NovelToon NovelToon
ANANDHITA

ANANDHITA

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:579.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dian Ekawati

Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.

Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.

Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.

Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.

Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.

Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.

Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.

Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.

Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.

Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perguruan Kidang Kentjana

Dimas Arya mendengar suara tapak kaki dua ekor kuda menarik sebuah kereta semakin mendekat.

“Hmmm… Siapa yang datang? Mungkinkan Romo Guru Dewandaru? Bukankah tadi romo guru terbang ketika pergi?”

Karena penasaran, Dimas Arya meninggalkan ruangannya dan melesat menuju pintu gerbang padepokan.

“Bukankah itu kereta Adipati Elang Ganendra? Kembang janur beliau berkunjung kesini setelah lebih dari tiga tahun tidak pernah datang.”

Dimas Arya mengenali kereta tersebut ketika kereta sudah melewatinya di pintu gerbang dan berhenti di pelataran.

Dewandaru turun pertama kemudian mengulurkan tangannya kepada Anandhita dan membantu Anandhita turun dari kereta.

“Sisi..si..si..”

“Dimas Arya!! Jaga sikapmu!!!”

Dewandaru memotong kalimat Dimas Arya sebelum Dimas Arya menyelesaikan kalimatnya.

Ucapan Dewandaru yang disertai tenaga dalam, ditambah dengan keterkejutan Dimas Arya melihat kehadiran Anandhita, membuat tubuh Dimas Arya lemas mendadak, kemudian jatuh terduduk di tanah.

Danastri yang mendengar suara Dewandaru segera bergegas menuju pelataran.

“Anandhita…?!!” Nyai Danastri seolah tidak percaya dengan kehadiran Anandhita di kediamannya.

“Neneeeeek…” Anandhita berlari menghambur ke pelukan Nyai Danastri.

Hampir saja tubuh mereka berdua terpental karena Danastri tidak akan kuat menahan dorongan tubuh Anandhita bila Dewandaru tidak segera melesat menahan tubuh Danastri dari belakang.

“Pelan-pelahan Anandhita…” Ucap Dewandaru mengingatkan.

“Iya Kek. Maafin Anan ya Nek. Anan rindu sama Nenek.” Kata Anandhita tanpa melepaskan pelukannya pada Nenek Danastri.

Danastri membalas pelukan Anandhita. Seulas senyum mengembang di bibirnya.

“Bangunlah Dimas Arya… Maafkan kami yang sudah membuatmu susah.” Dewi Astjarjana menghampiri Dimas Arya kemudian mengulurkan tangannya kepada Dimas Arya, berniat membantu Dimas Arya berdiri.

“Ti ti tidak apa-apa.. Kanjeng Nyai…” Ucap Dimas Arya tergagap serentak berdiri sendiri, tidak berani menyambut uluran tangan Dewi Astjarjana, kemudian membungkukkan badan memberi hormat.

Anandhita yang menyadari bahwa Ibundanya sedang berbincang-bincang dengan seorang pria remaja, segera menghampiri mereka,

“Haaai.. namaku Anandhita. Maukah kamu berteman denganku?” Anandhita mengulurkan tangannya kepada Dimas Arya.

“Jangan memanggilku Kanjeng Nyai. Dimas Arya boleh memanggilku Ibu karena mulai hari ini Dimas Arya akan menemani Anandhita bermain.”

Dewi Astjarjana memberi kode dengan lirikan mata kepada Dimas Arya agar menyambut uluran tangan Anandhita yang mengajak Dimas Arya bersalaman.

Dimas Arya mengelap kedua telapak tangannya memakai baju yang menempel di tubuhnya, kemudian membalas jabat tangan Anandhita.

Anandhita pun membalas jabat tangan Dimas Arya dengan erat.

“Aaauh.. Ampun Ndoro, ampun Ndoro” Teriak Dimas Arya seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Anandhita.

“Anandhita, jangan terlalu erat genggamannya...”

