ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UANG PANAI
Ibnu mengambil buku tabungan yang terselip diantara pakaiannya. Ia membuka benda tersebut dan melihat nominal yang tertera. Pria tampan itu menatapnya lamat-lamat.
Apa ini cukup untuk seorang Alda?
Ibnu memikirkan hal terpenting sebelum kembali melangkahkan kaki ke rumah Andi Alda Marolah.
Yah, uang panai.
Dalam tradisi adat suku Bugis-Makassar, uang panai merupakan persyaratan yang harus dipenuhi pihak pria kepada wanita yang hendak dinikahi diluar mahar dan mas kawin. Dalam kata lain, uang panai merupakan uang belanja.
*****
"1 unit rumah telah aku siapkan untuk seorang Andi Alda Marolah," sahut Andi Pangerang Adam setelah berdiam menyaksikan pembicaraan orang tuanya.
Alda menatap tajam ke arah sumber suara.
"Yah, untuk uang panai, berapa yang Alda inginkan?"
Andi Adam kembali menggulirkan pertanyaan. Namun kali ini, kepada yang bersangkutan. Pria tersebut ingin mendengar langsung.
Wanita cantik itu menelan ludah. Ia tak bersuara. Andi Shadam yang menyadari, segera mungkin menimpali.
"Berapa kemampuanmu, Nak?"
Adam tersenyum miring. "Seluruh biaya pernikahan nanti, aku menanggungnya."
"Tapi apa itu tidak memberatkan, Nak?" sambung Andi Erna.
Mereka tahu bahwa, acara yang akan diselenggarakan itu tidak biasa. Mengingat Alda adalah puteri tunggal dan rekan-rekan yang akan dihadirkan tidak sedikit. Jadi perkiraan dana yang akan dikeluarkan pun pastinya lebih besar.
"Tidak, Puang. Sama sekali tidak memberatkan."
Andi Erna dan suaminya saling menatap satu sama lain. Keduanya memberi kode melewati sorot mata masing-masing.
Terimalah.
"Baik, Nak. Kami terima niat baikmu."
Tanggal pernikahan pun ditentukan. Mereka tidak melakukan prosesi adat mappettu ada (Tunangan dan penyerahan uang belanja) karena jarak dan kesibukan masing-masing.
Terhitung dua bulan dari hari tersebut. Diadakan di salah satu tempat elit dan cukup terkenal di Kota Makassar, yaitu UpperHills Convention Hall.
Gedung impian melangsungkan ikrar pernikahan. Pun tempat tersebut merupakan langganan para pejabat tinggi untuk merayakan pesta. Salah satunya, pernikahan puteri Walikota Parepare periode 20xx - 20xx.
Hal tersebut merupakan pilihan Andi Pangerang Adam. Tentunya, disetujui oleh orang yang ada di ruangan tersebut.
"Sebelum kembali ke Jakarta besok, aku ingin meminta izin untuk mengajak Alda keluar," harap Andi Adam.
"Boleh. Memang, kalian memerlukan itu sebelum menikah."
Andi Shadam menepuk pundak puterinya yang sedari tadi hanya membisu. Tak ada niat sama sekali untuk menggubris pembicaraan itu.
*****
Alda kembali ke kamar. Perasaannya benar-benar kalut. Segera ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.
Pesan dari Ibnu.
Wanita cantik itu memainkan ibu jarinya 'Tunggu aku di Cafe La Buana.'
Tanpa berpikir panjang, Alda segera meraih kunci mobil berniat ke tempat tersebut. Seketika ia melupakan ajakan Andi Adam nanti malam.
Fokusnya sekaran adalah Ibnu Rajab. Bagaimana ia bisa bertemu dengan pria yang telah mengisi hatinya.
"Mau kemana, Nak?" Andi Erna melihat Sang Puteri yang tergesa-gesa menuruni anak tangga tentu mempertanyakan hal tersebut.
"Ada urusan penting, Bu."
"Bagaimana janjimu dengan Andi Adam, nanti?"
Janji?
Yah, Alda tidak pernah mengiyakan atau pun menganggap hal tersebut adalah janji. Namun Alda tak mau memperpanjang pembicaraan yang dapat berujung pada perdebatan.
"Setelah urusanku selesai, Bu."
Andi Erna hanya mengangguk pasrah. Dia membiarkan Sang Puteri untuk pergi namun dengan pikiran yang bertanya-tanya.
.
.
.
.
.
Salam Rindu
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana