NovelToon NovelToon
Elang Mataram

Elang Mataram

Status: tamat
Genre:Petualangan / Fantasi Timur / Pendekar / Ahli Bela Diri Kuno / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dan budidaya abadi / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Fariz Pradipta

Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.

Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 – Prahara Cinta Surodipo Dan Retno Jumini (6)

Di rumah Ki Wirojoyo, Nyai Wirojoyo nampak sedang mengurut tengkuk Surodipo yang tadi dipukul bapaknya hingga pingsan. Sang Nyai mengurut tengkuk putra sulungnya tersebut dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia memahami perasaan anaknya dan ikut menyesalkan semua yang terjadi.

Saat itu Ki Wirojoyo masuk ke kamar putranya tersebut dengan wajah merah padam, nampak jelas bahwa pria setengah baya yang bertampang gagah ini sedang menahan kedongkolan hatinya. “Berantakan semuanya!” geramnya.

“Ada apa Kangmas?” tanya istrinya dengan lembut sambil menghampiri suaminya.

“Aku sudah mengundang Kakang Pemanahan dan kerabat Selo lainnya untuk menghadiri perkawinan anak kita, untunglah mereka belum berangkat dan aku masih sempat mengirim kabar bahwa perkawinan anak kita dibatalkan! Tapi aku tetap malu! Apa yang harus aku katakan pada seluruh kerabat saat mereka tahu aku hampir berbesanan dengan seorang perampok?! Aku malu!” cerocos Ki Wirojoyo dengan nafas tersenggal-senggal karena menahan marah.

“Romo! Apakah kita harus menghancurkan sebuah keluarga yang sedang dilanda musibah?!” tukas Surodipo.

“Itu bukan musibah!” tegas Ki Wirojoyo. “Itu karma! Kau tahu siapa Siluman Serigala Kelabu? Bagaimana kekejamannya? Barangkali serigala betulan yang buas sekalipun tidak ada yang mampu menandingi kekejamannya!” tambahnya.

“Sudahlah Ngger, ikuti saja apa kata Romomu. Karena calon istrimu bukan keturunan orang baik-baik.” ucap Nyai Wirojoyo sambil mengusap bahu Surodipo.

“Ibu… Yang akan saya nikahi itu anaknya, bukan bapaknya!” rengek Surodipo.

“Tidak! Tidak! Pernikahan itu bukan cuma dengan istrimu, tapi juga menyatukan dua keluarga! Jadi tidak akan pernah ada perkawinan anakku dengan Retno Jumini, anak perampok itu!” tegas Ki Wirojoyo.

“Saya tidak sependapat dengan Romo!” ujar Surodipo yang mulai berani memelototi ayahnya karena merasa terpojokan, dan rasa kasihan pada Retno bercampur dengan rasa cintanya sehingga ia menjadi nekat menerjang apapun rintangannya.

“Apa kamu sudah gila hah?! Atau anak perampok itu punya aji gendam sukma sehingga kamu tidak punya akal sehat?!” semprot Ki Wirojoyo, “Sekali lagi kamu sebut-sebut soal pernikahan ini, kamu angkat kaki dari rumah ini!” bentak Ki Wirojoyo dengan jari telunjuk menunjuk wajah anaknya.

“Baik! Saya pergi!” Surodipo pun langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar keluar dari rumahnya.

“Surodipo! Surodipo!” panggil ibunya sambil berusaha mengejar Surodipo yang hatinya sedang kalut tersebut, “Mau kemana?! Romomu benar!” panggilnya, tapi percuma, Surodipo terus berlalu meninggalkan rumahnya.

“Biarkan saja! Jiwanya sedang terguncang, kalau sudah tenang, pasti dia akan mengakui kebenaran kata-kataku!” ucap Ki Wirojoyo sambil memegang bahu istrinya.

Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah keruh. “Tapi aku sangat malu Kakang, malu pada kerabat Selo, malu pada orang-orang desa ini. Mereka pasti akan membicarakan kita…” desah Nyai Wirojoyo.

“Jangan terlalu dipikirkan Nyai, untunglah kita tidak jadi menikahkan anak kita.” sahut suaminya.

“Sejujurnya aku juga tidak tega juga pada Retno Jumini dan ibunya, bertapa tidak adilnya menumpahkan kesalahan Ki Margoloyo pada anak dan istrinya. Tapi… Aku juga harus menjaga kehormatan keluarga kita dan kerabat Selo… Aku tidak mau nama kita ikut tercemar…” ujar Ki Wirojoyo.

***

Di halaman belakang rumah Ki Margoloyo, nampak Retno bersama Warsiah sedang bersusah payah menggali tanah untuk makam Ki Margoloyo. Retno menggali tanah dengan sekuat tenaganya untuk melampiaskan kemarahan dan dendamnya pada seluruh warga Desa Banyu Urip, sekujur luka di tubuhnya seolah tidak ia rasakan. “Tidak usah menunggu belas kasihan warga desa! Mereka terlalu jijik untuk mengubur Romo!”

