Seorang wanita yang hidup hanya berdua dengan adik laki-lakinya, namun sang adik selalu saja membuat masalah sampai membuat sang kakak harus membereskan masalah yang di buatnya, dari masalah yang datang kepadanya di situlah dia di pertemukan dengan seorang pria yang akan masuk di kehidupan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Buruk
Hari ini hari syurganya para pekerja, kenapa di bilang seperti itu? karena hari ini adalah hari libur atau bisa di bilang tanggal merah.
Syafa yang mengisi waktu liburannya berniat untuk menengok sang adik di rumah sederhana nya di pinggiran kota itu.
Syafa mengetuk pintu rumah yang terkunci dari dalam kamar itu, namun sudah beberapa kali ia mengetuk dan memanggil nama Bayu tapi tidak ada yang membukakan dan menjawab panggilan nya.
" Neng, baru datang?" tanya seorang tetangga samping rumahnya.
" Iya Bu, oh ya Bu, ibu liat Bayu enggak? soalnya dari tadi saya panggil ga di jawab,'' ujar Syafa menanyakan keberadaan adiknya pada tetangganya.
'' Bayu? dari kemarin ibu enggak liat Bayu, pergi nginap di rumah temannya kali neng,'' jawab Bu Siti.
'' Teman nya? tapi kan ini enggak di gembok, berarti pintu nya di kunci dari dalam,'' batin Syafa berbicara.
'' Enggak Bu, pintunya di kunci dari dalam,'' ucap Syafa yang mulai khawatir.
Dengan ucapan Syafa dan raut wajah Syafa yang berubah membuat Bu Siti ikut merasakan ke khawatiran.
'' Lho, coba di ketuk lagi,'' ucap Bu Siti yang berjalan menghampiri Syafa.
Syafa terus mengetuk dan memanggil nama Bayu tapi tetaplah tidak ada yang menjawab nya dan tidak ada yang membukakannya.
'' Ibu panggilkan Bapak dulu ya, untuk minta bantuan,'' ucap Bu Siti yang sudah pergi meninggalkan Syafa yang terus menggedor pintu rumah nya.
'' Astaghfirullah, Bayu kemana, perasaan ku kenapa ga enak begini,'' gumam Syafa yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa khawatirnya.
Ponsel nya berdering dan tertulis di sana nama Bapak bos yang menelponnya, tapi karena perasaan Syafa yang sedang kacau sehingga ia tidak berniat untuk mengangkat panggilnya.
Dua orang pria tetangga Syafa datang karena panggilan Bu Siti yang di mintanya untuk membantu Syafa.
'' Mbak, kenapa rumahnya?'' tanya salasatu di antara mereka.
'' Jangan kebanyakan tanya Sodik, bantu saja neng Syafa untuk buka pintu rumahnya,'' omel Bu Siti pada pria yang bernama Sodik itu.
Akhirnya atas bantuan beberapa tetangga nya, pintunya berhasil di buka dengan cara di rusak atau di dobrak.
Syafa langsung mencari Bayu ke seluruh ruangan namun tidak ketemu dimana Bayu.
'' Coba neng, cari di kamar mandi,'' usul bu Siti, Syafa pun menurut dan dia menuju kamar mandi yang ada di belakang.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Bayu yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi dengan keadaan mulut yang mengeluarkan busa berwarna kuning gading.
'' Bayu!! Tolong!!'' teriak Syafa dan beberapa orang langsung menghampiri Syafa karena teriakannya.
'' Kenapa neng?'' tanya Bu Siti.
'' Bu, Bayu Bu.'' Tangis Syafa sudah tidak bisa terbendung lagi ia menaruh kepala adiknya di pangkuannya.
Syafa terus menepuk-nepuk pipi Bayu berharap Bayu sadar namun harapannya seakan sia-sia karena Bayu masih memejamkan matanya.
Syafa meminta tolong lagi pada para tetangganya untuk membawa Bayu ke rumah sakit, dan Bayu pun di bawa menggunakan mobil salasatu warga sana.
Sepanjang perjalanan, Syafa terus saja menangis dengan pilu melihat keadaan adik lelakinya yang dia tidak tah apa yang sebenarnya terjadi pada Bayu.
