Saat cinta menyapa, mampukah Resti menepis rasa dendam itu?
Restina Adelia, menerima pinangan Raka Abhimana. Pernikahan mereka, hanya diwarnai pertengkaran demi pertengkaran. Suatu hari, Raka pulang dalam keadaan mabuk, hingga membuka rahasia kematian orang tua Resti.
Resti pun memutuskan pergi dari kehidupan Raka. Saat itulah, Raka menyadari perasaannya pada Resti. Mampukah Raka menemukan Resti? Bagaimana cara Raka meyakinkan Resti, bahwa hanya Resti pemilik hatinya, setelah Raka menyakiti Resti terus menerus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruth89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18 ~ Kejadian tak terduga
"Maaf, toiletnya sebelah mana, ya?" tanya Resti.
"Ah, di kamarku. Ayo, aku antar," jawab Riska.
Dahi Raka mengerut dalam mendengar jawaban Riska. Ia sangat tahu ruangan yang ada di dalam apartemen ini. Raka tak menyadari, bila Riska dan Resti sudah tidak ada di ruang makan.
Raka tersentak, saat seseorang memeluknya dari belakang. Pria itu melepaskan belitan tangan yang melingkar di lehernya. Namun, orang yang memeluknya, seakan tak ingin melepaskan Raka.
"Lepas, Ris!" ucap Raka tegas.
"Aku minta maaf, Raka. Maafkan aku. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Aku dan pria itu belum melakukan apa pun. Aku masih suci," racun Riska.
Wanita itu terisak di punggung Raka. Ia masih terus memeluk Raka dengan erat. Lelah mencoba, pria itu pun menghela napas berat.
"Apa ini alasanmu menunjukkan toilet yang ada di kamar pada istriku?" tanya Raka dingin.
"Iya. Aku tahu, kau tidak mencintai istrimu, 'kan? Kau masih mencintaiku. Benar, 'kan?"
"Kau terlalu percaya diri!"
"Aku yakin. Kau masih sangat mencintaiku. Kau memperlakukan istrimu berbeda. Akan aku buktikan, jika kau masih mencintaiku," bisik Riska.
Riska melepaskan pelukannya dan menatap mata Raka. Keduanya saling menatap tanpa berkedip. Perlahan, Riska mendekatkan wajahnya. Tanpa mereka sadari, Resti sudah berdiri tak jauh dari mereka.
Ia mengepalkan tangannya kuat. Melipat bibir dan menahan desakan air mata yang ingin berlomba keluar. Resti pun memilih kembali ke toilet. Ia ingin menenangkan dirinya lebih dulu.
Sementara di ruang makan, Raka menahan tindakan Riska. "Hentikan perbuatanmu. Aku sudah menikah. Jadi, aku tidak akan terpancing oleh tindakanmu!" ucap Raka tegas.
"Sepertinya, aku memang tidak punya tempat lagi di hatimu," gumam Riska lemah. Ia pun duduk di kursinya kembali.
Raka memilih mendekati kamar yang Riska gunakan. Meninggalkan wanita yang pernah mengisi harinya selama lebih dari lima tahun.
"Sayang, apa yang terjadi? Apa kau sakit?" teriak Raka dari luar kamar.
Kamar Riska memang sengaja tidak ditutup. Tak lama, pintu toilet terbuka. Resti berusaha tersenyum senatural mungkin. Berharap Raka tak menyadari kesedihannya.
"Mas, aku kayaknya gak enak badan. Apa aku pulang duluan aja?" tanya Resti.
"Ya, sudah sebaiknya kita pulang saja. Ayo!" ajak Raka.
"Tapi ...."
"Tidak ada 'tapi', Sayang. Ayo!" Raka menggenggam tangan sang istri.
Riska yang melihat mereka berjalan ke arah pintu keluar, menghampiri. "Kalian mau pulang?" tanya Riska.
"Iya. Maaf, aku gak enak badan," ucap Resti.
"Sebaiknya kami pulang. Terima kasih sudah mengundang kami. Lain kali, kami akan mengundangmu lagi," ucap Raka.
Raka dan Resti segera meninggalkan apartemen Riska. Wanita itu marah. Ia melemparkan semua makanan yang ada di atas meja. Membuat ruang makannya berantakan.
"Tidak! Raka hanya mencintaiku. Aku yakin itu. Dia hanya masih marah padaku!" gumam Riska.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Resti memilih menutup matanya. Tak bisa ia pungkiri, ada rasa cemburu yang membuat hatinya kembali meragu. Ia ragu, Raka tak akan tergoda pada mantan kekasihnya.
Aku takut kau berpaling padanya, Mas, gumam Resti dalam hati.
Sementara Raka, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini. Sampai mereka tiba, tidak ada yang berbicara sedikit pun. Raka lebih banyak diam, sejak mereka meninggalkan apartemen Riska.
Pria itu bahkan memilih memunggungi sang istri. Diam-diam, Resti kembali merasa sedih melihat hal ini.
Kpan lgi nie kax🥰🥰🥰🥰🥺🥺🥺🥺🥺🥺