NovelToon NovelToon
Ajari Aku Apa Itu Cinta

Ajari Aku Apa Itu Cinta

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jindael

Cerita bermula dari seorang gadis penulis yang mendapatkan permintaan dari pembaca untuk membuat cerita tentang percintaan. Gadis itu bernama Larasati seorang penulis amatir yang tak mendapatkan banyak pembaca. Tiba-tiba di beri permintaan untuk membuat kisah percintaan. Apa yang akan ia lakukan? Terlebih lagi ia tak pernah mempunyai kisah percintaan di masa hidupnya. Suatu ide gila muncul dari pikirannya untuk menghubungi teman laki-laki yang bisa dianggap dulu pernah ditaksirnya sewaktu di bangku SMK ia adalah Dika. Larasati sudah mengikuti akun instagramnya dari dulu dan ia pun berniat mengirim pesan bantuan lewat media tersebut. Butuh banyak keberanian untuk mengirim pesan yang terbilang baru pertama kali itu. Jawaban apa yang akan diterimanya? Akankah lelaki tersebut akan membantunya hingga sebuah cinta hadir diantara keduanya. Semua akan terjawab di dalam kisah yang ku tulis ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditinggal

Semakin seiring berjalannya waktu, Star Cafe milik Bagas semakin rame. Pegawai pun kini tak hanya Larasati dan Dika saja sudah ada beberapa pegawai lain untuk bergantian kerja dengannya. Sore ini kebetulan Larasati dan Dika selesai bekerja bersama. Dika mengajak Larasati untuk pulang bersamanya. Ia ingin berjalan kaki bersamanya. Larasati menyetujui dan kini mereka tengah berjalan melewati hamparan sawah yang luas.

"Laras." Dika memulai percakapannya

"Hem ada apa?" tanya Larasati sambil menatap dalam kerahnya.

"Kita duduk dulu di sana," ajaknya sambil menarik tangan Larasati untuk duduk di sebuah bangku yang menghadap ke hamparan sawah. Dika tiba-tiba memeluknya erat seolah sedang terjadi sesuatu padanya.

"Kau kenapa Dika?" tanya Larasati khawatir.

"Laras, rasanya aku tak bisa meninggalkan mu sendiri," jawabnya di pelukan Larasati.

"Kenapa?" Larasati melepaskan pelukan Dika seketika.

"Aku khawatir hal yang tak diinginkan terjadi pada mu kembali, jika aku pergi siapa yang menjaga mu," jawab Dika padanya.

"Dika, aku bisa menjaga diri ku sendiri kau tak usah khawatir, kau pergilah dengan tenang aku akan menunggumu sampai acara reuni sekolah tiba," ucap Larasati untuk membuatnya tenang.

"Tapi...." Tatapan Larasati meyakinkan Dika jika dirinya akan baik-baik saja.

"Baiklah, aku akan pergi dan menemui di hari acara reuni nanti," katanya.

"Hem. Ayo kita pulang!" ajak Larasati menarik lembut tangan Dika.

"Tunggu, aku punya permintaan untuk mu," cegat Dika membuat Larasati bingung.

"Apa Dika?" tanyanya.

"Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi kemarin?" pinta Dika padanya.

Larasati pelan-pelan menjelaskan kenapa dirinya bisa sampai di gudang dan terkunci disana. Dika cukup terkejut dan tambah khawatir padanya. Ia langsung memeluk Larasati lagi. "Maaf aku harus pergi dan tak bisa menjagamu," ucapnya.

"Sudahlah tak apa, aku baik-baik saja. Ayo kita pulang!" Larasati menepuk-nepuk pundak Dika pelan. Beberapa menit menunggu Dika merasa baik-baik saja, baru mereka pergi berjalan kembali.

Mereka berdua berjalan kembali dengan bergandengan tangan mesra. Larasati sedikit teringat dengan anak-anak sekolah yang pulang bersama pacarnya dulu. Seperti itu bergandengan tangan sepanjang jalan. Dulu jika Larasati melihatnya, ia akan bergidik karena terlalu alay atau apalah itu. Tapi sekarang ia malah menjalankannya bersama Dika. Larasati sedikit tertawa tak menyangka dia akan seperti itu juga. Mungkin dulu ia tak tahu jika sepasang anak sekolah yang dilihatnya sedang merasakan kebahagiaan seperti dirinya sekarang.

