mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: benturan tombak dan naga
Langit Lembah Tianmu mendung, seolah menyadari bahwa hari ini bukan sekadar final sebuah turnamen, melainkan benturan dua takdir. Ketika matahari tepat di puncak, gong suci dibunyikan tiga kali—tanda bahwa pertarungan terakhir telah dimulai.
Arena kini berbentuk lingkaran batu hitam yang keras dan berkilau, sisa dari letusan kuno yang hanya digunakan untuk pertarungan paling berbahaya. Para penonton telah berkumpul, dari tetua hingga murid rendahan, dari pedagang keliling hingga mata-mata tersembunyi. Semua menahan napas.
Han Mo berdiri di ujung arena. Tingginya hampir sama dengan Lin Xieng, tubuhnya kekar namun tak kehilangan keluwesan. Di punggungnya, tombak perak sepanjang tubuh manusia terikat dengan sabuk kulit binatang suci. Matanya merah tembaga—tanda bahwa Darah Tombak Hitam telah bangkit.
“Lin Xieng,” ucap Han Mo, suaranya berat. “Aku bukan musuhmu. Tapi demi nama sekteku, aku tak bisa menahan kekuatan.”
Lin Xieng hanya mengangguk. “Maka jangan tahan. Karena aku pun takkan menahan apapun hari ini.”
Gong dibunyikan.
Han Mo bergerak lebih cepat dari yang bisa diikuti mata biasa. Sebuah tombak menari di udara, tidak hanya mengincar tubuh Lin Xieng, tetapi juga jiwanya. Teknik Tombak Membelah Roh, yang hanya diajarkan pada pewaris sejati Sekte Tombak Hitam.
Lin Xieng bertahan dengan aura naga yang membentuk sisik emas di kedua lengannya. Tombak menghantam lengan kirinya—terhenti. Tapi tekanan dari hantaman itu membuat kakinya terseret beberapa langkah ke belakang.
Han Mo tidak memberi jeda. Tiga hantaman bertubi-tubi, satu menusuk langit, satu menghantam tanah, dan satu terakhir berputar seperti badai. Formasi tombaknya menciptakan pusaran energi yang meretakkan arena.
“Dia… membentuk Formasi Tombak Langit!” seru salah satu tetua dari tribun. “Tak mungkin bisa dilawan secara langsung!”
Tapi Lin Xieng tidak mundur. Dalam dadanya, altar naga memancarkan cahaya merah dan keemasan. Dunia spiritualnya terbuka. Ia melihat tombak bukan sebagai senjata, tapi sebagai gelombang, dan di tengah pusaran itu—ada satu titik hening.
“Di sanalah jantung tekniknya…”
Dengan teriakan pendek, Lin Xieng menginjak tanah dengan kekuatan penuh. Aura naga mengalir ke bawah, membentuk pilar energi yang menahan badai tombak. Di saat yang sama, ia melesat ke titik hening itu.
Han Mo menyadari niatnya. “Terobosanku bukan untuk ditantang, Lin Xieng!”
Tombaknya menyala, tapi Lin Xieng telah tiba. Dengan satu gerakan, ia mengepalkan tangan, dan menghantam tombak itu dari samping—bukan untuk mematahkan, tetapi untuk mengalihkan arah.
Tombak itu terpental, Han Mo kehilangan pijakan. Dalam sekejap, Lin Xieng mengirimkan telapak berselimut aura naga ke dada Han Mo.
Ledakan cahaya terjadi. Angin menyebar ke segala penjuru.
Saat debu menghilang, Han Mo terduduk di tanah, tombaknya tertancap jauh di luar arena.
“Pemenang: Lin Xieng!”
---
Sorak-sorai membahana, tapi wajah para tetua tidak tersenyum. Mereka tahu: ini lebih dari sekadar kemenangan.
Di tempat tersembunyi, dua orang berjubah hitam berbicara pelan.
“Segel darahnya mulai terbuka. Jika dia mencapai Gunung Tanpa Bayangan... identitasnya tak bisa ditutup lagi.”
“Kirimi para Penjaga Senyap. Bunuh sebelum malam bulan gelap.”
---
Di ruang penyembuhan, Han Mo duduk bersila, tersenyum kecil saat Lin Xieng masuk.
“Aku kalah, dan aku lega.”
Lin Xieng mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena kalau kau kalah, maka kita semua kalah. Kau membawa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, Lin Xieng. Dan aku rasa… bukan hanya kita yang mencarimu.”
Lin Xieng menatap ke luar jendela. Langit mulai gelap, dan di kejauhan, siluet Gunung Tanpa Bayangan tampak samar.
“Perjalanan dimulai malam ini,” gumamnya. “Sebelum segalanya berubah menjadi darah.”
🤣🤣🤣🤣🤣🤣