NovelToon NovelToon
Perjodohan Dan Pernikahan

Perjodohan Dan Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Putritritrii

Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?

Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.

Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.

Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.


"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB18

Bruggggg ...

 

 

Bingkai foto yang pecah dan beberapa album yang tebal serta majalah dengan gambar Ecca, berhamburan di atas lantai marmer kamar milik Dave. Kedua mata Davina menatap kaget pada barang-barang yang berhamburan di atas lantai.

 

Davina mematung takut. Dengan singkat dia memejamkan kedua matanya dengan kepala tertunduk. Tepat di depan kaki yang bertelanjang, bingkai foto itu terjatuh dengan kaca bening yang berserakan. Foto itu sangat romantis. Di mana, Dave memeluk Ecca dengan sangat lembut dan bibirnya yang mengecup pipi Ecca.

 

 

"Maafkan aku, Dave," ucapnya lirih.

 

 

Tidak ada jawaban dari Dave. Davina membuka kedua matanya. Perlahan Davina mengangkat dagunya untuk melihat sang suami.

 

 

"Jangan bergerak!" kata Dave dengan tegas.

 

Entah mengapa air mata Davina tiba-tiba menggenangi pipinya.

 

 

"Aku tidak sengaja." Dave menatap Davina yang menangis.

 

"Jangan bergerak! dan tetap di situ," kata Dave. Sekilas Dave melihat cairan merah mengalir di atas lantai. Dengan gerakan cepat, Dave berlari ke arah nakas yang ada di dekat TV. Mengambil kota p3k dan berjalan mengambil sandal kamar miliknya. Lalu buru-buru, dia kembali mendekati Davina.

 

 

Terlihat sekali wajah Dave panik. Sedangkan Davina, dia gagal mengartikan tatapan wajah Dave. Tanpa Davina sadari, Dave mendekat dan menggendong tubuhnya ke dalam gendongannya. Kedua mata mereka saling bertemu.

 

 

"Maafkan aku, Dave," katanya lagi, sesaat setelah Dave mendudukkan tubuh Davina di atas ranjang.

 

 

"Apakah sakit?" Dave yang sedang mengoleskan cairan obat untuk goresan luka kaca dari kulit kaki Davina terlihat sanga tulus. Tapi, Davina tidak mampu mengartikannya. Ini hanya bentuk kepedulian Dave yang melihat kakinya terluka. Tidak ada orang yang tega melihat orang di sekitarnya terluka.

 

 

Davina menggeleng.

 

 

"Tidak Dave," katanya masih terus terisak.

 

 

Dave sedikit menekan bagian luka.

 

 

"Awwwwww. Sakit Dave," kata Davina mengadu sakit.

 

 

"Tadi kau bilang tidak sakit. Mana yang benar?" Dave melototkan matanya. Davina masih sibuk menangis.

 

 

"Jangan menangis. Kenapa kau terus menangis." Dave beranjak berdiri dan duduk di samping Davina. Ibu jarinya menyapu buliran cairan bening yang mengalir sedari tadi.

 

 

"Maafkan aku, Dave," katanya lagi.

 

"Maaf untuk apa?" Dave menarik tubuh Davina ke dalam pelukannya dengan dada yang masih beretelanjang.

 

 

 

"Jangan meminta maaf dan jangan menangis. Itu sudah tidak ada artinya lagi bagiku, Vin. Itu semua sudah jadi kenangan. Setelah aku menerima perjodohan kita." Dave menepuk lembut tubuh Davina.

 

 

"Maafkan aku. Semuanya juga karena aku, kau putus dengan kekasihmu," kata Davina. Tangannya membalas pelukan Dave. Dengan sangat erat keduanya saling berbagi sakit.

 

 

"Kau dan aku, sepertinya memang berjodoh. Hari ini kau merasa sakit hati karena orang yang kau cintai ternyata memilih sahabatmu sendiri. Sedangkan aku, aku memilih merelakan kekasih yang aku cintai, Vin. Sungguh aneh sekali jalan hidup ini." Davina menolak pelan tubuh Dave. Mengusap air matanya dan menatap ke Dave.

 

 

"Kenapa kau tidak berjuang Dave?"

 

Plaaaaakkkk ...

 

Dave menoyor kepala Davina. Davina menyentuh kepalanya dan meringis.

 

"Bagaimana aku mau berjuang? kau adalah istri sah-ku! Akan sia-sia, bila melawan kehendak oma. Kau tau? aku dan Ecca sudah hampir dua tahun menjalin kasih. Pendekatan kami saja hampir setahun lamanya, hingga aku memutuskan untuk memacarinya. Tapi oma gak izinkan, begitu pula dengan papa. Semuanya tidak setuju dengan pilihanku. Sedangkan mama, aku tau dia akan mengikuti jalan dari suaminya. Jadi untuk apa aku memaksanya lagi Vin." Dave tersenyum paksa ke arah Davina.

 

Davina malahan asik memperhatikan barang-barang yang masih berserakan di atas lantai. Dengan lembut, Dave menarik dagu Davina dan memberikan kecupan di bibirnya. Kedua matanya terpejam. Sedangkan Davina terperanjak, kedua bola mata yang sempat membola, sekejap menutup.

 

Tidak ada penolakan dari Davina. Dengan leluasa Dave bereksplor ria di dalam setiap pagutannya. Hingga Davina tidak bisa bernapas dengan baik. Dave tersenyum seraya perlahan menarik bibirnya. Bersamaan dengan itu, kedua mata Davina perlahan membuka.

