dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 - Rencana Arga
Perlahan, Raka makin terbiasa bekerja dengan Afifah. Semua pekerjaan yang diurus oleh wanita itu selalu bisa ditangani dengan baik.
Raka benar-benar terbantu dengan adanya Afifah. Setiap masalah yang ada di lapangan juga dapat diatasi dengan baik oleh Afifah.
"Bagus, lanjutkan!" ujar Raka usai memeriksa laporan yang diberikan oleh Afifah.
Pria itu benar-benar puas dengan hasil kerja Afifah. Afifah benar-benar totalitas dalam menyelesaikan setiap pekerjaan. Afifah juga cukup tegas menangani hal-hal yang berkaitan dengan kualitas.
"Terima kasih, Pak!" sahut Afifah.
Meskipun terkadang Raka masih meledek Afifah, tapi Afifah juga cukup nyaman bekerja dengan atasan baru. Raka juga bukan tipe atasan bawel yang membuat Afifah kesulitan.
Raka sendiri juga sangat nyaman bekerja dengan Afifah. Cara Afifah bekerja giat membuat Raka mulai tertarik pada wanita yang akan menjadi janda itu. Afifah cukup profesional meski pribadinya sedang di landa badai yang sangat besar.
Di lain pihak, Arga dan Putri kini tengah kelimpungan mengurus kehidupan mereka yang berantakan. Afifah makin giat bekerja dan hidup dengan baik meskipun sendirian, sementara Arga dan Putri justru hidup berantakan setelah hubungan mereka terkuak.
Selain harus mencari tempat tinggal baru setelah diusir, dan membayar denda. Gosip tentang hubungan terlarang dan perzinahan mereka sampai ke kampus putri dan pabrik tempat Arga bekerja. Tak hanya mendapatkan sanksi dari warga kompleks, Putri dan Arga juga mendapatkan sanksi dari instansi masing-masing.
"Dasar pelakor!"
"Gadis tidak tahu diri!"
"Sepertinya dia kekurangan pria sampai meniduri kakaknya sendiri!"
"Tidak tahu diuntung! Hubungan menjijikkan!"
Putri mulai mendengar suara-suara sumbang yang dilontarkan padanya. Rasanya sakit sekali ia harus menanggung cibiran setiap kali ia menapakkan kaki di kampus.
"Maaf, Putri. Ini keputusan dari rektorat," ujar pihak administrasi kampus memberikan surat drop out untuk Putri.
Ya, kabar hubungan terlarang Putri dengan Arga yang merebak luas, membuat Putri pun akhirnya ditendang dari kampus. Gadis itu tak bisa lagi melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang ia jadikan sebagai tempat menuntut ilmu.
"Drop out? Aku dikeluarkan dari kampus?" gumam Putri tak percaya dengan hal yang dialami olehnya. Ia benar-benar tak menyangka imbas hubungannya dengan Arga akan membuat hidupnya makin porak-poranda.
Tak kuat lagi menahan malu, Putri pun bergegas meninggalkan bangunan kampus tersebut. Mulai besok dan seterusnya, gadis itu tidak akan pernah kembali ke kampus itu lagi.
"Mas Arga!" Putri membuka pintu kontrakan kecil yang ia tempati bersama dengan Arga.
Gadis itu mengamuk dan merengek di dalam rumah. Tentunya ia tak terima dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh pihak kampus padanya.
Bukannya sadar dan introspeksi diri, Putri justru sibuk menyalahkan orang lain atas kehancuran hidupnya. "Ini semua gara-gara, Mbak Afifah!" geram Putri sembari mengobrak-abrik barang yang ada di dalam kontrakan kecil itu.
Arga yang baru saja pulang dari kantor, justru dibuat makin pusing dengan ulah Putri. Pasalnya, bukan Putri saja yang menerima sanksi dari kampus, tapi Arga juga mengalami hal yang sama.
"Putri, tidak bisakah kamu diam! Aku pusing! Kepalaku rasanya ingin pecah! Bisakah kamu tidak membuatku tambah pening?" omel Arga.
"Mas kira aku juga tidak pusing? Aku dikeluarkan dari kampus, Mas!" ungkap Putri.
"Apa?" tanya Arga.
"Aku di DO dari kampus!" teriak Putri meluapkan amarahnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja semua orang menggunjingku! Dan pihak kampus akhirnya mengeluarkan aku!"
