Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Hujan di luar Mansion Mahendra semakin menderu, seolah-olah langit ikut merasakan sesak yang menghimpit dada Adelard. Di dalam aula yang gemerlap, musik klasik yang dimainkan orkestra terasa seperti ejekan yang menusuk telinga. Adel berdiri di tengah pusaran tatapan menghina, sementara Tuan Mahendra, Siska, dan Clarissa berdiri bersatu di atas podium, membentuk garis pertahanan kemunafikan yang tak tertembus.
Adel melihat ayahnya—pria yang baru saja memberikan vonis "kurang terdidik" kepadanya—sedang menyesap sampanye sambil menerima jabat tangan dari seorang menteri. Pria itu tampak lega, seolah-olah menyingkirkan Adel ke paviliun adalah cara terbaik untuk membersihkan kotoran dari sepatu mahalnya.
"Cukup," bisik Adel pada dirinya sendiri. Suaranya kecil, namun getarannya datang dari dasar jiwanya yang paling dalam.
Ia tidak melangkah menuju pintu keluar dengan diam. Sebaliknya, Adel berjalan kembali menuju tengah aula, tepat di bawah sorotan lampu kristal utama. Langkahnya mantap, suara sepatunya yang menghantam lantai marmer menciptakan ritme yang menuntut perhatian.
"Tuan Mahendra! Nyonya Siska!" teriak Adel. Suaranya yang lantang memotong alunan biola, memaksa orkestra berhenti karena kebingungan. Para tamu undangan menoleh serentak. Wartawan yang tadinya hendak berkemas, kembali mengarahkan lensa kamera mereka.
Tuan Mahendra mengerutkan kening, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. "Adelard! Sudah kubilang masuk ke kamarmu! Jangan membuat dirimu semakin memalukan!"
"Memalukan?" Adel tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat hampa dan dingin hingga membuat beberapa orang di barisan depan merinding. "Apa yang lebih memalukan daripada seorang ayah yang menjual harga diri putrinya demi kenaikan saham esok pagi? Apa yang lebih memalukan daripada seorang ibu yang memeluk pembohong sementara dia meludahi darah dagingnya sendiri?"
Siska melangkah maju ke tepi podium, suaranya melengking tajam. "Kau benar-benar tidak tahu malu! Kami memberimu kesempatan untuk bertaubat, tapi kau justru semakin menggila di depan tamu-tamu kami!"
"Kesempatan untuk bertaubat?" Adel menatap Siska dengan tatapan yang sangat datar. "Maksud Ibu, kesempatan untuk menjadi boneka pendiam yang membiarkan kalian memutarbalikkan fakta? Kesempatan untuk membiarkan Clarissa berpura-pura menjadi malaikat sementara tangannya masih berbau besi dari pisau yang ia pegang?"
Clarissa mulai terisak lagi, menyembunyikan wajahnya di dada Tuan Mahendra. "Adel... kumohon hentikan... aku sudah minta maaf..."
Adel mengabaikan Clarissa. Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada Tuan Mahendra. Ia meraba dadanya, menyentuh pin emas berbentuk burung garuda—simbol kebanggaan keluarga Mahendra—yang tersemat di gaun *midnight blue*-nya.
"Kalian sangat membanggakan nama ini, bukan?" Adel mencengkeram pin tersebut. "Kalian bilang aku tidak pantas menyandangnya karena aku 'kurang terdidik'. Kalian bilang aku adalah badai yang tidak diinginkan dalam silsilah kalian yang 'suci'."
Dengan satu sentakan kasar, Adel mencopot pin emas itu. Beberapa benang gaunnya ikut tertarik, namun ia tidak peduli. Ia mengangkat pin itu tinggi-tinggi di depan puluhan kamera yang menyambar-nyambar dengan *blitz*.
"Malam ini, di depan semua orang yang kalian anggap penting... aku, Adelard, menyatakan bahwa aku tidak butuh nama ini!"
Suara tarikan napas kaget terdengar dari seluruh penjuru aula. Tuan Mahendra membelalak. "Adel! Apa yang kau lakukan? Jangan gila!"
"Aku tidak gila, Tuan Mahendra. Aku baru saja sadar!" Adel melempar pin emas itu ke lantai. Bunyi *ting* saat logam mulia itu membentur marmer terasa seperti lonceng kematian bagi hubungan mereka. "Jika darah Mahendra berarti aku harus menjadi pembohong seperti kalian... jika menyandang nama belakangmu berarti aku harus menelan fitnah dan memuji kejahatan demi sebuah reputasi, maka aku tidak menginginkannya!"
