NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa / Tamat
Popularitas:824.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII

Seasons 1:

Gara-gara kesalahannya yang tidak membawa helm saat berkendara. Ceisya, harus terjebak jaring razia yang membuatnya berpikir keras. Di satu sisi Ceisya tidak keberatan kalau mendapat hukuman. Tapi, di sisi lain dia tidak mau berhadapan dengan Dosen killernya yang terkenal seantero kampus. Berkat usahanya yang keras akhirnya dia bisa lari dari hukumannya.

Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka?


Seasons
2 (kisah tentang anak Ceisya & Zafran) :


Judul Novel: (Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Saat ini Ceisya sedang bersama Rikzi. Adiknya mengirim pesan dan menanyakan keberadaannya. Tidak ingin membuat adiknya mengoceh, Ceisya segera menemuinya.

"Kau kemana saja, Kak? Tidak tersesat kan?" ledek Rizki membuat Ceisya mendelikkan matanya.

"Kau pikir aku ini buta?" Ceisya memicingkan matanya sebelah.

"Kau tidak mau melihat lomba selanjutnya, Kak?" tanya Rizki mengalihkan pembicaraan.

"Apa?" kepo Ceisya.

"Memasak. Kebetulan nanti aku yang akan mengawasi jalan perlombaannya dan ada beberapa Guru yang mendampingi." jelas Rizki membuat Ceisya sedikit tertarik dengan tawaran adiknya itu.

"Aku ikut!" jawab Ceisya cepat membuat Rizki tanpa sadar mengacak rambut Kakaknya gemas. Perlakuan Rizki bukanlah hal yang asing bagi Ceisya. Adiknya itu suka sekali mengacak rambutnya saat gemas dengan tingkahnya.

Saat akur mereka sudah seperti pasangan sejoli. Tapi, saat bertengkar, jangan salah. Rizki akan berteriak histeris saat mendapat perlakuan dari Kakaknya.

Secepat mungkin Rizki merapikan anak rambut Ceisya yang terlihat berantakan saat mendapatkan tatapan tajam. Siapa lagi kalau bukan tatapan Ceisya.

"Kak, kau sudah makan?" tanya Rizki.

"Sudah."

"Syukurlah. Aku kira kau belum makan. Aku takut nanti cacing di perutmu akan mendemo."

Sesaat kemudian Rizki mengaduh kesakitan sambil memohon agar Ceisya melepaskan tangannya dari perutnya.

"Sakit, Kak." adu Rizki sambil meringis memegang perutnya.

Melihat adiknya menderita, Ceisya hanya tertawa lepas.

Ceisya dan Rizki sekarang duduk di kursi. Di depan mereka sudah ada beberapa kelompok perserta yang memakai celemek. 1 kelompok terdiri dari 4 orang.

Di depan sana sudah ada 5 regu kelompok yang berasal dari sekolah lain termasuk regu kelompok SMA Gading Kelapa. Mereka mewakili sekolahnya dan berharap membawa harum nama sekolah mereka.

Ceisya dan Rizki duduk bersebelahan tepatnya di kursi tengah barisan kedua. Sedangkan yang menduduki kursi barisan pertama adalah para juri.

Pandangan Ceisya dan Rizki ternyata satu sasaran. Yaitu kepada sesosok gadis yang berdiri di antara teman kelompoknya. Bedanya jika Rizki menatapnya dengan kagum, sedangkan Ceisya menatapnya dengan intens. Memastikan dirinya tidak salah duga. Tapi, dugaannya memang tidak salah. Ceisya mengingatnya. Mengingat paras ayu gadis itu sewaktu malam itu.

Sedangkan yang menjadi sasaran malah tidak menyadari karena baginya keberadaan mereka semua sudah menjadi pusat perhatian banyak orang.

5 menit lomba akan dimulai, Rizki pamit kepada sang Kakak untuk mengawasi jalannya perlombaan. Dia harus memastikan semua peserta sudah siap termasuk regu dari sekolahnya.

Rizki melangkahkan kakinya mendekati peserta dari sekolahnya.

"Sudah siap semuanya?" tanya Rizki ramah membuat mereka kaum hawa terpesona. Kelompok dari sekolahnya terdiri dari 1 laki-laki dan 3 perempuan.

2 orang kelas 10 dan masing-masing 1 orang dari kelas 11 dan 12.

"Sudah, Kak." jawab kedua remaja perempuan sambil tersenyum menikmati pemandangan gratis di depannya. Sedangkan yang satunya terlihat biasa-biasa saja. Dia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai respon.

"Semangat ya! Kalian pasti bisa. Ini semua demi menjunjung nama baik sekolah kita." ujar Rizki sambil matanya terus melihat sesosok gadis yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya.

"Kalian bersiaplah. Lomba akan segera dimulai." Rizki melihat jarum jam di tangannya kemudian dia melangkahkan kakinya sedikit menjauhi area lomba.

"Rizki, bagaimana? Apakah semuanya akan berjalan lancar?" tanya seorang Guru perempuan saat melihat lomba tersebut telah dimulai 10 menit yang lalu.

"Insya Allah, Bu. Semua akan berjalan dengan lancar. Kita berdo'a saja supaya regu dari sekolah kita menang." jawab Rizki.

"Iya. Sekolah juga berharap itu. Yasudah, Ibu pamit dulu mau memantau acara yang lainnya."

