( proses revisi ) Novel ini menceritakan tentang seorang cewek yang bernama Nindy di taksir seorang cowok dan tak lain adik dari sahabatnya sendiri.
Cowok itu bernama Vano. Meski usia terpaut sangat jauh, mereka tidak peduli. Bahkan ketika keluarga Nindy menentang dengan keberanianya Vano melamar Nindy...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Ahza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Setelah jam makan siang, semua karyawan di kantor Nindy begitu bersemangat menyelesaikan pekerjaanya. Mengingat ada rencana nonton film bersama, dan tentunya itu membuat Vano sangat antusias sekali. Laki-laki muda yang umurnya jauh di bawah Nindy itu, kini semakin merasakan perasaan yang aneh, yang ia rasakan setelah sekian lama ia matikan. Bak bara api yang lama meredup, kini seakan berkobar kembali.
"Mbak Nindy...." Tanpa sadar ia memanggil nama itu. Untung saja teman-temanya tidak ada yang mendengar. Senyum yang tanpa sadar lolos begitu saja dari bibirnya, menandakan hatinya yang saat ini sedang berbunga-bunga. Dewi Cinta saat ini sedang melemparkan panah asmaranya kepada Vano.
"Kenapa senyum-senyum sendiri..?" tanya Dodi.
"Kepo aja lu..."
"Pikirin yang mesum-mesum ya..?" Tebak Dodi lagi.
"Enak aja, lu kali..."
"Ingat kan, nanti malam nobar...?"
"So pasti lah.." jawab Vano pura-pura sibuk mengerjakan tugasnya.
Tepat pukul 16.00.WIB, semua aktifitas di kantor berhenti. Semua karyawan pulang dengan rencana masing-masing. Tak terkecuali Vano dan Nindy and friend's.
Ndreeeeeetttt ndreeeeeetttt
Nindy yang sedang merapikan bajunya, segera mengalihkan pandanganya ke benda pipih yang terletak di atas meja riasnya. Senyumnya melebar saat melihat nama Ellen muncul di layar ponselnya. Dengan cepat segera ia menyambungkan dengan Ellen di seberang sana.
"Hallo Len, ya kenapa?"
"Nindy, nanti kamu aku samperin yah..?"
"Emm, boleh juga, serasa orang penting deh.."
"Haddehhh, mulai nih halunya, ya sudah nona manis, aku siap-siap terus ke rumah kamu.."
"Oke beb..."
Keduanya segera menutup telefon. Ellen segera bersiap ke rumah Nindy, untuk berangkat nonton bersama.
Tepat pukul 18.30 WIB, taksi yang di tumpangi Ellen berhenti tepat di depan rumah Nindy. Sebelum Ellen memencet bel pintu rumah Nindy, sang pemilik rumah sudah keluar duluan dan menyambutnya dengan sapaan serta senyum yang ramah.
"Berangkat sekarang..?"
Dengan penuh semangat, keduanya segera meluncur menaiki taksi yang di tumpangi oleh Ellen tadi. Tak berapa lama mereka juga menjemput Lily di rumahnya. Setelah dari rumah Lily, mereka menuju ke tempat yang sudah di janjikan. Taksi yang membawa mereka meluncur dan meliuk-liuk di jalan raya. Suasana malam itu sangatlah ramai sekali. Banyak pasangan dari kalangan muda-mudi dan bahkan yang sudah menikah sekedar jalan kaki atau naik motor untuk menikmati malam minggu.
Sama halnya yang di lakukan oleh Vano dan Nindy beserta teman-temanya. Mereka mengisi waktu malam minggu dengan nobar.
Tak berapa lama, sang supir taksi menurunkan mereka bertiga tepat di depan gedung bioskop tempat mereka akan menonton film.
"Kok pada belum datang..?" gumam Ellen yang celangak-celinguk mencari Vano dan teman-temnya. Di saat ketiganya menunggu, sebuah suara mengagetkan mereka.
"Udah lama..?" sapa Dodi dari belakang.
"Kaliann...? Ngagetin aja deh..."
"Maaf kami juga baru sampai.."
"Kalian bertiga satu mobil....?" tanya Nindy yang mengarahkan pandanganya kepada Vano.
"Ehh.., enggak mbak..." Dengan agak gugup, Vano menjawab.
"Baiklah, sekarang kita beli tiket, sebelum kehabisan.." kata Ellen yang buru-buru mengajak teman-temanya.
"Biar kami saja yang beli, kalian tunggu di sini saja.." ucap Vano.
Nindy, Ellen dan Lily mengiyakan ucapan Vano. Ketiganya segera bergegas masuk dan tak berapa lama keluar membawa tiket. Tak lupa mereka membeli popcorn dan soft drink sebagai teman nonton di dalam bioskop nanti.
