follow igku @zariya_zaya
"Aku Leopard Bay Pyordova berjanji, akan selalu mencintai Shena Narendra Bonscha tanpa syarat apapun selamanya. Sepanjang hidupku, hanya akan mencintai Shena. Tidak ada wanita lain dihatiku selain wanita yang kini sudah menjadi istriku."
Tak pernah terbayangkan di benak Shena, ia bakal menjadi istri seorang sultan dengan julukan gengster nggak ada akhlak. Siapa lagi kalau bukan Leopard Bay Pyordova.
Kisah cinta mereka yang sweet, romantis dan bisa dibilang ekstrim membuat kehidupan Leo dan Shena menjadi lebih berwarna. Ditambah lagi dengan hadirnya sang buah hati dari pernikahan keduanya. Setiap masalah selalu bisa mereka selesaikan dengan gaya khas si gengster Leo.
Ini adalah sekuel dari novel Playboy Jatuh Cinta (The King in Love)
Seperti apa kisah cinta Leo dan Shena selanjutnya? Yuk simak keseruannya disetiap episodenya. Tentu saja dengan gaya khas kesomplakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 17 Teringat Sesuatu
Sebuah taksi yang membawa Shena tak sengaja melewati Leo saat sedang panik mencari-cari keberadaan istrinya. Mereka bersimpangan jalan, sayangnya tak ada yang menyadari satu sama lain. Sebab, Shena sedang menangis sambil menundukkan kepalanya sehingga Leo tak sadar kalau wanita yang ada di dalam taksi ketika melintasinya adalah istrinya sendiri.
Leo menelepon seluruh anak buahnya untuk segera mencari keberadaan Shena. “Cepat cari istriku sampai dapat! Aku ingin kalian segera menemukannya dimanapun dia berada. Jika tidak, akan kuhabisi kalian semua! Kalian dengar, itu!” teriak Leo dengan penuh emosi sambil menutup sambungannya. Leo terus menendang-nendang angin saking emosinya.
“Ada apa, ini?” tanya laki-laki berambut pirang tadi.
“Aku tidak tahu, barusan Shena ada didekatku, tapi tiba-tiba saja dia hilang,” ujar Leo sambil berkacak pinggang. Ia menoleh ke segala arah berharap kecemasannya tidak benar. “Sayang, dimana kau!” gumam Leo. Ada sejuta kekhawatiran diwajahnya.
“Ayo kita kekantor polisi untuk melihat CCTV, “ ajak laki-laki itu dan keduanya langsung bergegas menuju kantor polisi terdekat.
Sesampainya disana, Leo meminta petugas kepolisian agar mengizinkannya mengamati CCTV yang ada disekitar kafe dan juga jalanan lalu lintas disekitarnya. Namun, ada seorang opsir mencoba menghalangi langkah Leo. Sepertinya orang itu tidak tahu menahu siapa Leo.
“Siapa kau? Memangnya ini kantor punya nenek moyangmu apa? Seenaknya saja minta ini itu!” ujar salah satu opsir yang kebetulan sedang bertugas disitu.
“Ini memang punya nenekku! Kau mau apa? Beraninya kau menghalangiku!” mata Leo terbuka lebar menatap tajam opsir tersebut. “Cepat bawa aku ke ruang CCTV atau aku akan menghancurkan kepalamu sekarang juga!” geram Leo.
Mata merah menyalanya semakin memerah menatap opsir yang sok taat peraturan itu. Opsir itupun juga sedikit takut melihat Leo, tapi ia bersikukuh tidak mengizinkan orang luar yang tidak berkepentingan masuk ke ruang CCTV tanpa surat izin. Alhasil, Leo langsung menghadiahi opsir tersebut dengan bogem mentahnya dan tepat mengenai wajahnya hingga jatuh tersungkur. Dengan cepat Leo mengeluarkan pistolnya dan menodongkan pistol tersebut tepat dikening opsir yang terkejut setengah mati karea Leo ternyata punya senjata api juga.
“Ini peringatan terakhir, jangan sampai peluru ini keluar dan menembus kepalamu.” Leo pura-pura menarik pelatuknya dan opsir itupun semakin gemetar ketakutan.
