Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?
Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.
Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mangancammu
Gema duduk termangu di meja makan, kedua tangannya mengepal menyangga dagu sambil bertumpu di atas meja. Pandangan pria itu terlihat kosong, mengarah pada hidangan yang sudah tertata rapi di depannya. Benda bundar itu terlihat penuh oleh berbagai macam makanan di atasnya.
Pandangan Gema teralihkan saat samar-samar terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Perlahan pria yang terlihat tidak bersemangat itu menoleh ke arah kiri di mana sumber suara itu berasal. Dia menautkan kedua alisnya menunggu kedatangan orang yang sedang dia nantikan sejak tadi. Alisnya sedikit terangkat ke atas saat seorang wanita muncul dari balik tembok pemisah antara ruang makan dan dapur tersebut.
"Silahkan, Non," ucap Bi Sumi yang baru saja muncul dari balik tembok memberi isyarat tangan pada Kinara berada tidak jauh di belakangnya.
Dengan langkah lesu Kinara menuju arah yang ditunjuk Bi Sumi dengan kedua tangannya. Gema masih menatap tempat Bi Sumi berdiri, kali ini wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Suara ketukan sepatu terdengar semakin jelas, seorang gadis yang terlihat segar, cantik, dan hampir bisa disebut sempurna muncul dari balik tembok tersebut.
Gema membulatkan mata lebar-lebar melihat Kinara yang baru muncul. Dia terlihat sangat cantik dengan memakai atasan kemeja putih dan celana baggy berwarna hijau lumut, dipadukan flat shoes yang berwarna senada dengan kemejanya, serta rambut yang terlihat sedikit basah tergerai indah hingga pinggang, membuatnya semakin terlihat begitu cantik, hingga pria yang sebelumnya tidak suka berurusan dengan wanita itu enggan untuk memalingkan pandangan darinya.
Wow, dia sangat manis. Auranya juga terasa berbeda. Bagaimana mungkin dia bisa secantik ini dan apa yang terjadi dengan jantungku, rasanya seperti mau lompat saja. Astaga, sepertinya aku hampir gila.
Mata Gema terus saja tertuju pada Kinara. Setiap gerakan dan langkah gadis itu tidak sedikitpun lolos dari perhatian pria yang sedang ternganga di depan makanan tersebut. Kinara berjalan mendekat ke meja makan. Ketika gadis itu hendak duduk dengan memberi jarak satu kursi dari Gema, pria yang baru saja tersadar dari kekagumannya pada seorang wanita itu tiba-tiba menarik kursi yang ada di sebelahnya.
"Duduklah di sini," ucap Gema sambil memukul-mukul sandaran kursi itu.
Dengan sedikit ragu Kinara duduk di kursi sebelah Gema. Beberapa kali gadis itu melirik Gema dengan sedikit rasa takut di hatinya.
Apa, sih sebenarnya mau orang ini? Ngapain juga natap aku kayak gitu, aku jadi merinding, batin Kinara sambil kembali melirik Gema yang masih menatapnya.
"Haiish, berhenti menatapku! Dasar pria jahat, apa selain hatimu, otakmu juga sudah kotor," geram Kinara yang sudah merasa risih dengan tatapan Gema.
"Apa aku terlihat seperti itu?" Gema melemparkan pertanyaan dengan entengnya.
Kinara melirik sinis padanya tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Dia akhirnya memilih diam dengan wajah ditekuk dan tangan yang disilangkan di depan dada.
"Makalah keburu dingin dan tidak enak."
"Aku hanya mau makan makananku," ketus Nara tanpa melihat ke arah Gema.
"Apa yang ingin kau makan? Angin?" tanya Gema dengan santainya.
"Aku bisa membeli makanan dengan uangku, aku tidak menginginkan apapun darimu selain kau dipenjara," jawab Kinara yang kini menatap tajam padanya.
Gema menyalakan ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Apa kau ingin makan ini?" tanya Gema dengan menunjukkan foto nasi bungkus Kinara yang sudah ada di dalam bak sampah.
"Ka—kau." Kinara menggertakkan giginya menahan kesal. "Bagaimana mungkin kau melakukan semua ini padaku. Jahat, kau jahat!" Kinara dengan tidak berdaya memukul-mukulkan tas berwarna merah muda yang ada ditangannya ke dada bidang Gema.
Tangan kekar Gema dengan sigap menangkap pergelangan tangan Kinara. Gadis itu masih saja terus berusaha memukul Gema dengan sisa-sisa tenaganya, tapi nihil. Dia bukan tandingan pria itu.
