minggu-minggu pertama, bukan lagi sebagai analis yang memproses informasi, tapi sebagai seseorang yang sudah mengenal pria ini cukup dekat untuk tahu di mana letak bagian-bagian yang masih rapuh di balik semua keterkendalian itu.

"Apa yang akan kamu lakukan sekarang." tanya Cyrus setelah semuanya sudah dikatakan.

"Aku butuh beberapa hari." jawab Calypsa. "Untuk hal-hal yang terlalu lama kutunda."

Cyrus mengangguk. Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke sisi meja, dan berhenti tepat di depan kursi Calypsa. Calypsa berdiri.

Cyrus meletakkan tangannya di sisi wajahnya, ibu jarinya menelusuri tulang pipinya. Calypsa meletakkan tangannya di dadanya, merasakan detak jantung yang masih tidak pernah setenang ekspresi wajahnya.

"Kembalilah." ujar Cyrus pelan.

Calypsa mengangguk, lalu berdiri di ujung jari kakinya dan mencium sudut rahangnya. Kemudian ia mengambil tasnya dan keluar.

Tiga hari itu ia isi dengan hal-hal yang sudah terlalu lama ditunda.

Hari pertama ia pergi ke makam Apo. Pertama kali sejak pemakaman dua tahun lalu. Ia duduk hampir satu jam dan bercerita tentang semuanya, tentang dua tahun yang panjang, tentang pria dengan mata coklat tua dan tato ular yang ternyata ada di sana pada malam yang paling gelap. Matanya basah cukup untuk diakui.

Hari kedua ia membereskan kontrakannya. Menyortir barang-barang yang masih relevan dan yang sudah tidak relevan dengan siapa ia sekarang.

Hari ketiga, pada malam harinya, Cyrus datang ke kontrakannya.

Ia membawa kotak makanan dan berdiri di depan pintu dengan cara yang membuat Calypsa menyadari bahwa pria ini tidak pernah terlatih untuk datang ke tempat seseorang hanya karena ingin, dan upaya yang ia lakukan malam ini, dalam kesederhanaan yang tidak dibuat-buat, terasa lebih besar dari apapun yang bisa ia ucapkan.

Calypsa membuka pintu lebih lebar.

Mereka makan di meja kecil yang sempit di dapur kontrakannya, dengan cahaya yang tidak sekeras lampu markas dan suara hujan yang mengetuk jendela dari luar. Percakapan bergerak dari hal-hal yang ringan ke yang lebih berat dan kembali lagi, dengan ritme yang sudah terasa sangat natural.

Ketika makan selesai dan piring-piring sudah dibereskan, Cyrus berdiri di dekat jendela dapur melihat ke luar, tangannya di saku, cahaya redup dari luar memantul samar di profil wajahnya. Calypsa berdiri di belakangnya, dan tanpa banyak perhitungan ia melingkarkan tangannya dari belakang, telapak tangannya rata di perutnya, pipinya bersandar di punggungnya.

Cyrus tidak bergerak selama beberapa detik, tapi Calypsa bisa merasakan tarikan napasnya berubah.

Kemudian tangannya bergerak, menutupi tangan Calypsa dengan telapaknya yang besar, menekannya lebih erat ke perutnya.

"Kamu tidak pernah melakukan ini sebelumnya." ujar Cyrus, suaranya rendah dan ada tekstur berbeda di sana.

"Aku melakukan banyak hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya belakangan ini." jawab Calypsa.

Cyrus berbalik dalam lingkaran pelukannya, dan tiba-tiba jarak di antara mereka tidak ada. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Calypsa, matanya lebih gelap dari biasanya dalam cahaya yang minim ini.

Ia tidak langsung menciumnya. Jari-jarinya menelusuri rahang Calypsa ke bawah hingga dagunya, kemudian ke lehernya, berhenti di lekukan di bawah tenggorokannya seperti sedang menghitung denyutnya.

"Cyrus." ujar Calypsa pelan, dan nama itu keluar seperti sesuatu antara peringatan dan undangan.

"Aku tahu." ujarnya, mengulang kata-kata Calypsa sendiri kembali padanya, dan ada senyum kecil di sudut bibirnya sebelum ia menciumnya.

