NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017

Kopi

Darah.

Kiara bahkan tidak sadar ia sudah bergerak sampai tangannya menyentuh manset kemeja Rayhan.

"Kak Rayhan terluka?"

Rayhan melihat ke arah yang ditunjuk Kiara. "Bukan darahku."

"Bukan berarti aku lega."

Kalimat itu keluar begitu cepat sampai mereka berdua sama-sama diam.

Rayhan menatapnya. Kelelahan di wajahnya belum hilang, tetapi sesuatu di matanya melembut. "Aku tidak terluka."

"Sumpah?"

"Sumpah."

Kiara baru bisa bernapas. Ia menarik tangannya, baru sadar jari-jarinya gemetar. "Darah siapa?"

Rayhan melepas kemeja luar dan menggulungnya hati-hati agar noda tidak menyentuh kursi. "Kopi."

Kiara berkedip. "Kopi?"

"Anjing K9."

"Oh."

Nama itu terlalu lucu untuk muncul bersama kata darah. Kiara menatap manset merah itu lagi dan rasa khawatirnya tidak berkurang.

Rayhan duduk di kursi makan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat seperti seseorang yang benar-benar kehabisan tenaga. Kiara memanaskan mi dengan cepat. Kali ini ia tidak bertanya apakah Rayhan mau. Ia meletakkan mangkuk di depannya, bersama air putih.

"Makan dulu," katanya.

Rayhan menatap mi itu.

"Kalau bilang nanti, aku buang."

Alis Rayhan naik sedikit. "Kamu mengancam polisi?"

"Aku mengancam orang yang belum makan sejak sore."

Rayhan akhirnya mengambil sumpit. Suapan pertama masuk ke mulutnya. Kiara duduk di seberang, mencoba tidak terlihat terlalu lega.

"Kopi kenapa?" tanyanya setelah Rayhan makan beberapa suap.

"Operasi kecil untuk mencari saksi Brandon. Informasinya benar, tapi lokasi sudah diawasi orang lain. Saat kami masuk, salah satu pelaku lari lewat belakang. Kopi mengejar."

"Lalu?"

"Ada pecahan kaca di dekat pagar. Dia tetap menerjang." Rahang Rayhan mengeras. "Kakinya robek cukup dalam. Bukan luka fatal, tapi dia sudah tua untuk standar K9."

Kiara menatap mangkuk mi yang mulai kosong. "Dia melindungi tim?"

"Dia menemukan pelaku sebelum kami melihatnya."

Ada kebanggaan dalam suara Rayhan. Juga rasa bersalah yang tidak ia ucapkan.

Kiara teringat Kevin lagi. Orang-orang berseragam selalu berbicara tentang luka seperti membicarakan cuaca. Robek cukup dalam. Tidak fatal. Stabil. Seolah kata-kata yang rapi bisa membuat darah tidak terlihat merah.

"Dia sekarang di mana?"

"Klinik Unit K9. Dokter Yoga sudah tangani."

"Boleh aku lihat?"

Rayhan berhenti makan.

"Sekarang?"

"Besok. Atau kapan pun boleh."

"Kamu takut anjing?"

"Aku takut kalau dia terluka sendirian."

Rayhan menatapnya lama. Lalu ia menunduk dan melanjutkan makan. "Besok pagi kalau kamu tidak ada deadline."

"Kalau aku datang, dia akan terganggu?"

"Tergantung caramu mendekat. K9 bukan anjing rumahan biasa. Mereka terlatih, peka pada perintah, dan tidak selalu nyaman disentuh orang asing."

Kiara mengangguk serius. "Aku akan diam."

"Kamu?" Rayhan menatapnya, kali ini hampir terlihat geli. "Diam?"

"Aku bisa diam kalau penting."

"Besok buktikan."

Kiara mengambil ponsel dan mulai mencari informasi tentang anjing K9 pensiun. Rayhan selesai makan sambil memperhatikannya dari balik mangkuk mi. Di layar, Kiara membaca tentang rutinitas, luka sendi, kebutuhan ruang, dan adaptasi dari anjing kerja menjadi anjing keluarga.

"Kak Rayhan," katanya setelah beberapa menit, "kalau anjing K9 pensiun, dia tetap butuh komando yang konsisten, kan?"

"Iya."

"Berarti kalau orang rumahnya manja, dia bingung?"

"Sangat."

Kiara mencatat di notes. "Oke. Jangan manja."

Rayhan menatap catatan itu lebih lama dari yang perlu. "Kamu serius."

"Dia berdarah semalam karena bekerja. Setidaknya kalau aku datang, aku harus sopan."