Arga hanya bisa pasrah melihat hidupnya yang perlahan hancur semenjak dia berpisah dari Afifah. "Bukan cuma kamu saja yang mempunyai masalah! Mas juga mendapatkan surat peringatan dari tempat Mas bekerja. Mas terancam akan dipecat jika Mas berulah dan merusak citra perusahaan dengan berita miring," ungkap Arga menceritakan kesialan yang sama.
"Apa? Terus gimana mas?" Tanya Putri mulai cemas. "Aku nggak masalah meski nggak kuliah, tapi mas?"
"Nggak tau, put." Arga mengacak rambutnya frustasi.
"Kalau Mas kehilangan pekerjaan! Mau makan apa kita nantinya?" omel Putri.
Bukannya menghibur Arga, Putri hanya bisa merengek dan menyusahkan Arga. Sangat berbeda jauh dengan Afifah yang mandiri dan bisa membantu Arga. Memang sudah dari dulu Putri manja, dan itu memang yang membuat Arga menyanyangi Putri. Akan tetapi, saat ini bukan itu yang Arga butuhkan.
"Udah, mas pusing. Mas malas berdebat sama kamu!" imbuh Arga membuat Putri sakit hati.
"Apa? Aku nggak ngajak mas debat!" sungut Putri."Aku hanya mempertanyakan hidup kita nanti jika mas nggak kerja. Aku tanggung jawab kamu, mas!"
Semakin muak dengan pertengkaran, Arga pun memutuskan untuk keluar dari rumah sejenak. Lebih baik pria itu menghirup udara segar di luar, daripada ia harus meladeni ocehan Putri yang tidak bisa membantu kesulitannya.
"Berbicara dengan kamu hanya bisa membuat Mas gerah!" timpal Arga.
"Mas pikir aku suka hidup susah bersama dengan Mas seperti ini?"
"Putri! Cukup! Aku lelah bertengkar! Aku mau istirahat."
"Bagus! Mas sekarang malah menghindar, bukan cari solusi, malah menghindar." Omel Putri mengiringi langkah Arga ke kamar.
"Aku nggak masak mas, nggak mood! Aku juga capek buat beres-beres." Suara Putri yang terdengar di balik pintu makin membuat Arga panas. Akhirnya ia memutuskan keluar saja dari kamar. Jika berada di rumah, bukan ketenangan yang dia dapatkan melainkan emosi.
Pria itu pun keluar dari rumah sembari membanting pintu dengan kencang. Brak! Putri hanya bisa menangis seorang diri, sementara Arga mengamuk di jalanan dengan menendangi kerikil kecil untuk melampiaskan amarah yang terpendam di hatinya.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini?" pekik Arga tak sanggup lagi menjalani hidupnya yang sudah di ujung tanduk. Tak lama lagi, hidup Arga pasti akan hancur.
Arga duduk di pinggir jalan dengan wajah frustasi. Tiba-tiba saja pria itu teringat kembali dengan wanita yang telah ia sakiti, Afifah.
"Afifah!" gumam Arga sembari menatap foto Afifah yang masih tersimpan di dalam ponselnya.
"Bagaimana kabar kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?" oceh Arga.
"Aku hancur, Afifah. Aku hancur tanpamu."
Putri sama sekali tidak bisa membantu. Tapi jika Arga bersama dengan Afifah saat ini, mungkin saja kehidupan pria itu akan lebih terjamin.
Lagipula, selama ini Afifah memang sering nombok. Afifah bisa membantu keuangan Arga dengan baik. Afifah juga bisa mengurus suami dan rumah dengan baik. Afifah sudah menjadi istri yang sempurna untuk Afifah.
"Afifah, andai saja kamu ada di sini," gumam Arga.
Nampaknya pria itu mulai menyesal sudah meninggalkan Afifah. Arga menyesal sudah berpisah dari Afifah.
"Kalau aku bersama dengan Afifah sekarang, dipecat pun tidak akan jadi masalah. Aku masih bisa hidup bersama dengan Afifah," cetus Arga.
Pria itu mengingat kembali masa-masa disaat ia bersama dengan Afifah. Semuanya berjalan dengan sempurna. Rumah tangganya cukup harmonis selama Arga hidup bersama dengan Afifah.
"Apa ... sebaiknya aku kembali saja pada Afifah?" gumam Arga.
"Mumpung sidang belum dimulai, lebih baik aku bujuk saja Afifah untuk kembali padaku!" oceh pria itu makin bersemangat."Masalah putri bisa di bicarakan nanti."
Daripada hidup tidak jelas seperti ini, lebih baik Arga mencari aman dengan menempel pada Afifah. "Ya, aku harus mengajak Afifah rujuk! Afifah harus kembali padaku!"
****
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk