Kehidupan setelah menikah pasti bahagia menurut sebagian orang karena adanya cinta. Namun, tidak dengan kenyataan yang justru akan banyak ujian dan juga konflik yang terjadi setelah menikah. Seperti Dinda, yang kehidupan rumah tangganya begitu menyedihkan. Rey, suami yang tak berguna karena tidak bisa di andalkan baik dalam materi atau perhatian Rey, yang hanya bisa memberikan uang sedikit untuk kebutuhannya juga anaknya. Saat di minta uang Rey, selalu bilang tidak punya hingga Dinda, harus meminjam uang pada teman dan tetangganya. Tidak hanya dalam masalah uang Rey, juga tidak perhatian pada Dinda, juga anaknya. Saat anaknya sakit dan Dinda, meminta uang untuk biaya rumah sakit Rey, hanya bilang 'Nanti ku telepon lagi' itu saja yang Rey, ucapkan tanpa rasa khawatir. Rey, suami yang tak berguna juga pelit tetapi Rey, berani royal pada wanita lain.
Bagaimanakah cara Dinda, menghadapi Rey, suami yang tak berguna? Konflik apa lagi yang terjadi pada rumah tangga mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 ( Akhir Keputusan Sidang )
Semalam sebelum sidang
Syena, terus menangis entah sedang merasa kesakitan atau merasa lapar Dinda, pun tidak tahu. Yang jelas Syena, tidak sakit atau pun lapar. Syena, terus memanggil nama pa-pa. Dinda, sangat gelisah karena tangisan Syena tak kunjung mereda.
Tiba-tiba Dinda, kembali teringat Rey apa mungkin Syena, merindukan papanya. Dan Dinda, berpikir alangkah lebih baiknya dia menemui Rey. Namun Dinda, ragu karena hatinya enggan dan masih bimbang ketika harus bertemu Rey. Dinda, pun takut jika Rey, akan mengambil Syena.
"Dinda, apa yang terjadi pada Syena? Kenapa Syena, menangis? Apa dia demam." Asih, yang mendengar suara tangisan cucunya merasa khawatir dan langsung memasuki kamar Dinda.
"Aku juga tidak tahu Bu. Badannya tidak demam dan Dinda, sudah membuatkannya susu tapi malah di lempar. Dinda tidak tahu apa yang di rasakan Syena," jelas Dinda, yang terus memeluk Syena.
Tangisan Syena, semakin keras membuat Dinda khawatir apa lagi hari sudah malam.
"Ya ampun sayang kamu kenapa?"
"Jika badannya tidak demam dan tidak lapar. Berarti Syena merindukan seseorang." Kata Asih, yang mengelus Syena.
"Seseorang!"
"Ya, mungkin Syena merindukan papanya. Atau Rey, yang merindukan Syena. Itu sebabnya Syena, menangis."
"Itu perasaan Ibu saja." bantah Dinda.
"Justru karena perasaan seorang Ibu lebih tahu. Dinda, biarkan Syena bertemu papanya. Jangan biarkan masalah kalian menyiksa Syena. Syena tidak bersalah dan tidak tahu masalah orangtuanya, buanglah egomu di saat seperti ini. Syena, membutuhkan Rey, papanya."
"Maksud Ibu Dinda, harus menemui Rey. Ini sudah malam tidak baik untuk Syena."
"Jika begitu hubungi Rey, untuk datang kemari."
"Ibu!"
"Kenapa? Kamu tidak ingin menghubungi Rey. Jika kalian berpisah apa yang akan terjadi pada Syena. Apa kalian akan membuat Syena tersiksa. Jika kalian tidak bisa membahagiakan Syena, lebih baik tidak usah bercerai."
"Ibu!"
"Tundalah perceraiannya hingga Syena, tumbuh dewasa. Syena bukanlah boneka yang harus di perebutkan. Kalian punya masalah bukan berarti kalian harus mengabaikan putri kalian."
