Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"kok arah nya ke sana? Rumah gue di jalan sana!" ucap Clara menujuk ke jalan lain yang di lewati Raja.
"Lo pulang ke rumah gue malam ini," jawab Raja sambil fokus mengemudi.
"Hah? Gak mau, gue mau pulang ke rumah gue Raja! Ngapain gue pulang ke rumah Lo!" Clara segera saja mengamuk setelah mendengar ucapan Raja barusan.
Raja menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tidak tahan dengan amukan adik tirinya itu.
Melihat Raja berhenti, Clara ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk turun dari mobil, namun Raja begitu pintar ia menekankan tombol untuk mengunci pintu mobil sehingga Clara tidak bisa keluar.
"Bukain! Bukain Raja bukain!" hal ini membuat Clara semakin mengamuk, dan memukuli lengan Raja.
"Tuhan mengapa kau tiba-tiba menghadirkan manusia ini ke dalam hidupku yang penuh ketenangan ini!??" Raja yang sudah tidak tahan tiba-tiba menjerit di dalam mobil nya ia yang tidak tau bagaimana caranya mengurus perempuan apalagi seperti Clara.
Clara terdiam dan menatap wajah Raja dengan mata berkaca-kaca, entah apa yang dia rasakan saat ini, yang jelas ia merasa Raja tidak menginginkan dirinya.
"Astaga, maaf gue gak bermaksud," Raja merasa bersalah dan kemudian memegang pipi sang adik.
Clara terlihat manja, ia malah menagis dengan seperti anak kecil.
"Hiksss, gue bakal aduin ke papa!" ujar nya sambil menangis.
"Manja banget, cuma di bilang gitu doang, sekarang Lo maunya apa? Gue turutin deh, jangan nangis gue gak suka denger suara tangisan,"
Raja yanag terbiasa hidup tenang tampa melakukan pekerjaan apapun dan hanya fokus belajar di sekolah, tiba-tiba di berikan seorang adik tiri ya itu Clara yang kedepanya pasti akan selalu bersama bahkan tingal serumah.
Malam pertama punya adik saja sudah membuat nya hampir gila, apalagi nanti hari pergi sekolah bersama, berada di satu meja makan yang sama dan lain sebagainya.
Clara yang sudah sejak lama berhayal punya seorang akak laki-laki, tiba-tiba diberikan Raja hadir dalam hidupnya sebagai kakak tirinya bagaimana tidak bersikap manja juga seperti anak kecil. Apalagi dia di perlakukan cukup baik oleh papa dan mama tirinya.
"Gue maunya balik ke rumah gue, gak mau balik ke rumah Lo!" jawab Clara dengan suara lantang.
Raja menarik nafas dalam-dalam kemudian melepaskan dengan kasar, mau tidak mau ia harus menuruti gadis itu sekarang, karena membantah keinginan nya hanya akan membuat suasana semakin buruk.
Tampa mengucapkan sepatah kata pun, Raja segera memutar balik mobil nya.
Clara yang melihat itu lega, ia akhirnya di antar pulang ke rumah nya.
Tidak butuh waktu lama, dengan arahan dari Clara mereka pun akhirnya tiba di sebuah rumah gedongan yang begitu mewah besar seperti istana, rumah empat lantai dengan luas, seluas mata memandang.
Saat melihat rumah tersebut, Raja kembali ingat dengan Cery, kali ini ia semakin yakin kalau Clara tidak ada hubungannya dengan Cery, Clara adalah Clara, anak manja yang hidup penuh dengan kemewahan dan di manjakan oleh harta sang papa.
"Tunggu apa lagi? Gak mau masuk? Udah mau pagi nih!" ujar Clara kepada Raja, saat ini dirinya sudah berdiri di depan pintu yang telah di buka oleh pelayan rumah mereka.
