Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.
Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Menghilangkan gundah
Gambar yang telah dikirim oleh Clarenza tidak begitu saja terhapus. Aku masih menunggu satu hari lagi ketika orang-orang mulai masuk kerja dan meminta redaksi majalah itu mencabut gambarku dari ikut serta lomba.
Rasanya begitu lama menunggu esok hari. Seandainya clarenza tidak menarik kembali gambar yang telah dikirim aku harus merelakan. Ya aku harus mengikhlaskan gambarku itu.
"Heeee serius sekali. Kamu lagi mikirin apa sih, kayak nenek-nenek kehilangan segempol uang aja." Elin menyadarkanku dari lamunan.
"Aaaaah kakak mengejutkan saja. Menunggu gambarku ditarik lagi dari lomba itu."
Elin menolak aku mengatakannya mengejutkan diriku, "Bukan mengejutkan tapi kamu suka melamun. Anak itu belum melakukan juga, menarik gambar kamu?" Elin serius. perhatian kakakku ini lumayan juga padaku.
"Belum. Hari libur mungkin saja tidak ditanggapi. Orang-orang pada jalan-jalan atau santai-santai di rumah."
"Yeah tunggu saja kalau begitu. Sabar. Eeh Cha....kamu kan punya banyak gambar tuh, diikutkan lomba saja salah satunya. Siapa tahu loh kamu bisa dapat juara," saran Elin.
"Apa mungkin? kakak yakin gambarku bagus?" Elin mengangguk cepat.
"Yaaaah lumayan. Bagus kok. Sekalian buat kamu cari pengalaman. Siapa tahu gambar kamu itu bisa masuk nominasi."
Aku mendengus, "Gak yakin. Gak berharap banyak."
"Coba dulu. Si Clarenza saja berani. Malah bukan karya sendiri lagi. Mana gambarmu? Sini aku daftarkan."
"Gak usah."
"Biar aku yang urus. Minta sketsa kamu satu saja. Aku yang pilih."
"Loh kok kakak yang semangat sih. Yang punya gambar kan aku."
"Huuuh daripada gambar kamu cuma dikoleksi gitu saja. Di mana kamu simpan? Sini aku ambil dan aku daftarkan."
"Kakak jangan ah!" Aku keberatan. hasil gambarku tergolong biasa-biasa saja.
"Di mana? Dengar ya Cha, kamu terima beres saja. Besok kalau kamu menang yang dapat nama ya kamu."
"Iiih kak aku nggak mikir sampai ke itu."
"Iya, iya...kalau kamu nggak menang juga nggak apa-apa. Anggap saja partisipasi, meramaikan. Jika menang ya bersyukur, berarti kamu lagi beruntung dan sketsa kamu bagus."
Lalu Elin membuka lemari susun milikku. Dia mencari koleksi gambarku di lemari ukuran sedang tersebut. Hampir semua barang-barang milikku memang kuletakkan di sana boneka, pajangan-pajangan mungil termasuk alat melukis. Elin butuh waktu untuk mencarinya karena dia tidak hafal di mana posisi sekumpulan gambar ku letakkan.
"Tak ada kan Kak?" Aku nyengir memperhatikan Elin buka laci pertama. Dua daun pintu terbuka.
"Aku akan buka semua laci ini dan menemukan gambar itu," kata Elin semangat.
"Buka saja. Aku rela kak Elin geledah lemariku. Kakak yang bereskan nanti ya." Aku yakin Elin pasti menemukannya sebab aku meletakkan sekumpulan gambar itu di salah satu laci lemari susun empat tersebut. Lanjut Elin membuka laci kedua dari bawah. tidak ada juga.
"Naaah ini dia. Ya ampun. Aku membuka laci-laci ini dari bagian bawah. Coba kalau dari bagian atas, aku menemukannya dari tadi."
"Gambar yang mana yang mau kakak kirim?"
