Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA YANG MEMILIH DI BENCI
"Kasih gadis itu pelajaran. Jangan sampai ada yang tahu itu perbuatan kita, buat seakan-akan itu kecelakaan murni agar anakku sadar kalau gadis itu memang tidak ditakdirkan untuknya dan hanya membawa sial," ucap Ayah Nayaka dengan nada dingin yang menusuk tulang, suaranya terdengar begitu datar seolah-olah ia tidak baru saja merencanakan sesuatu yang mengerikan.
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa beban, menunjukkan betapa kekuasaan dan ambisi telah menumpulkan nuraninya sebagai seorang manusia. Ia berdiri tegak di tengah ruang tamu yang luas, membelakangi cahaya matahari yang masuk dari jendela besar, membuat bayangannya tampak gelap dan mengancam. Baginya, Damira hanyalah kerikil kecil yang harus disingkirkan dari jalan raya yang sudah ia bangun untuk masa depan Nayaka; sebuah gangguan yang menurutnya bisa diselesaikan dengan sedikit 'skenario' terukur tanpa harus mengotori tangan mereka sendiri secara langsung.
Ibu Nayaka yang mendengar hal itu langsung membekap mulutnya sendiri, tubuhnya gemetar hebat karena tidak menyangka suaminya sanggup berpikir sejauh itu. "Mas, jangan... itu sudah keterlaluan. Damira itu anak orang, Mas!" isaknya, namun sang suami sama sekali tidak bergeming.
Nayaka yang masih berada di dekat pintu mendengar setiap kata, setiap rencana busuk yang keluar dari mulut pria yang selama ini ia panggil Ayah. Darahnya mendidih, rasa hormat yang tersisa di hatinya seketika hancur lebur berkeping-keping. Pikirannya langsung melayang pada Mira—Mira yang lembut, Mira yang baru saja disakiti hatinya, dan kini Mira yang nyawanya terancam karena kegilaan keluarganya sendiri.
"Papa benar-benar sudah kehilangan akal sehat," desis Nayaka dengan suara yang bergetar karena amarah yang luar biasa. "Papa pikir dengan mencelakai Mira, aku akan kembali ke rumah ini dan menuruti semua kemauan Papa? Tidak. Kalau sampai ada satu lecet saja di tubuh Mira karena ulah Papa, aku tidak akan segan-segan menghancurkan segalanya. Aku akan pastikan Papa mendekam di penjara, dan aku sendiri yang akan menjadi saksi utamanya. Jangan sekali-kali Papa menyentuh Damira, atau Papa akan tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak untuk selamanya!"
Tanpa menunggu balasan, Nayaka melari keluar rumah. Ia tidak peduli lagi pada harga diri atau rasa takutnya pada Mas Danang. Ia harus segera sampai ke rumah Mira. Ia harus menjadi perisai bagi gadis itu, bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri di hadapan para kakak Mira yang murka. Pikirannya hanya satu: Mira harus selamat dari rencana licik ayahnya.
lemas seketika: Mira sedang berdiri di depan gerbang kantornya, tampak sedang menunggu angkutan atau ojek, tanpa menyadari ada lensa kamera yang sedang mengincarnya dari kejauhan.
Belum sempat ia mencerna ketakutannya, ponselnya berdering. Nama "Papa" berkedip di layar. Dengan tangan gemetar, Nayaka mengangkatnya.
"Lihat foto itu? Itu Mira kan di depan kantornya?" Suara ayahnya terdengar sangat tenang di seberang telepon, namun ketenangan itu justru terdengar seperti suara malaikat maut bagi Nayaka. "Dia terlihat sangat rapuh sendirian di sana. Dunia ini tempat yang berbahaya, Nayaka. Banyak orang jahat, banyak penculikan yang tidak terduga."
Nayaka mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. "Papa... jangan macam-macam. Aku peringatkan Papa, jangan sentuh dia!"
