Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Mulai beraksi
Setelah Olivia pulang, selang satu hari, mobil yang di belikan atas nama Seina itu datang.
Mereka mulai berjualan rutin setiap harinya, dan mulai membeli sebagian bahan dari warga.
Sudah memasuki bulan ketiga Seina dan Martin tinggal di tempat itu dan menjalankan bisnis kecil-kecilan itu.
Namun suatu pagi buta, saat Martin sedang memasukkan barang dagangan ke kios.
Tiba-tiba saja ada segerombolan orang berbadan besar merusak semua barang dan dagangan Seina hancur lebur, Martin mencoba melawan tapi malah babak belur, setelah semua hancur mereka segera kabur pergi.
Martin yang sudah babak belur mencoba bangkit dan segera masuk ke mobil dan kembali pulang.
Itu sudah pasti di rencanakan, mereka datang di saat sepi, sebelum para nelayan berangkat, dan hanya kios milik Seina yang mereka pukul habis-habisan.
" Loh Martin, kenapa?" Seina sangat terkejut melihat Martin sudah babak belur.
" Cin, dagangan kita hancur dirusak segerombolan orang berbadan besar." ujar Martin terhuyung.
" Astaga?, siapa yang tega melakukan ini Tuan?" ujar Mona juga terkejut.
" Ya sudah, kita tidak usah jualan lagi, Martin duduklah, aku akan panggil dokter." ujar Seina
Seina tampak tenang, seakan tahu siapa pelakunya.
Dokter pun segera datang dan segera mengobati Martin.
" Kenapa kau tenang begitu Cin?" tanya Martin heran.
" Iya Nona, kenapa anda tidak kesal sama sekali, padahal usaha anda sudah membuahkan hasilnya." ujar Mona.
" Iya, tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan." ujar Seina tenang.
" Aku akan cari tahu siapa mereka." ujar Martin tak terima.
" Tidak usah, tidak usah, biarkan saja kita juga tidak usah jualan lagi." ujar Seina.
" Wah, kalian sedang apa berkumpul?, anak yatim piatu dan gundik lagi ngumpul memang satu level." ujar Gladys yang tiba-tiba nyelonong masuk.
Seina langsung bersembunyi di belakang Martin.
" Hallo, maaf ya Seina aku baru datang melihatmu, kerjaanku banyak sekali Seina." ujar Matthew yang datang membawakan tas Gladys.
Begitu mendengar suara Matthew, Seina tidak bersembunyi lagi.
" Iya Tuan." Jawab Seina menunduk.
" Kami akan tinggal di sini 3 Minggu, kebetulan aku ada kerjaan di dekat sini, Eh Martin nanti kakak minta bantuannya ya, kakak tidak bawa Farid, karena Farid ambil cuti 3 bulan." ujar Matthew.
" Nggak kak, aku temani Seina aja deh dirumah." untuk pertama kalinya Martin menolak Matthew.
" Kok gitu, tumben banget sih kamu nggak nurut." ujar Matthew terkejut.
" Seina biar aku yang urus, kau ikut kakakmu sana!" tegas Gladys.
Seina langsung terkejut mendengar ucapan Gladys.
" Iya, kan ada istriku, sudah pokoknya besok kamu ikut kakak kerja." Tegas Matthew.
" Tidak mau kak." tegas Matthew.
" Kau ini aneh banget sih, kok jadi berubah." ujar Matthew.
Karena biasanya dia selalu senang diajak pergi kemana pun oleh Matthew.
" Besok aku mau free cowok - cowok, kalian pergi saja!" tegas Gladys sambil melirik ke arah Seina.
" Martin, sebaiknya kau ikut Tuan Matthew, aku akan baik-baik saja karena ada Nyonya." ujar Seina dengan nada terbata-bata.
" Ada saya juga Tuan." Sahut Mona menunduk.
" Ah, sudahlah." ujar Martin terpaksa.
Seina pun segera ijin beristirahat di kamar dengan alasan agak lelah.
Keesokan harinya.
Martin dan Matthew berangkat di pagi hari untuk pekerjaannya.
Tiba-tiba saja Gladys mendobrak kamar Seina dan menyiramnya dengan air dingin.
Seina berteriak karena terkejut.
" Nyonya?" Seina terkejut.
" Bagus, kau malas-malasan ya?, apa kau sudah merasa sebagai Nyonya Howard?. Lalu kau masih berani berjualan, kau juga masih berdekatan dengan Malika itu." ujar Gladys sangat kesal.
" Ma-maafkan saya Nyonya." jawab Seina ketakutan.
