Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan makan malam
Malam jamuan makan malam itu tiba dengan atmosfer yang mencekam di balik kemewahan Hotel Ritz-Carlton Jakarta. Arkan turun dari mobil, tampak sangat bertenaga dalam balutan setelan tuksedo hitam custom-made . Namun, fokus utamanya bukan pada lobi hotel, melainkan pada Zia yang keluar dari sisi pintu penumpang.
Zia tampak memukau dengan gaun biru dongker pilihan Arkan. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang manis namun kini tampak tegang.
“Tanganmu dingin, Zia,” bisik Arkan sambil menarik tangan gadis itu dan melingkarkannya di lengan.
"Aku merasa seperti domba yang masuk ke kandang serigala, Om. Orang-orang ini... mereka menatap kita seolah-olah kita adalah target," gumam Zia sambil melirik ke arah tamu-tamu VIP yang memegang gelas sampanye.
Arkan mengeratkan genggamannya pada tangan Zia. "Tegakkan dagumu. Jika mereka serigala, maka aku adalah pemilik hutan ini. Jangan lepaskan lenganku, apa pun yang terjadi."
Di dalam ballroom , Arkan disambut oleh jajaran pengusaha kelas atas. Namun, di sudut ruangan, berdiri seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas abu-abu metalik yang tampak terlalu tenang. Pria itu adalah Harlan , mantan petinggi intelijen yang diduga menjadi otak di balik sisa-sisa protokol The Ghost .
Harlan berjalan mendekat sambil mengangkat gelasnya. "Arkan. Senang melihatmu 'hidup' kembali. Dan ini... aset berhargamu?"
Mata Harlan menatap Zia dengan cara yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Istilah 'aset' terdengar sangat menghina di telinga Arkan.
"Dia tunangan ku, Harlan. Bukan aset," koreksi Arkan dengan suara serendah geraman singa. "Dan saranku, jaga matamu jika kau masih ingin menggunakannya untuk melihat matahari besok."
Harlan tertawa kecil, suara yang kering dan tanpa emosi. "Protektif seperti biasa. Tapi ingat, Arkan, di dunia digital, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Kau pikir kau sudah menghapus jejakmu di Singapura? Kami baru saja menemukan 'pintu belakang' yang kau tinggalkan."
Zia merasakan pegangan tangan Arkan menekan hingga buku-buku jarinya memutih. Tepat pada saat itu, lampu ballroom menyala untuk sesi dansa.
"Ikuti permainanku," bisik Arkan pada Zia. Ia menarik Zia ke tengah lantai dansa.
Saat musik klasik mulai mengalun, Arkan membawa Zia berputar. Gerakannya sangat elegan, membuat pasangan lain menepi untuk memberi ruang. Namun, ini bukan sekadar dansa romantis.
"Zia, dengarkan aku tanpa menoleh," bisik Arkan tepat di telinga Zia saat mereka merapat. "Di saku kiri gaunmu, aku memasukkan sinyal pemutusan portabel. Saat aku memutar tubuhmu nanti, tekan tombol kecil di sana."
"Sekarang?" tanya Zia gugup.
"Tunggu hitunganku...tiga, dua, satu. Sekarang."
Klik.
Seketika, lampu kristal di langit-langit berkedip hebat. Sistem suara mengeluarkan denging frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Di saat para tamu kebingungan, Arkan memanfaatkan momen itu untuk menarik Zia ke arah pintu keluar darurat di belakang panggung.
" om Arkan! Apa yang terjadi?!" seru Zia saat mereka berlari menuruni tangga darurat.
“Mereka mencoba meretas jam pelacak untuk melacak posisi server cadangan yang kubangun,” jelas Arkan singkat. "Jamuan ini adalah jebakan untuk mendapatkan frekuensi unik dari perangkatku."
Mereka sampai di basement dalam waktu singkat. Arkan mendorong Zia masuk ke dalam mobil cadangan yang sudah disiapkan Rio sebelumnya,sebuah mobil tua yang sama sekali tidak memiliki sistem komputer (analog), sehingga tidak bisa diretas.
Arkan segera memacu mobil itu keluar dari gedung. Suasana hening sesaat, hanya suara deru mesin tua yang kasar. Zia menatap Arkan yang kini tampak sangat letih namun waspada.
"Om," panggil Zia dengan lembut. "Kenapa kita tidak lapor polisi? Kenapa kita harus hidup seperti ini?"
Arkan menghentikan mobil di pinggir jalanan Jakarta yang mulai sepi. Ia menatap Zia dengan menyatukan yang dalam, penuh penyesalan sekaligus cinta yang besar.
"Karena polisi tidak bisa menangkap hantu, Zia. Dan hantu-hantu ini menginginkan apa yang ada di kepalaku," Arkan menyentuh dahi Zia. "Tapi lebih dari itu, mereka tahu bahwa titik lemahku adalah kamu."
Arkan menarik tengkuk Zia, menyatukan dahi mereka. "Aku berjanji, setelah malam ini, aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan menghancurkan sistem mereka sampai ke akar-akarnya, meskipun aku harus membakar duniaku sendiri."
“Janji jangan tinggalkan aku sendirian?” tanya Zia dengan mata berkaca-kaca.
Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Zia dengan lembut namun penuh penekanan,sebuah janji bisu bahwa ia akan menjadi perisai terakhir bagi gadis itu.
Tiba-tiba, ponsel analog Arkan bergetar. Sebuah pesan singkat dari Rio masuk: [MEREKA MENUJU RUMAHMU. ZONA AMAN KOMPROMIS.]
Arkan melepaskan ciumannya, matanya kembali tajam. "Zia, sepertinya ujian sekolahmu besok harus dilakukan di dalam bunker."
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