NovelToon NovelToon
Bercerailah, Dan Menikah Denganku

Bercerailah, Dan Menikah Denganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Selingkuh / Dark Romance / Berondong
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Widia

Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Ingin Egois

"Kapan kau akan pergi mengurus masalah pribadimu?" Tanya Laura sedikit ketus yang membuat Andreas mengerutkan keningnya.

"Sore ini, sekitar jam tiga. Maaf jika aku tak bisa menemanimu di saat seperti ini," jawab Andreas yang sebenarnya berat meninggalkan Laura. Namun wanita itu tak lagi menunjukan kelemahannya, dia meminta Andreas untuk mementingkan dirinya sendiri.

"Aku bukanlah siapa-siapamu Andreas, utamakan urusanmu sendiri. Papa akan di jaga oleh suster, dan aku juga bisa ke kantor jika ada keperluan penting saja."

Andreas hanya bisa tersenyum melihat kerasnya Laura, dia bahkan berharap wanita itu menahannya di sini.

"Baiklah, karena sebentar lagi jam tiga, aku harus pulang mengemasi barangku. Jaga kesehatanmu, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," ucap Andreas sebelum pergi meninggalkan Laura.

Pria itu menghilang di hadapannya, membuat rasa sepi menyeruak ke dalam hatinya. Melihat sang ayah yang terbaring dan bahkan tak bisa dia ajak untuk sekedar berbicara, membuatnya sadar jika keinginan ayahnya merupakan yang terbaik.

"Ya, sekarang aku tahu maksud dari keinginan papa. Papa tak ingin aku merasakan kesepian seperti ini, yang hanya meratapi nasib tanpa teman bicara dan teman mencurahkan hati."

Namun tetap saja ada rasa takut pada Laura jika kejadian masa lalu terulang kembali. Dia tak bisa sepenuhnya percaya pada laki-laki.

"Tapi, Andreas sekarang pergi. Dan aku tak tahu apa yang akan dia lakukan, apa dia akan menikah atau... "

Kegelisahan kini menghampiri Laura, pikirannya yang di penuhi oleh Andreas membuat hatinya tak tenang. Ada rasa tak rela jika pria itu menemukan kehidupan baru tanpa melibatkan dirinya.

"Padahal aku sendiri yang selalu menolaknya, aku seharusnya tak boleh egois seperti ini," gumam Laura yang berusaha mengelak dari perasaannya.

Dia pun melihat kondisi sang ayah yang masih harus di rawat. Laura masih tak menyangka jika Bram menyembunyikan penyakitnya selama ini dan membuatnya menyesal karena tak memperhatikan sang ayah.

"Kenapa papa menyembunyikannya dariku? Kalau saja papa jujur, aku mungkin akan memaksamu untuk melakukan kemo. Kau sama saja seperti mama, keras kepala," gerutu Laura yang kesal pada Bram. Dia pun duduk di dekat sang ayah yang sudah terlelap sambil menggenggam tangannya.

Sudah tiga hari Bram di makan dan Laura hanya pergi ke kantornya sampai siang hari. Dia membawa makanan favorit sang ayah dan makan siang dengan Bram yang masih dalam keadaan lemah.

"Kau selalu membawa makanan yang ku mau, terima kasih sayang," ucap Bram sambil mengusap lembut rambut sang putri.

Laura pun mengarahkan sendok ke mulut sang ayah dan menyuapi pria paruh baya itu. Senyum merekah di wajahnya melihat sang ayah yang lahap menyantap makanan yang di bawanya.

"Apa Andreas tak mengabarimu?" Tanya Bram yang membuat raut wajah Laura berubah.

"Dia sepertinya sibuk dengan urusannya, kenapa papa sangat peduli padanya? Padahal dulu papa sempat tak mempercayainya," ucap Laura sambil mengingat masa-masa dimana Andreas pertama kali bekerja dengannya.

"Dulu aku melihatnya seperti pemuda pada umumnya. Apalagi saat kau memutuskan untuk mengangkatnya menjadi orang kepercayaanmu, itu sangat membuatku khawatir. Karena bisa saja dia melakukan kesalahan fatal. Tapi ternyata, penilaianmu selalu tepat."

Laura tersenyum lalu menyuapi kembali ayahnya.

"Hmmm, enak sekali sayang. Kau tak makan?"

"Aku akan makan setelah menyuapi papa," jawab Laura yang sudah selesai menyuapi Bram. Dia pun menyiapkan beberap obat yang harus ayahnya minum, dan mulai membuka makanan miliknya.

"Aku terkadang membayangkan jika kau menikah dan memiliki anak dengan Andreas, mereka akan menjadi cucu yang tampan dan cantik... "

"Uhukk... uhukk!"

Laura yang baru saja menelan makanannya, tersedak mendengar perkataan sang ayah yang tak terduga.

***

Hampir satu minggu dan Andreas sama sekali tak mengabarinya. Ada rindu yang dia simpan dalam hati, namun gengsinya melebihi rasa rindu itu sendiri.

Biasanya, setiap pagi Laura selalu mendapat satu cup kopi beserta cookies favoritnya. Tak lupa dengan bunga segar yang selalu Andreas letakkan dalam vas di atas meja kerjanya.

