Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Inara geram, siapa yang sudah menulis kata-kata itu di bukunya. Inara meremas buku itu dan langsung membuangnya ke tong sampah. Inara berusaha menahan amarahnya, tapi dia benar-benar kesal dan geram, siapa yang sudah menerornya?
Inara beranjak dan keluar kelas, dia berjalan menuju toilet dan dia pun menghiraukan panggilan Siska. Inara masuk toilet, namun karena dia kurang fokus dia malah masuk ke toilet cowok. Untungnya di sana lagi sepi, Inara tak memperhatikan dia langsung masuk ke salah satu bilik.
Inara mengambil kertas yang dia remas dan membaca nya kembali, lalu dia merobeknya hingga menjadi potongan-potongan kecil.
Tak lama terdengar suara tawa anak laki-laki memasuki toilet. Inara kaget, dia bingung kenapa ada cowok yang masuk ke toilet itu. Inara ingin keluar tapi dia malu.
Akhirnya dia menunggu anak-anak itu keluar, Inara membuka pintu sedikit dan mengintip tapi dia langsung menutup pintu, karena para siswa itu sedang buang air kecil.
"Bodoh kenapa aku malah ngintip sih, dan kenapa juga aku bisa masuk ke toilet cowok, dasar Inara bodoh!" gerutunya pelan.
Tak lama ada yang menggedor bilik yang Inara tempati. Inara kebingungan, di tambah yang masuk malah makin banyak.
"Woyyy.. cepetan dong, kebelet nih gue!" teriak Siswa itu sambil menggedor pintu.
"Lu gak usah teriak-teriak Bowo, berisik." Sahut siswa lainnya.
"Gue kebelet Bambang, ini WC penuh semua!"
Inara panik dia takut ketahuan. Dia benar-benar merutuki kebodohannya karena tidak memperhatikan tadi.
Setelah menunggu beberapa lama suara anak-anak itu sudah tidak ada. Inara mengintip, dia bernafas lega karena sudah tidak ada siapapun. Inara pun segera keluar dari bilik, tapi tiba-tiba ada siswa masuk. Mata Inara membulat kaget begitu juga siswa itu.
Lalu di luar toilet juga terdengar gaduh siswa yang mau masuk ketoilet. Siswa itu segera menarik Inara dan membawanya masuk ke salah satu bilik. Dan benar banyak siswa yang masuk ke toilet.
Inara menatap siswa itu yang ternyata adalah Rangga. Inara benar-benar apes hari ini, harus terjebak di toilet cowok, di tambah bareng cowok dingin dan kaku seperti Rangga.
Tiba-tiba Inara ingin bersin, Rangga langsung membekap mulut Inara, hingga suara bersinnya mengecil namun terdengar oleh salah satu siswa yang di luar bilik.
"Ehh suara apa tuh?"
"Apaan gue gak denger apa-apa!" sahut yang lainnya. Rangga masih membekap mulut Inara. Inara hanya terdiam tanpa bisa melakukan apapun.
Setelah di luar tidak terdengar lagi suara siswa lainnya, Rangga membuka pintu dan mengintip. Setelah di rasa aman, Rangga keluar dan menarik Inara.
Namun sialnya ada siswa yang keluar dari salah satu bilik. Dan itu membuat mereka sama-sama kaget.
"Kalian habis ngapain?" Tanya siswa itu sambil menautkan alisnya penuh curiga. Karena dia melihat jelas Rangga dan Inara keluar dari bilik yang sama.
"Wahh.. wahh.. kalian habis-"
"Lu gak usah mikir macam-macam, gue-!"
"Gak apa-apa kali macem-macem juga. Gue gak bakal bocor asal ada buat tutup mulutnya." Sergah Siswa itu tersenyum miring.
Rangga geram tapi jika dia tidak menuruti siswa yang bernama Roni itu, dia akan menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentang dirinya dan Inara dan dia malas mengurusi hal itu.
Inara hanya terdiam sambil menunduk, dia benar-benar malu dan benar-benar kesal dengan kebodohannya sendiri.
"Loe mau apa?" Tanya Rangga. Roni tersenyum senang. Lalu dia meminta agar Rangga memberinya uang buat tutup mulut.
"Oke!" Roni pun keluar dari toilet.
Tapi saat melewati Inara dia berbisik.
"Kapan-kapan ama gue ya cantik!"
Inara geram dan menatap tajam Roni. Roni langsung berlalu sambil tertawa mendapat tatapan tajam dari Inara.
***
Inara pulang sekolah dengan hati yang dongkol dan kesal, hari ini dia benar-benar apes. Dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Arvi yang sedang menonton tv sambil ngemil menoleh sebentar ke Inara.
"Pulang naik apa dek?" Tanya Arvi. Inara tak bergeming dia sedang menenangkan hatinya yang kesal.
Arvi hanya menggelengkan kepalanya melihat Inara mengabaikannya, lalu dia fokus menonton tv lagi. Dia terus gonta-ganti Chanel TV dan itu membuat Inara semakin kesal.
"Iihhh kakak gonta-ganti terus sih." Pekik Inara kesal.
"Gak ada yang seru dek!"
"Ya udah jangan di liat." Pekik Inara sambil merebut remotnya kasar.
Arvi melongo melihat Inara garang seperti itu, Arvi berdecak, tapi bukannya kesal kali ini Arvi justru senang karena Inara sudah kembali ke mode sebelumnya bawel dan cerewet. Arvi senyum-senyum menatap Inara.