Keesokan harinya, Larasati sudah berada di Stasiun Walangsari untuk mengantarkan Dika pergi. Larasati sedikit sedih karena ia pasti akan sangat merindukannya. Sebelum berangkat, mereka saling berpelukan sampai akhirnya Larasati melepaskan pelukan dari Dika.

"Dika, jaga dirimu baik-baik ya, aku akan menunggu di sini," ucap Larasati sambil memegang tangan Dika di depannya.

"Hem kau juga jaga dirimu, jangan terlalu begadang menulis kasihan mata, tangan dan tubuh mu. Ingat jaga kesehatan selalu," balas Dika menyentuh lembut rambut Larasati.

"Iya Dika aku pasti akan menjaga diriku dengan baik," ucap Larasati berjanji.

Suara pengumuman tanda keberangkatan di siarkan. Itu bertanda Dika akan segera berangkat meninggalkannya.

"Laras, bisakah aku memeluk mu lagi?" pintanya sebelum pergi.

"Baiklah." Larasati melebarkan tangannya seakan mengizinkan Dika untuk memeluknya kembali. Di tengah keramaian stasiun mereka berpelukan erat.

Larasati melepaskan pelukannya, "Sudahlah kau harus segera pergi, sampai jumpa kembali," ucapnya. Dika mulai berjalan pergi meninggalkan dirinya.

"Sampai jumpa kembali pacarku, jangan lupa selalu menghubungi ku agar aku selalu melihat dan mengingat mu," teriaknya sambil melemparkan senyum padanya.

"Hem kita lakukan itu," balas Larasati keras.

Dika melambaikan tangannya tanda perpisahan. Larasati membalasnya sambil mengusap air matanya yang sempat turun dari tempatnya itu. Ia memandangi punggung pacarnya hingga tak terlihat lagi dari sana.

Hembusan nafas dari Larasati di keluarkan. Ia berbalik untuk bersiap pergi bekerja.

Larasati sudah sampai di Star Cafe. Saat masuk" Bagas ternyata juga sampai dan akhirnya mereka bertemu. Rasanya sudah lama Larasati tak berkomunikasi bersamanya selepas kejadian beberapa Minggu yang lalu.

"Gas, selamat pagi!" Sapa Larasati padanya.

Bagas menunduk dan masuk mendahului Larasati tanpa membalas sapaan darinya. Itu membuat Larasati berpikir jika Bagas marah padanya karena Minggu lalu. Larasati segera masuk menyusulnya.

"Bagas! Tunggu!" teriaknya sambil berlari.

"Kau marah padaku Gas," tebaknya setelah berhasil menyamakan langkah kakinya.

Bagas berhenti dan berkata, "Tak Laras aku tak pernah marah padamu."

"Lalu kenapa kau menghindari ku?" tanyanya ingin tahu.

"Itu... karena semakin dekat dengan mu hatiku akan terasa lebih sakit Laras," lanjutnya dalam hati.

"Gas?" Larasati menatapnya serius.

"Kau cepat lah masuk, cafe segera buka," suruh Bagas langsung dan ia pergi meninggalkan dirinya.

"Ah iya Gas," ucap Larasati yang masih ditempat.

Selama bekerja, Larasati selalu memandangi tempat Dika bekerja. Kini bukan Dika lagi yang di sana. Membuat Larasati sedikit tak menikmati pekerjaannya. Selesai bekerja, ia pulang, mandi, sholat dan menulis. Padahal baru sehari rasanya sudah seperti seminggu lebih ia ditinggal oleh Dika. "Apa ini yang dinamakan pacaran jarak jauh? Kini aku merasakannya juga, ternyata baru sehari rasa rindu pada seorang yang dicintai tak bisa di alihkan dengan yang lain, rindu ku terlalu berat padanya," keluhnya mendesah.

"Kakak baru juga satu hari udah rindu, kalau rindu telepon aja mas Dika nya," usul Salma, adiknya.

"Kakak takut mengganggunya, enggak lah dek," tolak Larasati tak berani

"Terserah Kakak, jangan mendesah terus itu mengganggu ku," suruh Salma tugas.

"Iya Salma, kakak tidur dulu," jawab Larasati mengalah.

