Zella, mahasiswi baru di Universitas Swasta Indonesia telah membuat Leon, ketua BEM yang tegas dan penuh wibawa jatuh cinta pada pandangan pertama saat OSPEK Mahasiswa.
Tidak hanya itu, Levi, seorang dosen jutek, galak, dan tidak banyak bicara yang juga putra pemilik Universitas tersebut juga ternyata diam-diam menaruh hati pada Zella.
Zella yang belum menginginkan untuk berpacaran harus terus menerus mendapatkan teror dari mahasiswi yang mengidolakan Leon dan Levi.
Leon dan Levi pun terus berjuang dengan cara mereka masing-masing untuk mendapatkan hati Zella.
Siapakah diantara mereka berdua yang mampu memenangkan hati Zella?
Adakah Leon atau bahkan Levi yang memenangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AdindaRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Pulang kuliah, Silla langsung pulang ke rumah bersama mamanya. Sedangkan Zella dan Nay mampir dulu ke perpustakaan untuk mencari reverensi.
Nay yang sudah menemukan bukunya langsung duduk di pojok perpustakaan dan mulai membuka laptopnya. Sedangkan Zella masih mencari buku yang sesuai dengan tugasnya kali ini.
"Mencari buku untuk tugas dari saya?" tanya Levi yang sudah berdiri di belakang Zella.
"Iya Pak." jawab Zella yang sudah kenal suara Levi tanpa menoleh ke belakang.
"Kamu bisa pinjam di perpustakaan rumah saya." tawar Levi.
"Gak usah, Pak. Terima kasih." jawab Zella yang masih belum menoleh ke arah Levi.
Levi sedikit gusar melihat Zella mengacuhkannya. "Oh Iya, Hukuman kamu sudah selesai." ucap Levi kemudian dan berhasil membuat Zella berbalik badan.
"Terima kasih pak Levi." ucap Zella dan beranjak melangkahkan kakinya untuk pergi.
Dengan sigap Levi menahan Zella pergi dengan kedua tangannya memegang rak buku. Kini Zella terkurung dengan kedua tangan Levi.
"Zella." panggil Levi menatap Zella tajam.
"Tolong jaga sikap bapak. Ini di perpustakaan pak." ucap Zella melihat kanan kiri takut banyak yang melihatnya.
"Perpustakaan sudah saya kosongkan," ucapan Levi membuat kening Zella berkerut.
"Maksud bapak?" tanya Zella. Bukan menjawab, Levi menatap Zella intens hingga membuat Zella sedikit grogi.
"Pak Levi ternyata cakep juga." batin Zella. "Matanya, hidungnya dan bib . . . Oh My God, Zellaaa. Jangan berpikiran macam-macam!" ucap Zella dalam hatinya.
"Datanglah ke perpustakaan saya malam ini." pinta Levi.
"Lain kali saja pak." jawab Zella.
"Saya yang akan jemput, bersiaplah jam 7 malam." Levi melepaskan Zella dan meninggalkannya.
Zella hanya diam dan makin tidak paham tentang sikap Levi padanya. Ia segera mengambil tas dan keluar dari perpustakaan.
"Nay kemana aja sih?" tanya Zella melihat Nay jalan ke arahnya.
"Zell, sorry tadi aku ke kamar mandi dulu. Kebelet soalnya," jelas Nay.
"Ooooh, Gak papa, Nay. Pulang yuk." ajak Zella. Keduanya langsung pulang ke ruko.
***
18.30, di Ruko Zella.
"Nay, ke mansion Silla yuk. Pak Levi ada buku yang aku cari." ajak Zella.
"Pak Levi?!!!" tanya Nay.
"Iya, kemarin dia bilang buku reverensi buat tugasnya ada di perpustakaannya." jawab Zella.
"Aku curiga nih, Zell. Ini kayaknya Pak Levi sengaja deh." ucap Nay.
"Hemmm. Gak tau deh Nay. Gimana? Kamu ikut yaaa." pinta Zella.
