NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka dan Dekapan Hangat

Gema bentakan Arsen dan keheningan setelahnya seolah ikut terbawa masuk ke dalam kabin mobil sedan hitam yang melaju membelah jalanan pagi ibu kota.

Di kursi belakang, atmosfer terasa teramat kaku dan dingin.

Axel duduk bersedekap dada sembari melempar pandangannya lurus ke luar jendela mobil. Rahangnya masih mengeras rapat, menahan sisa emosi yang sejak tadi pagi terus bergolak di dalam dadanya.

Sementara di sebelahnya, Elio hanya diam membisu.

Jemari kecil bocah itu meremas tali tas ranselnya erat-erat di atas pangkuan. Matanya menunduk, menatap ujung sepatu hitam kecilnya yang bergoyang pelan mengikuti getaran mobil.

Tidak ada lagi celoteh ceria seperti biasanya.

Suasana di meja makan tadi benar-benar meninggalkan luka kecil di hati polosnya.

"Sudah sampai di sekolah Den Elio."

Suara Pak sopir yang sengaja dilembutkan akhirnya memecah keheningan saat mobil perlahan menepi di depan gerbang sebuah taman kanak-kanak elite.

Elio mendongak pelan. Mata bulatnya tampak masih sembap.

"Kak Axel... Elio turun dulu ya?" tanyanya lirih penuh ragu.

Mendengar nada suara adiknya yang kehilangan semangat, pertahanan dingin di wajah Axel perlahan runtuh.

Ia menoleh, lalu mengusap pelan puncak kepala Elio dengan gerakan perlahan yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Iya. Belajar yang benar di dalam," ucap Axel lebih lembut. "Jangan dipikirin yang tadi."

Elio mengangguk kecil.

Meski begitu, raut murung di wajah mungilnya belum benar-benar hilang.

Bocah itu membuka pintu mobil perlahan lalu turun dengan langkah kecil. Axel terus mengawasi punggung adiknya sampai sosok kecil itu melewati gerbang sekolah dan menghilang di antara anak-anak lain yang mulai berdatangan.

Barulah setelah itu mobil kembali melaju menuju sekolah Axel.

Namun, sepanjang perjalanan berikutnya, kepala Axel justru terasa semakin penuh.

Suara bentakan Arsen tadi pagi terus terngiang-ngiang di telinganya.

"Kurang ajar! Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?!"

Axel memejamkan mata sebentar sambil mendecakkan lidah kasar.

Dadanya terasa sesak.

Rumah itu benar-benar membuatnya muak.

Dan begitu mobil berhenti di area drop-off sekolah menengah swastanya, Axel turun tanpa banyak bicara. Ia menyampirkan tas ranselnya di satu bahu dengan asal lalu berjalan malas menuju gerbang.

Baru beberapa langkah, sebuah tepukan keras mendarat di pundaknya.

"Woi, Xel!" seru seorang anak laki-laki dengan seragam yang sengaja dikeluarkan dan dasi longgar menggantung di lehernya. "Kusut amat muka lo. Habis sarapan silet?"

Itu Dean.

Sahabat paling dekat Axel sejak satu tahun terakhir.

Axel mendengus pelan tanpa minat menjawab lelucon itu. Tatapannya malah lurus menatap gedung sekolah di depan sana dengan ekspresi jenuh.

"Gue malas masuk kelas hari ini," gumamnya dingin. "Muak gue."

Dean langsung menaikkan kedua alisnya. Bukannya heran, ia malah menyeringai lebar seperti menemukan kesempatan emas.

"Wah, sinyal bagus nih." Dean menepuk pundak Axel lagi. "Cabut ke warung belakang pos biasa, yuk? Kebetulan jam pertama Bu Endang. Gue juga malas banget."

Axel sebenarnya sempat diam beberapa detik.

Ia mencoba mengatur napasnya pelan sambil menatap lapangan sekolah yang mulai ramai.