Raja yang mendengar itu segera melangkah kan kakinya masuk ke dalam rumah, ia juga sangat lelah dan memutuskan untuk menirukan ego, malam ini ia akan tidur di rumah papa tirinya untuk yang pertama kali, rumah tersebut sangat mewah dan jauh lebih besar dari rumah mama nya.
"Bi, siapin kamar buat dia ya," ujar Clara kepada pelayan nya.
"Sudah bdi siapkan nona, ada di sebelah kamar nona di lantai dua," ujar pelayan itu sambil tersenyum.
Clara sontak kaget, ada begitu banyak kamar di rumah ini, siapa yang dengan berani menyuruh pelayan menyiapkan kamar Raja di sebelah kamar nya.
"Kok di sebelah kamar gue?" tanya Clara sambil menujuk dirinya.
"Pak Tian yang mengatur semuanya nona," ungkap pelayan tersebut lagi-lagi sambil membungkuk.
"Banyak banget bicara Lo, yok anterin gue ke kamar, udah ngantuk banget ini," Raja menarik gaun Clara untuk segera pergi ke lantai dua.
"Ehhh! Jangan tarik-tarik, gaun kesayangan ini!" jerit Clara sambil mengikuti Raja.
Para pelayan saling pandang, dua orang itu kedepan nya pasti akan terus bertengkar di dalam rumah, sudah bisa di prediksi oleh mereka karena kelihatannya saja sudah tidak akur.
Malam pun berlalu begitu cepat, semalaman Clara tidak bisa tidur dan merasa sangat kesal dengan sang papa yang mengatur kamar Raja di sebelah kamar nya.
Paginya ia bangun dengan kantong mata yang sedikit hitam, ia mandi dan juga mengunakan pakaian sekolah nya serta buru-buru turun ke lantai bawah.
Papa dan mama tirinya ternyata sudah kembali tadi subuh, mereka khawatir dengan Raja dan Clara karena itu pulang lebih cepat.
"Papa, Tante," ujar Clara menyambut kedua orang tua nya yang baru masuk dengan dua buah koper besar di tangan sang papa.
"Tante apa nya, pangil mama," uajar Tara sambil tersenyum.
Sang papa mengganguk kepada putrinya menandakan bahwa ucapan Tara benar, Clara sekarang harus memagil Tara dengan sebutan mama.
"Ma-mama," lirih Clara gugup.
"Iya sayang," jawab Tara penuh kebahagiaan di wajah cantik nya.
"Clara, kedepanya mama mu dan kakak mu akan tinggal di rumah kita, kamu tidak keberatan kan?" ujar sang papa menatap Clara sambil menunggu jawaban.
Clara lama terdiam, ia melihat dua buah koper yang di genggam sang papa, terlihat wajah gelisah Tara dia mungkin khawatir kalau Clara masih belum terbiasa dan akan sangat keberatan jika dirinya ada di sana.
"Kenapa harus keberatan? Gak mungkin dong keberatan sekarang kan Tante Tara jadi mama nya Clara pa," ujar Clara tersenyum.
Terlihat wajah lega sang papa dan juga Tara, mereka sempat saling pandang dan sama-sama tersenyum.
"Terima kasih sayang," Tara berjalan mendekati Clara dan kemudian memeluk nya dengan erat.
Pelukan itu begitu hangat, tidak pernah di rasakan oleh seorang Clara yang sejak kecil tidak punya mama, ia membalas pelukan Tara sambil membenamkan wajahnya di pundak Tara.
Tidak lama kemudian, Raja tiba di lantai bawah dan melihat mama, papa dan adik tirinya di ruang tengah.
"Mama," lirih Raja.
Clara melepaskan pelukan nya dan kemudian menoleh ke arah Raja.
"Raja mama belum beresin barang-barang kamu, nanti pulang sekolah kamu ke rumah ambil semua barang-barang kamu ya," ujar Tara kepada putranya.
Raja mengerutkan keningnya, ia menatap bingung sang mama.
"Raja, mama mu bilang rumah itu rumah peninggalan papa mu, tapi om juga gak mau kamu tinggal di sana sendiri, kita harus serumah kamu setuju kan kalau tingal di sini dan mengosongkan rumah kalian?" ujar papa Tian dengan lembut memegang pundak Raja.
Raja tidak bicara, ia menatap Clara dan juga mama nya secara bergantian, bibirnya bungkam tidak tau harus berkata apa dia sendiri bingung apa yang di rasakan hatinya saat ini.
"Raja, kok diam?" sang mama kembali angkat bicara.
Raja pun kemudian mengangguk kan kepala,demi membuat mama nya bahagia dan tidak khawatir ia akan melakukan apapun karena selama ini sang mama sudah terlalu puas merasakan kesedihan.
"Gak masalah ma, aku pulang dulu mau sekolah," ujar Raja tersenyum tipis dan kemudian hendak melangkah pergi dari sana.
"Clara, tunggu apa lagi? Cepat ikuti kakak mu," perintah papa Tian kepada sang putri yang beberapa menit ini mematung.
Raja menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Clara.
"Aku? Ikut dia? Gak pa gak mau aku kan punya mobil bisa berangkat sendiri gak harus barengan," bantah Clara.
"Gak ada, mulai sekarang kamu ada di bawah aturan Raja, dan Raja papa serahin semuanya ke kamu karena kamu sekarang kakak nya Clara," ujar Tian yang kini memperlihatkan ketegasan nya.
"Oke pa, gak masalah," Raja yang merasa itu bukan hal sulit senantiasa menjawab Iya.
"Anak mama pasti bisa," sambung Tara memberikan semangat.
Belum sempat ngerocs lagi, Raja segera menarik Clara keluar dari rumah.
Tidak peduli seberapa marah dan galak nya Clara.
Singat cerita, hari ini mereka berangkat ke sekolah bersama, meskipun menyebalkan bagi Clara karena tidak bisa bawa mobil lagi, namun siapa yang bisa menentang sang papa saat ini.
"Turun," Raja membuka pintu mobil sang adik setelah memarkirkan mobil.
"Nyenyenyen," ejek Clara dengan tangan melipat di bawah dada.
Hal itu di lihat oleh Linus yang juga baru selesai memarkirkan mobil.
"Clara, Lo kok berangkat bareng Raja?" ujar Linus sambil memeprhatikan dua orang yang terlihat sangat dekat itu.
"Urusan nya sama Lo apa?" Bukan Clara yang menjawab, namun Raja lah yang mewakili nya.
"Gue gak nanya Lo ya, Clara tangan Lo masih sakit?" Lagi-lagi Linus memeprhatikan Clara.
Clara hanya diam sambil menggeleng kepala, menjawab pertanyaan Linus.
"Bagus deh kalau gitu, tar istirahat ke kantin bareng gue ya, ada yang mau gue omongin," sambung Linus lagi.
"Mau ngomong apa?" tanya Clara menatap Linus penuh rasa penasaran.
"Gak enak ngomong sekarang, ada pengangu," ujar Linus yang kemudian pergi sambil melambai kan tangan ke arah Clara.
Raja yang melihat itu merasa mual dengan tingkah Linus, ia merasa ada sesuatu yang akan di lakukan Linus sehingga membuat ia bersikap lembut kepada Clara.
"Lo masuk kelas duluan, gue masih ada urusan," setelah mengatakan itu, Raja pergi dari sisi Clara.
"Tiba-tiba banget," Clara yang merasa lega segera pergi menuju kelasnya.
Dua jam pun berlalu, Clara benar-benar menepati janji,ia datang ke kantin untuk menemui Linus, di sana sudah bada Linus yang menunggu nya dengan makanan yang juga sudah ia pesan untuk Clara.
"Permisi," uajar nya sambil mendekati Linus.
Linus menatap Clara yang sudah tiba dan mempersilahkan nya untuk duduk di bangku yang berhadapan dengan nya." Clara, duduk,"
Sementara Della yang melihat itu merasa senang, akhirnya Linus berhasil untuk mengajak Clara berbincang.
