"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.
Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Daisy pun tiba bersama Jeny di rumah nya, disana dia disambut oleh ketiga orang yang kini tengah duduk di teras rumah.
"Bi apa kabar?"ujar Daisy yang kini memeluk asisten rumah nya itu.
"Baik non."ucap bi Cece sambil membalas pelukan itu begitu erat.
"Syukurlah kalau begitu selamat datang di rumah ini lagi bi pak semoga kita semua baik-baik saja."ucap Daisy sambil menatap kearah Tiana.
"Dy aku boleh menginap?"ujar Tiana.
"Tentu saja boleh, memangnya sejak kapan kamu dapat larangan untuk menginap disini?"ucap Daisy yang kini melirik kearah Jeny yang tengah sibuk membalas pesan entah dari siapa.
Sedetik kemudian Jeny mengambil foto Daisy dan yang lainnya lalu dia melakukan voice note yang terdengar begitu jelas di kuping Daisy.
"Tuh kan aku gak bohong kak, aku sedang di rumah Daisy."ucap Jeny yang kini membuat Daisy merasa tidak habis pikir kenapa Aksa begitu posesif terhadap adiknya itu.
Sementara tanpa Daisy sadari bahwa Aksa sebenarnya ingin melihat Daisy saat ini."Dy sebaiknya kamu bersih-bersih dulu kemudian minum obat."ucap Tiana yang kini membuat Jeny menoleh kearah mereka.
"Sisi sakit?"ujar Jeny.
"Oh my God kamu tidak tau itu, kemana saja kamu nona muda Jen?"ujar Tiana yang kini membuat Jen mendelik kesal.
"Aku baru kembali kemarin sore nona muda Tia." balas Jeny.
"Sudah-sudah aku baik-baik saja kok, aku keatas dulu ya."ucap Daisy yang kini mengerti dengan maksud dan tujuan Tiana.
Daisy pun langsung bergegas pergi menuju lantai dua rumah nya itu, dia memasuki kamar nya dengan cepat sambil meraih handphone dari saku jasnya.
"Oh ya ampun,"ucap Daisy saat melihat ratusan panggilan masuk begitu juga pesan singkat yang jumlahnya tidak sedikit hingga pesan terakhir berupa ancaman bahwa Aksa akan memberikan Daisy pelajaran agar dia bisa terus mengingat Aksa dan tidak pernah mengabaikan nya seperti seharian ini.
"Maaf aku baru pulang kuliah, lagipula Jeny juga seharian bersama ku."ucap Daisy.
"Maaf ini dengan siapa ya, Aksa sedang mandi."ucap seseorang yang tidak lain adalah Tiana super model itu, Daisy tau suara wanita itu karena dia sering melihat dan mendengar suara nya yang khas di televisi.
"Ah maaf salah sambung."ucap Daisy yang kini membuat wanita di sebrang sana menggeleng pelan.
Sementara Daisy kini langsung memblokir nomor Aksa dengan cepat dan air matanya mengalir begitu saja.
"Stop jangan merasa tersakiti karena kamu yang bersalah Daisy, kamu yang hadir di tengah-tengah mereka."ucap Daisy yang kini pergi menuju kamar mandi tanpa peduli dengan handphone nya yang tergeletak di lantai.
Sementara itu di bawah Tiana sedang merasa kebingungan saat Aksa mengirim pesan bahwa Daisy memblokir nomor nya.
"Daisy kamu dima?"ucapan Tiana langsung terhenti saat dia melihat handphone pemberian Aksa tergeletak di lantai.
Tiana tau itu ponsel baru Daisy yang tidak dijual sembarangan di pasaran karena harganya cukup fantastis.
"Handphone nya tergeletak di lantai orangnya mungkin sedang berada di dalam kamar mandi."ucap Tiana.
"Tia sayang kamu gak ajak a oh my God, ini handphone keluaran terbaru yang sedang ku incar kamu hebat ya bisa dapat handphone ini."ucap gadis cantik itu.