"Tunggu aku lihat-lihat dulu."
Kemudian Elin buka lembar demi lembar kumpulan sketsa di dalam map. Heran sama Elin. Aku yang punya gambar tapi dia yang mau repot urusin daftar lomba.
"Terserah kakak kirim yang mana. Aku lapar." Aku bangkit dari tempat tidur meninggalkan Elin. Dapur tempat yang paling tepat untuk mengobati rasa lapar. Selalu ada makanan di sana.
"Taaaraaa...ada apa di sini?" Aku membuka tudung saji yang menutupi makanan di atas meja. Wah gorengan bakwan dan tahu berada di depan mataku beserta saus encer. Makan ini saja. Makan nasinya nanti saja.
"Sudah bismillah atau belum? Sudah gosok gigi dan cuci muka?" Suara mama di belakangku, baru datang.
"Huuu mama, Icha kaget ma. hampir keselek nih. Ya mama...."
"Hahaha maafkan mama. Bangun tidur kok langsung makan. Kamu belum mandi ya sayang?" Aku menggeleng menanggapi mama.
"Buat apa mandi cepat-cepat. Jari libur ini ma. Nyam...nyam."
"Jadi kalau hari libur mandinya dilambatkan atau mungkin libur juga?"
"Hehehe... dispensasi Ma. Boleh saja."
Mama menaik turunkan tangan dekat hidung tepat di depanku.
"Pantas mama dari tadi cium bau apa ini, rupanya anak mama belum mandi."
"Iya iya mama, mama yang wangi." Cup. Aku menempelkan wajah ke pipi mama.
"Haha sana mandi dan sarapan ke sini ya."
"Iya mama sayang tapi Icha mau senam dulu di depan. Dadaaa Ma." Aku melenggang ke pintu utama. Udara pagi yang segar belum tercemar kendaraan yang biasa lewat di depan rumah. Udara bersih baik untuk pernafasan. Bersepeda mungkin bisa menghilangkan resahku akibat dari ulah Clarenza.
Bik Min lewat dan menyapa, "Senam mba Icha."
"Iya bik. Yuk kita senam Bik. Sini Bik Min."
Nggak ah non bibi nggak usah senam. Bik Min mau ke dapur aja. Belanjaan ini ditunggu sama Ibu."
"Eeiii..Bik Min temani Ica ya. Mari sini. Sebeeeentaar aja Bik."
"Besok aja mba. Bik Min mau jalankan tugas. Bantu Ibu masak."
"Sebentar saja bi, lima menit. Senam itu bagus loh Bik untuk kesehatan."
"Iya mba Cha. Ntar ibu menunggu Bibi. Ini sayurannya di sini semua."
"Sudah nggak apa-apa, cuma lima belas menit kok. Mama nggak bakal marah. Bibi harus senm biar sehat. Mari Bik." Aku menarik pelan tangan Bibi.
"Kata mba Cha cuma lima menit. Kok jadi lima belas menit. Bik Min tak mau. Bik Min tak bisa senam mba Icha. Gimana caranya tuh."
"Gampang. Bik Min ikut gerakan aku saja . Berdiri. Tenang dulu ya Bik. Terus pertama kita gerakkan kepala ke atas ke bawah ya. Aku menghitung dan bibi ikut gerakan aku."
"Baik Mba Cha."
Kami pun senam tanpa musik pengiring. Aku tak mau berlama-lama senam dan menahan Bik Min agar mengikuti kemauanku. Ku lihat bibi senyum cerah setelah selesai senam
"Sudah ya mba Cha?"
"Iya sudah dulu saja Bik. Bik Min mau ke belakang kan. Bik Min bikin sarapan yang enak ya Bik, nasi goreng."
"Oooh mba Icha mau nasi goreng tooh, saya bikinkan yang enak. Sebentar."
"Ya yang enak ya Bik. Coba nasi goreng buatan Bik Mim bisa seenak Mama bikin nggak?" Aku menggoda Bik Min.