"Boleh lah." keduanya pun bersiap-siap. Zella mengikat rambut panjangnya tinggi dan sedikit memoles wajahnya dengan riasan tipis.
Setelah berbicara dengan karyawannya bahwa ia akan pulang malam, mobil Levi sampai di depan ruko Zella.
Zella dan Nay berjalan ke arah mobil Levi. "Saya ajak Nay ya pak." ucap Zella meminta izin.
Levi mengangguk. "Masuklah!" perintah Levi.
Zella dan Nay sudah duduk di belakang. Tapi Levi belum juga menjalankan mobilnya.
"Apa masih menunggu seseorang?" tanya Zella kemudian.
"Saya bukan supir kalian. Jadi salah satu pindah ke depan." jawab Levi dan Nay langsung menyikut Zella.
"Buruan pindah ke depan, Zell." bisik Nay dan Zella dengan malas pindah ke samping Levi.
Levi pun menjalankan mobilnya dan kini mereka sudah sampai ke mansion Silla. Bu Karen dan Silla menyambut mereka dengan senang dan mengajaknya makan malam bersama.
"Kalian kok gak bilang sih mau main kesini?" tanya Silla.
"Surprise dong, La." jawab Zella.
"Trus kenapa kak Levi yang jemput?" tanya Silla khawatir Levi akan menghukum Zella. "Zella gak kena hukum lagi kan kak?"
"Gak," jawab Levi singkat.
"Syukur deh kalo gitu. Nginep ya guys." ucap Silla pada sahabatnya. "Boleh kan ma?"
"Boleh banget dong." jawab Mama Karen.
"Gimana Zell?" tanya Nay.
"Kalo gak ngrepotin sih gak papa." ucap Zella.
"Mama gak repot, malah seneng banget kalian mau pada nginep. Jadi rame rumahnya." ucap mama Karen.
Mereka makan malam sambil berceloteh ria kecuali Levi.
"Saya tunggu kamu di perpustakaan samping kolam renang." ucap Levi pada Zella sambil menunjuk ke arah tempat yang dimaksud.
Semua langsung terdiam dan melihat ke arah Zella. Mama Karen tersenyum, "Sepertinya selera kita sama, Putraku." batin mama Karen.
"Kamu ada apaan hayoo sama Kak Levi?" tanya Silla meledek.
"Buku reverensi yang aku cari untuk bikin tugas gak ada di perpustakaan. Kata Pak Levi di tempat dia ada." jawab Zella santai.
"Yaudah, buruan habisin makannya terus nyusul Levi." ucap Mama Karen. Zella segera menghabiskan makanannya dan menyusul ke perpustakaan.
"Mah, Kak Levi itu modus banget gak sih menurut mama?" tanya Silla setelah Zella pergi.
"Mama rasa begitu." jawab mama Karen.
"Yap, selalu buat alasan untuk bisa sama Zella. Bukan begitu, Nay." Silla menepuk bahu Nay.
"Betul banget." ucap Nay masih menghabiskan makanannya.
"Mah, kayaknya aku bakal cepet punya kakak ipar deh." ucap Silla senang.
"Biarkan mengalir apa adanya. Kamu lihat Zella kan? Dia nampak belum memikirkan pacaran." ucap Mama Karen.
"Bener juga sih kata mama. Kak Leon yang ketua BEM itu dari hari pertama OSPEK sampe sekarang ngejar dia loh Ma. Tapi Zella masih lempeng aja. Gak gimana-gimana." jelas Silla menceritakan Zella.
Mama Karen jadi makin kagum terhadap Zella. "Bagus dong. Dia punya prinsip kalo gituh." timpal Mama Karen.
Setelah makan malam, Nay dan Silla menonton TV di ruang keluarga sedangkan mama Karen kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Zella memasuki perpustakaan mini milik Levi. Dilihatnya Levi sedang mencari buku di salah satu rak miliknya.
"Ini buku yang kamu butuhkan." ucap Levi menyodorkan buku ke Zella.
"Terima kasih, pak. Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Zella.
