Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 20
Jam 06.45 Vino berangkat ke kantor diantar oleh sopir, Risti duduk di terasa sambil menunggu Beni dan Roni datang, dia sudah memakai baju dengan lengan tiga perempat dam celana dibawah lutut untuk menanam bunga. Tidak lupa Risti juga menyiapkan sekop, selang dan juga pupuk.
“Hemm, tumben lama,” gumam Risti.
Biasanya jam segini para bodyguard sudah datang, tapi kali ini sedikit berbeda, mungkin mereka sedang menyiapkan bunga Desember yang akan mereka bawa untuk Risti.
10 menit kemudian,
Beni dan Roni muncul di ambang gerbang dengan berpakaian hitam, tetapi membawa pot-pot bunga yang berbentuk bola berwarna merah.
“Wahhh.” Risti berlari ke arah gerbang, dia tidak sabar untuk melihat langsung dan menyentuh bunga Desember itu.
“Ini nyonya, sesuai janji, 5 bunga, saya juga membawa beberapa biji bunga matahari di dalam kantong,” kata Beni.
“Sip, makasih, kita tanam sekarang juga, bawa ke arah sana.” Risti menunjuk ke arah tanah kosong yang belum sempat Ia tanami minggu kemarin. Risti memasang selang berwarna biru ke kran air terlebih dahulu.
Roni dan Beni menggali tanah, Risti mencampur tanah dan pupuk kemudian barulah mereka menanam ke tanah. Beni mengeluarkan sebuah plastik klip dari kantungnya, tidak salah lagi, isinya adalah biji bunga matahari.
Risti menyuruh Beni untuk menanam di halaman yang sering terkena cahaya matahari, lucu jika bunga matahari tidak terkena sinar matahari, namanya bisa berubah jadi bunga bayang-bayang jika tidak tersinari oleh matahari.
Setelah selesai menanam Risti menyalakan kran air dan menyirami semua tanaman yang telah Ia tanam.
“Yahh, ini agak layu, emangnya pas saya nggak selalu di rumah nggak ada yang mau nyiram apa ya,” kata Risti cemberut.
“Emm...kami juga tidak tau nyonya, kami di sini hanya setiap minggu saja,” kata Roni.
“Iya nyonya, kadang kami jadi supir dua mingu sekali, itupun tidak tentu,” tambah Beni.
“Ya sudahlah, yang penting sekarang usaha buat nyiram dulu, kalian berdua kalau lagi tugas tolong siram juga ya, siapa tau saya lupa hehehe,” kata Risti sembari tersenyum.
***
Di kantor Vino,
Semua orang sedang sibuk bekerja begitu juga dengan Vino, keadaan semula tenang-tenang saja sebelum sekretaris Vino yang bernama Faisal memberikan sebuah kabar kepada Vino.
“Pak,” panggilan Faisal.
“Iya? ada apa?” jawab Vino sembari melihat ke arah laptop tanpa menoleh ke arah Faisal. Faisal pun mendekat ke arah Vino dan membisikkan sesuatu ke telinga Vino. Seketika mata Vino tertegun, matanya membulat karena kaget. Setetes keringat menetes dari pelipis Vino. Gleg, Vino menelan ludah.
“Benarkah? kapan?” tanya Vino.
“Sekitar pukul setengah delapan tadi dan sekarang sepertinya sedang dalam perjalanan kemari,” jawab Faisal.
Bagaimana ini? sungguh merepotkan. (Batin Vino panik)
Vino berjalan bolak balik di ruangannya, dia sangat panik dan juga bingung, tiba-tiba...
Cklek. Pintu ruangan Vino dibuka, tampak seorang perempuan putih, tinggi, rambut agak kecoklatan, memakai kacamata dan juga membawa koper besar berwarna merah.
“Vino sayangggg,” perempuan itu langsung berlari ke arah Vino dan meninggalkan kopernya di ambang pintu, perempuan itu langsung memeluk Vino tanpa aba-aba.
“Ahh, lepas, apaan sih!” bentak Vino.
“Kamu kenapa sih, kok beda?” tanya perempuan tersebut.
“Beda? nggak, nggak usah panggil sayang-sayangan, jijik tau nggak, syuh...syuh pergi sana.” Vino mengayun-ayunkan tangannya seperti sedang mengusir ayam yang masuk ke halaman.
“Kok gitu sih, aku bilangin ke nenek kalau kakak tidak sayang denganku lagi hueee,” kata perempuan tersebut, yahh...dia adalah adik sepupu Vino, dia bernama Vianda umurnya kurang lebih 22 tahun hampir seumuran dengan Risti, Vino khawatir karena Vianda dari dulu menyukainya walau mereka saudara tapi Vianda tetap ngotot ingin menikah dengan Vino.
Apalagi saat ini Vianda belum tau kalau Vino sudah mempunyai istri, apa jadinya kalau Risti sampai salah paham? bisa bahaya.
“Sudahlah Vianda, kamu pulang saja sana, lagian kamu juga baru pulang dari luar negri, kamu pasti capek, dah sana pulang,” suruh Vino. Vianda adalah seorang model terkenal yang selalu keliling negara, ini juga bisa menjadi sebuah keuntungan bagi Vino agar jauh dari Vianda tapi setiap satu tahun sekali Vianda akan mengambil cuti selama satu bulan, dan hari dimana Vianda cuti jatuh pada hari ini.
“Kakak mengkhawatirkanku ya? aaa...makasih, kalau begitu aku pulang dulu, mwah.” Vianda mendaratkan sebuah ciuman ke pipi Vino. Faisal yang melihatnya saja sampai begidik ngeri liatnya. Vino mengambil sapu tangan dan mengelap pipinya berkali-kali. Setelah Vianda pergi Vino buru-buru masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya sampai 3 kali.
Amit-amit ih, jangan sampai dapet cewek yang kaya begituan. (Batin Faisal)
***
Sementara itu...
Di rumah Vino,
Risti baru saja selesai memasak, dia mengajak Beni dan Roni makan di depan sambil menggelar tikar, seperti piknik di depan rumah sendiri.
“Ron, Ben, kalian di rumah punya rumput Jepang?” tanya Risti.
“Rumput Jepang?” tanya Beni dan Roni bersamaan.
“Iyaa, rumput yang lembut itu lho, biasanya ditanam di halaman, kalau ditanami itu kan kita bisa tiduran di halaman tanpa tikar,” jawab Risti.
“Emmm...rumput itu...kayaknya ada di area belakang rumah ini nyonya,” kata Beni.
“Kalau begitu setelah makan kita tanam rumput-rumput itu di halaman depannn,” kata Risti semangat.
Kedua bodyguard itu mengangguk, Beni, Roni dan Risti sudah seperti keluarga tanpa KK, kalau dengan bodyguard lain Risti belum kenal dekat. Walau Risti tipe orang yang gampang akrab tapi jika disuruh akrab dengan 14 orang sekaligus itu adalah sesuatu yang sulit.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🌺
Author bingung banget buat cari visualnya, pikiran Author nggak nyampai buat cari visual langsung 😰
Sampai jumpa di episode berikutnya
Tbc.