Kiara mengangguk cepat.

Pagi berikutnya, Kiara datang ke Polda dengan membawa dua kotak bubur ayam. Satu untuk Rayhan, satu untuk Aldi yang katanya juga belum sempat sarapan setelah operasi malam. Aldi menerima kotak itu seperti menerima penghargaan negara.

"Mbak Kiara, kalau semua saksi korban bawa bubur, hidup saya membaik."

Rayhan menatapnya.

Aldi langsung duduk tegak. "Maksud saya, terima kasih."

Kiara menahan tawa.

Unit K9 berada di sisi belakang kompleks Polda, lebih tenang daripada ruang reskrim. Ada kandang bersih, area latihan kecil, dan bau campuran rumput basah, antiseptik, serta makanan anjing. Beberapa anggota menyapa Rayhan. Di sana, wajahnya sedikit berbeda. Tetap tegas, tetapi tidak sekeras di ruang pemeriksaan.

Dokter Yoga, pria berkacamata dengan masker tergantung di leher, keluar dari ruang perawatan.

"Pak Rayhan."

"Bagaimana Kopi?"

"Stabil. Luka di kaki depan kanan sudah dijahit. Tidak ada kerusakan tulang, tapi dia perlu istirahat total." Dokter Yoga melirik Kiara. "Ini?"

"Kiara," jawab Rayhan. "Dia ingin melihat Kopi."

Dokter Yoga tersenyum ramah. "Boleh. Tapi pelan-pelan. Dia masih sensitif."

"Pantangannya apa saja, Dok?" tanya Kiara sebelum masuk.

Dokter Yoga tampak sedikit terkejut, lalu menjawab dengan lebih serius. "Dua minggu pertama tidak boleh lari, tidak boleh naik turun tangga terlalu sering, perban harus kering, dan makanannya dijaga. K9 pensiun biasanya juga butuh adaptasi mental. Mereka terbiasa bekerja, jadi kalau tiba-tiba tidak punya tugas, bisa gelisah."

Kiara mengangguk, menyimpan semuanya di kepala.

Ia bahkan membuka notes kecil, siap mencatat kalau perlu nanti.

Kopi berbaring di atas alas tebal. Herder Jerman itu besar, bulunya cokelat kehitaman, moncongnya mulai memutih di beberapa bagian. Kaki depannya dibalut perban putih. Saat Rayhan masuk, telinganya bergerak dan ekornya mengetuk alas pelan.

"Hei, Kopi," suara Rayhan turun dengan cara yang belum pernah Kiara dengar.

Anjing itu mengangkat kepala sedikit.

Kiara berhenti di pintu.

Ia tidak takut. Hanya tiba-tiba merasa tidak pantas mendekat pada makhluk yang semalam berdarah demi menangkap orang jahat.

"Boleh?" tanyanya pelan.

Rayhan menoleh. "Ulurkan punggung tangan. Jangan dari atas kepala."

Kiara berjongkok perlahan dan mengulurkan punggung tangannya. Kopi mengendus. Hidungnya basah menyentuh kulit Kiara. Lalu, sangat pelan, ia menjilat ujung jarinya.

Sesuatu di dada Kiara langsung lunak.

"Hai, Kopi," bisiknya. "Kamu hebat sekali."

Ekor Kopi bergerak lagi.

Aldi yang berdiri di belakang mereka menghela napas. "Dia jarang begitu sama orang baru."

Rayhan tidak berkata apa-apa, tetapi Kiara bisa merasakan tatapannya di sisi wajahnya.

Dokter Yoga membuka map kecil. "Pak, saya harus bicara soal masa depannya. Secara usia dan kondisi kaki, Kopi sebaiknya pensiun lebih cepat. Dia masih bisa hidup nyaman, tapi bukan untuk operasi lapangan lagi."

Ruangan mendadak sunyi.

Aldi menunduk. Rayhan mengusap kepala Kopi sekali, pelan.

"Kalau pensiun, dia ke mana?" tanya Kiara.

Dokter Yoga menarik napas. "Idealnya diadopsi keluarga yang paham anjing K9. Kalau tidak ada, dia tetap di kennel unit. Dirawat, tentu saja. Tapi..."

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Kiara melihat Kopi yang masih menatap Rayhan, seolah menunggu perintah berikutnya meski tubuhnya sedang sakit.

Tanpa sadar, Kiara berkata, "Kalau dia butuh keluarga..."

Rayhan menoleh padanya.

Jantung Kiara berdetak pelan, tapi mantap.

"Boleh kita bawa dia pulang?"

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!