Namun semakin ia mencoba menenangkan pikirannya, semakin jelas bayangan wajah Elio yang tertunduk di meja makan tadi muncul di kepalanya.

Rahangnya kembali mengeras.

"Yaudah," putusnya akhirnya. "Cabut sekarang sebelum bel."

Dean langsung terkekeh puas. "Nah gitu dong. Hidup jangan terlalu rajin, Bos."

Tanpa pikir panjang lagi, kedua anak laki-laki itu langsung berbalik arah menuju pagar samping sekolah yang berlubang.

Axel memilih melarikan diri dari kelas.

Melarikan diri dari rumah.

Melarikan diri dari kenyataan yang semakin lama semakin terasa menyesakkan dadanya.

Namun, di saat Axel memilih pergi menjauh dari semuanya, Elio justru harus menghadapi sesuatu yang jauh lebih buruk seorang diri.

Awalnya pagi di sekolah itu berjalan biasa saja.

Anak-anak kecil berlarian di halaman sambil tertawa riang. Beberapa guru berdiri di depan kelas menyambut murid-murid mereka dengan senyum hangat.

Namun bagi Elio, pagi itu terasa berbeda.

Hatinya masih berat sejak kejadian di rumah tadi.

Baru saja ia selesai meletakkan botol minumnya di loker luar kelas, tiga anak laki-laki sebayanya tiba-tiba berjalan mendekat dengan tatapan jahil.

"Ih, itu Elio," bisik salah satu anak sambil menunjuk.

"Yang enggak pernah dijemput Mamanya, ya?"

"Iya! Mamaku bilang dia ditinggal."

"Boong! Katanya Mamanya pergi jauh."

"Halah, sama aja! Berarti dibuang!"

Tawa kecil polos khas anak-anak langsung bersahutan.

Namun bagi Elio, kalimat-kalimat itu terasa seperti jarum tajam yang menusuk dadanya berkali-kali.

Wajah kecilnya langsung memucat.

"Enggak..." bantah Elio dengan suara bergetar. "Elio enggak dibuang..."

"Terus kenapa Mamamu enggak pernah datang?" ejek anak bertubuh paling besar di antara mereka.

"Papamu juga enggak pernah jemput!"

Deg.

Kalimat itu menghantam paling keras.

Karena jauh di dalam hati kecilnya, Elio tahu itu benar.

Air mata yang sejak tadi pagi ia tahan mati-matian akhirnya runtuh begitu saja.

"Papa cuma sibuk kerja!" teriak Elio dengan suara pecah. "Jangan ngomong begitu!"

"Halah nangis!"

Bug!

Dorongan kasar mendadak menghantam dada Elio.

Tubuh mungil bocah itu langsung terhuyung ke belakang.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Kakinya kehilangan keseimbangan.

Tubuh kecilnya jatuh membentur lantai marmer yang keras.

Dug!

Bagian belakang kepalanya menghantam sudut tajam loker kayu dengan suara benturan yang cukup keras.

"Aduh...!"

Elio langsung memegangi belakang kepalanya dengan wajah meringis kesakitan.

Beberapa detik pertama, bocah itu hanya diam mematung.

Dunia di sekelilingnya terasa berdenging.

Pandangan matanya sedikit berkunang-kunang.

Sampai akhirnya...

sesuatu yang hangat perlahan menetes melewati pelipisnya.

Elio mengangkat tangannya perlahan.

Dan saat jemari kecilnya menyentuh bagian belakang kepala—

merah.

Darah.

Mata Elio langsung membelalak ketakutan.

Tangisnya pecah semakin keras.

Melihat darah yang mulai mengalir, ketiga anak yang tadi mengejeknya seketika panik dan pucat pasi.

"M-marah nanti Bu Guru!"

"Ayo lari!"

Mereka langsung kabur berhamburan masuk ke kelas, meninggalkan Elio sendirian di sudut selasar.

Sementara itu, suasana depan sekolah sedang ramai oleh murid-murid lain yang baru berdatangan.

Tak ada seorang pun yang benar-benar menyadari keberadaan bocah kecil yang sedang menangis ketakutan sambil bersimbah darah itu.

Kesadaran Elio mulai terasa berputar.

Dengan tubuh gemetar dan kepala yang berdenyut hebat, ia berusaha bangkit perlahan.

Sambil terus menangis tersedu-sedu dan memegangi kepalanya yang berdarah, Elio berjalan terhuyung-huyung keluar melewati gerbang sekolah yang terbuka.

Ia hanya ingin pulang.

...----------------...

Dan di waktu yang sama, beberapa ratus meter dari sana, Alana yang sedang berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar sambil membawa tas kain kecil.

Gadis itu baru saja selesai mengantarkan pesanan ayam geprek dari kedainya.

Sambil merapikan dompet ke dalam saku celananya, langkah Alana mendadak terhenti saat telinganya menangkap suara tangisan anak kecil.

Tangisan itu terdengar begitu menyedihkan.

Alana spontan menoleh ke segala arah sampai akhirnya matanya menangkap sosok seorang bocah kecil berseragam kotak-kotak merah yang sedang duduk meringkuk di bawah pohon besar.

Bahu kecilnya terguncang hebat menahan tangis.

"Astaga..."

Alana langsung berlari kecil mendekat lalu berjongkok panik di depan bocah itu.

"Dek? Kamu kenapa nangis sendirian di sini?"

Namun begitu Elio mendongak dengan wajah penuh air mata—

napas Alana langsung tercekat.

"Ya ampun... darah?!"

Jantung Alana serasa jatuh ke perut melihat darah merah segar mengalir dari sela jemari kecil Elio hingga membasahi kerah seragamnya.

Tanpa pikir panjang, Alana langsung merogoh sakunya dengan tangan gemetar lalu mengambil beberapa lembar tisu bersih.

"Aduh sayang..." lirihnya panik sambil menekan pelan luka di kepala Elio. "Sakit banget ya? Tahan sebentar, ya."

Elio hanya menangis semakin keras.

Tubuh kecilnya menggigil ketakutan.

"Sekolah adek di mana?" tanya Alana buru-buru dengan suara yang sengaja dilembutkan. "Kakak antar masuk dulu ya?"

"D-di situ..." jawab Elio terbata-bata sambil menunjuk lemah ke arah gerbang sekolah di seberang jalan. "Tapi Elio mau pulang..."

"Enggak bisa pulang sekarang, sayang. Lukanya harus diobatin dulu."

Tanpa memedulikan kaus oblongnya yang mulai terkena noda darah, Alana langsung mengangkat tubuh kecil Elio ke dalam gendongannya.

Bocah itu refleks memeluk leher Alana erat-erat seperti menemukan tempat aman.

Alana pun setengah berlari masuk kembali ke area sekolah sambil terus menenangkan Elio yang masih sesenggukan di pundaknya.

Kedatangan mereka langsung membuat ruang guru gempar.

Tak lama kemudian, Elio dibawa masuk ke ruang UKS.

Di atas ranjang putih beraroma obat itu, Alana tetap mendampingi tanpa pergi sedikit pun.

Dengan penuh ketelatenan, tangannya membantu petugas UKS membersihkan darah di leher dan rambut Elio sebelum akhirnya luka itu ditutup rapi dengan kain kasa.

Setiap kali antiseptik menyentuh lukanya, Elio meringis kecil lalu semakin menyembunyikan wajahnya di leher Alana.

Bocah itu sama sekali tidak mau lepas.

"Nah..." bisik Alana lembut sambil mengusap punggung Elio perlahan setelah semuanya selesai. "Sudah bersih. Anak hebat."

Elio masih terisak kecil di pundaknya.

"Sekarang Kakak turunin dulu ya? Elio istirahat di kasur sambil nunggu orang tua kamu datang."