"Apa yang Ibu tahu tentang itu. Apa saat aku kecil Ibu memperhatikanku. Saat aku meminta ayah pulang apa Ibu menghubunginya dan meminta padanya untuk menemuiku. Dinda, juga sangat tersiksa Ibu karena perceraian kalian."
"Jika kamu tersiksa karena itu seharusnya kamu tidak melakukan hal yang sama pada Syena. Itu sebabnya kenapa Ibu tidak menginginkan kamu bercerai dengan Rey. Ibu tidak ingin Syena, tersiksa karena kedua orangtuanya." Asih, berlalu pergi meninggalkan kamar Dinda. Dinda, tertegun dan merenung setelah mendengar perkataan Asih.
Setelah lama berpikir akhirnya Dinda, memutuskan untuk menemui Rey. Pada malam hari pukul 8 malam dan Dinda, memutuskan untuk membawa Syena. Walau pun Asih melarang Dinda, untuk membawa Syena, namun Dinda, tetap kekeh membawanya.
"Alangkah baiknya Syena, tidak ikut ini sudah malam."
"Tidak apa, Dinda bisa menjaganya. Mungkin Syena, sangat merindukan papanya. Lagi pula ada yang Dinda, ingin bicarakan dengan Rey."
"Apa tentang perceraian. Apa kamu akan rujuk?"
"Itu sebabnya Dinda, butuh bicara dengan Rey. Dinda, pergi dulu Bu."
Dinda, pun pergi menaiki taksi membawa Syena, dalam gendongannya. Malam yang dingin menusuk-nusuk ke dalam tubuh. Dinda, melindungi Syena, dengan pelukannya agar udara dingin itu tidak menembus kulit tubuhnya. Anehnya Syena, mulai tenang dan tidak menangis saat tahu Dinda, akan membawanya pergi menemui Rey. Mungkin inilah yang di sebut ikatan batin antara ayah dan anak mereka sama-sama merindukan.
Begitu pun dengan Rey, yang juga merindukan Syena.
"Kenapa kamu melamun, apa kamu memikirkan persidangan besok?" Velove, memeluk Rey, dari belakang membuat Rey, tersadar dari lamunannya.
"Aku merindukan putriku."
"Sabarlah dulu. Karena nanti putrimu akan selalu bersamamu."
"Kamu yakin. Bagaimana jika aku tidak bisa mendapatkan hak asuh itu."
"Jika kamu tidak bisa mendapatkannya. Aku yang akan memberikannya." Velove, memutar badannya berdiri di hadapan Rey, yang bergelayut manja.
"Aku masih bisa memberikanmu anak," bisik Velove, yang mulai mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan bibirnya.
"Velove, hentikan. Jangan melakukan kesalahan lagi aku takut tidak bisa mengendalikan diriku." Rey, melepaskan ciuman Velove, dan menjauhkan tubuhnya. Takut jika tubuhnya berdekatan tidak akan bisa mengendalikan hasratnya.
"Kamu takut aku hamil. Kalau begitu aku ingin kamu segera menikahiku."
"Velove," ucap Rey, terhenti saat Velove, ******* bibirnya dengan paksa.
Velove, terus memimpin pertempuran gerakannya begitu cepat membuat Rey, yang awalnya menolak kini menikmatinya. Hingga kegiatan mereka berakhir panas. Keduanya saling menarik, dan *******. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat. Mata itu memancarkan amarah dan kebencian Dinda, yang baru saja sampai di depan rumah Rey, merasa terkejut dan hatinya begitu perih saat melihat adegan panas yang Rey, lakukan.
Tanpa terasa bulir air mata mulai menetes dan jatuh membasahi pipi Syena, yang kini tertidur pada pangkuannya. Hatinya begitu sesak sangat sesak.
