Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Wajah Melinda tampak sangat bahagia sekali. Tangan nya ingin meraih tas itu namun tiba tiba mata nya terkulai karena benda cantik itu sudah di sambar dengan cepat oleh tangan kokoh daren
"Maaf Bu! Maaf sekali! tapi saya kesini bukan Atas rekomendasi siapa pun" Daren memasuk kan kembali tas imut itu kedalam bungkusan nya yang berwarna orange
Yuni dan Melinda melongo seperti kehilangan akal.
"Saya kesini mencari gadis yang bernama" Daren mengehentikan ucapan nya mengingat ingat nama yang ada pada gelang itu
"Dahlia.!" ucap nya tegas
Seperti ada petir yang menyambar di dalam ruangan itu.
"Oh, anu,,, maaf,,, gimana,,?" tanya Melinda memucat
"Kata orang orang yang sedang belanja sayur di depan, dia kerja di sini" kata Daren
"Buat apa mas mah ketemu sama dia?" tanya Melinda dengan dada bergemuruh hebat
"oh, itu panjang cerita nya"
"Dia sudah sudah di pecat karena tindakan senonoh!" kata yuni yang terlihat syok
Deren manyun, menatap penuh selidik. ia merasa ada getaran dusta di sana
"Terus dimana rumah nya Bu?"
"Di kampung belakang komplek ini!" jawab Melinda mengganti kan ibu nya yang terlihat seperti tak memiliki darah
"Baik lah, Bu, mbak. Saya pamit dulu. Mudah mudahan saya gak nyasar, soal nya ini milik dia" ucap daren sambil mengangkat Goodie bag mewah di tangan nya
Tampak ringan langkah kaki daren meninggal kan ruangan itu, terdengar sangat menyedihkan sekali untuk dua wanita yang telah menggantung kan harapan tinggi tinggi.
Tiba tiba langkah Daren terhenti, lalu berbalik cepat. Melinda melihat wajah Daren yang tersenyum pada nya seperti memberi harapan pada hati nya yang nelangsa
"Mbak, boleh saya minta no handphone nya Dahlia?"
"Ap,, apa, no,, nomer handphone,,?" Dahlia gelagapan
"iya mbak, pasti kalian punya dong. kan dia kerja di sini" kata deren
"Tapi kan dia sudah di pecat! gak ada sudah di hapus!" ucap Yuni ketus sambil membuang wajah
Deren mengendik seperti pasrah, ia melangkah kembali namun kembali membalik kan badan
"Mbak Melinda!" seru Daren kembali sambil tersenyum
Melinda kembali terkesiap, mengembalikan akal nya yang belum sempurna
"Terimakasih untuk teh tanpa gula nya" ucap daren masih sambil tersenyum. Deren pun melenggang keluar dan pergi dengan mobil nya. Pemuda itu masih terus tersenyum mengingat peristiwa yang lucu bagi nya tadi
"Ada ada saja, akan ku coba cari lagi gadis itu. Aku yakin rumah nya pasti tak jauh dari sini" ucap daren sambil melajukan mobil nya pelan
*******
kembali ke rumah nya Yuni
Melinda masih melongo bersama ibu nya. Mereka berdua saling pandang.
"Mel, pukul pipi mama Mel!"
Plakkk,,,!
"Auwww!! Sakit, durhaka kamu Mel,,!!" seru Yuni marah
"Gimana sih ma?! Kan mama yang suruh,,!" sahut Melinda kesal
"Kita tidak lagi sedang bermimpi ma, ini nyata. cowok seganteng itu, masih muda, kaya pula. Gimana bisa nyari Dahlia, si babu ma!"
Yuni menggeleng
"Mama mau bilang, cowok yang bernama Daren itu cowok kere lagi ? Mama jangan ngada ngada lagi. Harga ikat pinggang nya saja bisa jutaan ma!" lanjut Melinda berapi api
Gadis itu memukul mukul kepala nya sendiri
"Mama yakin dia sangat kata Mel, pokok nya kita harus segera mengintrogasi si dahlia itu! bagaimana bisa dia kenal sama cowok kaya? Apa jangan jangan selama ini dia mengembara mengobral cinta?"
"Mana aku tahu ma,! Daren Dahlia, mereka terserah serasi" kata Melinda kesal
Dengan cepat Melinda meraih teh yang masih penuh itu. Ada aroma Daren di cangkir teh itu, ia langsung menyesap nya
"Puihhhh,,, paitttt,,, ueeee,,!"
Yuni menggeleng heran melihat Melinda
"Pantes aja si Daren gak bisa tergoda sama kamu Mel, buat teh aja gak becus!'
Kepala Melinda merunduk hingga menyentuh alas sofa karena ibu nya menoel kepala anak nya itu dengan keras. Melinda hanya terus meringis menikmati rasa kesal nya. Bayangan mobil mewah, tas mewah begitu makin membuat nya sakit
Di tempat lain. Dahlia dan Marni baru saja memasuki halaman rumah mereka. mereka melihat Tarno sedang merokok di depan rumah kayu nya. Laki laki itu duduk di atas dipan yang di buat dari bambu. sengaja sebagai tempat duduk pengganti teras rumah. Karena teras pelataran rumah itu tentu saja masih dalam bentuk tanah.
"Assalamualaikum pak, salam Marni, sambil menggendong Tania bayi. sedang kan Dahlia menenteng platik berisi barang belanjaan.
Laki laki buncit yang bertelanjang dada itu tak mau mengulur kan tangan nya. Marni menarik kembali tangan nya. Hati nya was was karena dari pandangan mata suami nya ia tahu, suami nya itu sedang marah.
"Dari mana kalian?"
"Bawa Tania berobat pak" jawab Dahlia singkat
"Hebat ya, baru di tinggal beberapa hari cepat sekali berubah nya. Aku lihat banyak barang barang baru dan masakan enak, sudah kaya kalian ya? Gak ada yang cerita pada ku, makan sendiri aja kalian!"
Dengan sorot tajam Dahlia menatap ayah nya. Ia sangat benci sekali dengan laki laki itu, tak ada kelembutan sekali pun yang keluar dari mulut nya, yang ada hanya makian dan kata kata kasar
"Gak ada yang spesial pak, itu hanya kebutuhan Tania. Lagian sejak kapan bapak mau makan di rumah ini.? Biasa nya bapak selalu makan enak di warung. begitu udah gak punya uang bapak baru pulang dan marah marah karena hanya makan nasi pakai ikan asin"