 

 

"Dave!"

 

"Kau boleh marah tapi di mulai dari besok. Malam ini sudah aku putuskan, aku akan mencoba memulai menerima kenyataan hidupku. Dan malam ini, aku tegaskan, aku akan mulai mencoba mencintai dirimu, Vin. Aku mohon, kau juga sama. Bekerja samalah denganku. Mari kita mencoba saling mencintai. Dan ciuman tadi, sebagai bukti bentuk keseriusan, ku," kata Dave seraya menatap Davina yang kembali menangis.

 

 

"Vin. Kenapa kau malahan menangis?"

Plaaaaakkk ...

 

Davina menampar pipi Dave.

 

 

"Kau merampas bibir ku yang masih perawan, Dave!" katanya seraya berlari ke kamar mandi.

"Awas kakimu!" teriak Dave. Davina tidak perduli dengan terikan Dave.

 

Davina merasa hatinya terluka. Di balik pintu kamar mandi, tubuhnya bersandar dengan perasaan yang tidak nyaman.

 

 

"Bagaimana pun, aku dan dia kan belum memiliki perasaan apapun. Kenapa main nyosor cium-cium segala. Aku benar-benar di buat bingung oleh sifatnya." Davina menyentuh bibirnya yang sudah tidak perawan lagi. Bagaimana dia tidak sedih. Sebelum dia menikah dengan Dave, dirinya tidak pernah di jamah pria mana pun. Hingga dia menobatkan bibirnya, ciuman pertamanya hanya untuk pria yang di cintainya dan juga mencintainya.

 

 

"Tapi kenyataannya salah. Dasarrr Daveeee!!!" teriak Davina kesal.

 

 

Di sana, Dave terlonjak kaget. Saat namanya di teriakin bahkan di maki oleh Davina. Itu pikiran Dave.

 

 

Hampir 30 menit lamanya, akhirnya Davina keluar dari pintu kamar mandi. Kakinya melangkah pelan, meskipun masih terasa perih di bagian luka kecil tadi, Davina masih bisa menahannya. Ekor matanya menyapu ke sekeliling kamar yang tadinya berantakan, kini sudah terlihat bersih. Kedua ekor matanya berhenti, tepat di atas ranjang. Tubuh tegap pria yang menjadi suaminya, terbaring dengan memunggungi posisi di mana dia berdiri.

 

 

Davina menarik napasnya. Pikirnya aman, karena Dave sudah tertidur. Perlahan, kakinya berjalan menuju ranjang. Sesampainya di depan ranjang, Davina menarik selimut berbahan sintetis dan merangkak naik dengan pelan, agar tidak terjadi getaran yang menimbulkan gelombang di atas tempat tidur itu.

 

 

Davina sama seperti Dave. Dia memilih posisi miring dan memunggungi tubuh Dave. Dengan perlahan dia menutup kedua matanya. Tiba-tiba, di rasakannya pergerakan dari arah belakang tubuhnya. Tangan Dave dengan perlahan, melingkar di pinggang Davina, sehingga membuat kedua mata Davina kembali mengerjap. Kepala Dave berada di atas pundak Davina.

 

 

"Vin ... maafkan aku. Jika aku tadi terlalu lancang. Tapi ketahuilah, ucapan ku tadi serius. Jadi, aku mohon untuk kau pertimbangkan. Mari kita mencoba saling mencintai dan menerima perjodohan kita. Selamat malam Istriku," kata Dave seraya mengecup puncak kepala Davina.

 

 

Tidak ada jawaban dari Davina, Dave kembali tidur dengan posisinya semula. Hati Davina seperti ada yang menggelitik. Dadanya terasa penuh. Air matanya kembali menetes. Merasa sangat haru, mendengar ucapan Dave. Tapi ... Davina tidak ingin buru-buru menerima keinginan Dave. Setidaknya, Dave harus berusaha memperlihatkan keseriusan dirinya, bukan hanya dari perkataanya saja.

 

 

 

Bersambung.

1
Margareta Djawan
Lumayan
Margareta Djawan
Biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
ecca pelakor
Micke Rouli Tua Sitompul
tinggalkan aja si dave
muhammad anshari
Kecewa
muhammad anshari
Buruk
srimusvita
seru
Vera Wilda
terima kasih Thor...
Vera Wilda
Alurnya agak bolak balik, 🤔🤔🤔
Vera Wilda
selalu aja ada yg mengganggu jd gak selesai2 🤭😄😄😄
Vera Wilda
kelamaan banget Thor dg situasi SPT ini, belum ada perkembangan mereka berdua, jd bosan dikit 🤭😊
Vera Wilda
kok Dave ngomong nya jd begitu ? ngomong SM Davina nya mau sama2 belajar mencintai sekarang ngomong k William lain lagi...
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔
Vera Wilda
masak iya Davina cuma gara2 d cium aja marah, dia kan suami mu, agak lebay sich sikap Davina ... 😊
Vera Wilda
hadir nich Thor ....
Rari
Cerita menarik tidak bertele2
Melani Mardiansyah
rekomemded banget cerita ny
Siti Aminah
😊
Ayu Prasetyowati
❤️❤️
Risti Sari
👍❤
sari emilia
kl gtu hrs nya byk berdoa ucp syukur krn selamat bukan mlh minun2an....dasar manusia tdk berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!