Ciuman itu tidak seperti yang sebelumnya. Tidak hati-hati, tidak perlahan menguji. Ini langsung penuh dan dalam, tangannya di punggung bawah Calypsa menariknya sampai tidak ada ruang tersisa di antara mereka, dan Calypsa bisa merasakan betapa salahnya asumsinya selama ini bahwa ketenangan Cyrus berarti dingin, karena pria ini ternyata menyimpan sesuatu yang sangat panas di balik semua keterkendalian itu dan semuanya sekarang mengarah langsung padanya.

Calypsa menarik kerah kemejanya dengan kedua tangan.

Cyrus mengangkatnya dari lantai, tangannya di bawah pahanya, dan Calypsa melingkarkan kakinya di pinggang pria itu dengan cara yang sepenuhnya naluriah. Ia membawa mereka berdua ke kamar, meletakkan Calypsa di atas ranjang dengan cara yang terkontrol meski jelas tidak tenang, dan berdiri di atasnya selama satu detik penuh hanya menatapnya, rambut Calypsa yang berantakan dan napasnya yang sudah tidak teratur dan matanya yang menatap balik tanpa memalingkan pandangan.

"Kamu terlalu banyak berpikir." ujar Calypsa.

"Kebiasaan lama." jawab Cyrus, dan ia menunduk.

Jari-jarinya membuka kancing kemeja Calypsa satu per satu dengan sabar yang terasa seperti siksaan, kemudian diangkatnya sedikit tubuh Calypsa ke dalam pelukannya untuk mengulum bibirnya dalam ciuman yang lebih dalam dan lebih lapar dari sebelumnya. Tangan Cyrus menelusuri punggung Calypsa, menemukan dan melepaskan pengait bra-nya dengan gerakan yang terlalu terasa tidak terburu-buru untuk ukuran situasinya, dan Calypsa menarik napas tajam ketika sesuatu yang terasa sesak sedari tadi akhirnya terlepas.

Cyrus melepaskan kemejanya sendiri kemudian, dan ketika kulit mereka akhirnya bersentuhan langsung, kehangatan itu menghantarkan sesuatu yang terasa seperti arus listrik pelan dan nikmat di sepanjang tulang belakang Calypsa.

Bibirnya menelusuri tiap jengkal leher jenjang Calypsa, lidahnya memainkan cuping telinganya dengan pelan dan sangat disengaja hingga terdengar desahan yang tidak sempat Calypsa tahan. Napasnya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ia kendalikan hanya dari sentuhan di bagian itu saja.

Perlahan, dengan perhitungan yang terasa sangat akurat seperti segala sesuatu yang Cyrus lakukan, tanpa melewatkan setiap inci kulit Calypsa, bibirnya bergerak turun, menelusuri lekukan dadanya, tulang-tulang di sisi tubuhnya, sampai akhirnya ia membenamkan wajahnya di antara kedua payudara Calypsa. Tangannya memainkan puncaknya terlebih dahulu, ibu jarinya berputar pelan dengan tekanan yang pas, sebelum mulutnya menyusul, menyesap dan mengulum dengan nikmat yang tanpa terburu-buru.

Calypsa yang terengah-engah mencoba membalas dengan memainkan telinga Cyrus menggunakan ujung lidahnya, dan respons yang keluar dari pria itu adalah erangan pelan yang terasa lebih seperti peringatan, diikuti gigitan kecil di puncak payudaranya yang membuat punggung Calypsa melengkung dari ranjang.

"Tidak adil." bisik Calypsa, suaranya tidak sekuat yang ia inginkan.

Cyrus tidak menjawab dengan kata-kata. Mulutnya berpindah lebih rendah, mengecup dan mengulum dengan ritme yang membuat Calypsa menahan napas dan melepaskannya kembali dalam potongan-potongan yang tidak teratur, jarinya menautkan lebih erat di rambut Cyrus sementara punggungnya melengkung tanpa ia perintahkan. Tangannya yang biasanya memberi instruksi kepada puluhan orang ternyata tahu dengan sangat tepat bagaimana memberi jenis instruksi yang sama sekali berbeda, dan Calypsa yang sudah sangat terbiasa mengendalikan segalanya dari balik layar mendapati bahwa menyerahkan kendali kepada pria ini terasa seperti keputusan paling mudah yang pernah ia buat.