"Aku sudah terbiasa menerima perlakuan manis darimu setiap hari, tapi saat kau tak ada rasanya ada yang menghilang."

"Laura... "

Suara seorang pria membuat Laura membalikan tubuhnya ke arah pintu.

"Andre... Om Randi?" Raut wajah Laura berubah saat tahu Randi yang datang ke dalam ruangannya.

"Akhirnya aku bisa menemuimu. Beberapa hari kemarin, saat aku ke sini kau sudah tak ada. Kau kemana Laura?" Tanya Randi denga wajah cemas.

"Papa masuk rumah sakit, jadi aku tak bisa berlama-lama di kantor."

"Om Bram masuk rumah sakit? Kenapa kau tak mengabariku? Bagaimana pun keluarga kita sudah begitu dekat," ucap Randi sambil memegang tangan Laura.

Laura melepas genggaman tangan Randi dan menjauhinya.

"Maafkan aku, karena pikiranku tak fokus. Jadi aku lupa karena tak mengabarimu."

Randi pun berencana untuk menjenguk Bram saat makan siang. Pria itu berencana untuk mengatakan sesuatu pada ayah Laura.

Sementara Mona tengah merias wajahnya, bersiap untuk menjenguk Dave sesuai jadwal.

"Hari ini dia bilang sibuk, jadi aku bisa menjenguk Dave cukup lama. Aku sudah memakai pakaian yang Laura berikan padaku saat terakhir kali kita berbelanja bersama, sebelum dia mengusir Dave dari rumahnya. Tapi, terima kasih Laura. Karena kau menyerah, kini aku bisa mendapatkan Dave seutuhnya."

Mona pergi ke rutan setelah Saidah sampai di apartemen. Dia pun menaiki mobil milik Dave dan membawanya melaju menghampiri suaminya.

"Hari ini aku sudah memasak makanan favoritnya. Tak lupa dengan minuman yang pastinya akan membuatmu senang," gumam Mona yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan pria yang sangat di cintainya.

Dave sedang merapikan rambutnya dan mencukur buku halus yang mulai tumbuh di wajahnya. Walau sedang di tahan, sebisa mungkin dia harus terlihat tampan seperti penampilannya sebelum menjadi tahanan.

"Bajumu sangat bagus, dan juga wajahmu sangat tampan. Pantas saja istrimu tetap setia walau kau sudah jadi narapidana," puji salah seorang tahanan yang selalu memperhatikan Dave.

"Selain itu, dia juga kaya. Kau tahu jika dia membayar polisi agar bisa melampiaskan nafsunya di ruangan khusus bersama istrinya."

Dave hanya tersenyum sinis, setelah itu namanya di panggil karena Mona sudah datang.

"Kalian pasti lapar kan, aku akan membawa makanan enak untuk kalian," ucap Dave yang di angguki oleh beberapa tahanan di sana.

Mona mulai mengeluarkan makanan yang dia bawa dan memberikan makanan yang sudah dia pisahkan untuk Dave.

"Pak, tolong antar ini ke tahanan yang lain," titah Dave pada seorang cleaning service.

"Aku sudah menyiapkan semuanya, makanlah sampai habis."

Dave mulai menyantapnya, dan menghabiskan makanan dan minuman yang di buat Mona.

Mereka pun berbincang, Mona menceritakan perkembangan Larissa yang sudah bisa berbicara jelas. Namun tanggapan Dave seolah tak peduli dan tatapannya tak seperti biasa.

"Sudah beberapa hari ini kau bersikap dingin padaku Dave. Walau aku selalu bersedia melayanimu, tapi aku tahu jika kau bersikap berbeda padaku," gumam Mona yang mulai melihat perubahan pada Dave.

"Mona, apa kau membawa kipas. Ruangan ini sangat panas, tak sepertinya biasanya," keluh Dave yang merasakan ada perubahan pada tubuhnya.

Lama kelamaan ada ketegangan yang di rasakan Dave. Gelisah dan cemas melanda dirinya.

"Bagaimana kalau kita masuk ke kamar sebelah? Agar aku bisa membantumu sayang," tawar Mona dengan wajah yang menggoda.

1
sutiasih kasih
lnjut thor....
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut semanggat doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
sutiasih kasih
kalian... paman n ponakan... pnikmat jalang.... satu lobang buat gantian...
🤣🤣
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up thor
sutiasih kasih
hisss mnjijikan.... n ga tau diri... kalian pnyuka jalang... kok pede bngt mnginginkn laura....
Reni Anjarwani
lanjut doubel up
sutiasih kasih
sukurin.... jalang km bela"in.... 😄😄
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
sutiasih kasih
keliarga gila smua... sdh bnar laura memilih bercerai dri pecundang dave...
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
lanjut doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
sutiasih kasih
iya" dave.... km yg sll benar .. bhkn km miara gundik jga benar...
dan laura lah yg slm salah di matamu....
smoga sja setelah km tau knyataannya... gundikmu slm ini tak setia pdamu dan ank yg km sayangi slm ini trnyata bukan darah dagingmu... di msa mndatang km mnikah lgi... tak akn km mndptkn kturunanmu dan km jga tak akn bahagia dave🙄🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!