Membuat Inara menautkan alisnya heran.
"Kenapa kakak senyum-senyum?" Tanya Inara sebal.
Arvi terkekeh senang bisa mendengar suara cerewet Inara lagi.
"Gak jelas!" Gerutu Inara.
Inara fokus melihat TV, tak sengaja Inara melihat berita. Dan berita itu menyampaikan penemuan mayat pembunuhan. Kondisi mayatnya sama dengan mayat mamangnya Dinda. Yaitu dadanya terbelah dan jantungnya hilang, kali ini mereka menemukan tiga korban sekaligus dengan keadaan yang sama.
Arvi meringis melihat berita itu. "Ganti lah dek, jangan nonton berita!" seru Arvi.
Inara tak bergeming dia memperhatikan acara berita itu dengan seksama. Tiba-tiba kepala Inara terasa sakit dan berdenyut.
"Arghh.."
"Dek!" Panggil Arvi kaget. Inara semakin mengerang kesakitan dan membuat Arvi panik.
Inara terus mengerang kesakitan dan mencengkram kepalanya, dia melihat sekelebat bayangan di pikirannya. Arvi mencoba menenangkan Inara dengan memegangi tangan Inara, tapi tiba-tiba Arvi masuk ke dalam pikiran Inara.
Inara melihat Arvi juga bernasib sama dengan orang yang ada di berita. Inara melihat Arvi tergeletak dengan bersimbah darah dengan dada yang terbelah dan jantungnya hilang.
"Aaaaaa.. tidak.." Teriak Inara.
"Dedek jangan bikin kakak takut!" Ujar Arvi panik.
Inara mengerang kesakitan dia sampai berguling di lantai. Arvi benar-benar panik, dia sampai bingung mau ngapain?
Arvi segera menelpon Argan, tapi ponselnya malah jatuh saking paniknya. Inara terus berteriak kesakitan sampai akhirnya Inara pingsan.
"Dedek!"
Arvi segera menggendong Inara ke kamar. Setelah menaruhnya di kasur Arvi bergegas menelpon Argan.
***
Setelah di periksa oleh dokter Inara sudah kembali sadar namun pandangan Inara kosong. Argan mengantar dokter itu keluar.
Tak lama Argan kembali menemui Inara, dia masih dengan posisi yang sama. Argan menggelengkan kepalanya melihat keadaan keponakannya. Dia benar-benar tidak tega melihatnya.
"Oh iya Vi jaga dulu Adek mu ya, papa mau jemput mama."
"Terus yang jagain bunda siapa pah?"
"Papa Sandi sama mama Shina." Arvi mengangguk.
"Jagain adeknya!"
"Iya pah!"
Argan pun berangkat ke rumah sakit, di tengah perjalanan dia mendapat telpon dari istrinya, memberi kabar bahwa Inka sudah sadar. Argan mengucap syukur dan senang akhirnya adiknya sadar.
Argan mengencangkan laju mobilnya, agar segera sampai di rumah sakit. Tapi tiba-tiba di jalan dia melihat seorang pria yang sedang di todong oleh beberapa orang. Argan segera menghentikan mobilnya dan membantu orang itu.
"Jangan ganggu dia!!" Pekik Argan.
Seketika semuanya menoleh ke arah Argan.
"Marvel!"
"Gak usah ikut campur loe!" Salah satu dari mereka langsung menyerang Argan, untung saja Argan bisa menangkisnya.
Marvel tidak bisa melawan karena dia di pegangi oleh tiga orang dan yang satunya memukuli perutnya. Tapi satu persatu yang memeganginya melawan Argan, sehingga Marvel punya celah untuk melawan mereka.
Akhirnya Marvel dan Argan bisa mengalahkan mereka dan membuat mereka kabur.
"Makasih gan elo udah nolongin gue!"
"Sama-sama bro, elo kapan pulang? Tau-tau udah di Bandung. Terus kenapa gak ke rumah gue?" tanya Argan.
"Rencananya besok gue ke rumah loe, gue datang kemarin, ini loe mau kemana?"
"Ke rumah sakit!"
"Siapa yang sakit?"
"Inka!" Mata Marvel membulat.
"Dedek.. maksud gue Inka sakit apa?" tanya Marvel khawatir. Melihat kekhawatiran Marvel, Argan curiga jika Marvel masih mencintai Inka.
"Gue tanya malah bengong!"
"Loe mau ikut gak? Entar gue ceritain!" Marvel mengangguk cepat.
***
Setelah mendengar cerita Argan, Marvel menghela nafas. Sejujurnya perasaan dia ke Inka tidak pernah berubah, dia masih mencintai wanita itu.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit, Argan dan Marvel langsung menuju ruangan Inka. Tapi tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan dari ruangan Inka. Argan dan Marvel segera berlari dan masuk ke dalam.
Penty, Sandi dan Shina langsung menoleh saat melihat Argan dan Marvel masuk.
"Papa!"
"Inka kenapa mah?" tanya Argan.
"Dia tau kepergian Iqbal dan dia histeris, lalu dokter terpaksa memberi obat penenang."
Argan memijit pelipisnya, ini yang dia khawatirkan jika Inka tau suaminya udah gak ada.
Marvel menatap lirih Inka, dia tidak menyangka gadis yang pernah di cintainya harus bernasib seperti itu.
Bersambung..