Larasati akhirnya memilih memejamkan matanya namun ternyata tak bisa. Ia lalu beralih menonton drama namun ternyata kisahnya hampir sama dengan Larasati. Di tengah dirinya menonton, nada dering ponselnya berbunyi. Larasati segera mengangkatnya setelah tahu itu dari Dika, pacarnya.

"Halo Dik!" Larasati sangat senang mendapatkan telepon darinya.

"Ya ampun Laras kau cepat sekali mengangkat nya," ucap Dika terkejut.

"Hehe itu kebetulan aku sedang bermain dengan ponsel ku," ucap Larasati beralasan.

"Hem bukan keren kau ingin mendengar suara ku dan rindu padaku kan?" Goda Dika padanya.

"Apaan sih Dik." Dika tertawa di tempat tidurnya.

"Iya aku rindu padamu, puas," jawab Larasati kesal. Dika sedikit gemas mendengarnya.

"Laras, aku juga rindu padamu, tunggu aku ya," balasnya.

"Hem...oh iya kapan kau sampai?" tanyanya lagi.

"Tadi sore, maaf baru mengabari mu tadi aku masih sedikit sibuk," jawab Dika padanya.

"Iya tak apa," katanya.

"Baiklah." Dika lega mendengarnya.

Larasati hendak mengakhiri panggilannya, tapi ternyata Dika masih ingin mendengar suaranya di telepon. Sepanjang malam, akhirnya mereka mengobrol hingga tak terasa mereka berdua tertidur dengan keadaan ponselnya yang masih menyala.

...--------❤️--------...

Hari ini, Star Cafe sedang mengadakan acara promosi. Bagas dan Larasati sangat sibuk mengurus acara tersebut. Berbagai kue baru buatan Bagas di sodorkan untuk promosi. Sepanjang acara Larasati bahkan tak bisa memegang ponselnya, karena terlalu sibuk. Telepon dari Dika pun terlewatkan sampai beberapa panggilan.

Setelah selesai acara, Larasati baru mengecek ponselnya. Ia terkejut mendapati notifikasi panggilan sampai 10 kali dari Dika. Larasati yang cemas menelponnya balik. Tapi kini tinggal Dika yang tak mengangkatnya. Larasati berpikir mungkin sekarang dirinya yang sedang sibuk seperti Larasati tadi. Karena tak berhasil menelepon sang kekasih, Larasati pun memilih pulang. Larasati berjalan pulang tanpa mengendarai motornya, tiba-tiba suara klakson mobil menghentikan langkahnya.

Kaca mobil diturunkan dan tampak lah pria tampan sebanding Dika di sana.

"Laras, masuklah ku antar," tawar Bagas dari dalam mobil.

Larasati mengangguk senang karena ada yang menawarkan untuk mengantarnya pulang. Jujur dirinya sedikit lelah dan Bagas bak malaikat penolong dirinya.

Sepanjang perjalanan mereka berdua saling diam. Tak ada sepatah kata pun dari mulut mereka yang keluar. Itu membuat suasana menjadi agak sedikit canggung di antara keduanya.

"Laras, kerja yang bagus tadi," ucap Bagas tiba-tiba.

"Sama-sama Gas," ucapnya, "Bagas... akhir-akhir ini kau kenapa?"

"Kenapa bagaimana Laras?" Bagas tak mengerti.

"Sepertinya kita jarang bertemu dan mengobrol," jawab Larasati sambil melihat Bagas yang masih fokus dengan menyetirnya.

"Ah itu karena aku sibuk mengurus cafe, bukankah sekarang kita sedang berbicara," ucap Bagas padanya.

"Iya Gas dan aku senang kau menjauh bukan karena marah padaku," kata Larasati merasa lega.

"Bagas menghentikan mobilnya tepat dirumah Larasati. "Sudah sampai," ucapnya.

"Ah iya, kalau begitu aku turun. Terima kasih atas tumpangannya," ucap Larasati menunduk.

Bagas mengangguk.

Larasati sudah masuk ke dalam, namun Bagas belum pergi, ia memandangi rumah Larasati sebentar barulah ia kembali ke rumahnya.

Mengingat waktu acara reuni hampir dekat, Larasati diajak Elang untuk pergi berbelanja bersama. Larasati pun setuju kebetulan ini hari liburnya. Mereka berdua kini sudah berjalan menelusuri area mall dan sudah ada beberapa kantong belanja yang ditenteng nya.

