"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus pergi
Ruangan itu kini terasa hangat dan penuh aroma bedak bayi serta susu. Sudah seminggu sejak Siti pulang dari rumah sakit. Bu Aminah sudah kembali ke Palembang dua hari yang lalu, meninggalkan pesan agar mereka saling mengerti dan menjaga batas dengan baik. Kini hanya ada mereka berlima di rumah besar itu—Yusuf, Nora, Haikal, dan Siti beserta bayi kecilnya.
Yusuf masuk membawa baskom berisi air hangat dan perlengkapan mandi. Wajahnya tampak segar namun matanya menyiratkan lelah yang ia coba sembunyikan, namun tak sekalipun ia mengeluh.
"Airnya sudah hangat, Ti. Ayo kita mandikan si kecil," ucap Yusuf lembut, duduk di tepi ranjang.
Siti tersenyum tipis, membenahi posisi duduknya. Luka bekas persalinannya masih terasa nyeri, gerakannya pun masih terbatas.
"Terima kasih, Mas. Kalau nggak ada Mas, aku pasti bingung sekali. Baru seminggu pulang, rasanya masih belum terbiasa mengurus bayi sendirian."
"Jangan bicara begitu. Mas ada di sini, kan? Selama empat puluh hari ini, tugas kita sama-sama merawat dia. Kamu pemulihan, Mas yang bantu urus segalanya. Mas tidak akan membiarkan kamu berjuang sendirian," jawab Yusuf sambil perlahan mengangkat tubuh mungil bayi itu, penuh kehati-hatian seolah sedang memegang kaca yang sangat rapuh.
"Mas selalu saja begitu... penuh perhatian dan sabar sekali. Padahal Mas punya banyak pekerjaan, dan juga ada Mbak Nora yang harus diperhatikan juga," gumam Siti pelan, matanya menatap Yusuf yang sedang membasuh tangan kecil si bayi dengan begitu lembut.
Yusuf menghentikan sejenak gerakannya, lalu menatap Siti dengan tatapan yang tulus dan serius.
"Mas melakukan ini karena memang kewajiban dan tanggung jawab Mas. Kamu baru saja melahirkan darah daging Mas, berjuang mempertaruhkan nyawa. Sudah sepantasnya Mas ada di sini, membantu dan merawat kamu berdua sampai benar-benar pulih dan kuat. Soal Nora... jangan khawatir. Mas sudah bicara dan menjelaskan semuanya padanya. Dia mengerti, dia sabar, dan dia tahu batasannya. Begitupun dengan Mas. Mas tahu persis di mana letak posisi dan batas yang harus dijaga."
Siti mengangguk pelan, namun hatinya tetap merasa tak enak dan serba salah.
"Aku tahu Mas berusaha adil. Tapi aku kadang merasa... merasa seperti orang yang merebut waktu dan perhatian yang seharusnya penuh milik Mbak Nora. Tiap kali Mas ada di sini, menyuapi makan, membantu memandikan, begadang saat bayi menangis... aku selalu teringat wajah Mbak Nora yang diam saja, namun aku tahu hatinya pasti sakit sekali."
Yusuf mengelap tubuh bayi dengan lembut, suaranya tetap tenang dan rendah.
"Mas tidak menyangkal, Ti. Memang berat bagi Nora, dan Mas tahu dia menahan rasa sakit yang luar biasa setiap melihat Mas dekat dengan kamu. Tapi dia tahu, ini hanya sementara. Hanya empat puluh hari. Setelah itu semuanya akan berubah, dan semuanya akan kembali ke tempatnya masing-masing sesuai kesepakatan yang sudah kita buat bersama. Jadi, jangan merasa bersalah terus-menerus ya. Kamu butuh tenaga untuk pulih. Fokus saja pada diri sendiri dan anak ini."
"Empat puluh hari..." bisik Siti, matanya berkaca-kaca menatap bayinya yang kini sudah bersih dan harum. "Rasanya masih lama, tapi sekaligus terasa akan berlalu begitu cepat. Mas, apa nanti... saat hari perpisahan itu tiba, Mas akan tetap ingat kami? Akan tetap ingat kami pernah ada dan menjadi bagian dari hidup Mas?"
