Amayra Alifya Husna, adalah seorang gadis yang baru saja menginjak kelas 3 SMA. Gadis cantik berhijab, cerdas dan disukai banyak orang. Memiliki masa depan cerah dan memiliki cita-cita mulia menjadi seorang Guru. Namun kejadian naas pada suatu malam telah mengubah nasibnya.
Amayra terpaksa harus putus sekolah karena ketahuan hamil di luar nikah oleh seorang pria mabuk yang baru saja dia temui, ia adalah seorang presdir di perusahaan Calabria grup Bramastya Zein Calabria yang sering di sapa Bram, terpaut jauh usianya dengan Amayra yang masih belia. Tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Amayra, Bram melimpahkan tanggungjawab kepada sang adik, yang merupakan seorang dokter muda bernama Satria Alvian Calabria baru saja lulus dari fakultas kedokteran. Sementara Bram menghilang!
Amayra yang kehilangan mimpinya berusaha menghadapi pernikahan di usia dini, dia berusaha menjadi istri yang baik dan Sholehah. Walau pikirannya masih ingin sekolah, Satria awalnya cuek dan tidak peduli pada Amayra berubah menjadi perhatian melihat sikap Amayra yang baik dan taat. Cinta pun mulai hadir diantara mereka, namun saat hubungan mulai terbina. Bram hadir kembali dalam kehidupan mereka dan mengatakan akan mengambil kembali Amayra dan anaknya dari Satria.
Kepada siapakah Amayra akan menjatuhkan pilihannya? pada pria brengsek yang meninggalkan nya di saat saat tersulit? atau pada suaminya yang bertanggungjawab untuk dirinya? Berhasilkah Amayra meraih mimpi dan cita-cita nya?
follow Ig author: Irmanurhayati41
FB :Irma Nurhayati
follow juga author nya ya ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Malam pertama mereka
...🍀🍀🍀...
Shalat? Sudah berapa lama aku tidak melaksanakan shalat? Aku bahkan lupa bagaimana doa nya?
"I-iya, aku mau shalat juga!" Jawab Satria tegas.
"Iya kak, mari kita shalat bersama. Sekarang kakak kan imam ku," Amayra menundukkan wajahnya.
"Imam?" Satria terperangah mendengar nya.
Benar, sekarang aku adalah kepala keluarga. Tapi, pernikahan ini kan hanya paksaan? Kenapa aku harus menjadi imam nya?
"Apa kamu berfikir kalau pernikahan ini adalah pernikahan sesungguhnya?" Tanya Satria pada wanita yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.
Amayra menoleh ke arah suaminya, "Maksud kakak apa?"
"Kita ini menikah karena terpaksa, jadi kamu tidak perlu bersikap seperti seorang istri padaku. Aku juga tidak akan bersikap seperti seorang suami, karena kita pasti akan bercerai suatu hari nanti," Satria mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran nya. Bahwa pernikahan mereka hanya lah pernikahan terpaksa untuk menolong Amayra.
Apa aku tidak bicara terlalu kasar kan?
Amayra terpana dengan apa yang diucapkan Satria. Baru saja menikah tapi pria itu sudah mengatakan tentang perceraian.
Bodohnya aku! Jelas-jelas kak Satria menikah denganku karena terpaksa, kenapa aku bersikap seperti ini? Dia pasti sudah punya seseorang di hatinya, makannya dia bicara tentang perceraian.
"Pertama-tama, aku minta maaf kak. Karena telah membuat kakak bertanggungjawab untukku. Aku berjanji tidak akan mencampuri semua urusan pribadi kakak, kalau kakak mau kita bercerai suatu hari.. aku setuju. Tapi, aku berjanji, selama aku menjadi istri kak Satria..aku akan bersikap baik dan menuruti perintah kakak. Karena ayah ku bilang, kalau aku harus mendengarkan kata-kata imam ku. Dan.. terimakasih karena sudah menyelamatkan ku dari rasa malu, aku tidak akan meminta hal lain lagi, kakak bisa mengabaikan ku,"
Satria menatap wanita itu dengan bingung. Dia terkejut karena Amayra bisa mengatakan hal yang membuatnya bingung. Ada rasa tidak nyaman dihatinya.
Setelah bersih-bersih di kamar mandi dan mengambil air wudhu, Amayra melaksanakan shalat isya sendirian, sedangkan Satria sudah tidur nyenyak di sofa dengan satu bantal di bawah kepalanya.
Amayra memakai mukena nya. Meski sudah resmi menikah dengan Satria, Amayra tidak leluasa untuk membuka kerudungnya di depan Satria. Dia selalu memakainya. Bahkan ketika Amayra akan tidur, dia masih mengenakan kerudung instan dan baju panjang yang menutup auratnya.
"Tidurlah, besok pagi kita akan kembali ke rumah," ucap Satria yang melihat Amayra masih terjaga duduk di ranjang.
"Kakak masih bangun?" Amayra terperanjat melihat ke arah Satria yang sudah dalam posisi duduk diatas sofa.
"Iya, melihat lampu masih menyala aku tidak bisa tidur,"
"Ma-maaf, tapi aku tidak terbiasa tidur dengan lampu yang mati. Aku akan mematikannya lagi," Amayra mematikan lampu yang ada di samping meja tidurnya.
CTAK
Jantungnya berdegup kencang ketika lampu itu dimatikan. Tidak ada sedikitpun cahaya disana kecuali dari lampu kamar mandi yang menyala.
Setiap aku melihat sesuatu yang gelap, aku selalu teringat kejadian itu. Jadi aku selalu takut kalau lampu dimatikan.