"Keputusan ada di tanganmu," potong ayahnya dengan dingin, mengabaikan ancaman Nayaka. "Pilihannya sederhana. Kalau kamu tidak segera kembali ke rumah ini sekarang juga dan menerima pernikahan dengan Azzura, besok atau lusa kamu mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi. Kamu akan mendengar kabar kalau dia menghilang tanpa jejak. Bayangkan bagaimana hancurnya hati orang tuanya dan kakak-kakaknya saat tahu putri bungsu mereka hilang karena keegoisan kekasihnya sendiri."
"Papa benar-benar iblis!" teriak Nayaka di tengah trotoar, tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Iblis atau bukan, aku adalah orang yang memegang kendali atas hidupnya saat ini," sahut ayahnya tanpa emosi. "Aku beri waktu tiga puluh menit. Kalau mobilmu tidak masuk ke halaman rumah ini, orang-orangku akan mulai bergerak. Kamu tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
Klik.
Sambungan terputus. Nayaka menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Dunianya serasa runtuh. Di satu sisi, ia ingin lari ke kantor Mira untuk melindunginya, tapi ia tahu ia sendirian dan tidak punya kekuatan untuk melawan anak buah ayahnya yang mungkin sudah mengepung area itu. Jika ia salah langkah, Mira benar-benar akan dalam bahaya.
Ia harus membuat keputusan gila. Dengan napas tersengal, ia mencari satu nomor di kontaknya yang paling ia hindari selama sepuluh tahun ini. Nomor pria yang paling mungkin membunuhnya, tapi juga satu-satunya orang yang punya kekuatan untuk menjaga Mira di saat genting ini.
Mas Danang.
Ia harus menghubungi Danang sekarang, bahkan jika itu berarti ia harus menyerahkan nyawanya sebagai ganti perlindungan untuk Mira. Namun, di saat yang sama, ia harus berpura-pura menyerah pada ayahnya demi mengulur waktu.
Nayaka jatuh terduduk di tepi trotoar, menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia baru saja hendak menekan nomor Danang, namun akal sehatnya yang tersisa menahan jempolnya.
Ia tahu betul watak ayahnya. Jika ayahnya tahu Nayaka mencari bantuan pada keluarga Mira, itu hanya akan memicu kemarahan yang lebih besar. Ayahnya akan menganggap itu sebagai tantangan perang, dan keselamatan Mira benar-benar akan berada di ujung tanduk. Danang pun bukan tipe pria yang bisa diajak kompromi; jika Danang tahu adiknya diancam, ia pasti akan mengamuk, mendatangi rumah Nayaka dengan kemarahan buta, dan itu justru akan memberikan alasan bagi ayahnya untuk bertindak lebih jauh di bawah dalih "membela diri."
Nayaka terpojok. Ia tidak punya senjata, tidak punya uang, dan kini ia tidak punya pilihan.
"Aku terpaksa, Mira... maaf," bisik Nayaka lirih, suaranya hilang ditelan bising kendaraan yang berlalu-lalang. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi debu di jalanan.
Demi nyawa Mira, demi keselamatan keluarga Mira yang tidak tahu apa-apa, ia harus mengorbankan dirinya sendiri. Ia harus kembali ke sangkar emas yang sangat ia benci. Ia harus menjadi boneka ayahnya lagi agar "serigala-serigala" suruhan ayahnya ditarik mundur dari sekitar kantor Mira.
Dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, Nayaka memutar balik arahnya. Ia berjalan menuju rumahnya, menyeret harga dirinya yang sudah hancur lebur di atas aspal. Setiap langkah menjauh dari kantor Mira terasa seperti pengkhianatan terbesar dalam hidupnya, namun ia lebih memilih dibenci Mira seumur hidup karena menikah dengan wanita lain, daripada harus melihat Mira terluka sedikit pun.
Ia kembali ke rumah itu. Begitu kakinya menginjak halaman, ia melihat ayahnya berdiri di balkon lantai atas, memegang cerutu dengan senyum kemenangan yang memuakkan.
"Pilihan yang cerdas, Nayaka," ucap ayahnya dari atas.
Nayaka tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap tanah, sambil dalam hati terus membisikkan permohonan maaf yang tidak akan pernah sampai ke telinga Mira. Ia tahu, mulai detik ini, di mata Mira dan keempat kakak laki-lakinya, ia akan benar-benar dianggap sebagai pengkhianat yang paling rendah.