Adel menatap satu per satu lensa kamera dengan tatapan yang tajam dan berani. "Mulai detik ini, aku melepas statusku sebagai anak kandung keluarga Mahendra. Aku bukan lagi bagian dari silsilah kalian. Aku bukan lagi pewaris harta kalian yang berlumuran kepalsuan. Hapus namaku dari kartu keluarga, hapus namaku dari daftar waris, dan hapus namaku dari ingatan kalian!"
"Kau akan menyesal, Adelard!" teriak Siska dengan wajah yang kini penuh kebencian tanpa topeng. "Kau akan kembali ke selokan tempatmu berasal! Kau tidak akan bisa makan tanpa uang kami!"
Adel menoleh pada Siska, senyum tipis yang meremehkan tersungging di bibirnya. "Aku lebih baik makan nasi garam dengan kejujuran, daripada makan kaviar hasil dari memeras air mata orang lain. Ibu bilang aku akan kembali ke selokan? Lihat saja nanti... siapa yang akan berada di selokan saat kebohongan kalian ini runtuh satu per satu."
Tuan Mahendra gemetar karena amarah. "Kau pikir kau bisa bertahan hidup tanpa dukunganku? Kau hanya seorang gadis kecil yang penuh emosi!"
"Gadis kecil ini adalah orang yang menutup celah kebocoran dua puluh miliar di yayasanmu minggu lalu, Tuan Mahendra," sahut Adel dengan tenang, suaranya menusuk tepat ke harga diri pria itu. "Gadis kecil ini adalah orang yang tahu semua kecacatan di sistem keamanan datamu. Jika Ayah—maksudku, Tuan Mahendra—pikir aku lemah, maka Ayah baru saja mengusir satu-satunya otak yang bisa menjaga kapal bocor ini tetap mengapung."
Adel berbalik, membelakangi podium kemunafikan itu. Ia berjalan menuju pintu besar aula. Devan Dirgantara melangkah maju, hendak merangkulnya, namun Adel mengangkat tangan, memberi isyarat agar Devan tetap di tempatnya.
"Jangan sekarang, Devan," bisik Adel saat melewati pria itu. "Aku harus keluar dari sini dengan kekuatanku sendiri."
Para tamu memberikan jalan, seolah-olah Adel adalah api yang akan membakar siapa pun yang menyentuhnya. Di depan pintu besar, Adel berhenti sejenak. Ia tidak menoleh ke belakang, namun suaranya menggema untuk terakhir kalinya.
"Nikmatilah kemenangan palsu kalian malam ini. Rayakanlah seolah-olah kalian telah membuang sampah. Tapi ingatlah kata-kataku... darah Mahendra yang asli mengalir di sini, di dalam diriku. Dan darah ini tidak butuh marga untuk menjadi luar biasa. Aku akan membangun kerajaanku sendiri, dan saat itu tiba, jangan pernah memohon padaku untuk kembali."
Dengan kepala tegak dan punggung yang lurus, Adel melangkah keluar dari aula. Pintu besar mansion itu tertutup di belakangnya dengan suara dentuman berat, memisahkan dunianya dari dunia Mahendra selamanya.
Di luar, hujan mengguyur tubuhnya dalam sekejap. Gaun mahalnya basah kuyup, namun Adel justru merasa lebih ringan. Ia merasakan kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di bawah guyuran air langit, ia menyeka sisa air mata yang tercampur air hujan.
Ia tidak lagi punya rumah, tidak lagi punya orang tua, dan tidak lagi punya identitas di atas kertas. Namun, saat ia melangkah menuju gerbang luar yang megah, Adelard tahu satu hal: Ia memiliki dirinya sendiri. Dan bagi seorang Mahendra yang asli, itu sudah lebih dari cukup untuk menaklukkan dunia.
Di dalam aula, Tuan Mahendra mencoba tertawa dan menenangkan tamunya, namun tangannya bergetar saat memegang gelas. Ia melihat pin emas yang dibuang Adel di lantai—tergeletak tak berdaya dan terinjak oleh kerumunan. Ada rasa hampa yang tiba-tiba menyerang dadanya, sebuah firasat bahwa malam ini, dia baru saja kehilangan satu-satunya hal yang paling berharga dari seluruh kekayaannya. Dan di sudut ruangan, Clarissa menatap pintu yang tertutup itu dengan ketakutan yang mulai menjalar; ia tahu, meskipun ia memenangkan malam ini, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.