Sang pewaris tunggal telah menghilang bak di telan bumi. Dia mengalami amnesia dan memiliki kehidupan yang baru.
Setelah sekian lama, kebenaran baru terungkap. Akankah dia mengingat keluarganya kembali?
Diantara dua wanita yang ada di dalam hatinya, siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga untuk Viona
Alana berhasil menyelamatkan Lily dari dua penjahat yang tak di kenal. Kemudian Lily mengajak Alana ke rumahnya sebagai tanda terima kasih, Lily membuatkan makan siang untuk gadis remaja itu.
"Tante, masakanmu enak sekali." Puji Alana, seraya mengusap bibirnya menggunakan telapak tangan.
Lily tersenyum mengembang melihat Alana menghabiskan makan siangnya tanpa sisa.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menyelamatkan tante." Lily menarik napas dalam dalam, masih terbayang dalam ingatannya saat penjahat itu hendak menculiknya. Andai tidak ada Alana, entah bagaimana nasibnya sekarang. Lily bersyukur bisa selamat berkat Alana.
"Cup!" Lily mengecup pipi bayi dalam pangkuannya.
"Berapa bulan tante, dede bayinya?" tanya Alana memperhatikan bayi di pangkuan Lily. Begitu banyak pertanyaan dalam benak Alana, mengapa wanita secantik Lily bisa terlibat dengan dua penjahat yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Baru dua bulan sayang." Jawab Lily menatap ke arah Alana.
"Suami tante kemana?" tanya Alana memperhatikan sudut ruangan.
"Belum pulang sayang, biasanya sore baru pulang." Kata Lily.
Alana melirik jam tangannya, matanya melebar melihat jam yang menunjukkan pulul tiga sore.
"Tante, aku harus pulang. Ibu pasti khawatir." Alana berdiri.
"Biar Aku antarkan kau pulang nak." Lily berdiri, lalu memanggil baby sitter.
"Tidak perlu tante, aku bisa pulang sendiri." Tolak Alana, lalu berjalan menghampiri Lily. "Dede bayi, kakak pulang dulu!" Alana tersenyum mengembang, menatap wajah sang bayi seraya melambaikan tangan.
Lily tertawa kecil melihat sikap Alana yang ramah. "Terima kasih ya sayang, hati hati di jalan." Pesan Lily.
"Tante juga!"
Alana melambaikan tangan lagi, lalu berpamitan pulang. Setelah itu ia bergegas meninggalkan rumah Lily.
Sepeninggal Alana. Lily dan baby Sitter membawa bayinya ke kamar. Beberapa menit kemudian, Raiden sudah kembali dari kantor. Ia pulang lebih awal karena pekerjaannya sudah selesai.
Langkah Raiden terhenti melihat sapu tangan berwarna merah muda di atas meja. Tangannya terulur mengambil sapu tangan itu, lalu memperhatikannya.
"Sapu tangan siapa? apakah ada tamu ke rumah ini?" gumam Raiden.
Raiden bergegas menemui Lily di kamarnya, lalu menunjukkan sapu tangan yang di temukan di atas meja. Lily tersenyum, lalu mengambil sapu tangan dari genggaman tangan Raiden.
"Ini sapu tangan Alana, tadi dia mampir ke rumah." Jawab Lily menundukkan kepala, ia tidak mungkin menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.
"Alana?" tanya Raiden.
"Iya sayang, Alana yang dulu di rumah sakit." Jelas Lily.
Raiden menganggukkan kepalanya, "ya sudah, aku mandi dulu."
****
Sementara itu, Alana yang terlambat pulang. Baru saja sampai di halaman rumahnya. Ia melihat Al keluar dari pintu mobil, membawa sebuket bunga mawar untuk Viona.
"Kakak Al!!" Seru Alana, menepuk pundak Al, mengagetkannnya.
"Alana?!" ucap Al menatap horor Alana.
Alana tertawa lebar, lalu berlari seraya menoleh ke arah Al dan menjulurlan lidahnya.
"Wee!!"
Al menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan langkahnya. Di depan pintu rumah, Al berhenti. Menatap lembut Viona, berdiri di ambang pintu.
"Vin.." sapa Al tersenyum mengembang.
"Kamu lagi.." Viona menatap jengah Al.
"Siapa sayang?" tanya Bintang dari arah dalam rumah.
"Al, bu!" sahut Viona menoleh ke arah Bintang yang duduk di kursi roda.
"Hey nak Al!" sapa Quenby, berdiri di belakang Viona. "Ayo masuk!"
Quenby menarik tangan Al, masuk ke dalam rumah tanpa meminta persetujuan Viona.
"Oma!" protes Viona, bibirnya cemberut karena tidak suka Al datang ke rumahnya.
Quenby mengacungkan telunjuknya ke arah Viona. "Tidak sayang, Oma mau ajak Al main catur."
"Whatt? jangan mulai lagi deh!" protes Avram merangkul bahu Quenby. "Kita mainnya berdua saja." Avram membawa Quenby masuk ke dalam ruang keluarga.
"Ibuu!!" panggil Alana dari dalam kamar.
"Ada apa sayang?" tanya Bintang menoleh ke arah Alana.
Alana mengedipkan mata kirinya sebagai kode untuk memberikan ruang dan kesempatan Al, mendekati Viona yang keras kepala.
Bintang tertawa kecil, lalu menarik panel kursi roda menghampiri Alana.
"Sayang, ibu lupa minum obat." Ucap Bintang menoleh ke arah Viona sesaat, lalu masuk ke dalam kamar Alana.
Viona sudah paham trik keluarganya, ia berdehem lalu mendekati Al.
"Aku sudah bilang, jangan ke rumah. Ngeyel." Bisik Alana di telinga Al.
Al tersenyum tipis, menaik turunkan kedua alisnya. "Lalu? maumu kita ketemu di luar?"
"Tidak." Jawab Viona tegas.
"Lalu?" tanya Al lagi.
"Pulang sana!" usir Viona mendorong tubuh Al keluar dari rumahnya.
"Oke, aku pulang. Tapi...besok aku datang lagi." Al menarik tangan Viona. Lalu memberikan bunga di tangannya. "Selamat malam, mimpi indah!"
Namun Viona langsung menutup pintunya, setelah menerima bunga pemberian Al, tanpa menunggu kata kata Al selanjutnya.
"Hmmm. Kau keras kepala." Gumam Al.