Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PENUH DOSA
"Mau kemana, mas?" tanya Ranti dengan wajah agak tegang.
"Keluar! Cari udara segar. Sumpeksama situasi ini!"
"Mas, kita khan baru pulang dari Bogor. Kamu ga mau istirahat dulu, mas? Rebahan dulu!"
"Aku pergi!Percuma juga dirumah. Istriku sekarang jadi pembangkang gara-gara memiliki sahabat sejati!"
Ranti hanya memandangku dengan tatapan memelas. Membiarkanku kembali masuk mobil dan pergi berlalu membelah jalanan ibukota menjelang malam.
Pikiranku sedang kacau. Hatiku sedang galau. Berbahaya jika tetap dirumah dengan hati dan fikiran seperti sekarang ini. Aku ingin meredam dulu amarahku. Kuatir aku lepas kontrol main tangan pada istriku.
Memang semenjak ada Vika, Ranti sedikit lebih berani padaku. Menyuruhku dengan mudahnya kesana-kemari mengurus sahabatnya itu. Padahal setahuku perempuan itu sifat cemburunya kadang diluar nalar diatas kewajaran. Tapi apakah Ranti tak sedikitpun cemburu jika aku sedang mengurus Vika. Tak adakah rasa ketakutan dalam dirinya mengenaiku yang bisa saja kepincut sahabatnya itu. Bukankah ia sendiri mengakui kalau Vika itu lebih segala-galanya darinya. Kecantikan dan pesona Vika tak bisa kupungkiri. Belum lagi kekuasaannya kini karena kembali banyak uang.
Apakah Ranti begitu mendamba uang Vika agar tetap ada ditabunganku dan mengurus sahabatnya itu agar kita mendapatkan keuntungan. Aku rasa, Ranti tak sepicik itu untuk masalah uang. Memang kami berasal dari keluarga sederhana. Kami adalah orang yang begitu menghargai uang. Tapi kami juga lebih senang mengalami proses alami ketimbang instan. Toh kami perlahan telah memilikinya. Cukup untuk kami yang baru beranak satu. Apalagi yang harus dikhawatirkan. Memang sudah takdir bila kita ingin hasil yang maksimal, juga harus mengeluarkan usaha yang maksimal juga. Dan kenapa ada kata-kata harus berhenti kerja untuk memulai usaha baru yang belum jelas arah tujuannya.
Aku memang ingin lebih dan lebih menghasilkan uang. Menambah tabungan masa depan Jingga dan juga masa tuaku bersama Ranti. Tapi dengan jalan sewajarnya. Dan bukan jalan yang penuh resiko dan tantangan ekstrim.
Aku tidak sadar ketika tubuh ini sudah terhempas duduk dikursi bar dengan penerangan redup dan alunan live musik.
Bartender menanyakan pesananku. Aku cuma menjawab apa saja yang bisa membuatku tenang dan nyaman.
Minuman apa itu..aku kurang tau. Seperti campuran wine dan beberapa coctail alkohol lainnya. Sepotong kue keju langsung masuk mulutku sekali lahap.
Aku menarik nafas. Memang terasa lebih rileks. Aku sedikit kaget karena minumanku ternyata lumayan strong. Membuat jantungku agak berdebar halus memainkan kesadaranku.
Aku juga bukan orang suci. Sesekali bila kusedang banyak fikiran, beberapa teguk minuman keras kerap kujadikan pelampiasan. Bukan untuk menghilangkan sepenuhnya kesadaranku. Tapi hanya untuk menghilangkan rasa yang bercampur pahit dihatiku. Dan Ranti sudah tahu kepribadianku yang ini.
Dosa memang. Tapi aku kadung melakukannya sejak belasan tahun yang lalu. Bahkan sebelum aku menikah. Itu kulakukan sangat jarang sekali. Kecuali pikiran kalutku hingga sulit menalar diakal sehatku. Dan aku butuh sedikit hiburan. Hanya beberapa gelas saja. Setelah itu aku akan pulang kerumah dan tidur.
Aku lagi-lagi mendengus kesal mengingat perkataan Ranti tentang resign dari perusahaanku dan membangun bisnis bersama Vika dengan jabatan Dirut.
Waaah..... Mudah sekali ternyata hidupku ini. Aku bertahun-tahun lamanya, bekerja sangat keras...bahkan lebih keras dari kebanyakan orang, itu pun baru bisa dikatakan berhasil menjadi manajer pemasaran. Dan tiba-tiba hanya dengan hitungan bulan kenal seorang wanita bernama Vika, aku langsung menjadi dirut katanya. Itu sungguh penghinaan bagiku.
"Mas Dika!"
Aku kenal suara ini. Kuarahkan pandanganku pada sipemilik suara yang berdiri tepat dibelakangku.
Cantik. Bergaun putih panjang dengan tali dipinggang. Persis noni Belanda bila ditambah topi lebar.
"Kenapa kamu ada disini?" tanyaku ketus kembali memalingkan wajah.
Vika duduk disampingku. Memesan segelas minuman yang serupa denganku. Ia hanya diam tak menjawab. Memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.
"Ranti menelfonku. Meminta tolong agar aku mengawasimu, mas!" katanya sambil mempermainkan bibir gelas dihadapannya.
Aku mendengus. Tertawa sinis.
"Sungguh ia tak sadar telah melakukan perjanjian dengan setan!" gumamku membuat Vika menunduk.
"Sebenci itukah kau padaku, mas? Seburuk itukah aku dimatamu, mas?"