"Tidurlah!" Titah Satria pada wanita yang tidur di ranjang.
"Ma-maaf, tapi kenapa kakak tidur disana?" Tanya Amayra dalam kegelapan.
"Lalu kamu mau aku tidur dimana?" Tanya Satria ketus.
"Tidur saja di ranjang," jawab Amayra.
"Kamu yakin? Kalau aku tidur di ranjang, maka kamu harus tidur di sofa!" Satria beranjak duduk.
"Ah! Tidak, bukannya begitu! Jika kakak mau tidur di ranjang, aku akan yang tidur di sofa,"
"Baik sekali kamu..tapi aku tidak mau tidur di ranjang. Cepatlah tidur, jangan cerewet terus!" Seru Satria sambil berbaring di sofa.
Mana mungkin aku membiarkan wanita hamil tidur di sofa yang tidak nyaman ini.
"I-iya kak, maaf.. selamat malam," ucap Amayra sambil menarik selimut dari bawah kakinya sampai menutupi seluruh tubuhnya.
Amayra mencoba menutup matanya di tengah kegelapan. Dia bergerak kesana kemari dan merasa resah. Ingatan nya soal pemerkosaan itu terputar di kepalanya seperti kaset. Sementara Satria sudah berada jauh di alam mimpi.
Tepat pukul 3 pagi, Amayra terbangun. Tubuhnya berkeringat dingin, mimpi tentang Bram selalu menghantuinya.
Kenapa? Kenapa om Bram selalu menghantui ku setiap malam?!
"UWEKKK!! UWEKKK!!"
Wanita hamil itu berlari dan masuk kamar mandi, dia kembali mual-mual. Keringat ditubuhnya bercucuran.
Melihat ada sedikit cahaya, Satria pun terbangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak kalau ada cahaya di sekitar nya.
"Ada apa sih?" Satria bangun dengan malas, dia duduk di sofa dan melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar.
UWEKKK UWEKKK
Satria terperangah, matanya langsung terbuka lebar begitu mendengar suara orang yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Satria berjalan menghampiri Amayra disana, dia melihat Amayra sedang muntah-muntah.
"Hey! Kamu gak apa-apa?" tanya Satria dengan kening yang berkerut.
"Aku gak apa-apa kak, ini udah biasa kok," jawab nya sambil menghela napas.
"Haihh.., apa kamu sudah selesai muntah nya?" Tanya Satria.
"Su-sudah," jawab Amayra sambil mengusap sesuatu yang basah di bibirnya.
"Kalau begitu keluar lah, aku akan memeriksa kondisi mu!" Titahnya pada Amayra.
"Iya kak,"
Amayra berjalan perlahan-lahan mengekori Satria yang juga keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.
Brugh!
"Kamu kenapa?" Tanya Satria cuek melihat Amayra duduk di lantai.
"Ma-maaf kak, kaki ku tiba-tiba lemas.."
Terpaksa Satria menggendong Amayra, dia membawa Amayra sampai wanita itu berbaring di ranjang. Belum pernah Amayra di gendong oleh seorang pria. Tadinya dia ingin menegur Satria, tapi Amayra teringat kalau mereka sudah muhrim.
Satria mengambil stetoskop nya yang berada di dalam tas, dia memeriksa kondisi Amayra. Bahkan mengecek suhu tubuhnya dengan termometer.
"Apa kamu selalu mengalami morning sickness?" Tanya Satria dengan gaya ala dokter menganalisis pasiennya.
"A-Apa itu morning sickness?"Tanya nya dengan wajah polos.
"Morning sickness adalah mual muntah yang terjadi saat hamil. Meski disebut morning sickness, kondisi ini tidak hanya terjadi pada pagi hari, tetapi juga pada siang, sore, atau malam hari,"
"Masyaallah, jawaban kak Satria detail sekali.. sekarang aku jadi yakin kalau kakak memang seorang dokter," Amayra takjub, dia tersenyum dengan jawaban detail dari Satria.
Satria menatap Amayra dengan dingin, "Jawab! Apa kamu mengalami morning sickness atau tidak?" Tanya nya tegas sambil melihat termometer di tangannya.
Dia demam, 38 derajat. batin Satria.
Galak sekali!
"I-iya, setiap pagi atau malam aku selalu mual dan muntah. Juga setiap.." Antara terlihat bingung mengatakan hal selanjutnya.
"Teruskan!" Seru Satria sambil mengompres kening Amayra dengan handuk basah.
"Setiap lampu kamar dimatikan, atau berada di dalam gelap. Aku selalu ketakutan, lalu aku tidak bisa tidur dan aku akan mual-mual,"
"Kenapa kamu takut?" Tanya Satria serius.
"Aku.. selalu teringat malam itu, ketika om Bram...ketika...,"
Satria tercekat mendengar nya, "Jangan diteruskan," Satria tau apa kelanjutannya tanpa dijelaskan oleh Amayra. "Tidurlah, besok mari kita pergi ke rumah sakit,"
"Ke rumah sakit? Mau apa?"
"Memeriksakan kamu ke dokter kandungan," jawab Satria.
Semalaman Satria menjaga Amayra yang masih demam dengan lampu yang menyala. Keesokan hari nya Amayra sudah merasa lebih baik, dia bangun pagi dan membereskan barang-barang. Hari itu mereka akan kembali pulang ke rumah keluarga Calabria.
...---****---...
ceritanya bagus, keren banget dan banyak ilmu yang bisa diambil, semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses, aamiin yaa Rab...🙏🙏🙏💪💪💪