NovelToon NovelToon
Pria Kedua

Pria Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Janda / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.


"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.

"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hancur

Sepertinya kepedihan tidak berhenti bagi kehidupan rumah tangga Aira. Eros membawa wanita itu pulang ke rumah. Aira menelan ludah mendengar keputusan Eros. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.

Meskipun luka hatinya dalam, Aira tetap berangkat bekerja. Karena dia ingin mencari pelarian dari rasa sakit ini dengan bekerja. Seperti pagi biasanya, dia berangkat dengan motor matic kesayangannya. Sepanjang perjalanan, dia teringat lagi dengan mama Eros. Perbincangan yang paling membuatnya pedih.

"Maaf, Ai ... Mama tidak tahu harus berbuat apa. Menolak keberadaan Nara juga tidak mungkin. Bukan mama menerimanya. Tidak. Bagaimanapun istri Eros adalah kamu. Tidak ada yang lain." Mama Eros sengaja mendatangi Aira di dalam kamar. Beliau mengatakannya dengan tangis yang menghiasi wajahnya. Aira terdiam dengan mata nanar dan rasa pukulan di dadanya.

"Mama tidak mau posisimu di ganti wanita lain, tapi ... di dalam perut Nara ada bayi yang tidak berdosa. Dia darah daging mama. Mama tidak bisa mengabaikan begitu saja." Tangan mama sesekali mengusap derai air mata itu.

Aira tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bagaimana dengan nasibnya?

Mendadak kepalanya pening. Matanya berkunang-kunang. Sekitarnya terasa memutih semua. Brak! Motor Aira limbung tak terkontrol hingga menabrak pinggiran trotoar.

...----------------...

Tubuh Aira tertidur lemah di ranjang rumah sakit. Selang infus tertancap di punggung tangannya. Perempuan ini terlihat tidak berdaya. Suasana kamar lengang. Tidak ada satupun berada di sana yang menemani perempuan ini. Tidak ada identitas yang di bawa Aira hingga tidak memungkinkan pihak rumah sakit menghubungi keluarganya.

Aira membuka mata perlahan. Sunyi. Tidak ada suara siapapun. Hingga suara pintu terbuka membuatnya menoleh pelan.

"Kamu sudah bangun, Ai? Syukurlah," ucap seseorang yang tidak di sangka.

"Mengapa Anda ada di sini, Pak Ibrar?" tanya Aira yang merasa heran. "Lalu dimana aku?" tanya Aira belum yakin. Kepalanya menoleh ke kanan kiri melihat kamar yang asing. Tangannya yang di beri selang infus, membuat dahinya berkerut.

"Kamu berada di rumah sakit Ai. Kamu mengalami kecelakaan saat menuju tempat kerja."

"Kenapa Anda yang ada di sini?" Pertanyaan ini tidak aneh. Karena memang mengherankan yang menemaninya di rumah sakit adalah manajer baru ini. Kemana keluarganya? Kemana mama dan suaminya? Seharusnya mereka yang menemaninya, bukan pria ini.

"Aku tidak sengaja meneleponmu ketika pihak rumah sakit kebingungan mencari keluargamu. Kamu tidak membawa ktp atau apapun di dalam tas itu." Ibrar menjabarkan. Sebenarnya dia ingin bertanya soal luka di kaki perempuan ini. Namun dia justru mendapat kabar bahwa Aira kecelakaan. "Sepertinya keluargamu akan datang sebentar lagi."

Keluarga? Keluarga yang mana?

"Aku menelepon nomor kontak Eros," ujar Ibrar membuat raut wajah Aira keras dan kaku. "Hanya itu yang aku tahu," imbuh Ibrar. Dia tahu nama itu sebagai suami dari perempuan ini. Makanya saat memegang ponsel milik Aira yang ternyata bisa terselamatkan meskipun ada beberapa bagian pecah.

Benar apa yang di katakan Ibrar. Suara langkah seseorang datang dengan tergesa-gesa di lorong. Tak lama kemudian pintu terbuka. Eros muncul sendirian dengan wajah pucatnya.

