Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07: Anak Mamy
Jalanan malam masih terang oleh lampu kota. Gedung-gedung tinggi berdiri rapi dengan cahaya putih dan kuning yang memantul di kaca-kaca bangunan.
Udara malam Singapura terasa lembab tipis setelah hujan sore. Aspal jalan masih sedikit basah, memantulkan lampu kendaraan yang bergerak satu per satu.
Tidak terlalu ramai dan berisik. Bahkan suara klakson pun hampir tidak terdengar.
Mobil SUV hitam melaju membelah jalan kota dengan lampu-lampu yang terus bergerak di balik jendela mobil.
"Tuan Muda, apa mau langsung pulang?" Tanya Theo. Sopir pribadi keluarga Raymond.
Dari kursi belakang, Regan langsung menegakkan duduknya. "Jangan Uncle, aku mau keliling dulu sebentar."
Di kejauhan, Marina Bay Sands terlihat menyala megah di tengah gelap malam. Sementara di trotoar, beberapa orang masih berjalan santai dengan cup kopi di tangannya. Kota itu tetap hidup, tapi dengan cara yang tenang.
Setelah beberapa waktu, mobil itu masuk ke kediaman utama keluarga Regan. Suasana tenang langsung terasa, lampu taman menyala redup di sepanjang jalan masuk yang diapit pohon rapi. Rumah besar bernuansa putih gading berdiri megah di tengah dinginnya malam Singapura.
Mobil berhenti tepat di halaman.
"Makasih, uncle. Udah jemput aku ke bandara." Ucap Regan sebelum turun.
"Sama-sama, Tuan Muda."
Begitu masuk ke rumah, aroma white tea menyambutnya. Dari arah ruang makan, suasana hangat dari lampu dan aroma rempah-rempah khas menyeruak.
"Mamy," teriaknya sambil berjalan ke ruang makan.
Sofia yang sedang duduk langsung menoleh. "Akhirnya pulang juga.".
Regan berlari memeluknya. "My, di Jakarta aku tersiksa sama meeting yang membosankan itu."
Sofia ngelus rambutnya lembut. "Itu demi kemampuan kamu juga."
Regan melepaskan pelukannya, lalu menarik kursi di seberang Sofia dengan malas-malasan. Ia menghela napas panjang, membuka jasnya, lalu di lempar begitu saja ke sandaran kursi.
"Dady belum pulang?"
"Masih di kantor," jawab Sofia. Matanya tak lepas menatap Regan sejak tadi.
Dari dapur, Amei datang membawa beberapa menu makan malam. "Tuan muda apa kabar?".
"Auntie Mei," Regan tersenyum lebar, menatap wanita paruh baya yang masih setia bekerja di rumahnya. "Kabar aku baik. Auntie sendiri gimana kabarnya?"
"Baik juga," jawab Amei sambil ngelus lengan Regan. "Tuan muda, Auntie ambilkan dulu makanan yang lain."
Regan bersandar santai ke kursi. "Nasi ayam Hainan, ada?"
Sofia langsung terkekeh kecil. "Baru pulang, yang dicari tetap makanan itu."
"Karena my favorite. Apalagi Auntie Mei yang masak."
Beberapa makanan kini terasji di meja makan panjang. Nasi Ayam Hainan, kepiting cabai, dan lainnya.
"Auntie ayok makan bareng. Ajak Auntie yang lain juga." Ajak Regan sambil nyendok nasi.
"Iya, Mei. Belum pada makan, kan?" Sahut Sofia.
"Silahkan Nona, kita baru selesai makan." Amei segera pergi dari ruang makan.
Sekarang di sana hanya menyisakan Regan dan Sofia. Sofia memperhatikan anaknya yang makan Nasi Ayam Hainan dengan lahap.
"Makan yang banyak, kamu kurusan sekarang."
Regan mengangguk. "Di Jakarta aku apa-apa sendiri, My. Gimana gak setres anak Mamy ini," jawabnya dengan mulut penuh makanan.
Sofia hanya tersenyum. Membiarkan Regan ke Jakarta emang penuh pertimbangan untuknya. Tapi kalau terus dimanja, Raymond khawatir Regan justru malah gak mau sama sekali untuk turun membantu handle perusahaan keluarganya.
Makan malam telah selesai, Sofia pergi lebih dulu dari ruang makan. Sementara Regan masih menikmati kepiting cabai.
"Auntie Mei," panggil Regan.
"Hm?"
"Dady bakal marah gak kalau tahu aku pulang cuma buat nonton F One?"
Amei tersenyum kecil sambil merapikan meja. "Tuan besar selalu senang kalau Tuan muda pulang."
"Tapi Dady lebih senang kalau aku kerja." Jawab Regan.
Tangan Amei berhenti ngelap meja. Ia tak langsung menjawab, tapi menatap Regan sedikit lebih lama.