Dewi Astjarjana menyadarkan Anandhita yang masih terpaku melihat Dimas Arya berteriak minta ampun tanpa sebab, dan baru melepaskan tangan Dimas Arya setelah Dewi Astjarjana mengingatkannya.

“Ah, maafkan aku… aku lupa. Kamu adalah teman pertamaku. Aku sangat bahagia sampai lupa aku harus selalu pelan-pelan, tidak boleh terlalu kuat kepada siapa pun. Maaf…”

Anandhita menundukkan kepala kepada Dimas Arya yang meringis kesakitan. Sepertinya tulang telapak tangan kanan beserta jari-jarinya ada yang retak.

“Ti ti tdak apa-apa. Ndoro…”

“Namaku Anandhita, bukan Ndoro. Aku bukan merpati!” Sela Anandhita

“Itu Doro, Sayang… Bukan Ndoro.” Dewi Astjarjana membenarkan.

“Dimas Arya..., panggil Anandhita saja ya. Dan panggil aku Ibu. Tidak ada embel-embel.” Lanjut Dewi Astjarjana.

“Ba ba ba…”

“Duar!!!” Berkata Anandhita sambil menepuk dada Dimas Arya. Dimas Arya pun terpental sampai ke tembok pagar depan.

“Anandhita, apa yang kamu lakukan??!!” Dewi Astjarjana bergegas menghampiri Dimas Arya.

Dewandaru pun sudah berada disana. Sebenarnya Dewandaru berniat menangkap Dimas Arya saat melihat Anandhita menghentakkan tangannya ke dada Dimas Arya, tapi tidak keburu.

Tahu-tahu Dimas Arya sudah tersangkut di tembok.

“Habisnya… Dimas Arya ngomongnya lama banget. Ba ba… ti ti… a a.. i.. i… Authornya kesal Ibunda…” Bela Anandhita kepada Author yang sedikit melenceng.

(Harusnya plot nya tadi mereka masuk ke dalam rumah, tapi Author bingung gimana menghilangkan gagap Dimas Arya, karena sebenarnya Dimas Arya bukan pemuda gagap. Hanya karena terkejut saja tiba-tiba Dimas Arya jadi gagap.)

Dewandaru dan Dewi Astjarjana mengela nafas dalam-dalam, sedangkan Dimas Arya terbatuk-batuk tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.

Dewandaru dan Dewi Astjarjana lantas membantu Dimas Arya untuk turun dari tempatnya tersangkut.

“Kamu tidak apa-apa Dimas Arya?” Tanya Dewandaru.

“Tidak apa-apa Guru.” Jawab Dimas Arya, tidak berani gagap lagi atau Author akan mencari cara lain untuk menghentikan gagapnya.

Nyai Danastri meminta Mbok Ratmi dan Pak Nyoto, suami Mbok Ratmi, membantunya menyediakan makan malam.

Tadinya mereka hanya mempunyai rebusan ubi, tidak menyangka akan kedatangan tamu sehingga tidak ada persiapan untuk menyambutnya.

Dewandaru menyembelih ayam dibantu oleh Dimas Arya.

Sedangkan Kang Samid, duda yang diusir dari rumah oleh istrinya karena malas tidak mau bekerja, dan terpaksa harus tinggal di perguruan Kidang Kentjana karena tidak mempunyai apa-apa, hanya duduk di bale-bale.

Iq menatap langit dan membayangkan dirinya mengendarai kereta kadipatenan (karena Kang Samid tidak bisa menunggang kuda) disambut elu-eluan dari rakyatnya di kanan dan kiri jalan.

“Kang Samiiid…. Aku padamu…!” Salah seorang gadis cantik memanyunkan bibirnya ke arah Kang Samid sebagai tanda ciuman.

“Kang Samiiid…. Menikahlah denganku…!” Gadis yang lain menimpalinya.

“Aku mau di madu Kang… asalkan Kang Samid bahagia…” Teriak Gadis yang lainnya lagi.