"Aira ..." lirih Eros dan segera mendekat ke ranjang. Dia sempat melirik ke arah Ibrar sekilas. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Ibrar cemas. Bola mata Aira menatap suaminya agak lama.

Rasa cemas itu bohong atau nyata Eros? Enyahkan saja karena aku tidak tersentuh.

Ibrar keluar dari kamar tanpa berpamitan. Sudah cukup perannya menjaga Aira saat sendiri tadi. Sekarang dia harus pergi kembali ke kantor.

"Aku akan ke menanyakan tentang keadaanmu pada dokter. Mama sebentar lagi akan kesini." Aira tidak menyahuti perkataan Eros. Pria itu pergi keluar dari kamar.

Mama muncul kemudian. Menghampiri Aira dan memeluknya. "Aira ... kamu tidak apa-apa kan?" tanya mama meneliti setiap bagian tubuh menantunya. Ada berberapa lebam di bagian tubuh, tapi tidak parah.

"Lalu ..." Mama melihat ke arah perut menantunya. Namun bibir beliau diam tidak jadi melanjutkan. "Kamu terlihat tidak mengalami luka parah. Syukurlah." Tangan beliau mengelus lembut rambut Aira.

"Apa ibu tahu?" tanya Aira takut.

"Apa mama perlu mengabarinya?" tawar mama. Aira menggeleng.

"Tidak perlu mama. Ibu dan ayah tidak perlu tahu. Mereka pasti sangat khawatir."

"Baiklah."

Selalu saja begitu. Aira selalu tidak mengatakan apa-apa pada keluarganya sendiri. Bahkan soal kedatangan Nara di dalam rumah mertuanya. Mama dan papa Eros belum berani mengatakan pada keluarga Aira cerita yang sesungguhnya. Dia tidak mau keluarganya tahu sakit hati yang ia rasakan.

**

Yeri berusaha mengirim pesan menanyakan kabar Aira. Namun tidak ada balasan sama sekali. Itu pertanda temannya masih dalam keadaan tidak sehat.

Sejak tadi saat mendengar kabar kecelakaan Aira dari Pak Ibrar, Yeri tidak bisa tenang. Hingga makan siang ini pun tidak ada kabar dari temannya itu.

"Aira kecelakaan dimana, Yer?" tanya mbak Lea yang baru datang siang ini. Dia kebagian 2. Yaitu datang jam setengah dua, hingga tutup mall jam 10 nanti.

"Aku kurang paham dimana, Mbak. Aku hanya mendengarnya dari pak Ibrar kalau dia ada di rumah sakit setelah kecelakaan terjadi."

"Pak Ibrar? Kenapa pak Ibrar tahu kecelakaan Aira?" tanya mbak Lea yang membuat Yeri juga heran.

"Iya, ya. Aku juga enggak tahu mbak. Mungkin pak Ibrar tidak sengaja bertemu di jalan saat kecelakaan terjadi." Mbak Lea mengangguk.

"Lalu sekarang bagaimana keadaannya?"

"Masih belum tahu. Kata pak Ibrar lagi, dia sudah terbangun. Hanya saja mungkin belum bisa pulang. Pesanku belum di balas."

"Siang ini mau menjenguk?" Mbak Lea sudah duduk di depan Yeri.

"Nanti pulang kerja saja. Aku kan pulang sore. Sekalian sama teman sekolah kesananya."

"Oke."

Aira tengah memejamkan mata saat terdengar sayup-sayup bisik-bisik seseorang di dalam kamar.

"..."

Awalnya Aira yang terbangun dari tidur kurang mendengar apa yang sedang di bicarakan, tapi lambat laun suara itu semakin jelas seiring dengan matanya yang terbuka.

"Sepertinya kandungan Aira tidak selamat. Dokter mengatakan ... "

"Apa yang kamu bilang Eros?" tanya Aira yang sudah terduduk di atas ranjang.

"Aira ... " Mama mendekat. "Berbaringlah."