"Uuuuh jangan ditanya Mba. Gak kalah sama buatan Ibu. Nyuuus pokoke."
"Benar ya Bik. Oke Bik,
ditunggu ya nasi gorengnya."
Bik Min masuk ke rumah. Muncul kakakku Elin dengan selembar kertas di tangannya.
"Gambar yang ini yang akan aku kirim ke redaksi lomba. Kamu kirim aslinya ya karena diminta juga."
"Laaah kok jadi aku yang antar sih."
"Ini kan kamu punya. Kamu bantu serahkan gambar ini. Aku sudah bantuin daftar lomba. masih aku juga yang harus antar?" Elin menyebalkan. Bukankah dia yang semangat untuk mendaftarkan aku mengikuti lomba?
"Ya gimana...Sudah ah letak di meja saja. Aku antar besok. Ganggu orang lagi senam saja."
"Besok diantar ke mereka ya, bukan hari ini karena sekarang mereka libur."
"Iya, iya kakak. Sepedaan sebentar aaah."
"Tuh menghindar ya. Awas kempes bannya! Diiiih ngejek lagi. Awas!!"
Aku mengepalkan tinju ke arah Elin. Dia tertawa.
"Sepertinya badanmu tambah gemuk Cha! Aku takut sepedanya oleng!"
"Biarin!!" Aku tahu Elin bohong.
Kini aku berada di jalan aspal depan rumah. Jalan lurus ini kulalui dengan mengayuh sepeda. Masih sangat sepi karena tiap anggota rumah belum beraktifitas. Lebih leluasa bolak-balik mengayuh sepeda di jalanan ini tanpa ada tetangga yang memperhatikan diriku.
Dua rumah lagi di depan sana ada kos-kosan Elang. Elang pasti terlelap diayun mimpi. Tidur pulas di atas kasur empuknya. Ini adalah benar-benar saat yang tepat untuk istirahat setelah 5 hari belajar di sekolah dan satu hari ekstrakurikuler. Barangkali lebih dari satu hari untuk kegiatan ekstrakurikuler bagi Elang. Elang termasuk anak yang aktif di sekolah sedangkan aku tak selalu datang hari Sabtu untuk mengikuti ekstra kurikuler.
"Woaah cewek cakep, jangan melamun kalau naik sepeda. Bisa masuk ke got loh!"
"Apa??"
Astaga anak itu sudah berdiri saja di depan kosnya dan aku tidak sadar posisiku hampir sejajar dengan pintu pagar tempat Elang tinggal. Dia terus saja memandangku. Aku gugup luar biasa tak menyangka Elang sudah bangun tidur. Ini cowok cakep banget. Dari penampilannya aku yakin Elang belum mandi. Belum mandi saja ganteng.
"Loohh kok tambah melamun. Awas itu got!! Icha!!!"
"Eeehh iya got!!! Pinggir Lang!"
Got sepanjang rumah warga nyaris menyambut diri dan sepedaku. Benar kata Elang, aku melamun. Aku mengalihkan roda sepeda ke kanan menjauh dari got sebelum benar-benar masuk ke dalamnya. Hampir saja aku menyium air got andai Elang tak teriak tadi.
Elang yang khawatir menghampiriku, "Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. tidak nyemplung ke got. terima kasih Lang sudah mengingatkanku. Jika tidak_"
"Jika tidak kamu akan mandi air got. Iiih bau." Elang mengibaskan kelima jari ke depan hidung.
"Karena kamu pasti menolongku, membantu aku keluar dari got dan kamu bakal kena air got juga haha."
"Yakin aku bantu?" Pertanyaan singkat Elang bikin aku malu. Aku menunduk sembunyikan rona wajah sekaligus rasa malu sebab mengharapkan pertolongan Elang.