"Makanlah," kata Gema menatap lekat manik mata Kinara.
"Kau tidak tau betapa berharganya makanan yang kau buang-buang itu!" jawab Kinara dengan sedikit berteriak.
"Aku tau, tapi kau juga harus tau untuk berjuang kau juga harus sehat dan punya tenaga lebih. Bukankah kau ingin membalasku? Lakukan itu jika bisa membuatmu lebih baik, tapi makanlah dengan baik sebelum melakukan itu."
Kinara terdiam. Gadis itu menatap lekat manik mata berwarna hitam legam yang ada di hadapannya tersebut. Tidak ada kebohongan yang bisa dia rasakan dari ucapan Gema. Perlahan Gema melepaskan tangan Kinara saat dia sudah mulai lebih tenang. Beberapa saat Gema menatap Kinara yang sudah terduduk diam dengan wajah cemberutnya.
"Ayo, sekarang makanlah," ucap Gema mengambilkan nasi ke dalam piring Kinara.
Dengan telaten Gema mengambilkan sayur dan lauk untuk gadis yang sama sekali tidak meresponnya itu. Kinara melirik sekilas ke arah Gema yang sedang sibuk menuangkan sayur ke dalam piringnya, dia nampak seperti pria yang penyayang dan dapat diandalkan. Namun, dengan cepat Kinara mengalihkan pandangannya saat Gema hendak menengok ke arahnya.
"Apa mau aku suapi?" tanya Gema menatap tajam Kinara.
Ekor mata Kinara melirik sinis Gema yang sudah bersiap dengan sendok di tangannya. Mendapatkan lirikan mematikan dari gadis cantik di sampingnya, Gema mengurungkan niatnya untuk memajukan sendok tersebut dan memilih meletakkan kembali ke tempatnya.
Dia benar-benar seorang iblis yang bertampang malaikat. Sudah berapa banyak orang yang tertipu dengan tampilannya itu coba. Heh, batin Kinara sambil menarik satu sudut bibirnya dan memalingkan wajah dengan kesal.
Akhirnya makanan itu bisa terjamah meskipun tidak ada seperempatnya yang bisa masuk ke dalam perut mereka. Kinara sangat tidak berselera makan meskipun makanan yang terhidang di meja terlihat begitu menggugah selera, dia hanya memain-mainkan sendoknya dan dengan malas memasukkan makanan ke dalam mulut. Gema yang juga menyadari hal tersebut hanya diam, sesekali dia melirik Kinara sambil terus mengunyah makanannya.
Dikeheningan dan situasi yang canggung itu, tiba-tiba Kinara membuka suara, "Jika kau sudah selesai bermain-main denganku, kembalikan aku ke rumah sakit. Aku harus menjaga adikku."
"Apa aku pernah bilang akan mengembalikanmu?" jawab Gema santai masih dengan menikmati makanan di piringnya.
"Kau—jika kau macam-macam aku tidak akan segan lagi untuk melakukan apa yang ingin kulakukan," geram Kinara dengan menatap kesal pada Gema.
"Apa yang ingin kau lakukan. Bukan, lebih tepatnya apa yang bisa kau lakukan?" Gema kini menatap wajah Kinara yang masih terlihat sangat cantik meskipun sedang murka.
Senyum miris muncul di sudut bibir tipis Kinara. "Heh! Ya, benar aku tidak bisa melakukan apapun untuk memenjarakan pembunuh sepertimu, tapi kau tau media sosial itu memiliki pengaruh yang sangat besar juga, kan? Bagaimana jika aku mengungkapkan semuanya di sana?" Kinara memberanikan diri untuk menantang Gema meskipun sebenarnya dia sendiri juga tidak begitu yakin dengan hal itu.
Gema terlihat sedikit mengangkat kedua alisnya mendengar ancaman Nara. Hari ini dia benar-benar menyadari kebencian yang gadis itu simpan untuknya begitu besar. Manik mata mereka saling beradu pandang dengan aura yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Jika Kinara menatap dengan emosi yang menggebu, Gema justru menunjukkan tatapan lembutnya pada Kinara.
Bersambung ....
##################
Terima kasih banyak sudah mensupport Simi. Simi butuh sekali dukungan dari kalian, agar novel ini bisa terus bertahan di Noveltoon.
Yuk dukung Simi dengan cara Like, Komen, Vote, dan Rating bintang 5 yaa. Ditunggu jejak jempol seksi kalian guys.
Gema vs Nara
berani tidak author buat scen kayak gini
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.
Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.