Nindi seorang gadis belia yang masih duduk kelas akhir bangku menengah atas. terpaksa harus menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husnel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Ardian kemudian menceritakan kalau dulu dia menabrak gerobak ayah mertuanya yang sedang jualan bubur ayam dan gado-gado.
gerobak hancur dan juga menyeret ayah mertuanya itu. " Sebenarnya sampai sekarang aku masih merasa bersalah namun aku tutupi dengan ke ego anku, maafkan aku ya sayang".
kata Ardian tulus membelai rambut istrinya.
" ya.. nggak apa apa kak, kakak kan separoh mabok, mungkin begitu cara Allah menjemput bapak kembali, waktu itu aku memang kesal, kecewa, sedih, karena aku takut ditinggal sendiri, dan orang aku cintai semuanya meninggalkan ku". kenang Nindi sendu.
mami Rasti memeluk Nindi dari belakang, dan membelai rambut menantunya itu.
" sayang... kami ini keluarga mu, jangan kamu merasa sendiri lagi ya, kami semua sayang... sama kamu". ucap mami Rasti.
" iya mi, makasih semuanya, sekarang, aku baru paham, sehari bapak tertanam, aku bermimpi, dan ternyata benar, kalau aku tidak sendirian lagi, dan banyak orang yang menyayangiku".
kata Nindi,
" oh ya pi, rencana papi kemarin, kami Terima". sambung Ardian memutar arah pembicaraan.
" iya kan sayang... " lanjut Ardian.
Nindi menganggukan kepalanya.
" Wah... kalau begitu, kita buat aja ketiga menu itu, papi rasa menu itu semua laris, karena makanan yang legendaris ". kata Papi Nugraha semangat. " temanya lesehan, jadi semua kalangan mau mampir" sambung papi Nugraha lagi.
" ya.. baiklah vi, bagaimana dengan Angga pi, dia aku bawa juga ke Yogyakarta ya, jadi pengganti Soni selama disana.". kata Ardian mengingatkan.
" ya bawalah, papi sudah memberi tahu kan padanya, kalau ia akan dipindah tugaskan, cuman papi belum memberi tahukan kemana, kapan kalian ke Yogyakarta".tanya papi.
" Mungkin besok pi, besok kan sabtu, aku sudah melihat perumahan yang dekat dengan kantor, biar tidak terlalu jauh pulang untuk makan siang, ya kan sayang". goda Ardian yang membuat merah pipi Nindi karena malu.
" papi tidak bisa ngantar ya, karena papi ada urusan ke Bandung, kalau selesai papi langsung ke sana, sekalian papi cari tempat yang cocok buat bisnis kita yang baru". ucap papi semangat.
" Mami ikut mereka aja ya pi, mami bantu bantu kepindahan mereka, pasti mereka kerepotan ".
" Nin, sekarang papi jadi no dua, apalagi kalau kalian punya anak, papi entah jadi no berapa lagi ya, canda papi Nugraha.
Nindi cuman tersenyum melihat suasana keluarga barunya itu yang penuh canda disela kesibukan.
Esoknya, seisi rumah sibuk sekali, karena Ardian mau pindah ke Yogyakarta. sedangkan papi Nugraha pergi ke Bandung sendiri.
Mami Rasti ikut ke Yogyakarta bersama Ardian.
yang tinggal hanya ART dan satpam saja lagi.
kecuali Bik Ina dan Angga pun ikut pindah ke Yogyakarta. sampai di bandara. papi Nugraha pisah pesawat dengan yang lainnya.
Setelah sampai Yogyakarta. Angga langsung membawa ke rumah yang sudah dibelinya.
Pemiliknya pun menunggu kedatangan mereka.
karena mereka mau pindah ke luar negeri.
Setelah percakapan. lihat rumah dan transaksi.
sang pemilik pun menyerahkan sertifikat dan dokumen lainnya. Ardian meminta foto bersama. pemilik awal pun pamitan.
Angga dan bik Ina sibuk membawa barang dan koper ke kamar masing masing.
Angga juga tinggal bersama, agar bisa pulang pergi ke kantor sama sama, yang di tempatkan di bagian paviliun, yang terpisah dengan rumah utama dan bersebelahan dengan kamar bik ina.
Ardian dan istrinya dilantai atas. kamar tamu di bawah yang ditempati mami sementara. karena lelah mereka tak masak. Ardian dan Angga pergi bersama membeli makanan.
Rumah makan sederhana, tapi cukup rame juga pembelinya. sehingga membuat mereka berdua menunggu. Sambil menunggu, Ardian berbicara dengan kasir, yang ternyata pemiliknya.
" oh ya pak, rame juga.. " kata Ardian bada basi.
" ya lumayan nak, seperti nya bapak baru lihat anak muda, tinggal dimana? ". tanya pak Somat pemilik RM( Rumah Makan).
" ya pak, kita baru pindah hari ini, 3 rumah dari sini". jawab Ardian.
" oh bule tu, jadi pindah mereka. jadi anak muda yang beli". tanya pak somat.
" iya pak, kita belum kenalan, nama saya Ardian, dan teman saya Angga". kata Ardian memperkenalkan diri. tak lama pesanan Ardian pun siap.
" makasih ya, jangan bosan pesan sini ya nak Ardian. bisa diantar kalau mau pesan, telpon saja ke sini"kata pak somat dan memberikan no telponnya.
" iya pak, kami pamit ya pak" kata Ardian ramah.
"