Perlahan bibirnya berpindah lagi, meninggalkan jejak di perut Calypsa, di lekukan pinggulnya, di bagian dalam pahanya yang membuat Calypsa refleks membuka kedua kakinya lebih lebar, tubuhnya berkata lebih jelas dari kata-kata manapun. Jari-jemari Cyrus tidak berhenti bekerja sementara mulutnya menjelajah, dua jari bergerak masuk dan keluar dari lubang sensitif Calypsa dengan ritme yang sangat terkontrol, dan Cyrus tidak membiarkan bagian itu terlewat oleh lidahnya yang akhirnya menemukan tujuannya, bergerak dengan kesabaran yang terasa seperti siksaan yang sangat nikmat bagi Calypsa, sementara tangan kanannya masih memainkan puncak payudara Calypsa.

Calypsa meremas rambut Cyrus lebih kencang, kakinya terangkat dan bahunya menekan ranjang, napasnya datang dalam potongan-potongan pendek yang tidak lagi bisa ia atur.

Pria yang selalu terlihat menyimpan setengah pikirannya untuk hal lain ternyata bisa hadir sepenuhnya seperti ini.

Ketika Calypsa akhirnya mengeluarkan suara yang tidak lagi bisa ia tahan, Cyrus menyembunyikan senyumnya di lekukan pahanya, puas dengan cara yang tidak ia sembunyikan.

"Cyrus." namanya keluar, kali ini bukan peringatan dan bukan pula sekadar permintaan. Lebih seperti sesuatu yang mendesak dan tidak mau menunggu lebih lama.

Cyrus bergerak naik, menatap wajah Calypsa dari jarak yang sangat dekat dengan mata yang gelap sepenuhnya, kemudian mengulum bibirnya dalam ciuman yang dalam tepat ketika ia menghentakkan pinggulnya, memasukkan miliknya yang sudah tegang sempurna perlahan dan sangat terkontrol. Calypsa melepas ciuman itu, kepalanya mendongak mencari napas, merasakan sensasi itu mengisi seluruh kesadarannya sampai tidak ada ruang tersisa untuk hal lain apapun.

Ia menarik tubuh Cyrus lebih dekat, tangannya mengepal di punggungnya, dan Cyrus berhenti sejenak memberi ruang hingga Calypsa menggerakkan pinggulnya sendiri sebagai jawaban bahwa ia ingin lebih dan ia ingin sekarang.

Gerakan mereka menemukan ritmenya sendiri, lambat kemudian semakin cepat, tubuh mereka bergerak seakan sudah mengetahui satu sama lain jauh lebih lama dari hitungan minggu. Erangan Cyrus yang selama ini nyaris tidak pernah ada mulai terdengar bersama desahan Calypsa, bercampur dengan suara hujan yang semakin keras di luar jendela seolah Aethelgard memutuskan untuk mengiringi malam ini dengan caranya sendiri.

Calypsa menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Cyrus dan merasakan setiap tarikan napasnya, setiap perubahan ritme, setiap momen ketika kendali pria ini hilang dalam kenikmatan dan ia tidak berusaha menyembunyikannya.

Semuanya berlangsung dengan intensitas yang tidak meninggalkan ruang untuk berpikir, hanya merasakan, dan Calypsa yang sudah dua tahun hidup hampir sepenuhnya di dalam kepalanya mendapati bahwa ada pembebasan yang luar biasa dalam menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada satu momen tanpa menganalisa apa artinya atau ke mana perginya itu sangat menyenangkan.

Cyrus mengucapkan namanya sekali di akhir saat keduanya mencapai klimaks, pelan dan sedikit terputus, tanpa kendali penuh untuk pertama kalinya yang pernah Calypsa dengar, dan cara itu keluar dari mulutnya adalah hal yang paling berkesan yang ia bawa dari malam ini.

Hujan di luar semakin keras menjelang tengah malam.

Di dalam kamar yang kecil dengan cahaya yang hampir tidak ada, Calypsa berbaring dengan napas yang belum sepenuhnya kembali ke ritme normal, punggungnya di dada Cyrus, tangannya di atas lengannya yang melingkar di perutnya.

"Kamu tidak kembali ke markas malam ini." ujar Calypsa, bukan pertanyaan.

"Tidak." jawab Cyrus, suaranya sudah memiliki tekstur kantuk untuk pertama kalinya yang pernah Calypsa dengar.

Calypsa tidak berkata apapun lagi.

Ia menutup matanya dan membiarkan ritme napas di belakangnya yang teratur dan dalam menariknya perlahan ke tempat yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi dengan cara yang benar-benar damai.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Calypsa tidur tanpa ada sesuatu yang belum selesai menunggunya di pagi hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!