"Apa kamu akan membiarkan temanmu yang lagi kesusahan, yang sedang jatuh ke dalam got? Iya begitu Lang?"
"Tentu tidak. Ayo duduk di teras. Aku ambilkan air putih," ajak Elang.
"Eeehhm terima kasih. Lain kali saja." Lagi aku rasakan sungkan duduk di kosan anak cowok meskipun pagi hari.
"Oh aku tahu kamu pasti malu, tidak enak hati duduk di kosan kami. Malu dilihat orang bukan?" Elang bisa menebak yang ada di benakku.
"Aku...iya begitulah Lang."
"Oke tidak apa. Aku ambilkan air putih ya. Tunggu di sini."
"Elang tidak usah. Aku mau pulang."
"Kamu tenang dulu. Lima menit saja." elang bergegas masuk dan kembali lagi membawa botol kecil berisi air mineral. Membuka segel kemasan dan memberikan padaku.
"Minumlah supaya kamu lebih tenang. Minum!"
Aku ragu menerima air mineral tersebut.
Icha, apa susahnya sih minum air putih? Cuma air putih. tidak ku tambah apa-apapun ke dalam botol ini. Kamu lihat sendiri segelnya masih utuh?" Pertanyaan elang menghentakkan ku. Elang berpikiran sejauh itu.
"Aku tidak menuduh kamu Lang."
"Oya bagus, tapi kamu takut kalau aku memasukkan sesuatu ke dalam air ini sehingga kamu menolak minum, iya kan? Aku tidak setega itu Icha dan segel ini bukan tipuan."
Sebaiknya aku minum saja air putih ini toh aku juga haus dan supaya Elang tak berpikiran negatif.
"Ma'af bukan begitu. Baiklah."
Glek.Glek.Glek.
"Pelan-pelan minumnya. Ternyata kamu haus. Rezeki jangan ditolak neng."
"Terima kasih sudah tidak haus lagi." Kamu baik Elang.
"Sama-sama. Hati-hati."
"Baiklah. Loh kamu mau ke mana?" Aku melihat Elang melangkah maju bersamaan denganku gowes sepeda.
"Aku mau cari sarapan. Gak boleh ya?" Elang berjalan santai. Hidungnya yang lancip ku perhatikan dari samping. Jauh sekali dengan hidungku yang pesek ini
"Lihat ke depan. Kamu bisa jatuh," ucapnya lagi.
Uuuups. Tahu saja aku memperhatikan dirinya.
"Jam segini warung mama belum buka. Masakannya belum jadi," Aku mematahkan niat Elang untuk membeli sarapan.
"Penjual sebelah sana ada tuh. Aneka roti."
"Oh itu maksudnya. Ya sih jam segini sudah buka. Aku sudah sampai rumah nih," kataku sembari turun dari sepeda.
"Ya masuklah ke rumah. Aku mau ke situ." Elang menunjuk toko roti tidak jauh dari rumahku.
"Elang kenapa kamu tidak telpon saja, minta rotinya diantar ."
"Aku kan mau menemani kamu."
"Yeee aku bisa pulang sendiri kok." Aku menghindari tatapan Elang.
"Kalau masuk got siapa yang menolong. Lihatlah jam tujuh saja jalan ini masih sepi."
"Kalau jatuh ya bangun sendiri Elang. Mengerti?"
"Mengerti Bu Guru. Sudah ah mandi sana. Bye."
"Bye Elang. Hati-hati bawa rotinya, jangan masuk ke got hahaha."
"Gak bakalan. Memangnya kamu, Icha! Hahah. Pergilah mandi!" Elang semakin menjauh menuju toko roti.
"Eh iya kamu mau roti gak?!"
"Gak mau!"
Elang dan keramahannya, kian hari Elang semakin enak diajak bicara. Tawanya yang lepas. Sikapnya yang sopan. Siapa yang akan mendapatkan Elang sebagai suami. Sungguh beruntung.
