NovelToon NovelToon
THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.

sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.

Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.

apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Sunyi

Matahari hari Selasa pagi bersinar begitu terik di atas kompleks SMA Internasional Garuda Bangsa. Gerbang marmer yang megah kembali dibuka lebar-lebar, menyambut kedatangan ratusan anak-anak dunia atas yang turun dari deretan mobil mewah mereka dengan tawa renyah yang seolah tidak pernah terbebani oleh kegelapan apa pun. Namun, di koridor lantai dua menuju kelas X-A, suasana terasa sedikit berbeda dari hari Senin kemarin. Ada desas-desus samar yang beredar di antara beberapa pengurus yayasan tentang adanya kekacauan kecil di depan gerbang barat kemarin sore, meskipun informasi tersebut telah dikunci rapat-rapat oleh jaringan kekuasaan yang tak terlihat.

Azrint Breynerlanz melangkah turun dari sedan hitam barunya dengan pengawalan yang jauh lebih tersamar namun sangat ketat. Hari ini, dia mengenakan bando mutiara putih yang berpadu serasi dengan rambut hitamnya yang ditata rapi dengan gaya setengah ikat. Kulit perinya yang seputih peri tampak berkilau bersih di bawah siraman cahaya matahari pagi, dan langkah kakinya yang anggun tetap menyita perhatian di sepanjang koridor aula. Ketika Azrint melangkah masuk ke dalam kelas X-A, ruangan yang tadinya bising mendadak sunyi selama beberapa saat. Matanya yang sewarna karamel tua menyapu ruangan dengan pandangan menilai yang dingin, menemukan bahwa lima gadis yang bersamanya di kapal kargo semalam sudah duduk manis di tempat mereka masing-masing seolah-olah tidak pernah terjadi kejahatan apa pun dalam hidup mereka.

Di lajur tengah sudut kiri, Eriza Tryanaz duduk mematung dengan posisi yang sangat santun. Rambut panjangnya yang hitam legam dibiarkan terurai bebas, menutupi sebagian wajah pucat porselennya yang sedang menunduk fokus membaca sebuah buku catatan biasa. Tidak ada lagi belati karambit yang berkilat tajam di genggamannya, dan tidak ada lagi aura "Ratu Kematian" yang pekat membungkus tubuhnya. Eriza telah kembali sepenuhnya menjadi siswi penerima beasiswa akademik yang pendiam, miskin, dan dianggap membosankan oleh anak-anak konglomerat di sekelilingnya.

Sementara itu, di meja nomor tiga lajur tengah, Fyrline Zyornaland sedang tersenyum sangat manis sembari membantu merapikan tumpukan kertas silabus milik guru yang tertinggal di meja depan kelas. Kacamata baca berbingkai tipis miliknya bertengger dengan sempurna di atas hidungnya yang bangir, menyembunyikan sepasang matanya yang tajam di balik lensa bening yang polos.

"Selamat pagi, Azrint," sapa Fyrline dengan nada suara yang sangat lembut, ramah, dan penuh dengan kehangatan palsu yang menenangkan saat Azrint berjalan melewati meja belajarnya.

Azrint menghentikan langkah kakinya selama setengah detik, bibirnya yang penuh mengulas sebuah senyuman formal yang sangat tipis untuk membalas sapaan itu. "Pagi," jawab Azrint singkat dengan nada manjanya yang berjarak, lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi barisan depan tanpa menoleh lagi. Kesepakatan rahasia mereka sudah sangat jelas: di depan publik dunia atas, mereka kembali menjadi orang asing yang menolak untuk saling mengenal atau mengusik kehidupan masing-masing.

Di samping Fyrline, Miya Fynezayn duduk dengan posisi punggung yang sangat tegak, memamerkan postur tubuh body goals-nya yang selalu mengundang kekaguman diam-diam dari para siswa laki-laki. Rambut pirang ikalnya malam tadi telah diubah menjadi tataan kepangan Prancis yang rapi dan berkelas. Sepasang mata birunya yang jernih fokus menatap layar tablet elektroniknya, sama sekali tidak melirik ke arah Azrint atau murid lain yang baru saja melangkah masuk ke dalam kelas. Logat asingnya yang berwibawa terdengar samar saat dia menggumamkan sesuatu dalam bahasa Eropa Timur kepada dirinya sendiri sembari mengoreksi jadwal belajarnya.

Di barisan paling belakang lajur kiri, Aleyna Rossalind sedang bersandaran malas pada kursi kayunya dengan kedua tangan dilipat kuat di dada. Jaket kulit hitam kesayangannya hari ini terpaksa ditinggalkan di rumah, digantikan oleh seragam putih-abu-abu kaku yang sangat dia benci karena terasa membatasi ruang gerak tubuh atletisnya. Matanya yang tajam menatap bosan ke arah luar jendela kelas, memperhatikan daun-daun pohon yang bergerak ditiup angin, mengabaikan kehadiran Camellia Putri di kursi sebelahnya.

Camellia sendiri sedang sibuk merapikan hiasan gantungan kunci boneka beruang berbulu di tas ransel merah mudanya dengan wajah imut (baby face) yang tampak sangat polos, canggung, dan tidak berdosa. Tidak ada satu pun murid borjuis di kelas X-A yang akan menyangka bahwa jemari kecil Camellia yang tampak gemetar itu adalah jemari yang sama yang telah menghapus seluruh jejak digital penculikan massal mereka dari satelit pelabuhan beberapa jam yang lalu.

Pak Sutan, sang wali kelas, melangkah masuk ke dalam kelas dengan membawa tumpukan buku pelajaran matematika. "Selamat pagi anak-anak semuanya. Mari kita mulai jam pelajaran pertama kita hari ini dengan tenang. Buka buku catatan kalian masing-masing ke halaman sepuluh."

Enam gadis dunia bawah tanah itu secara serentak membuka tas mereka, mengambil pulpen biasa yang murah, dan memfokuskan pandangan mereka sepenuhnya pada diri mereka masing-masing. Labirin kaca di kelas X-A kini telah terkunci kembali dengan sangat rapi dan rapat. Mereka memilih untuk mengasingkan diri di tengah gemerlapnya dunia atas, menjaga agar topeng-topeng kepalsuan mereka tidak retak oleh kecurigaan murid-murid di sekeliling mereka, membiarkan kehidupan sekolah berjalan normal kembali tanpa ada riak konflik yang berarti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!