"Tunggu dulu, Zella." cegah Levi. "Kamu bisa mengerjakan tugas disini bukan?" tanya Levi.
Zella mengedarkan pandangannya, "Bisa aja sih." ucap Zella melangkah ke ujung perpustakaan dan duduk di atas karpet.
Ia pun menelfon Silla untuk menyusulnya ke perpustakaan dan mengerjakan tugas bersama, tapi Silla dan Nay menolaknya dengan alasan mau menonton drama korea.
"Saya akan temani kamu." ucap Levi.
"Berdua dengan bapak?" tanya Zella. "Saya gak enak dong sama Mama Karen."
"Oh gitu. Trus yang masuk ke kamar saya itu gimana?" tanya Levi balik.
"Itu kan saya gak sengaja, Pak Levi." jawab Zella mulai memerah pipinya.
"Lalu bagaimana kamu mempertanggung jawabkan dengan apa yang telah kamu lakukan pada saya?" tanya Levi.
"Maksud Bapak?" tanya Zella belum paham arah pertanyaan Levi.
Levi mengambil HPnya dan membuka videonya saat Zella masuk kamar Levi. Zella melihat saat ia menarik tubuh Levi dan memeluk Levi sangat erat. Zella langsung mengembalikan HP Levi.
"Saya tidak sadar waktu itu bukan? Jadi mana mungkin saya dapat bertanggung jawab atas apa yang saya perbuat di luar kesadaran saya?" ucap Zella menutupi rasa malunya.
"Lalu, kenapa bapak tidak membangunkan saya waktu itu?" tanya Zella kemudian.
Levi diam dan tidak menyangka Zella justru membuatnya terpojok.
"Bagaimana saya bisa membangunkan kamu, kalau perilaku kamu menarik saya berujung membuat kita berciuman." ucap Levi dan membuat Zella terkejut.
Zella menutup mukanya malu, "Ternyata mimpi itu benar dalam kenyataan. Laki-laki yang berciuman denganku ternyata Pak Levi. Oh My God, mau aku taruh mana lagi mukaku ini." batin Zella.
"Gak mungkin, Pak Levi pasti bohong kan?" ucap Zella sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa manfaatnya untuk saya jika ini adalah suatu kebohongan?" tanya Levi balik.
Zella menggelengkan kepalanya, "Nothing. Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Yang pertama, kamu dilarang mengikat rambutmu kecuali jika bersama saya." ucap Levi yang tidak mau laki laki lain melihat leher jenjang Zella.
"Boleh saya tahu alasannya?" tanya Zella.
"Saya tidak suka saja." jawab Levi. "Yang kedua, jangan lakukan hal ceroboh terlebih di depan laki-laki kecuali di depan saya."
"Saya tidak paham, sebenarnya apa yang bapak maksud?" Zella makin tidak memahami kemauan dosennya.
"Saya tidak suka kamu ceroboh sampai memeluk Leon di depan saya!" ucap Levi sedikit keras.
"Itu bukan kecerobohan saya. Harusnya bapak mencegahnya bukan terus menerus menyalahkan saya." sarkas Zella.
"Satu lagi, semua aturan yang bapak buat sangat tidak masuk akal bagi saya." ucap Zella tidak terima.
Kini Levi benar benar tidak tahu harus bagaimana menyanggah ucapan Zella.
"Saya hanya mau kamu menurut dengan saya, Zella." jawab Levi.
"Apa bapak sedang cemburu?" tanya Zella.
"Tentu saja . . . Tidak!" jawab Levi memotong kalimatnya.
"Oh ya, lalu kenapa saya hanya boleh melakukan semuanya di depan bapak?" selidik Zella.
"Karena papa dan kakakmu menitipkanmu pada saya, jadi saya bertanggung jawab penuh atas kamu." jelas Levi.
"Baiklah, saya setuju." jawab Zella yang kemudian membuka laptop yang dibawanya dan mengacuhkan Levi.
Levi juga membuka laptopnya dan kini keduanya terdiam hanyut dalam kesibukan masing-masing.