Ponselnya yang sedari tadi berdering tidak sama sekali ia pedulikan, ia hanya mempedulikan keadaan adiknya untuk segera di periksa oleh dokter yang lebih mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sampailah mereka di rumah sakit yang tidak terlalu besar di daerah Jakarta kota kelahiran nya.
Dengan di bantu para perawat, Bayu di bawa ke ruang UGD menggunakan brangkar.
'' Bayu bangun Bay,'' Syafa terus menangis karena ia merasa hanya Bayu lah keluarganya, hanya Bayu lah yang dia punya.
Syafa di minta untuk menunggu di ruang tunggu bersama Bu Siti dan warga lainnya yang ikut membantu nya tadi.
'' Neng, yang sabar ya,'' ucap Bu Siti.
'' Kami pamit pulang duluan ya Mbak Syafa, kalau Mbak Syafa membutuhkan bantuan jangan sungkan-sungkan kabari salasatu di antara kami,'' ucap sala satu di antara mereka.
'' Iya pak, terima kasih sebelumnya,'' jawab Syafa dengan suara yang serak.
Para tetangga Syafa pun berlalu pergi meninggalkan Syafa sendirian termasuk Bu Siti yang memang harus segera pergi kerena ada anak balita yang di tinggal di rumahnya.
Beberapa saat kemudian setelah dokter memeriksa keadaan Bayu, dokter itupun keluar dari ruangan dan segera menemui Syafa yang terduduk di kursi tunggu.
'' Keluarga Saudara Bayu?'' tanya seorang Dokter pria pada Syafa yang duduk tertunduk.
Syafa langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pemilik suara itu.
'' Afdhal?'' lirih Syafa.
'' Sya? kamu disini?'' ucap Dokter yang di panggil dengan nama Afdhal oleh Syafa.
'' Iya, aku kakak dari Bayu, bagaimana keadaan Bayu?'' tanya Syafa dengan wajah paniknya.
Pria berjas putih itu terdiam, ia benar-benar tidak sanggup untuk mengatakan tentang adik sari Syafa.
'' Afdhal, bagaimana keadaan adik ku?'' tanya Syafa lagi yang sudah tidak sabar lagi mendengar kabar dokter yang memeriksa adiknya itu.
Syafa menggoyangkan lengan Afdhal untuk mendengar jawaban tapi pandangan beberapa suster yang melihat sikap Syafa yang menurut orang yang melihatnya terkesan sangatlah lancang.
'' Oh maaf Dok, bagaimana keadaan adik saya, tolong jawab pertanyaan saya Dok,'' lirih Syafa.
'' Aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini Sya, adik kamu sudah tidak bisa tertolong lagi karena overdosis obat terlarang yang di konsumsi nya,'' jawab Afdhal dengan jelas.
Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Syafa menegang, kaki nya sudah tidak bisa lagi menopang berat tubuh nya, ia terduduk lemas di bawah lantai tepatnya di bawah kaki Afdhal.
'' Sya, kamu yang tabah ya,'' ucap Afdhal dengan pelan.
'' Kenapa Dok?'' tanya salasatu perawat yang menghampiri mereka. Perawat itu melirik Syafa yang menangis di bawah lantai dengan pandangan ketusnya.
'' Dia teman saya yang baru saja kehilangan adiknya,'' ucap Afdhal dengan tegas karena dia melihat lirikan perawat itu seperti tidak suka dengan Syafa.
'' Oh maaf Dok, mari saya bantu,'' ucap perawat itu yang langsung membantu Syafa untuk duduk di atas kursi.
'' Bayu, kenapa kau malah pergi secepat ini,'' lirih Syafa.
'' Kenapa kau berbuat begini,'' lanjut nya.
Syafa terus menangisi Bayu yang sudah tidak lagi bernyawa di dalam ruangan yang bertuliskan UGD itu.
Lagi-lagi ponsel Syafa berdering namun Syafa tidak mempedulikan nya, dirinya sedang hancur saat ini jangankan untuk mengangkat panggil di ponselnya untuk berdiri saja ia tak mampu.
'' Bayu, kamulah alasan kakak menjalani kehidupan baru kakak tanpa adanya cinta ini, tapi kenapa kau yang membuat kakak kuat malah memilih untuk meninggalkan kakak,'' batin Syafa yang terus saja menangis.
Bersambung..
suksez
semngt
mksh