Yusuf memakaikan baju pada si kecil, gerakannya tetap cermat dan penuh kasih. Ia mengangkat wajah, menatap Siti lekat-lekat.
"Mas adalah ayahnya, Ti. Bagaimana mungkin Mas melupakan darah daging sendiri? Dan kamu... kamu wanita yang hebat, yang sudah berjuang keras dan berkorban banyak demi Mas dan anak ini. Mas tidak akan pernah melupakan itu. Meski nanti kamu pergi, meski jarak memisahkan, nama dan keberadaan kalian akan selalu ada di dalam hati dan pikiran Mas. Tapi ingat ya, ingat baik-baik syarat dan aturan yang sudah kita sepakati, juga yang disetujui Nora."
"Aku ingat, Mas. Aku ingat betul," jawab Siti cepat. "Aku akan pergi ke rumah yang sudah Mas sediakan di luar kota. Mas akan kirim nafkah dan biaya hidup setiap bulan sampai dia dewasa. Dan... dan kita tidak boleh bertemu atau berhubungan secara diam-diam. Kalau pun ingin bertemu, atau Mas ingin melihat anak ini, Mbak Nora harus selalu ada di sisi Mas. Tidak ada pertemuan berdua saja. Aku ingat semua itu, dan aku akan memegang janji itu seumur hidupku." Dada Siti terasa sesak. Seakan Yusuf kembali mengingatkan agar dirinya sadar diri.
"Bagus. Itu satu-satunya cara agar kita semua terlindungi dan tidak ada lagi hati yang terluka. Dan percayalah, meski nanti jarak memisahkan, kasih sayang dan tanggung jawab Mas tidak akan berkurang sedikitpun. Hanya saja bentuknya berbeda, jalannya berbeda," ucap Yusuf lembut, lalu menyerahkan bayi yang sudah rapi kembali ke dalam gendongan Siti.
Pintu kamar terbuka perlahan, tampak Nora berdiri di sana membawa nampan berisi makanan dan segelas air hangat. Wajahnya tenang, tidak ada kemarahan atau cemberut, namun sorot matanya tetap dingin dan terjaga.
"Makan siang sudah siap," ucap Nora singkat namun sopan, berjalan mendekat lalu meletakkan nampan di meja samping ranjang.
"Terima kasih, Nora. Maaf merepotkan kamu terus," ucap Yusuf segera berdiri, berusaha membantu istrinya.
"Tak apa, Mas. Memang sudah seharusnya begini," jawab Nora, lalu menoleh menatap Siti. "Lukanya bagaimana? Masih terasa nyeri?"
"Masih sedikit terasa, Mbak. Tapi sudah jauh lebih baik dari hari-hari pertama," jawab Siti pelan, menunduk tak berani menatap mata Nora terlalu lama.
"Syukurlah. Masih ada sekitar tiga minggu lagi masa nifasmu. Kamu harus benar-benar menjaga diri, makan yang banyak dan bergizi, jangan sampai kurang istirahat. Karena setelah waktu itu habis, kamu harus sudah siap untuk berdiri sendiri dan memulai hidupmu di tempat yang baru," ucap Nora dengan nada datar namun jelas, seolah mengingatkan batas waktu yang terus berjalan.
Yusuf menatap Nora, lalu perlahan menggenggam tangan istrinya itu dengan lembut namun penuh makna.
"Terima kasih ya, Sayang. Terima kasih sudah sabar, terima kasih sudah mengerti, dan terima kasih sudah mau memberi kesempatan Mas melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab Mas sampai tuntas seperti ini. Mas tahu berat sekali buat kamu, dan Mas tahu hatimu pasti perih setiap kali melihat Mas melakukannya. Tapi percayalah, apa yang Mas lakukan ini murni sebagai tanggung jawab dan rasa terima kasih saja. Tidak ada rasa lain selain itu. Kamu tetap satu-satunya wanita yang dicintai Mas, yang menjadi pemilik hati dan hidup Mas seutuhnya."
Nora menoleh, menatap Yusuf lama, lalu perlahan tangannya yang dingin itu membalas genggaman suaminya.
