Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia
Seorang pria dengan setelan jas berwarna biru dipadukan dengan kaos berwarna putih, membuatnya terlihat sangat tampan berjalan menuju sebuah cafe. Di sana sudah ada seorang wanita cantik berkulit putih yang sangat anggun dengan dress selutut, duduk dengan menyesap secangkir kopinya. Wanita itu melambaikan tangan ke arahnya pria tadi dengan senyum indah yang memperlihatkan barisan gigi putihnya.
"Ada apa kau ingin menemui ku?" tanya pria itu dingin.
"Heii, aku hanya ingin menemui teman yang sudah lama tidak aku temui."
"Duduklah dulu! mari kita bicara dengan baik, Rey."
"Heh! teman? sejak kapan kita menjadi teman?" jawab Reyhan sinis menarik salah satu sudut bibirnya.
"Ayolah Rey! itu sudah menjadi masa lalu, kita harus melangkah ke depan setidaknya maafkan aku dan bertemanlah denganku." ucap wanita itu memelas.
"Kau pikir setelah kau pergi begitu saja aku akan segampang itu memaafkanmu, Citra?"
Ya, wanita yang ditemui Reyhan adalah Citra mantan kekasih Reyhan. Setelah mendapat telepon dari Citra dia segera pergi menemuinya, meskipun dia ingin sekali bisa benar-benar membenci dan melupakan mantan kekasihnya itu, dia tidak bisa melakukannya, bagaimanpun wanita itu pernah memberinya hari-hari yang indah.
"Aku tau kau tidak akan memaafkan ku, jadi aku tidak akan memaksamu," jawab Citra pasrah.
"Heh! dia bahkan tidak berubah. Dia sama sekali tidak ingin sedikit saja kehilangan harga dirinya," batin Reyhan.
"Ada apa kau kesini?"
"Aku hanya ingin berlibur dan aku ingat kau tinggal di sini, jadi aku ingin bertemu denganmu sekalian," ucapnya dengan senyum mengembang.
Reyhan yang sebelumnya dipenuhi amarah itupun akhirnya luluh juga dan memilih memaafkan Citra. Sesekali senyum kecil terlihat dari sudut bibir Reyhan mendengar cerita-cerita Citra.
"Heii ... ini sudah malam. Ayo kita pulang!" ajak Citra yang baru menyadari mereka sudah terlalu lama duduk di cafe itu sampai tidak menyadari jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Aku akan mengantarmu!"
"Baiklah jika kau tidak keberatan."
Reyhan mengantarkan Citra ke apartemennya, dia benar-benar lupa waktu bahkan dia tidak memberi kabar pada Doni.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Reyhan saat melihat Alina yang masih sibuk dengan laptopnya di depan TV.
"Kau sudah pulang, Pak?"
"Ada beberapa laporan yang harus segera aku selesaikan."
"Kau bisa menyelesaikannya besok. Istirahatlah! ini sudah malam."
"Tidak bisa! aku harus menyelesaikan semua laporan ku sebelum aku resign," jawab Alina tanpa memperhatikan Reyhan.
"Kenapa kau ingin resign?" tanya Reyhan sedikit terkejut.
"Apa maksudmu? aku hamil dan sebentar lagi perutku akan membuncit, menurutmu apa yang akan terjadi?"
Reyhan terdiam mendengar ucapan Alina. Mereka memang sudah menikah tapi tidak ada yang tau kecuali orang terdekat mereka. Lalu jika orang-orang tau Alina hamil tentu saja itu akan menjadi pertanyaan besar untuk semua orang.
"Apa kau sudah makan, akan aku buatkan jika belum."
"Tidak perlu aku sudah makan," jawab Reyhan datar dan berlalu meninggalkan Alina. Alina yang melihat Reyhan pergi hanya mengangkat kedua alisnya dan kembali menatap laptopnya.
"Sialan! Wanita itu membuat pikiranku kacau," gumam Reyhan mengacak rambutnya kasar.
Entah kenapa dia merasa kecewa mendengar Alina akan resign, seperti ada sesuatu yang akan menghilang dari pandangannya.
Malam ini Reyhan terlihat begitu gelisah, sudah beberapa kali dia mencoba memejamkan mata tapi tetap saja tidak bisa. Seharusnya dia senang hari ini bisa bertemu mantan kekasih yang dulu sangat dia rindukan, tapi perasaan senangnya itu hilang seketika setelah mendengar ucapan Alina.
Wanita yang bahkan di anggapnya sebagai ****** itu kini bisa membuat hati seorang Reyhan Wijaya gelisah tak karuan.
############
Haii gaess, terimakasih atas dukungan kalian 🙏😉👍
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