“Tapi, bagaimana bisa orang biasa sepertimu, bisa memiliki senjata api? Kau bisa dikenai pasal kepemilikan senjata tajam ilegal!” nada suara opsir tersebut semakin bergetar.
“Dia bukan orang biasa, Sir? Bahkan atasanmu tidak akan berani padanya. Sebaiknya kau turuti saja maunya jika masih sayang nyawa,” ujar laki-laki berambut pirang yang sejak tadi berdiri dibelakang Leo. “Ah, senjatanya itu bukan ilegal. Ia punya surat izin kepemilikan senjata itu. Kau tahu kenapa? Huh, cari tahu sendiri saja!”
Mata opsir itupun terbelalak melihat Leo dan juga laki-laki yang baru saja bicara padanya. “Kalian ber .... berdua ....” ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Jangan banyak bicara atau aku tembak kepalamu sekarang juga! Aku tidak punya banyak waktu!” teriak Leo mengagetkan semua orang.
Tidak ada pilihan lain lagi, opsir itupun akhirnya mengizinkan Leo dan temannya masuk ke dalam ruang CCTV. Ia langsung meminta memutar ulang kejadian dimana Shena menghilang.
“Hei bodoh! Apa kau tidak tahu siapa orang yang menodongkan pistolnya padamu?” bisik salah satu rekan opsir yang berdiri dibelakang Leo dan laki-laki berambut pirang itu.
“Tidak, memangnya siapa dia?” Opsir tersebut terlihat bingung.
“Dia itu tuan muda Leo, putra tunggal tuan Byon Pyordova. Habislah kau sekarang! Beraninya kau melawannya!”
“Apa? Memangnya siapa tuan Byon?”
“Tunggu sampai kau dipecat baru kau akan tahu siapa dia? Dasar bodoh kau! Kau menggali lubang kuburanmu sendiri.”
Opsir itupun langsung menelan salivanya, ia menatap Leo yang sedang berkosentrasi melihat layar monitor seolah sedang memeriksa sesuatu. Memangnya seberapa hebat orang itu sampai semua orang takut padanya, batin opsir tersebut.
Setelah beberapa menit mengamati layar monitor, Leo menemukan Shena berlari kecil sambil menangis tersedu-sedu disepanjang trotoar sampai akhirnya gadis itu berhenti disebuah kursi panjang. Leo heran dan juga bingung kenapa istri tercintanya itu menangis seperti itu.
“Siapa orang yang berani membuat Shenaku menangis, ha!” geram Leo dan semua petugas yang ada didekat Leo mulai beringsut menjauh karena takut kena imbas kemarahan Leo.
“Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa dia menangis?” tanya laki-laki berambut pirang pada Leo.
“Aku? Kenapa aku? Maksudmu ... orang yang membuat Shena menangis adalah aku? Apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin aku membuatnya menangis sementara aku sangat mencintainya!”bentak Leo.
“Kalau bukan kau lalu siapa lagi? Kau bilang kalian selalu bersama-sama. Katakan padaku, apa yang kau lakukan padanya?”tanyanya sekali lagi.
“Aku tidak melakukan apa-apa, sungguh!” jawab Leo masih sambil mengamati gerak-gerik istrinya didalam layar monitor.
“Kalau begitu kenapa dia tiba-tiba menangis?”
“Mana aku tahu?” jawab Leo sewot karena sudah jadi tertuduh. Ia mencoba mengingat kejadian yang ia lakukan bersama istrinya dan tiba-tiba saja, Leo teringat sesuatu. “Haishh, sial! Jangan-jangan dia salah paham padaku!” teriak Leo lagi sehingga membuat semua orang yang ada disitu jadi kaget.
“Apa maksudmu?” tanya laki-laki berambut pirang yang juga ikut terkejut mendengar teriakan Leo.
"Hah, aku bodoh sekali! Shena pasti sudah berpikiran yang bukan-bukan tentangku dan Zaya. Ayo kita cari dia!" ujar Leo.
"Jelaskan dulu apa yang terjadi? Salah paham gimana maksudnya?" kening laki-laki itu jadi berkerut karena terlalu penasaran.
Leo menatap serius wajah laki-laki yang ada didepannya.
BERSAMBUNG
***
bonus 1 episode lagi ...