"Terserah. Aku tidak punya urusan denganmu!"
"Mas!... Mau berdansa ga? Sayang sekali, lagunya begitu asik untuk dilewatkan!" kata-kata Vika membuatku tercengang.
"Carilah pria yang sepadan denganmu Vika. Yang bisa sejajar beriringan denganmu. Yang bisa memenuhi nafsumu." Aku berdiri. Mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menaruhnya dibawah gelas minumanku. Lalu berlalu pergi meninggalkan Vika yang kerepotan mengejarku. Ia juga membereskan pembayaran minumannya dengan tergesa-gesa dan mengekor langkahku.
"Mau apa kamu?" tanyaku ketika Vika masuk mobilku juga.
"Kamu agak mabuk, mas! Bahaya bawa kendaraan. Aku harus ikuti kamu. Kalaupun ada kecelakaan, kita bisa mati bersama-sama!"
"Wanita gila! Sembarangan nyumpahin aku kecelakaan. Aku masih sadar. Bukan seperti kamu yang bisa menghabiskan minuman berbotol-botol lalu tidur tengkurap dimeja bar! Dan juga, camkan omonganku! Aku ga mau mati bareng kamu!"
"Aku ngerti kamu jijik sama aku. Kamu benci sekali sama aku, mas! Tapi sadarlah... Ranti dan Jingga menunggumu dirumah!"
"Ya. Dan kamu dengan sangat santai mengobrak-abrik kehidupanku, Vika!"
"Apa salahku padamu mas? Apakah karena aku mencintaimu, lantas aku kamu cap pendosa, mas? Apakah mencintai itu perbuatan tercela? Dan apakah aku juga tidak berusaha menahan diriku untuk tidak berbuat hina kepadamu? Aku ga tau kenapa aku jatuh cinta padamu. Kenapa harus sama kamu, suami sahabatku sendiri. Apakah kamu tahu bagaimana juga perasaanku, mas? Betapa hancurnya aku menanggung beban asmara ini, mas!" Vika menghujamku dengan banyak kata. Airmatanya tumpah tak tertahankan.
"Kamu tau, mas? Aku jatuh cinta sejak awal pertemuan kita dicafe bandara tempo hari dulu. Seorang pria gagah berani berwajah manis menolongku Membelaku dari kejamnya pria bengis yang setiap hari menyiksa tubuh dan bathinku. Padahal pria itu sama sekali tak kenal aku. Kamu tau, mas? Betapa hatiku bahagia dibela seorang pria yang dengan tulus tanpa melihat latar belakang. Itu adalah kali pertama seorang pria dengan ketulusan tingkat tinggi menolongku membantuku menyadarkan diriku. Lalu kita bertemu lagi karena takdir Tuhan diclub malam tempatku bekerja. Dan selepas kamu pergi tiba-tiba lelaki biadab yang seharusnya menyayangiku justru menyerangku membabibuta karena kemarahannya yang kalah berjudi hingga wajah dan mataku luka memar dan bibir sobek hingga harus dijahit beberapa jahitan. Dan lagi-lagi kamu datang menolongku. Membantuku walaupun kamu tutupi semua dengan keangkeran diwajah dan juga kata-katamu. Tapi aku kadung cinta jauh kedalam hatimu mas! Betapa aku mendambamu. Andai aku bisa selalu berada disampingmu. Dijaga terus olehmu. Walau kata-kata pedas selalu terlontar dari mulutmu. Tapi aku abaikan itu. Bahkan walaupun hatiku kecewa karena kamu ternyata milik sahabatku. Tapi aku mempertaruhkan perasaanku dengan merayumu agar membawaku ke Jakarta denganmu. Mas,... Aku teranjur jatuh terperosok dalam indahnya hatimu!"
"Cukup Vika! Aku antar kamu pulang!" potongku menyalakan mesin mobil dan tancap gas mengarah rumah Vika.
Didepan rumahnya aku menghentikan mobil.
"Turunlah! Aku menghindar dari Ranti. Dan aku juga malas berdebat denganmu!"
"Mas,... aku juga tersiksa dengan perasaan ini mas! Tapi aku tak bisa melupakanmu begitu saja. Aku tak mampu melepaskanmu walau pun itu hanya sekejap saja. Hari ini hpmu mati seharian. Juga hp Ranti. Makanya aku pergi ketempat ayah, karena kupikir kalian disana. Aku ingin melihatmu mas!"
"Vika! Sudah kubilang hentikan ocehanmu! Apa kamu masih akan terus merendahkan dirimu dihadapanku seperti ini?"
"Aku tak peduli. Aku bisa lebih merendahkan diriku lagi untuk kamu. Tak apa, mas... aku rela!"
"Dasar perempuan kurang waras! Apa kamu masih belum puas mengaduk-aduk kehidupanku dan juga hatiku? Apa kamu fikir aku batu tak punya hati dan perasaan? Aku manusia, Vika! Aku juga punya ketakutan jatuh cinta padamu!"
Vika menatapku tak percaya. Matanya yang sembab tak berkedip barang sedikitpun. Tak kusangka ia menerjangku. ******* bibirku dengan gairah dan berjuta getaran. Dan aku.... aku semakin hanyut jauh terbawa arus.
Manisnya bibir Vika yang penuh dan indah membuatku terbuai mengikuti alunan cinta dihati kami. Mata kami terus dan terus mengeluarkan airmata. Tapi bibir kami terpakut saling mengait satu sama lain sampai rasa asin airmata tak kami rasakan. Betapa cinta ini membutakan mata dan hati kami.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..