"Ini bukan punya aku Jen, ini dikirim oleh daddy nya si Dy katanya hadiah ulang tahun nya."ucap Tiana yang kini meletakkan ponselnya di saku kemejanya agar Aksa mendengar percakapan diantara mereka.
"Non dibawa ada tuan besar."ucap bi Cece.
"Daisy di kamar mandi bi."ucap Tiana.
"Oh baiklah jika sudah selesai tolong minta dia untuk turun."ucap bi Cece lagi.
"Ya bi."ujar Jeny.
"Jen apa kamu pernah bertemu dengan ayah Dy?"tanya Tiana.
"Boro-boro selama ini kamu tau sendiri kan hanya ada aunty Amelie dan Daisy juga kedua asisten rumah ini."ucap Jeny.
"Kata Daisy juga dia datang setelah kepergian aunty Amelie."ucap Jeny lagi.
"Ya kamu benar Jen sungguh malangnya Dy."lirih Tiana.
"Kalian disini?"ujar Daisy yang kini baru keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
"Ya Dy, cepatlah berpakaian dibawah papah mu menunggu."ucap Tiana.
"Hm... baiklah."ujar Daisy tanpa terlihat malas tidak seperti biasanya.
...*****...
Daisy pun langsung bergegas menuju walk-in closed, sementara kedua temannya turun lebih dulu ke lantai bawah disana tampak bi Cece sedang mengobrol dengan tuan Wijaya dan tanpa Tiana sadari bahwa sambungan telefon nya dengan Aksa masih tersambung.
"Saya harap kalian berdua bisa tetap merawat rumah ini meskipun Daisy tidak tinggal disini lagi nantinya. Saya akan membawa nya ke luar negeri dan memindahkan kuliah nya kesana."ucap tuan Wijaya.
"Apa, jadi uncle ingin membawa Daisy pindah."ucap Jeny yang kini terlihat sangat shock.
"Ya saya tidak mungkin membiarkan dia hidup sendiri disini apalagi kemarin saya menerima laporan bahwa dia jatuh sakit, saya baru pulang dan saya putuskan untuk membawa dia bersama saya."ucap pria paruh baya tersebut.
Sementara Aksa kini tengah berusaha untuk menghubungi Daisy dengan handphone lainnya, tapi tetap saja ponsel lama Daisy tidak aktif, hingga dia mengirim pesan pada Tiana untuk meminta dia memberikan handphone tersebut pada Daisy tapi sayang Tiana sedang fokus berbicara dengan tuan Wijaya hingga akhirnya Aksa menunggu keputusan Daisy yang menurutnya akan menolak permintaan ayah nya itu.
"Ada apa lagi papah datang?"ujar Daisy yang kini menghampiri mereka semua.
"Sayang papah datang untuk menjemput mu papah harap kali ini kamu tidak menolak. sayang papah ingin kamu ikut bersama papah tinggal di luar negeri, kamu bisa tinggal terpisah jika kamu tidak nyaman tinggal dengan mommy mu. papah khawatir jika kamu tinggal disini sendirian apalagi kemarin papah dapat laporan bahwa kamu jatuh sakit, papah sangat khawatir itulah kenapa papah langsung kemari untuk menjemput mu.... Kamu tidak usah khawatir dengan masalah kuliah mu, disana ada banyak kampus ternama dan terbaik jadi kamu bisa lanjut kuliah disana."ucap pria itu.
Daisy pun melirik kedua sahabatnya sebelum akhirnya dia kembali mengambil keputusan." Baiklah aku akan ikut."ucap Daisy dengan begitu gamblang tanpa penolakan sedikit pun.
Daisy tidak punya harapan lagi untuk tetap hidup sendiri tanpa adanya orang tua, meskipun keputusan itu diambil mutlak untuk menjauh dari Aksa.
"Sayang kamu serius?"tanya tuan Wijaya.