"Seharusnya aku tidak datang kesini. Bodohnya aku sampai akan mengajaknya rujuk. Seharusnya aku tidak pernah memikirkan itu." Dinda, membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat Dinda, teringat sesuatu. Dinda, berbalik dan kembali membuka pintu walau berat dan sesak melihatnya namun Dinda, tidak boleh menyia-nyiakan kesempatannya. Dengan segera Dinda, mengambil ponselnya mengangkatnya dengan tangan gemetar. Dengan bersembunyi Dinda, berhasil merekam kegiatan panas itu.
"Aku sudah tidak tahan lagi," ucap Dinda, yang mematikan ponselnya lalu melangkah pergi dari rumah Rey. Dengan air mata yang luruh jatuh membasahi pipinya. Dinda, berjalan yang terus memeluk Syena, dalam pangkuannya.
****
Keesokan paginya Dinda, memberikan rekaman itu pada pengacara yang sudah di salin ke dalam sebuah flashdisk untuk di jadikan bukti.
"Apa ini?" tanya pengacara saat Dinda, memberikan flashdisk nya.
"Itu bukti. Bukti baru yang ku dapatkan. Berikan bukti itu pada Hakim dan Jaksa aku yakin dia tidak bisa mengelak lagi."
"Apa ini berisi rekaman?"
"Ya. Dan aku ingin kamu mengatakan wanita yang selama ini menjadi selingkuhannya adalah asistennya di kantor. Katakan itu pada Hakim. Aku yakin wanita itu pasti datang dia selalu datang menemaninya saat sidang."
"Apa wanita yang kemarin berdebat denganmu?"
"Ya. Namanya Velove, aku ingin kamu tunjuk dia beritahukan namanya pada semua orang jika dia wanita yang telah merebut suamiku. Dan pastikan hak asuh jatuh padaku."
"Aku harus melihat video ini sebelum sidang di mulai. Agar aku tahu apa yang harus aku lakukan sebagai pengacaramu nanti."
"Silahkan lihatlah, aku harap kamu tidak akan sesak nafas saat melihatnya." Pengacara itu mengerutkan keningnya saat Dinda, mengatakan itu.
Dan akhirnya bukti itu menguatkan tuduhan Rey, yang memang berselingkuh.
30 menit sudah berlalu kini semua orang kembali hadir untuk melanjutkan sidang. Rey, terlihat tegang dan khawatir menunggu keputusan Hakim dan Jaksa.
Tapi tidak dengan Dinda, yang terlihat tenang. Karena Dinda, yakin hak asuh akan jatuh padanya.
"Keputusan dan alasan penggugat di terima. Penggugat menggugat cerai tergugat karena tergugat berselingkuh dengan ini kami menyatakan hari rabu tanggal 14 juli 2022 saudara Reynard Adiputra dan saudara Dinda Anindita resmi bercerai," ujar Hakim di iringi dengan ketukan palu.
Dinda, bernafas lega sedangkan Rey, hanya diam tanpa ekspresi selain menatap Dinda, di sampingnya.
"Selain menggugat cerai penggugat juga menggugat hak asuh anak. Sesuai ketentuan KHI pasal 105 yang berbunyi 'Jika anak yang di bawah umur atau belum berumur 12 tahun. Sepenuhnya akan jatuh ke pihak ibu. Jadi saudara Dinda, sebagai penggugat juga sebagai ibu dari anak yang bernama Syena, berhak menerima hak asuh."
Dinda, bernafas lega dan tersenyum bahagia. Lalu matanya melirik tajam ke arah Rey, yang kini menatapnya.
...----------------...
Luar biasa keputusan sidang yang memuaskan. Like dan komentarnya jangan lupa ya
Dari tokohnya juga sangat mengisnpirasi untuk tetap sabar dalam menjalani cobaan.
enak skli laki2 kyk gitu sllu main perempuan trus punya anak2 di mna,
bayakin cerita dinda sma willy dong thor
males cerita.rey mulu