"Baik, Bu." jawab Rizki memandang sang Guru berlalu meninggalkan area lomba memasak.

Rizki berdiri di sisi tenda plafon tempat juri yang berukuran sekitar 4×6 meter sambil memegang susunan agenda acara perlombaan.

"Amel, periksa makanannya apakah sudah matang atau belum." pinta seorang laki-laki yang satu regu dengan Amel.

"Iya, Kak." jawab Amel kemudian memeriksanya. "Sepertinya sudah matang, Kak." ujar Amel saat sudah selesai memeriksanya.

"Baiklah. Tolong matikan kompornya."

Amel menurut, dia segera mematikan kompor yang masih menyala.

Regu kelompok mereka juga membuat kue. Itu semua resep dari Amel. Soal rasa jangan diragukan lagi karena Amel sangat ahli dalam membuat kue.

Tidak terasa waktu yang diberikan telah habis. Mereka semua bernafas lega akhirnya selesai dengan tepat waktu.

"Amel, itu..."

Amel mengangkat wajahnya. "Kenapa, Kak."

"Maaf." selesai dengan kata maafnya, David mengulurkan tangannya menyentuh pipi Amel dan mengusapnya.

"Ada tepung di wajahmu. Jadi, aku hanya ingin membersihkannya saja." ujar David menjelaskan sebelum Amel marah kepadanya karena telah lancang.

Amel yang tadinya ingin marah dia urungkan karena melihat sorot mata David yang menunjukkan kejujuran.

"Terima kasih, Kak." ujar Amel.

"Sama-sama. Oh iya, jangan panggil aku Kakak. Kita itu seumuran lagi pula kita juga satu tingkatan."

"Baiklah, D-david." ucap Amel sedikit kaku menyebutkan nama David.

"Good." puji David tanpa sadar menyacak rambut Amel gemas sambil tersenyum. "Eummm...maaf, Mel. Kelepasan." ujar David sambil menghentikan tangannya.

"Tidak apa, Kak. Lain kali jangan ulangi." cetus Amel yang sedikit risih saat lawan jenis menyentuhnya.

"Iya, Mel. Aku minta maaf sekali lagi."

Amel hanya berdehem. Matanya memandang ke arah depan dimana para juri tengah meneliti masakan mereka semua dan mencicipinya. Netra matanya terhenti saat melihat sesosok pemuda yang berdiri sambil memegang sebuah kertas yang tengah menatapnya juga.

Sorot matanya begitu tajam seolah-olah menunjukkan ketidaksukaannya melihat seorang gadis yang disentuh oleh laki-laki lain. Sesaat kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Amel dan teman-temannya juga peserta yang lain berdiri di depan meja mereka sambil menunggu para juri selesai dengan aktivitasnya.

"Baiklah, semuanya. Mengingat acara lomba ini telah selesai, kalian semua sudah boleh beristirahat. Dan untung pemenangnya nanti akan di umumkan di akhir acara bersamaan dengan pengumuman lomba yang lainnya. Terima kasih atas partisipasinya untuk hari ini. Semuanya sudah boleh bubar...dan ya, jangan lupa bereskan kekacauan yang telah terjadi." ujar Rizki sang Ketua Osis yang berbicara melalui mikrofon. Dia berdiri tepat di tengah-tengah antara peserta dan para juri.

Begitu diberi intruksi, mereka semua membubarkan diri masing-masing. Kini hanya tinggal regu dari SMA Kelapa Gading yang masih berada di tempatnya.

"Amel, kami duluan ya." pamit dua orang gadis yang menjadi partnernya.

"Iya."

"Amel, selanjutnya kau mau kemana?" tanya David.

"Mungkin aku akan ke kelas sebentar menemui teman-temanku." jawab Amel.

"Mau bareng?" tawar David.

"Tidak. Terima kasih atas tawarannya, David. Kau duluan saja. Aku ada urusan sebentar." ujar Amel sedikit berbohong.

"Baiklah, Mel. Aku tidak akan memaksa. Kalau begitu aku duluan." jawab David pasrah sambil meninggalkan tempatnya.

1
Nhierwana Bundanya Al
bab ini q ngerasa baca di ulang2
Dewi Kasinji
ijin baca kak
JANE ARDIANA
Luar biasa
JANE ARDIANA
Lumayan
Zahra Nadira
aku ktwa dibagian ini ,🤣🤣🤣🙏
Dilalisa Lisa
Biasa
Dilalisa Lisa
Kecewa
Dela Sapitri
Masya Allah👍
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜
pedagang berkaki lima,,maksudnya pedagang kaki lima ya kak??😂
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜: ampun dah 😂
ok lanjut baca
total 2 replies
Trisna Savitri
babag tamvan 🥰🥰🥰🥰
Santy Susanti
bari berapa ban udah suka sama alurnya semngat i
yustina arie
Luar biasa
Irfan Nona Vanessa
menarik😍😍😍
Bungsu_Fii: makasih udh mampir kak🤗 semoga suka 🥰
total 1 replies
Eka Kurniawati
😘😘😘
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Tri Susanti
wkwkwkw.... kapan thor disatuin mereka udah gak sabar
Tri Susanti
lanjut thor
Lena Kasenda
thoor masa selama Ceisya di rawat sampai sdh pesantren pacarnya yg polisi tdk ada kabar
Bungsu_Fii: hehe, itu ceritanya om polisi lagi nugas kak dan waktunya cukup lama 🙏🏼
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!