"Ya pah lagipula Sisi sudah tidak ada Mama disini, mungkin aku akan kembali setahun sekali untuk mengunjungi mama."ucap Daisy yang kini membuat kedua sahabatnya terisak dalam tangis nya karena akan terpisah jauh dari Daisy sahabat yang paling mereka sayangi.
"Sisi aku juga ingin pergi bersama mu, aku akan minta daddy untuk pindah kuliah ke tempat mu."ucap Jeny.
"Oh ayolah sayang, jika aku punya pilihan pun aku akan tetap kuliah di kampus kebanggaan kita, tapi aku tidak mungkin terus menolak permintaan papah dan itu untuk kebaikan ku."ucap Daisy yang kini membuat Aksa mengamuk dan melempar semua benda yang ada di hadapannya.
Aksa tau itu bukan karena Daisy tidak bisa menolak tuan Wijaya, tapi dia mengambil keputusan itu karena dia kecewa terhadap dirinya yang ternyata tinggal bersama Tiana saat ini.
Andaikan saja Aksa tidak dipaksa untuk menerima kehadiran Tiana di rumah nya oleh sang daddy mungkin saat ini dia tidak akan kembali ke Belanda dengan terburu-buru bahkan sampai tidak bisa berpamitan langsung dengan Daisy.
"Ahh!! jangan pernah berfikir untuk pergi dari saya Daisy, saya akan mencari mu sampai ke ujung dunia sekalipun."ucap Aksa yang kini menghubungi Kris untuk meminta dia mencari tahu kemana negara tujuan Daisy.
Sementara perpisahan diantara Daisy dan kedua temannya itu pun terasa begitu memilukan, ketiganya menangis sesenggukan sambil berpelukan seakan tak ingin berpisah tapi itu demi kebaikan semuanya. Daisy sadar dirinya tidak pantas bersanding dengan Aksa.
"Tia aku titip ini tolong berikan padanya." lirih Daisy yang kini memberikan sebuah handbag berukuran besar yang berisi barang-barang pemberian Aksa.
Sementara barang-barang Daisy sudah dibawa masuk kedalam mobil oleh bi Cece dan pak Asep, saat ini orang suruhan tuan Wijaya pun tengah mengurus kepindahan Daisy ke luar negeri.
Awalnya pihak Kenzie kesulitan untuk memutuskan memberikan surat pindah karena Aksa menekan nya untuk tidak memberikan ijin tapi tidak pernah ada peraturan kampus yang melarang mahasiswa nya untuk pindah apalagi kampus yang dituju oleh Daisy adalah kampus terbaik di luar sana.
Kenzie pun tidak tau persis nya dimana karena kampus tersebut memiliki banyak cabang di berbagai negara dan kini orang tuan Wijaya bahkan meminta pihak kampus untuk tidak membocorkan informasi tentang kampus yang dimaksud seakan mereka tengah menghindari seseorang yang berpengaruh.
Dan kecurigaan Kenzie benar, bahwa tuan Wijaya memang tidak hanya datang dengan niat baik atas rasa sayang nya terhadap putri semata wayangnya. Dibalik itu semua ada tekanan dari orang besar yang tidak ingin putra semata wayangnya bersatu dengan putri tuan Wijaya, dia tidak lain adalah tuan Dimitri.
Tuan Dimitri begitu marah saat mendengar laporan bahwa putranya tinggal di rumah Daisy dan meninggalkan tanggung jawabnya demi gadis malang itu.
Daisy mungkin tidak punya catatan buruk di mata siapapun, tapi dia tidak pantas untuk bersanding dengan Aksa yang memiliki segalanya, ditambah tuan Dimitri tau tujuan tuan Wijaya kembali ingin merawat Daisy selain karena kasih sayang nya yang tulus, dia juga ingin memenuhi keinginan istrinya untuk menjodohkan Daisy dengan pria pilihan nya yang bisa memberikan segalanya.