"Tralala...tralala." Aku hendak masuk ke kamar mandi. Elin melihatku.
"Wuuiiih bahagia banget. Lama sekali sepedaannya." Elin memperhatikan dari atas ke bawah.
"Jangan gitu juga lihatnya kak. Ada yang salah?"
"Gak ada. Sepedaan seratus meter lama amat."
"Putar lagi, jadi gak cuma sekali lewat di jalan yang sama," alasanku.
"Oh gitu. Ini nasi goreng siapa?"
"Aku kak. Ambil separuh kalau mau. Jangan dihabisi."
"Hhhhmm banyak ini."
"Iyaaa sisakan aku yang banyak."
Tinggalkan Elin dengan sarapannya. Cepat-cepat mandi lalu sarapan.
Sreeeeeett.
Aku keluar dari kamar mandi. Sayup-sayup ku dengar suara Bik Min di luar sana.
"Dari mana mas Elang? Pagi-pagi gini."
"Ini Bik beli roti. Bibik mau?" Suara Elang.
"Mau mas Elang."
"Iiiih Bibik mau ya?" Aku menyenggol lengan bik Min. Aku melihat Elang membawa tiga bungkusan di kedua tangannya.
"Mba Icha memangnya gak boleh ya?"
"Boleh sih tapi eee...."
"Icha ini buat kamu, yang ini untuk Bik Min." Elang mengangkat tinggi dua keresek kaku yang dibawa olehnya. Oh ternyata....
"Tapi aku beri jika kamu sudah mandi!" Tambah Elang.
"Haaa? Lang, aku sudah mandi. Niat gak sih ngasih roti?" Aku mendelik. Menjadi biasa bercanda dengan Elang.
Elang cengengesan menampilkan barisan gigi putih miliknya. Cowok itu nyengir kuda saja tetap ganteng.
"Baju kamu masih yang kamu Pakai tadi. Bau ah!" Ucapan Elang membuatku tercengang.
"Haaa?? Apa salah? Aku belum ganti baju Elang tapi aku sudah mandi."
"Apa buktinya kamu sudah mandi?" Elang menyebalkan.
"Tubuhku sudah harum, wangi sabun mandi," jawabku. Dia mengusap rambutnya sendiri.
"Ya sudah gak percaya. Bawa pulang saja rotinya!"
"Jiiiaaaah ngambek. Bik Min ambil ini! Ini buat Icha dan untuk Bibik yang satu ini."
"Baik mas Elang. Aduuuuh Bibik ketiban rejeki. Terima kasih ya mas Lang."
"Sama-sama Bik. Bilang sama Icha, ngambeknya jangan lama-lama!"
"Eh iya mas Elang. Serahkan sama Bibik. Mba Icha besok baik lagi, gak ngambek. Dijamin!"
"Dijamin apa Bik? Bagus Bik. Kalau gak ngambek lagi, Bik Min dapat hadiah dari saya!"
Aku berdiri membelakangi mereka. Pendengaranku menangkap jelas ucapan mereka.
"Dijamin halal mas Lang!"
"Aamiin.Hahahaha. Saya pulang Bik. Hahahaha."
Dasar. Sableng juga si Elang. Aku ingin memarahi Bik Min. Bik Min menjatuhkan harga diriku di depan Elang. Bibik!
"Apaan Bik_" Mataku melotot.
"Eeeh Mba CHa, ini loh enak rotinya. Ayo dimakan. Lihat mba Cha, mas Elang baik sekali ya. Bibi dibelikan roti juga. Enak ini. Bibi suka yang ada kacangnya . Nah ini kesukaan mba Cha. Wuuuih kejunya, banyak mba!! Kita makan di dalam yok."
Bik Min terus berkata sembari sebelah tangannya menggamit lenganku. Aku terpaku mendengar ocehan Bik Min.
...🌸bersambung🌸...
semamgat
Semangat kaka
Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