"Laras, tumben kamu bebas?" tanya Elang padanya.

"Ah kebetulan ini hari libur ku jadi aku bebas," jawabnya sambil tersenyum.

"Dika di mana ia?" tanyanya lagi.

"Dia sedang pergi mengurus sesuatu," jawab Larasati sambil masuk ke toko baju.

"Oh yang katanya ke Cikarang itu ya," kata Elang yang sedang memilih bajunya.

"Hem." Angguk nya. "Aku lapar kita cari sesuatu yuk setelah ini," ajak Larasati padanya.

"Hem ayo aku juga lapar," ucap Elang setuju.

Sambil bersenda gurau mereka berdua berjalan kembali setelah selesai dari toko baju tadi. Lama mencari akhirnya mereka menemukan toko penjual makanan dan minuman di dalam mall. Elang pun pergi memesan sementara Larasati duduk menunggu dirinya. Larasati memandangi area mall yang cukup ramai, dan matanya tiba-tiba tertuju pada seseorang gadis yang ia kenal sedang turun dari eskalator.

Larasati beranjak untuk melihat gadis itu dari atas sana. Elang yang sudah selesai, melihat Larasati dengan bingung. Ia meletakkan pesannya di meja dan menghampiri Larasati.

"Laras, apa yang kau lihat?" tanya Elang penasaran.

"Elang, kau tau gadis yang baru saja turun dari eskalator itu. Dia bilang namanya Fitria, apa kau mengenalnya?" tanya Larasati balik sambil menunjuk ke bawah sana.

Elang ikut melihat ke mana mata dan tangan Larasati tertuju. Ia sedikit berpikir tentang siapa yang dimaksud oleh sahabat nya.

"Dia...teman mantannya..." Elang tampak berpikir.

"Mantan, mantannya siapa?" tanya Larasati penasaran.

"Dika," jawabnya pelan

Larasati tampak sedikit terkejut mendengarnya. Ia tahu Dika sangatlah tampan, pasti banyak yang menyukainya.Tapi baru hari ini, ia tahu jika Dika memiliki seorang mantan dari alumni yang sama.

Bersambung......❤️❤️❤️

1
Maldini
aku hadirrr di cerita Larasati🙏🤗
Ney
dika selangkah lebih maju🤭🤭💪💪
Ney
saingan🤭🤭
Ney
💪💪💪💪laras
🏡⃟ªʸ❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ☘𝓡𝓳
waah kisah yang bagus ini
🔵❀∂я🤎Aₙᵢₜₐ🏫⃟Sᵐᵖ☘𝓡𝓳
pokok ya selamat buat Dika & Laras semoga menjadi keluarga SAMAWA ya🎉🎂👏👏👏
🔵❀∂я🤎Aₙᵢₜₐ🏫⃟Sᵐᵖ☘𝓡𝓳
akhirnya selesai jg ijab kabul ya Laras & Dika walaupun ada drama Fitria yg mengacau
Ney Maniez
mksh bnyk author🙏🙏🙏🙏
cerita ny snggt menghibur👍👍 🙏🙏🤗🤗🥰🥰
Ney Maniez
ktnya udh punya🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Ney Maniez
waduhh serem,,, c fitria pe gilaa gt😲😲🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Ney Maniez
udah kyk artis c Dika😎🤭🤭😄😄
Ney Maniez
dikaaaa lagi ka jind🤭🤭🤭
𝐀⃝🥀🥑⃟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘjinda❀∂я🤎: haduh nyasar lagi kayaknya 🤦🤣
total 1 replies
Ney
Dika bnyk modusnya 🤭🤭😄😄💪💪
Ney
ktmu di tmpt kerja🤭🤭
Ney
cemburunya 🤭🤭😄😄
Ney Maniez
💪💪💪💪dika larass🥰🤗🤗
lancarrrr ya
Ney Maniez
kok sm dika sihhh...
terngiang-ngiang nama dika,,, jadi mangil bagas jadi dika🤭🤭😄
𝐀⃝🥀🥑⃟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘjinda❀∂я🤎: wkwk ada lagi wah ngantuk aku 🙈
total 1 replies
Ney Maniez
ahh romantis nyaaa ❤🥰😘🤗🥳
Ney Maniez
ayoo dika greceppp💪💪🥰😘❤🤗
Ney Maniez
ciee bagas lili🤭🤭🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!