Ibunya tidak menjawab, dia hanya terus menangis meratapi jasad suaminya setelah tadi ia menceritakan semuanya kepada Retno bahwa mereka sekeluarga adalah orang pelarian dari negeri Jipang. Retno yang waktu masih balita saat dibawa lari dari negeri Jipang ke Desa banyu Urip tentu saja tak tahu apa-apa. Setelah menenangkan dirinya sehabis mendengar cerita dari ibunya, Retno lalu membaca sepucuk surat yang berisi tentang semua perihal pergerakan Ki Margoloyo bersama seluruh sisa laskar Jipang, yang tadi Ki Margoloyo minta agar ia dan ibunya untuk membacanya.

Setelah membaca surat tersebut, Nyai Margoloyo pun hanya bisa menangis dan tak mampu menggerakan tubuhnya. Retno pun berbalik dan merasa kesal kepada kelemahan ibunya yang sedari tadi hanya menangis saja. “Ayo Mbok hentikan tangis itu! Bantu aku menggali jangan sampai kemalaman!” seru Retno.

“Semua ini tak akan terjadi kalau Romomu bukan perampok Ndhuk, meskipun katanya ia merampok untuk membiyai persiapan perjuangan para sisa laskar negeri Jipang. Mestinya saat-saat inilah kau merasakan kebahagiaan… Mestinya besok kau duduk bersanding dengan Surodipo di pelaminan dan menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupmu… Kini kau tak akan pernah merasakan kebahagiaan hidup selamanya… Maafkan Romomu ya Ndhuk…” rintih Nyai Margoloyo.

Retno mengangguk lemah, kemudian kembali mencangkul. “Sebagai seorang ayah, Romo tidak bersalah apa-apa Mbok. Aku tidak perlu memaafkan apa-apa Mbok! Bahkan aku harus berterima kasih karena Romo telah mengorbankan nyawa dan harga dirinya untuk melindungi kita! Jika Romo lebih memilih harga dirinya pastilah ia akan mengakui bahwa ia adalah seorang sisa laskar negeri Jipang dan merampok untuk membiayai perjuangan para sisa laskar Jipang. Jika Romo mengakui semua itu, pastilah kita tidak akan berada disini sekarang, tapi sedang digelandang di kereta jeruji besi menuju koyaraja untuk menerima hukuman dari Kanjeng Sultan!"

Nyai Margoloyo terdiam, ia sepaham dengan pendapat putrinya itu. Jika saja Ki Margoloyo jujur mengakui semuanya, barangkali mereka akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya di balik keruji besi di penjara kotaraja Pajang. Namun tetap saja, terlalu berat baginya untuk menerkma semua ini yang datangnya tiba-tiba.

Retno lalu berhenti sejenak sambil menjilati luka di telapak tangannya yang lecet akibat tidak terbiasa bekerja keras apalagi mencangkul tanah seperti ini. “Bahwa apa yang dia lakukan salah, itu perkara lain. Itu perkara Romo dengan Sang Pencipta!”

Retno kemudian mengambil sekendi air untuk melepaskan rasa dahaganya. “Tapi perlakuan tetangga kita… Yang ikut-ikutan menyiksa Romo, tidak akan bisa aku lupakan! Mereka manusia-manusia busuk yang tidak tahu berterima kasih!” Dengus Retno dengan dada dipenuhi dendam kesumat.

“Retno sudah! Nanti kalau ada yang dengar kita bisa celaka lagi!” cegah Nyai Margoloyo.

“Biar! Aku tidak takut Mbok! Aku tidak peduli kalau aku ini orang Jipang! Mau orang Jipang atau orang Pajang semuanya berhak hidup dengan layak di jagat ini!  Sekarang aku dendam pada kehidupan ini! Aku dendam dengan ketidak adilan ini!”

Dengan berurai air mata, Retno kemudian menyibakkan kain kafan yang menutupi jenasah Ki Margoloyo. “Lihat! Dengan kejamnya mereka menyiksa Romo yang sudah tidak berdaya! Mereka lupa bahwa setiap mereka butuh bantuan, mereka selalu datang ke Romo! Bahkan balai desa dan sodetan sungai untuk mengaliri sawah-sawah desa ini, Romo yang membangunnya! Orang Jipang inilah yang membangunnya!”

Nyai Margoloyo dibuat terdiam oleh cerocosan putri semata wayangnya tersebut, maka ia pun mengusap air matanya kemudian ikut menggali kubur bersama Retno dan Warsiah. Sementara bagi Retno, muncul kenangan indah bersama ayahnya di setiap ayunan tangannya untuk mencangkul, dengan bara api dendam yang semakin membara, tak henti-hentinya hatinya menyumpahi seluruh penduduk Desa.

Saat itu tiba-tiba terdengar suara yang menyapa mereka. “Biar saya yang meneruskan Mbok.” Retno, Nyai Margoloyo, dan Warsiah pun terkejut karena tidak menyadari kedatangan orang ini yang tak lain adalah Surodipo.

Retno terkejut melihat kedatangan Surodipo yang tadi siang membelanya habis-habisan dari amukan warga desa. Dia pun menghampiri pemuda yang amat ia cintai tersebut. “Kakang tidak usah kemari! Nanti terseret-seret menjadi busuk seperti kami!” ucap Retno dengan memelas.