"Kalau begitu, besok kerja dulu. Baru bikin pusing Tuan besar lagi."
Regan terkekeh. "Oke, aku bakal bikin Dady lebih pusing lagi. Dan itu... saran dari Auntie Mei." Regan langsung bangun dari sana.
Amei mendecak, lalu menggeleng. Seharusnya ia tidak menjawab seperti itu. Sekarang, Regan malah menganggapnya sebagai saran darinya.
Waktu sudah hampir larut malam. Di ruang keluarga, aroma teh melati dan kopi hitam masih samar tercium.
Regan baru keluar dari kamarnya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang, kakinya selonjoran santai.
"Dady tahu? Aku berhasil dapat investor." Katanya, membuat Raymond menurunkan tablet di tangannya.
"Apa kamu banyak belajar dari Alvero?" Tanya Raymond.
Regan menggeleng cepat. "Bukan, Dad. Ini murni pakai cara aku sendiri."
Raymond memiringkan kepalanya. Masih mencerna ucapan anaknya itu. "Dengan cara apa?"
Regan langsung menyeringai lebar. "Bernegosiasi."
Sofia terkekeh kecil. "Mamy rasa itu bukan jawaban jujur kamu!"
"Aku serius, My!" Regan menunjuk dadanya sendiri. "Aku ngobrol hampir tiga jam penuh."
"Lalu?" Tanya Raymond dengan harapan Regan benar-benar berhasil menarik investor.
"Aku cuma kasih dia tiket Singapore Grand Prix Paddock Club VIP." Jawabnya dengan sangat santai.
Sofia langsung menoleh cepat. "Regan!"
Regan malah tertawa puas. "Tapi Aku berhasil, My."
Raymond menghela napas sambil memijat pelipisnya. "Kamu menyogok investor memakai harga satu mobil."
"Dady jangan lihat nominalnya," kata Regan lagi, dengan nada yang masih santai. "Tapi lihat hasilnya."
Raymond beberapa detik sebelum ia terkekeh kecil, geleng-geleng kepala. Tidak menyangka dengan cara anaknya menarik investor itu.
Sementara di sisi lain... langit kota Jakarta malam itu terang. Bulan purnama menggantung tenang dengan beberapa bintang yang bertebaran, namun berjauhan.
Di satu Villa, Veyra dan Alvaro tengah liburan santai. Veyra duduk di tepi kolam renang, sementara Alvero tiduran, paha Veyra dijadikan bantal.
"Mas, kamu capek?"
Alvero tersenyum kecil sambil menatap istrinya. "Capek," jawabnya.
"Terus kenapa ajak aku ke sini?" Veyra mengelus lembut kepala Alvero.
"Karena aku kangen kayak gini bareng kamu."
Tak lama Alvero meraih ponselnya, membalas beberapa email masuk.
"Sayang, sekarang masih mual?" Alvero memeluk tangan Veyra.
"Udah nggak, Mas. Gak terlalu parah kayak waktu hamil, Zio."
Alvero kini menatap perut Veyra, mengelusnya lembut.
"Sayang, kamu jangan capek-capek ya. Kalau ada apa-apa bilang sama aku."
"Iya, Mas. Lagian aku capek ngapain, masak ada Bi Alin, urus Zio ada Mbak Rini." Veyra menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air.
"Yaa... capek banyak pikiran gitu. Takut kamu stres. Orang hamil kan mudah overthinking."
Veyra hanya tersenyum, tangannya membetulkan cardigan yang hampir melorot. Angin malam menyapa tubuhnya, membawa hawa dingin yang cukup menusuk kulit. Tapi entah kenapa, justru membawa rasa tenang.
Alvero kini duduk, menghadap ke Veyra. Ia memainkan air dengan tangannya. Tatapannya jatuh lama ke wajah Veyra.
"Sayang kenapa kamu selalu secantik ini? Aku selalu merasa beruntung."
Pipi Veyra sedikit memerah, Alvero sering memujinya, tapi Veyra masih saja selalu merasa salah tingkah.
"Gak usah gombal ya, Mas. Aku bosen dengernya."
"Gak usah denial," jawab Alvero cepat.
"Mas Al," rengek Veyra. Ia menciptakan air ke wajah suaminya.
Alvero membalasnya. Sampai akhirnya suasana mulai chaos. Veyra bangun dari duduknya, lalu berlari kecil di sisi kolam renang, menghindari serangan cipratan air dari suaminya.
Veyra tertawa lepas, sesekali ia berjongkok hanya untuk melakukan serangan balik. Lalu berlari lagi.
"Sayang hati-hati. Aku takut kamu terpeleset."
Sampai akhirnya, Veyra memilih untuk masuk ke dalam Villa. Karena rambut dan bajunya sedikit basah.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan