NovelToon NovelToon
Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda

Status: tamat
Genre:Anak Yatim Piatu / Tamat
Popularitas:12.5M
Nilai: 5
Nama Author: Senjahari_ID24

Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.

Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?

Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.

"Dua ratus juta!"

"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.

Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.

Ikuti kisahnya.

Jangan plagiat! Ingat Azab

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Madu dan Racun

Bab 18. Madu dan Racun

Adzan Magrib berkumandang sudah sekitar lima menit lalu ketika Yudhis sampai di kediamannya. Berderap berlari begitu turun dari kendaraannya, hendak membersihkan diri secepat mungkin kemudian menunaikan solat Magrib.

Huniannya merupakan, sebuah bangunan satu lantai bercat abu-abu dipadu putih bergaya minimalis yang tidak terlampau besar. Mencakup sekitar empat ratus meter total luas lahannya jika diukur dengan garasi dan taman berukuran mini di bagian samping.

Bukan rumah mewah, lebih pada kategori hunian kelas menengah, tetapi estetik, serasi, bersih dan rapi. Fasilitas di dalamnya pun terbilang lengkap untuk seorang bujangan, walaupun tidak selengkap seperti kediaman orang tuanya di Bali, yang berdiri di atas lahan seribu meter dengan luas bangunan kira-kira dua kali lipat dari rumah ini serta berlantai dua.

Selesai menunaikan kewajiban lima waktunya, Yudhis menuju meja makan dan bersegera mengisi perut laparnya dengan makanan yang dibelinya dari drive thru fast food tadi, lantaran selepas isya nanti dia berniat pergi ke rumah Ghaisan.

Ditengah-tengah kunyahan makanannya, Yudhis terpaku sejenak pada pembungkus makanan yang sedang disantapnya, teringat pada si bocah lucu yang menyebut kemasan itu sebagai mainan.

“Memangnya pembungkus ini amat lucu dan menarik bagi anak-anak?” gumamnya, meraba permukaannya bersama kedua birai bibirnya yang terangkat ke atas mengukir bulan sabit.

Sejumput rasa tak biasa merasuk dalam dada, menaruh burger yang baru disantap setengahnya. Semula merasa lucu, tetapi mendadak saja kerongkongannya kelat tercekat, dadanya pun ikut sebah.

“Apa ibunya enggak memiliki cukup uang untuk membeli mainan yang layak buat anaknya? Sampai-sampai bocah itu begitu posesif hanya pada seonggok kardus makanan yang lumrahnya dibuang ke tempat sampah,” ujarnya sendiri, terdengar sedih, merasa prihatin.

“Ke mana suaminya? Sudah dua kali gak sengaja ketemu, wanita muda itu berkeliaran hanya berdua saja dengan anaknya. Apa dia seorang ibu tunggal? Mungkinkah dia hamil di luar nikah sehingga di usia mudanya sudah memiliki anak balita?” tanyanya pada udara kosong yang memenuhi ruangan, benda tak kasat mata yang hanya membisu tak mampu memberi jawaban.

Berbagai prasangka mendadak bercokol di kepalanya. Namun, lamunannya buyar begitu ponsel di kamarnya berdering nyaring, siapa lagi yang menghubungi kalau bukan Ghaisan.

*****

“Hari ini Mas Dion pulang, aku masak apa ya buat makan malam nanti? Sekalian menyambutnya pulang.”

Keceriaan tergambar jelas di wajah Khalisa, sedari bangun tidur hingga tengah hari tak henti-hentinya mengukir senyum. Seluruh rumah mulai dari teras hingga dapur sudah dibersihkan sampai mengkilap. Baju-baju sudah rapi disetrika. Seprai di kamarnya diganti dengan yang bersih, tak lupa daster ruffle baru pemberian Windy sudah dicuci tadi pagi dan disetrika begitu kering, untuk dipakai sore nanti.

Membuka kulkas, Khalisa memeriksa beberapa bahan makanan tersisa. “Kayaknya bikin nasi kuning kesukaan Mas Dion bisa nih, manfaatin bahan-bahan yang ada buat lauknya, cuma enggak pakai ayam goreng saja.”

Penuh semangat, Khalisa mengeluarkan semua bahan dari lemari pendingin. Beras dicuci kemudian dibumbui. Enam butir telur direbusnya untuk dibuat telur balado, sepapan tempe yang dibelinya tadi pagi diiris kecil-kecil dan digoreng kering hendak dimasak menjadi tempe kering manis. Sisa-sisa sayur mayur mentah dibuat urap sederhana, lima buah mentimun dicuci bersih bersama bahan sambal sebagai pelengkap. Tidak ketinggalan Khalisa juga menggoreng kerupuk untuk teman makan nasi kuning nanti.

Ia lupa akan rasa lelah setelah berbenah menghabiskan separuh hari terang, memasak penuh sukacita sambil bersenandung gembira. Tak jauh darinya, Afkar asyik memainkan bekas pembungkus makanan kemarin, duduk beralaskan tikar bersih di dapur. Si mobil-mobilan super mini hadiah ciki yang biasa dimainkan Afkar pun tersingkir pamornya oleh si kertas karton berwarna merah kuning itu, kentara sangat gembira sembari beberapa kali berceloteh riang pada bundanya, mengatakan dia amat senang.

“Unda, Af nanti boyeh beyi ini yagi endak? Ini Bagus,” ujarnya riang, mengangkat tinggi-tinggi benda yang disukainya.

Menoleh sekilas, Khalisa terkekeh sama riangnya dengan sang anak. “Boleh dong, nanti kalau Bunda punya uang lagi, kita pergi ke sana lagi.”

Usai dengan acara memasak, Khalisa membasuh teliti setiap inci tubuhnya, dari ujung kepala hingga kaki. Menyisir rambutnya rapi, ia kemudian mengganti bajunya dengan daster baru. Sang anak pun sudah dimandikan. Tak kalah rapi, tak kalah wangi. Dalam rangka menyambut suami juga ayah dari anaknya pulang setelah tiga hari bepergian jauh.

“Af, duduk dulu di sini ya. Bunda mau ke dapur sebentar, mau siapkan teh tubruk kesukaan ayah biar seger. Kasihan ayah nyetir jauh, pasti capek pas pulang ke rumah.”

Afkar mengangguk-angguk patuh. “Iya, Unda. Tapi mau yihat Mail,” celotehnya, menunjuk letak televisi.

“Siap, anak ganteng.”

Menaruh remot setelah memindahkan saluran pada siaran kartun kesukaan anaknya, Khalisa beranjak ke dapur mengambil teko poci kecil. Satu sendok daun teh kering dimasukkan ke dalamnya sebelum dituang air mendidih. Menghasilkan sepoci teh panas yang menguarkan aroma harumnya ke seluruh penjuru ruangan.

Bunyi pintu garasi yang didorong juga suara gaduh Dania menarik Khalisa menyudahi urusan Khalisa di dapur, berlari kecil ke bagian depan rumah dan tergopoh-gopoh membukakan pintu.

“Selamat datang, Mas,” ucapnya manis dan ceria. Senyumnya mengembang bak sekuntum bunga baru mekar menghiasi paras ayunya.

Dania masuk lebih dulu tanpa membalas salam maupun menyapa Khalisa, disusul ibu mertuanya beserta seorang wanita hamil yang berdiri di samping Dion berhenti di ambang pintu.

“Eh, ini siapa? Pasti saudara ibu dari Cilacap, ya?” sapa Khalisa ramah pada si wanita hamil yang baru kali ini dilihatnya.

“Khal, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, penting,” kata Dion tiba-tiba, nada bicara juga mimik mukanya datar. Sangat kontras dengan ekspresi Khalisa.