" Sekarang masakan aku makanan!" pinta Gladys.
" Sa-sa-saya tidak bisa memasak nyonya, tapi Mona sangat pandai." ujar Seina.
Namun justru tamparan yang di dapatkan Seina.
" Kau mulai berlagak jadi Nyonya besar?, cepat kau masak!" ujar Gladys tidak mau tahu.
Seina pun yang basah kuyup segera pergi ke dapur untuk memasak, tapi dia benar - benar tidak bisa memasak.
Dia bingung apa yang harus dilakukan, Seina menangis di dapur.
" Nona, ini masakan kemarin nona hangatkan saja." ujar Mona menunjuk pada stok yang dia masak.
Seina segera mengambil dan menghangatkan masakan Mona.
Setengah jam kemudian Seina menyajikan makanan itu pada Gladys.
" Katanya tidak bisa memasak?, ini apa?, kau kurang ajar sekali, berani berbohong." ujar Gladys melemparkan makanan yang sudah di tata rapi di meja oleh Seina.
" Aku sudah tidak selera makan, cepat kau makan!" teriak Seina.
" Nyonya, itu kotor, Nona kan sedang hamil." ujar Mona langsung menghalangi Seina mengambil makanannya.
" Plak!"
" Plak!" dua tamparan keras mendarat di pipi Mona.
" Kau gila, aku sangat jijik pada mukamu, malah muncul tiba-tiba." ujar Gladys semakin marah.
" Kalau tidak mau makan, kamu beresin yang ini, dan ini juga." Gladys menumpahkan semua makanan ke lantai sampai piringnya pecah.
Saat Seina memunguti makanan yang tumpah dan panas Gladys dengan sengaja menginjak tangannya.
" Upss, maaf ya ." ujar Gladys berlenggang pergi sambil tertawa puas.
" Astaga Nona, ayo ke puskesmas." ujar Mona sangat khawatir karena tangan Seina selain kena pecahan kaca juga melepuh.
" Nanti, aku bereskan dulu." ujar Seina.
Mona dengan sigap mengambil sapu dan sampah, setelah membersihkan Mona lalu mengepel dengan kilat, setelah itu membawa Seina ke puskesmas.
Saat di puskesmas Seina menangis terisak-isak.
Rasanya dia tidak mau kembali lagi ke tempat itu karena ada Gladys.
" Nona, apa kita kabur saja?" ujar Mona.
" Apa bisa?, kemana kita akan kabur?" ujar Seina sambil menangis terisak-isak.
" Tapi uang dan tabungan saya di rumah itu." ujar Mona.
" Aku tidak mau bertemu Nyonya." ujar Seina ketakutan.
" Mona sebenarnya apa yang terjadi dengan Nona kamu ?" tanya Dokter yang berjaga.
" Ah saya tidak apa-apa dok ini tadi karena saya ceroboh, saya malu mau pulang karena rumah belum saya bereskan." Sahut Seina.
"Owalah gitu ya?, ini salepnya di oles ya, jangan kena air dulu, nanti kalau ada keluhan lain datang saja ke sini." ujar dokter itu ramah.
Seina pun berterima kasih banyak pada dokter itu.
Sebenarnya dia juga bisa langsung menghubungi dokter pribadinya, tapi pasti akan repot dan membuat masalah makin panjang.
" Sebenarnya aku sangat ingin melawannya Mona, tapi aku takut bagaimana jika dia kejam pada anak-anak yang sudah di tolong." Ujar Seina.
" Nona, anda jangan memperdulikan orang lain lagi, ayolah Nona, saya akan mendukung apapun keputusan anda." ujar Mona.
" Mona, bagaimana kalau kita balas dengan jebakan, atau kita coba takut-takuti, agar dia tidak betah." ujar Seina.
" Saya akan bantu kita cari ide dulu." ujar Mona.
Mereka pun berdiskusi bersama di bawah pohon dekat puskesmas.
" Sudah?, boleh minta?" ujar Seina bertanya pada Mona.
" Boleh Nona, saya bilang obat tidur itu untuk hewan peliharaan Nyonya besar yang akan di ajak perjalanan jauh." ujar Mona.
" Hahaha, kau bisa saja Mona." mereka pun segera kembali.
Karena Matthew dan Martin akan pulang seminggu lagi, jadi aman untuk menargetkan Gladys untuk meminum obat tidur itu.
Mereka berdua mulai menjalankan aksinya dengan mencampurkan obat tidur ke dalam air minum di dalam lemari es.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