Namun saat Alana mencoba menurunkan tubuh kecil itu ke ranjang UKS, kedua tangan Elio justru semakin erat melingkar di lehernya.

Bocah itu menggeleng kuat-kuat sambil kembali menangis.

"Enggak mau..."

Suaranya pecah.

"Mau sama Kakak aja..."

Dada Alana langsung terasa sesak.

"Papa enggak jemput..."

Elio terisak makin keras.

"Elio enggak punya Mama..."

Kalimat polos itu menghancurkan hati Alana dalam sekejap.

"Jangan tinggalin Elio, Kak..."

Air mata Alana hampir ikut runtuh mendengar keputusasaan dari bibir bocah sekecil itu.

Tubuh kecil yang sejak tadi gemetar ketakutan itu kini justru mencengkeramnya erat seolah takut ditinggalkan sendirian.

Dan Alana tidak tega melepaskannya.

Ia akhirnya menghela napas panjang lalu kembali mendekap tubuh Elio utuh ke dalam pelukannya.

"Iya, sayang..." bisiknya lirih penuh kelembutan sambil mengusap belakang kepala Elio hati-hati. "Kakak enggak pergi."

Alana lalu mulai mengayun tubuh kecil itu perlahan ke kanan dan kiri sambil menepuk lembut punggungnya seperti seorang ibu menenangkan anaknya sendiri.

"Tenang ya... Kakak di sini temenin Elio."

Dan untuk pertama kalinya pagi itu—

tubuh kecil Elio perlahan berhenti gemetar di dalam pelukan hangat seseorang.

1
partini
move on dari mana nya nyonya,aihhhh belum nyesel aja ninggalin anakmu nanti juga nyesel dia nangis " minta balikan lah lagu lama nyonya, semoga anakmu ga oleng nanti pas mantan istri datang
Gabutz
ayo dong Thor update lagi, setidaknya sehari satu tapi konsisten kalau tidak bisa jadi double update aja
rokhatii: udah up ya kak.. maaf kemalaman othor nya masih sibuk banget sama pekerjaan utama🙏🙏
total 1 replies
partini
di suruh balik ada apa yha
Yeni Amalia
lama nunggu selanjutnya.....
partini
good story
partini
lagi Thor
partini: oh is ok Thor
total 2 replies
partini
lagian tuh mulut lost dol aja,, lanjut Thor 👍👍👍👍
partini: kasih fakta selanjutnya Thor ,, lihat pas jualan mungkin biar tambah nyesel
total 2 replies
Rahman Hayati
ikut menetes air mata ku
Sandrie
menarik
Rahman Hayati
yg diam diam perhatian
Endang Fitria3236
jangan kelamaan Thor... penasaran bgt SM kelanjutannya 💪
rokhatii: masih tahap review terus kak mohon bersabar ya othor usahain secepatnya🙏🙏
total 1 replies
Rahman Hayati
baru mampir
moga gadis yg kuat setidak nya bisa bela diri dikitlah
semangat thor
partini
dasar dosen otak udang kamfreeet
partini: otak udang ga guna 😂😂😂😂
dia terlalu bodoh
total 4 replies
Kristina NellaWara
sejauh ini msih bguss👏
rokhatii: makasih kak tapi maaf kalau ada bab yang muter" karena masih ada revisi🙏🙏
total 1 replies
partini
pak dosen marah" terus nanti lihat anakmu nempel kaya prangko sama mahasiswi mu itu baru dah mikir
Sitilestari Ikhsan
lama cerita nya muter muter
partini
nah Lo punya penawar nya kan makanya jangan terlalu kejam
partini
dihhh galaknya habis nolongin ank mu kamfreeet
Ulfatut Tho'ah
nangis bombai banget bab ini 😢😢😢🥹🥹🥹😭😭😭
rokhatii: doakan terus Alana supaya bisa hidup lebih damai
total 1 replies
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!