“Mas kan baru datang. Kita bisa ngobrol nanti malam. Masuk dulu saja, pasti capek sehabis nyetir jauh. Aku sudah siapin teh tubruk sama nasi kuning kesukaan Mas.” Khalisa belum tanggap situasi, masih tersenyum manis.

“Enggak bisa ditunda sampai malam, Khal. Kita harus bicara sekarang,” tukas Dion cepat, yang kini meraih dan menggenggam tangan Amanda di depan Khalisa yang perlahan mengerjap bingung.

“Memangnya, mau ngo-ngomong apa, Mas?” Khalisa mulai menangkap atmosfer keanehan di sini. Terlebih saat menyaksikan Dion merangkumkan jemari dengan si wanita hamil yang dari tadi tersenyum lebar di depannya.

“Biar Manda masuk dulu, kasihan lagi hamil kalau lama-lama berdiri. Kita bicara di dalam, Khal,” jawab Dion kemudian.

Benaknya bertanya-tanya. Melihat bahasa tubuh suaminya yang berbeda, senyum di wajah Khalisa surut dalam hitungan detik, mulai mengendus hal tidak beres. Menelan ludah ia bermaksud membuka suara lagi, akan tetapi Wulan yang tampak geram akan basa-basi Dion menyambar lebih cepat.

“Ini Amanda, istrinya Dion juga, sedang hamil enam bulan dan akan tinggal di sini mulai hari ini. Kamu harus baik-baik sama dia, Manda ini anak bosnya Dion. Sosok yang paling cocok mendampingi anakku, bukan kayak kamu yang melulu membawa malu!”

Bersambung.

Note:

Bagi yang ingin tahu orang tua dan asal-usul Yudhistira, wajib baca novelku yang berjudul 'Istri Arjuna', supaya lebih paham dengan alur kelanjutan kisah 'Suci Dalam Noda' ini nantinya.

Selagi menunggu update, baca juga ceritaku yang lainnya di Noveltoon. Selamat membaca 💜.

1
Icha Arlita
keren pokok nya
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Icha Arlita
ga pernah banyak komen pokok nya cerita yg amat sangat menarik 👍👍
Icha Arlita
di bacanya ada kesel nya ada seneng ada terharu nya paket komplit, tp banyak greget ny
Icha Arlita
tolol tolol 🤦
Mini Amora
🩷🩷🩷
Mini Amora
Terima kasih tuk karya indahmu thor🩷
Mini Amora
abang Yudhis... pas bgttt kan momentnya tuk nikahin khalisa🤭
Mini Amora
masyaAlloh... papi Barata bijak bgttt.
Mini Amora
ouhhhhh... ternyata akhirnya Maharani hamil toh.. syukurlah jadi Barata punya 2 jagoan... yudhistira & erlangga
Mini Amora
erlangga anak kandung Barata??

apa Barata nikah lagi yaa thor?
kan Maharani mandul...
Ida Setiarti
lope lope sekebon bunga 🥀🥀🥀🌹🌹🌹🌹🌹🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Nur Inayah
aku jadi kangen baca lagi kisah Brama dan Selena🤭🤭
Lyana: bacanya dimana kak?
total 1 replies
Nur Inayah
aku udah baca ini entah yg keberapa kali, tetep aja candu dan gak pernah bosan, semua karya kak senja emang secandu itu🥰🥰
citra marwah
Aku udh baca yg kedua kali nya....tapi masih kurang huhuhuhu suka bgt dengan sikap dan sifat yudistira....senang juga dengan Khalisa yg skrg,kasihan dengan yg dlu...
citra marwah
hahahhahahahhaha pengen jdi khalisa yg sekarang bukan yg dulu😁
citra marwah
Cah gemblung gawe kaget ....syafa syafa
citra marwah
hahhahaha geli sendiri ya khal klo ingat itu pria nyuci cd😹
Hari Saktiawan
lope lope bang Yudis
Andy Mauliana
mengsedih
Andy Mauliana
Hanya ada nopel2 ya ges
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!