"Tidak. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada kandunganku. Katakan Eros. Apa yang terjadi?" kata Aira dengan nada dan tatap mata tajam pada Eros yang akhirnya ikut mendekat ke dekat ranjang.

"Iya. Namun tenanglah dulu." Mama sudah hampir menangis saat mengatakannya.

"Katakan Eros. Cepat!" teriak Aira marah. Eros menghela napas.

"Bayi di dalam perutmu tidak selamat." lirih Eros. Raut wajah Aira langsung membeku.

"Kamu sengaja mengatakan itu untuk membuatku hancur bukan? Kamu sengaja Eros!" Mata Aira berkaca-kaca dan panas.

"Sabar, Ai ..." ucap mama.

"Ini kejadian yang sebenarnya Aira. Aku tidak mengada-ada. Dokter sudah mengatakan padaku." Eros berkata dengan sungguh-sungguh.

"Kamu sengaja karena ingin bayi Naralah yang menjadi satu-satunya yang ada. Kamu jelas menginginkan itu! Tidak ada keinginan darimu untuk berharap bayiku ada. Kamu tidak menginginkannya!" Aira menangis. Air mata meleleh membanjiri pipinya.

Mama Eros tidak bisa mencegah menantunya marah. Beliau paham bagaimana sakit hatinya Aira karena perlakuan putranya. Beliau hanya mampu mengelus punggung Aira agar tenang.

"Ini di luar kemampuanku, Ai. Aku tidak mungkin bisa melakukannya. Kecelakaan ini murni."

"Bisa. Kamu bisa. Kamu yang sudah berikrar menjadi suamiku sehidup semati mampu berkhianat bahkan menghasilkan keturunan dari wanita lain, pasti mampu melakukannya. Kamu membunuh anakku!" Mama semakin menangis mendengar kemarahan Aira. "Kamu membunuh darah dagingku ..." Suara Aira mulai tenggelam dalam tangisan. Dia tidak mampu lagi bicara.

1
Bunda Keisha
baca Novel ini udah ke 6 nya.. sampai hapal banget.. suka banget sama novel ini.. ❤ aq kasih bunga 🌺🌻🌹🌷 banyak ya
ione
/Smile//Smile/
Inah Ilham
sudah baca 30 episode baru nyadar klo ini karya lady_ Ve, pantes mc nya wanita muda yg tangguh
Lienda nasution
alah....ceritanya bertele tele thor
Tri Lestari Endah
Dari awal sampai disini ceritanya buat greget
banyak pelajaran yang di dapat

berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Latifah Latifah: setujuuu
total 1 replies
Ririnyulianti Yulianti
Luar biasa
Bang Juky
umur 16 si aira dah kerja ya
Anik kartin
banyak pesan moral yg disampaikan pada tiap tokohnya..semoga kita bisa belajar dr tiap kejadian dan mengambil hikmahnya...semangat kak untuk karya selanjutnya..
Anik kartin
bukan cinta....tapi DOSA
Yomita Hervina
agak aneh ibrar jg ngomong wanitaku saat di dpn yuta n wira jg jk ga salah.kl sdh sprti itu kesannya dia mmg pny affair dgn prmpuan tsb,kecuali kl itu dia lakukan di dpn org asing/bukan kenalan.
Sri Widjiastuti
tegas mu telat eros
Sri Widjiastuti
oalah nduk2 sdh tau rasanya jd pencuri. sekarang parno kecurian
Sri Widjiastuti
adakah sosok ibrar beneran, hari gini😇😇
Tiadayanglain
Betul tu nara
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Tiadayanglain
Kok aneh perempuan ni udah di sakitin tapi kok susah move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Tiadayanglain
Aneh kakak kok hri tu ibrar ngaku wanitaku
Tiadayanglain
Nah pelihara anak haram MU eros
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
seru_seruan
aku ngulang baca entah keberapa kalinya.
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?
Nurazmi Azmi
Kok nggak di cerita in Aira itu masih hamil apa keguguran ya, YG jelas dong Thor jangan bikin bingung
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!