"Aku tahu, Mas. Aku tahu itu semua. Aku tahu Mas lelaki yang bertanggung jawab dan berhati mulia. Itulah sebabnya aku masih bertahan dan masih ada di sini. Aku mengizinkan semua ini berjalan, bukan karena aku tidak hurt atau tidak peduli, tapi karena aku percaya sama Mas dan aku percaya pada kesepakatan yang kita buat. Tapi ingatlah juga, Mas... hari-hari ini terhitung mundur. Begitu masa empat puluh hari itu habis, maka semua kebebasan dan keakraban ini pun harus berakhir. Batas akan ditarik tegas kembali, dan aturan akan berlaku sepenuhnya tanpa pengecualian apa pun."
"Aku ingat, Sayang. Aku ingat dan aku setuju seratus persen. Begitu waktunya tiba, Mas akan serahkan semuanya kembali padamu seutuhnya. Tidak ada lagi yang dibagi, tidak ada lagi rahasia, dan tidak ada lagi yang membuatmu ragu," janji Yusuf dengan sungguh-sungguh.
Siti yang mendengar percakapan itu hanya bisa diam dan menunduk lebih dalam lagi. Ia sadar sepenuhnya bahwa setiap hari yang ia lewati di rumah ini adalah waktu yang dipinjam, dan setiap kebaikan serta perhatian yang ia terima hanyalah bentuk pelaksanaan kewajiban belaka. Tak ada yang menjadi miliknya, tak ada yang abadi. Segalanya akan segera berakhir.
"Makanlah, Siti. Jangan sampai telat. Mas Yusuf pun belum makan, kan?" ucap Nora, mengalihkan pembicaraan dengan nada yang lebih lunak namun tetap berjarak.
"Baik, Mbak. Terima kasih banyak," jawab Siti pelan.
Yusuf duduk kembali di tepi ranjang, menyuapi Siti dengan sabar dan penuh perhatian persis seperti yang biasa ia lakukan sejak hari pertama pulang. Gerakannya lembut, pandangannya penuh perhatian, namun setiap kali ia melakukannya, ia selalu menyadari keberadaan Nora yang diam memperhatikan dari sisi ruangan, dan hal itu membuatnya selalu ingat posisi dan batasan yang harus ia jaga.
"Mas suapi saja pelan-pelan. Jangan terburu-buru," ucap Yusuf lembut.
"Iya, Mas. Mas sendiri juga makan ya. Jangan sampai Mas sakit karena terlalu lelah mengurus kami berdua."
"Mas kuat kok. Selama kamu dan anak sehat, selama Nora masih sabar menemani Mas, Mas akan tetap kuat melakukan semuanya."
Waktu terus bergulir, hari demi hari berlalu begitu saja. Sepanjang masa itu, Yusuf benar-benar menjalani perannya dengan sempurna. Ia selalu bangun saat bayi menangis di tengah malam, mengganti popok, menyiapkan susu, memandikan, memijat, hingga menyuapi makan dan meminumkan obat pada Siti. Ia tidak pernah sekalipun bersikap kasar atau tidak peduli. Namun di balik semua itu, Yusuf selalu berusaha menjaga jarak dan tidak membiarkan keakraban itu melampaui batas persaudaraan dan tanggung jawab semata. Ia selalu memastikan Nora tahu apa yang sedang ia lakukan, di mana ia berada, dan apa yang sedang ia bicarakan.
Dan kini, akhirnya hari yang ditunggu sekaligus ditakuti itu pun tiba. Hari keempat puluh.
Suasana pagi itu terasa hening dan berat. Semua persiapan sudah beres. Rumah yang disiapkan Yusuf di luar kota sudah siap huni, perlengkapan dan biaya hidup sudah diserahkan sepenuhnya. Mobil yang akan mengantar pun sudah terparkir rapi di halaman depan.
Yusuf berdiri di kamar Siti, menatap wanita itu yang sedang memeluk erat anaknya, matanya merah dan bengkak karena menangis semalaman. Ia selalu meyakinkan diri bahwa dirinya bukan siapa-siapa lagi. Ia tidak boleh lagi bawa perasaan. Ia harus mengembalikan segala cinta dan kasih sayang Yusuf pada pemiliknya. Selama ini ia hanya meminjam.
"Sudah siap semuanya, Ti?" tanya Yusuf pelan, suaranya berat dan serak.
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