Ya ini adalah ide Della, jika ingin melihat dia itu siapa mereka sengaja menyusun rencana untuk mengetes Clara, setau Della Cery tidak suka makan mie yang di campur dengan telur, jika Clara memakan nya,bisa jadi mereka memang ada kaitannya, ini benar-benar ide cemerlang dari Della.
"Makan dulu baru ngobrol," ujar Linus.
Clara menatap makanan yang di pesan Linus, ia terlihat sangat tidak suka bahkan merasa mual. "Maaf, gue gak makan mie yang di campur sama telor, gue alergi telor,"
Linus menatap Clara, sesekali ia melihat Della yang makan di ujung pojok sana, tak di sangka ternyata Clara juga tidak suka makan makanan yang mereka siapkan.
"Langsung ngomong aja gimana?" usul Clara risih dan merasa ada yang tidak beres.
"Lo Cery kan? Lo beneran Cery kan? Lebih baik sekarang Lo ngaku, Lo bukan Clara tapi Cery yang muncul dengan penampilan berbeda,iya kan?" ujar Linus dengan suara kecil.
Sontak Clara kaget, wajah nya sedikit memerah, hatinya seketika panas mendengar ucapan Linus barusan tidak menyangka kalau Linus akan mengetesnya sampai sejauh ini.
Brak ... Clara tidak bisa lagi memendam amarah nya, ia berdiri dan memukul meja itu dengan kuat."Udah berapa kali gue bilang? Gue bukan Cery! Gue Clara! Kenapa sih Lo gak percaya, kalau Lo ngajak ke sini cuma mau bahas soal itu terus lebih baik gak usah bicara sama gue lagi! Sok kenal banget!"
Semua yang ada di kantin seketika kaget mendengar suara lantang Clara.
Namun saat Clara hendak pergi, Linus segera menahan tangan nya.
"Lihat ini! Lo pasti kenal ini kan? Ini jam tangan yang Lo kasih ke gue Cery!" ujar Linus blak-blakan.
Beberapa orang di sana berisik mengenai Linus yang terlihat bodoh, bahkan ada yang mengira kalau Linus sudah gila sejak kepergian Cery, dia mungkin terlalu menyesal atas perbuatannya sampai jadi segila itu.
Itulah yang di dengan Della dari orang-orang yang ada di sana.
"Apaan sih! Jam murahan kayak gini, ngapain gue kasih ke elo? Gak mutu banget, kalau pun kasih sama tokonya gue bisa kasih, bukan yang kayak gini, gue udah bilang gue bukan Cery dan gue gak kenal sama Cery! Jangan ganggu gue lagi!" Clara mengambil jam tangan tersebut dan menghempaskan nya di lantai keramik dalam kantin.
Membuat kaca jam tangan itu pecah dan jam tersebut pun berhenti berdetak.
Linus menatap nanar jam tangan nya, ia merasa Clara cukup keterlaluan, ia menatap punggung Clara yang kian menajuh keluar dari kantin.
Linus terduduk setelah mengutip jam tangan nya, ia menitikkan air mata melihat jam tangan tersebut tak di sangka Clara tega membuat jam itu rusak.
Sementara Raja yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan kemudian juga beranjak pergi dari kantin.
Della segera menghampiri Linus, ia juga meminta semua orang yang ada di sana bubar dan berhenti membicarakan Linus, Rena yang melihat itu juga menghampiri Linus.
"Lo kenapa gak percaya sama gue? Ini gara-gara Lo kan Della? Udah gue bilang Clara itu iblis, bukan Cery kalian gak bisa lihat apa gimana tingkah nya?" oceh Rena tak ada habisnya.
Sementara itu, tampa sepengetahuan mereka, Clara masih ada di sana ia bersembunyi di balik pintu keluar kantin, perlahan bulir bening itu turun dari mata indahnya.
Bersambung ....