“Ha… ha.. ha… Kalian bersabarlah… Akan kunikahi kalian semua…” Jawab Kang Samid dari atas kereta.

Telapak tangannya di tempelkan ke bibirnya, kemudian diarahkan kepada gerombolan para gadis di pinggir jalan.

Satu kali tangannya melempar ciuman, segerombolan gadis roboh sambil tertawa bahagia.

“Aaaaaah… hihi hihi…” seolah-olah cinta mereka tlah disambut oleh Kang Samid.

Kang Samid mengulangi lagi melempar ciuman kearah gerombolan gadis yang lain.

“Aaaaaah… Kang Samiiid…hihi hihi…” Mereka juga roboh sambil tertawa bahagia.

Kang Samid juga merasakan kebahagiaan yang sama.

Diulanginya lagi melempar ciuman kearah gerombolan yang lain.

“Pletak!”

“Ataoh!!” Kang Samid mengelus kepalanya.

Mbok Ratmi melotot di sampingnya sambil membawa entong kayu.

“Menghayal terus! Panggil Kang Cipto! Makanan sudah siap!”

Mbok Ratmi memerintah Kang Samid sambil mengangkat entong nasi yang dibawanya.

Tak mau kepalanya kena getok entong kayu untuk yang kedua kali, Kang Samid buru-buru meninggalkan Mbok Ratmi, mencari Kang Cipto, abdi dalem Dewandaru di Swargaloka yang menemani Dewandaru turun ke bumi.

Malam itu mereka menikmati santap malam sedikit terlambat.

Dua ekor ayam panggang besar dimakan dengan nasi liwet yang masih mengepul, tidak lupa sambel terasi dan lalapan kemangi yang baru di petik di samping dapur, membuat mereka lupa dengan masalah yang ada.

Dewi Astjarjana membantu Anandhita menyingkirkan tulang ayam.

Anandhita belajar makan sendiri menggunakan jari-jari tangan kanannya.

Walaupun sedikit kesulitan, rasa ketertarikan Anandhita akan sesuatu yang baru, membuat Anandhita tetap menikmatinya.

1
Putra_Andalas
dikiranya OREO kalee...😁
Putra_Andalas
knapa juga menyalahkan si Bayi...lah bapak e dwe ELANG..wajar toh punya sayap 😁
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir, semangat terus berkarya... salam dari Menikah muda 🤗😊👍💜
Intanksm98
Haha, kang udin, kang udin ≧∇≦
Intanksm98
(♡˙︶˙♡)
Intanksm98
mohon maaf baginda raja, itu seratus orang bandit lumayan banyak juga 😭 kasian Adipati Elangnya... 🙏

Haha, salam dari Clarissa ❣️
Intanksm98
Nyimak dari awal ❣️
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: Semoga terhibur, Kak
total 1 replies
.
aku gak kuat baca yg beginiaaan 😭😭😭
.: ish ish iiishhh
total 2 replies
.
nyesek....😭😭😭
🌿𝒇𝒂
kok jd syedih gini sih Anan...😭😭
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak😄
total 1 replies
.
😭😭😭
🌿𝒇𝒂
woow...😍
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. ketinggian ngayalnya ya Kak? 🤣🙈
total 1 replies
Ary
part ini bikin deg-degan sampe tahan nafas 😆
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. cuma novel Kakak 😁
total 1 replies
🌿𝒇𝒂
penasaran sama resep jamunya 😂
🌿𝒇𝒂: itu beneran resep....?🤔
total 2 replies
Ary
Anan kereen....
🌿𝒇𝒂
Anan masih bersih, rasane ko ga rela...😭
🌿𝒇𝒂
Awaang ...😭
🌿𝒇𝒂
ikut senyum2 kaya awang 🥰🥰
🌿𝒇𝒂: lanjuuut....
total 2 replies
🌿𝒇𝒂
cerdas Anan...
🌿𝒇𝒂
lg tegang2 iklan loh 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!