Hari ini sepanjang perjalanan didalam jet pribadi Daisy hanya bisa terdiam dengan cucuran air mata, dan itu membuat tuan Wijaya merasa sakit karena ternyata takdir putrinya tidak jauh berbeda dengan almarhum wanita yang sangat ia cintai yaitu nyonya Amelie yang ditolak mentah-mentah oleh keluarga tuan Wijaya hingga putri mereka Daisy tidak diakui oleh mereka.
"Sayang maafkan papah jika ini keputusan yang sangat berat bagimu, papah hanya tidak ingin kamu berada di dalam bahaya." ucap tuan Wijaya pelan.
"Maksud papah?"balas Daisy yang kini masih bercucuran air mata.
"Ayah dari teman mu Jeny mengancam akan menyakiti mu jika papah tidak membawa mu pergi karena dia tidak ingin putra nya memiliki hubungan dengan mu."ucap tuan Wijaya yang kini mendekap Daisy yang semakin menangis sesenggukan.
"Papah harap kamu bisa terima jika kalian tidak berjodoh, papah tidak ingin apa yang terjadi pada kami di masalalu terulang kembali padamu.... kita berpisah bukan karena papah tidak mencintai kamu dan Mama mu nak, semua karena restu... dan sama halnya dengan kondisi mu dan Aksa saat ini, bedanya papah tetap memaksakan cinta papah hingga akhirnya kalian berdua harus menanggung derita. papah sungguh menyesal, rasanya ingin sekali memberontak tapi nyawa kalian berdua jadi taruhannya." ucap tuan Wijaya yang kini membuat Daisy mengangguk paham.
"Sekarang mereka sudah tidak ada lagi, tidak ada orang yang akan menghalangi papah untuk bisa hidup bersama putri papah, kamu akan tinggal di apartment yang sudah papah sediakan. Papah tau kamu tidak akan mau tinggal bersama istri papah tapi percayalah bahwa ia adalah wanita yang baik."ucap tuan Wijaya yang kini hanya membuat Daisy terdiam.
Perjalanan yang menghabiskan waktu 23 jam itu pun membawa Daisy ke tempat barunya yang kini hanya terlihat gedung-gedung pencakar langit itu menjulang tinggi dan Daisy berada di salah satu gedung pencakar langit tersebut.
Daisy belum tau persis dimana kini dia tinggal yang jelas saat sampai seluruh kontak pertemanan nya menghilang dari ponselnya, sepertinya tuan Wijaya benar bahwa saat semua tidak main-main. Bahkan nomor nya telah di hack saat ini.
Daisy pun kembali menitikkan air mata, dia yang kini dibantu oleh tuan Wijaya untuk membereskan barang-barang pribadi nya pun hanya bisa berharap semoga setelah ini hidup nya benar-benar bertemu dengan kesuksesan.
Sampai saat tuan Wijaya pamit setelah memberikan sebuah black card yang seharusnya sudah diberikan oleh nya sejak dulu pada almarhum istrinya itu.
"Papah pulang dulu sayang, rumah papah ada di kota x, kapan-kapan kamu bisa berkunjung untuk bertemu dengan adik-adik mu, besok asisten pribadi papah akan mengurus semuanya untuk mu termasuk kampus baru mu, mulai besok kamu akan diantar jemput oleh sopir."ucap tuan Wijaya yang kini hanya dibalas anggukan kepala oleh Daisy.
"Apartment milik Daisy saat ini memang sangat nyaman, tapi hatinya begitu sepi di balik ruangan yang cukup luas untuk sebuah ukuran apartment tersebut.
Disana terdapat dapur minimalis modern dan ruang santai, ruang baca dan kamar tidur yang cukup luas.
Seakan tengah berada di hotel mewah, Daisy bisa melihat penampakan kota dari dinding kaca dimana saat ini dia berdiri.
Sementara itu Aksa yang tidak mendapatkan informasi apapun saat ini masih melampiaskan kemarahannya pada minuman keras.
Aksa benar-benar tidak bisa kehilangan jantung hati nya itu, bahkan dia sudah mengancam akan bunuh diri jika tidak ada satupun yang mau memberitahu tentang keberadaan Daisy.