Surodipo tersenyum, lalu memegang bahu Retno. “Aku tidak perduli! Aku ini calon suamimu Retno!”

Kemudian Surodipo pun hendak mengambil cangkul yang barusan dilepaskan Retno. “Jangan! Kamu tidak perlu mengotori tanganmu untuk mengubur seorang perampok!” cegah Retno.

“Retno benar Nakmas, ayahmu kan seorang Ponggawa Pajang yang terhormat, jangan buat malu ayahmu.” ucap Nyai Margoloyo.

Surodipo tidak jadi mengambil cangkul Retno, tapi kemudian ia merebut dengan halus cangkul Nyai Margoloyo. “Berikan cangkul itu Mbok! Kamu juga Warsiah, beristirahatlah!” kemudian pemuda ini pun langsung meneruskan pekerjaan Retno dan ibunya serta pengasuhnya. Sambil mencangkul, pemuda ini pun berusaha sekuat hatinya untuk menahan tangisnya, agar air matanya tidak jatuh. Ia sangat terharu pada keteguhan hati calon istrinya ini, tapi berusaha untuk tidak memperlihatkan air matanya sebab ia harus nampak tegar.

"Retno... Tadi aku mendengar bahwa kamu dan keluargamu ternyata orang Jipang... Dengar,aku tidak tahu apa dan siapa sebenarnya kamu ini.... Tapi yakinlah bahwa aku tetap mencintaimu setulus hatiku Retno." bisik Surodipo sambil mencangkul, yang membuat Retno menangis terharu.

Beberapa warga Desa yang lewat nampak mengintip kejadian di belakang rumah Ki Margoloyo tersebut, mulut-mulut usil mereka pun mulai bersuara. “Aahhh Putra Sulung Ki Wirojoyo itu benar-benar sudah kasmaran! Sampai tidak perduli lagi bahwa perawan yang digandrunginya itu anak rampok!”

“Mungkin anak rampok itu punya Aji Gendam Sukma sampai anak Ki Wirojoyo itu tergila-gila, sampai lupa kalau gadis itu anak rampok!” ejek warga lainnya.

“Benar, kalau bapaknya tahu sudah diusir dia!” sahut yang lainnya.

“Pantas dia jadi kembang desa ini, wong dia punya ajian Gendam Sukma! Anak gadisku itu menyukai anak Ki Wirojoyo itu, tapi si Surodipo malah tergila-gila pada anak rampok itu! Kayanya sih dia dipelet!” tuduh seorang ibu-ibu yang anak gadisnya menyukai Surodipo tapi ditolak karena Surodipo menyukai Retno Jumini.

Mulut-mulut usil demikian terus berkicau sampai Surodipo menyadari mereka sedang diintip. Menyadari Suridipo yang mengetahui keberadaan mereka, mereka semua pun bubar dengan terus menggunjing Retno dan keluarganya.

1
baca yg gue suka
kok muter2 gak karuan.
lawan jadi kawan, mau berantem gak jadi. maunya gmn nih?
baca yg gue suka
siapa yg terjebak?
kok malah macet gak nemu ujung pangkalnya
baca yg gue suka
niatnya memancing, knp justru terpancing?
mau mengusut perkara malah disudutkan.
ni namanya terperosok ke lubang sendiri🤣🤣
baca yg gue suka
dikasi hati minta jantung.
pantasnya ngadep laja nelaka😄
Cunomo Cucun
sudah masuk perangkap syetan.
baca yg gue suka
wedus gembel ikutan bantu perang
Feri Fernando
Aryo Pangiri memang kebelinger
Riszal Purbaya Abdi
kerennn
Thomas Andreas
bagus
Lilik Muliyadi
perang antar manusia
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
Ulun Jhava
Jebak menjebak nmax inj😂
Ulun Jhava
Paham kan sekarang benowo??
Ulun Jhava
Laki laki mmg panembahan senopati👍👍
Ulun Jhava
Senopati panembahan mmg the legend selain sakti jg cerdik ditambah sang pama ki martani,.tambah kuat mataram
Ulun Jhava
Raden ronggo congkak egois tapi hatix lembut👍👍keren kau calon raja mataram selanjutx
Ignatius Sumardi
Luar biasa
FPS: Terima kasih 🙏😊
total 1 replies
Esther M
.matur nuwun mas fariz🙏🙏
FPS: Sama2 🙏😁
total 1 replies
Windy Veriyanti
waosan ingkang saè 👍👍👍
matur nuwun 🙏🌷
Windy Veriyanti: senang sekali membaca fiksi berlatar belakang sejarah kerajaan di Tanah Jawa 👍

semoga next ada cerita yang berlatar belakang Kerajaan Padjajaran di era Prabu Siliwangi atau Kerajaan Singhasari di era Prabu Kertanegara 🙏
total 2 replies
Dikjo Ucluk
buat sejarah bsru thor
wahyu hidayat
mantap thor, baru baca di 2024.
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali
FPS: iya dari Babad Tanah Jawi & Serat Kanda
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!