Seperempat jam kemudian, film pun akan segera di mulai. Nindy dan kawan-kawan sudah masuk dan duduk di nomor yang telah tertulis di dalam tiket tersebut. Kebetulan Nindy duduk di dekat Vano.
"Udah lama nggak nonton film bareng seperti ini.."
"Benarkah..?" sahut Vano. Nindy menoleh dan menjawab dengan anggukan kepala. Sesaat kemudian, film pun di putar. Sesekali penonton menjerit, saat hantunya muncul di layar, karena yang mereka tonton adalah film horor.
"Aaaaaa...." Jerit Nindy yang memegang lengan Vano, karena takut. Vano yang di pegang seperti itu, semakin berdegup saja jantungnya. Ia hanya diam, dan membiarkan Nindy, memejamkan mata sambil memegang erat lenganya.
Satu setengah jam telah berlalu, dan selesai sudah film yang baru saja mereka tonton. Dengan perasaan lega, Nindy menghela nafasnya.
"Akhirnya selesai juga.." seru Nindy yang berjalan di depan Vano.
"Kayanya tadi ada yang ketakutan setengah mati deh.." Ledek Ellen yang rupanya tadi melihat Nindy, dan kini meledeknya habis-habisan.
"Ahh, siapa yang takut, cuma saja agak serem..."
"Itu sih sama saja Nindyy..." sahut Ellen dengan memanyunkan bibirnya.
"Lenganku sampai sakit semua, karna di pegang kuat sama mbak Nindy tadi.."
"Ahh kamu, bukanya membela mbak, malah ikutan ngeledek.."
"Hehe.., sekarang kita makan dulu, soalnya perut dah keroncongan.." ucap Ellen.
Segera saja mereka mencari tempat makan yang enak. Tentunya buat makan sambil ngobrol santai. Akhirnya ketemu juga. Setelah mereka sampai, kemudian masuk dan memesan makanan, tak berapa lama seoramg pelayan muncul dsri dalam, dan membawa pesanan mereka. Segera saja, hidangan yang telah tersedia, segera mereka santap.
"Mbak Nin, tar pulangnya Vano anterin saja, sekalian mbak Ellen dan Lily.."
"Beneran nih? Nggak ngerepotin kamu?"
"Enggak mbak Nin, santai aja..."
"Baiklah kalau begitu Van, sebelumnya terima kasih banyak.."
"Sama-sama mbak Nindy.." Dalam beberapa menit, hidangan di atas meja tersebut sudah ludes. Kini saatnya mereka pulang.
"Mari mbak..." Ajak Vano. Dodi dan Reihan segera memasuki mobil masing-masing begitu sampai di area parkiran, sedangkan Vano kini satu mobil dengan Nindy, Ellen dan juga Lily. Pertam, Vano mengantarkan Lily terlebih dahulu, lalu Ellen dan yang terakhir adalah Nindy.
"Van terima kasih ya, karena hari ini, semua kamu yang bayar.."
"Biasa saja mba, Vano juga seneng kalau melihat teman-teman Vano bisa tertawa.
Ciiiittt
Rem mobil berdecit. Tanpa sadar, sudah sampai di rumah Nindy.
"Van pulangnya hati-hati yach..."
Nindy melambaikan tanganya, Vano segera meluncur meninggalkan rumah Nindy. Setelah mobil Vano hilang dari pandangan, Nindy masuk ke dalam rumahnya.
"Mbak Nindy...." gumam Vano yang tersenyum sendiri saat sedang menyetir mobilnya menyebut nama itu.
"Kenapa aku jadi memikirkan mbak Nindy.." gumam Vano yang bingung sendiri. Ia pun sampai di apartemenya dan segera masuk setelah ia turun dari mobilnya.
Bersambung...
****
vano itu cinta mati sm nindy jd gak bisa selain hati...
SEQUEL 2 NYA DI UP THOR.......🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
MOHON MAAF JIKA KOMEN2 BNYK YG TDK PANTAS.. KRN SMUA FAKTOR TRBAWA SUASANA CERITA THE BEST DARI OTHOR, YG BUAT READER TERBAWA EMOSI MAUPUN BAHAGIA..
SEKALI LGI JGN LUPA, UP THOR SEQUELNYA..
SIAP2 LO VANO KNK MORNING SICKNESS, ALIAS SINDROM COUVEDE, AKU UDH MRASAKN SAAT ISTRI HAMIL ANAK KMBARKU, SEGALA MAKANN YG AKU TK SUKA & TK AKU MAKAN, LGI NGIDAM KU MAKAN, SEPERTI LELE, BELUT, IKAN GABUS ATAU RUAN, AKU MAKAN, PADAHAL AKU GK MKN 3 MAHLUK AIR TRSEBUT, KLO BUAH, SUKA MAKAN ASAM PAYAK, JAMBU BATU, PKE GARAM DOANK.. KLO BAYANGINNYA KMBANG LIUR KU..